Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 58.


__ADS_3

"jihan, apa yang kamu pikirkan?" Tanya zia saat wanita itu melihat jihan yang masih termenung menatap sang ibu. Ya, zia semalam menemani jihan di rumah sakit. Saat kinanti pergi bersama ibrahim zia dan najib memutuskan akan tetap menginap.


"Entahlah, tan. Aku merasa sangat takut saat ini." Jawab jihan sendu.


"Jangan terlalu di pikirkan, umur, jodoh dan maut. Itu rahasia allah. Kita hanya perlu menjadi hambanya yang taat menjalankan semua kewajiban dan menjauhi semua yang dilarang. Berdo'alah." Ucap zia, di usapnya kepala jihan hingga gadis itu merasa begitu nyaman.


"Terima kasih, tan." jihan tersenyum menatap wajah teduh zia.


"Terima kasih untuk apa? Kamu sudah seperti anak tante, jihan. Jadi, jangan sungkan."


Jihan menganggukan kepalanya dengan senyum mengembang. Hingga saat najib masuk kedalam seketika senyuman itu lenyap bak di telan bumi, membuat zia bertanya-tanya apa yang membuat jihan seperti itu.


"Maaf, aku tidak mengetuk pintu dahulu." Ucap najib dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Tidak masalah! Itu memang kebiasaan burukmu." jawab jihan ketus. Membuat zia mengerti kenapa jihan begitu kesal. Pasalnya jihan sangat tidak senang kalau tiba-tiba ada yang main selonong saja. Ya, walaupun memang mereka tidak sedang membicarakan hal yang penting. Bagi jihan sopan santun adalah yang utama, walaupun sikapnya begitu bar-bar.


"Baiklah, apakah tante akan pulang sekarang?" sambung jihan mengalihkan pandangan nya kepada zia. Terlihat sekali kalau jihan malas bertatapan lama-lama dengan seorang najib.


"Iya, tapi tante akan mampir terlebih dahulu kerumah kinanti. Tante ingin melihatnya sekaligus berbela sungkawa atas meninggalnya bram." Jawab zia. Membuat mendung diwajah jihan kembali tercipta. Jihan begitu menyesal, karena belum sempat mengatakan maaf setelah keributan dirumah sakit itu. Walau bagaimanapun bram adalah sosok ayah pengganti bagi jihan setelah ayah kandungnya meninggal. Namun, kini sosok itupun kembali meninggalkannya untuk selamanya.

__ADS_1


Kemarahannya kemarin benar-benar sangat disesalinya sekarang.


"Jihan, apakah kamu baik-baik saja?" tanya zia khawatir melihat wajah jihan yang kembali sedih.


"Aku sangat ingin melihat paman bram untuk yang terakhir, tante. Tapi, rasanya..." Ucapan jihan terjeda karrna air matanya lebih dahulu mengalir, hingga membuat lidahnya tak mampu berkata-kata.


Zia meraih jihan dan memeluknya."Jihan..." di usapnya air mata jihan.


Air mata itu tak kunjung berhenti mengalir. "Aku sangat menyesal."


Zia kembali memeluknya erat " tante tau."


"Pergilah kesana bersama tante zia, jihan. Aku akan menjaga ibu aisyah disini." Ucapan najib tentu saja membuat jihan langsung berhenti menangis, dia bahkan lupa kalau ada najib di antara mereka.


Zia meraih tangan jihan. " ikutlah!"


"Apakah dia bisa dipercaya?" tanya jihan ragu.


Kali ini najib benar-benar kesal hingga dirinya reflek mendekati jihan dan menarik telinganya. " Aww!"

__ADS_1


"Sakit?" Tanya najib.


"Seperti itulah yang akan aku lakukan kepada siapapun yang akan mengganggu ibumu." sambung najib.


"Ck! Cuma begitu? Aku jadi tidak yakin menitipkan ibuku padamu!" Seru jihan.


"Kalau kalian lebih senang menghabiskan waktu untuk berdebat, lebih baik tante pergi sekarang!" Zia tidak habis pikir dengan kedua manusia beda jenis itu, setiap kali bertemu pasti berdebat. Bagaimana mungkin dirinya bisa menjodohkan keduanya, akan jadi apa rumah tangganya kelak. Zia menggelengkan kepalanya melihat itu semua.


"Baiklah! Aku titip ibuku. Kalau...."


"Pergilah!" Ucap najib memotong kalimat yang akan jihan katakan.


Zia dan jihan meluncur ke rumah kinanti, hati jihan begitu cemas akan respon yang keluarga kinanti berikan kepadanya. Tapi, apapun yang terjadi dia tetap harus melihat bram untuk yang terakhir kalinya.


Sementara itu proses pemakaman bram terpaksa tertunda karena keributan kecil yang dilakukan ibrahim. Dan terlebih karena memang harus menunggu kinanti sadar agar dia pun melihat papahnya yang terakhir kalinya.


"Kinanti bagaimana?" Tanya riana kepada amanda yang baru saja akan keluar dari pintu kamar kinanti.


"Baru sadar, tan. Sepertinya dia sangat terguncang." jawab amanda.

__ADS_1


Riana menatap kinanti dari sela pintu yang belum sempurna amanda tutup. Dia begitu sedih melihat putrinya sangat terpuruk seperti itu. Ya, walaupun dirinya sendirilah yang menginginkan kematian bram. Dan tentu ada seseorang di balik riana dan angga yang lebih menginginkan kematian bram.


Bersambung.....


__ADS_2