
Setelah puas dengan rasa kesalnya, jihan kembali menatap ibunya yang masih mematung.
Najib dan ibra benar-benar payah, disaat jihan ngamuk mereka tidak bisa di andalkan. Bahkan hanya jadi penonton tanpa bisa menghentikan apa yang jihan lakukan.
"Bu, apakah aku terlihat buruk dimatamu?" tanya jihan lirih. Tidak ada yang jihan takutkan selain pandangan buruk ibunya, dia tidak mau membuat ibunya semakin sedih karena sifatnya yang seringkali tidak bisa dia kontrol.
Aisyah menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan jihan. Dia meraih jihan dan memeluknya dengan erat.
"Bersabarlah, nak. kendalikan emosimu. Karena sesungguhnya setan menyukai orang yang tidak bisa mengendalikan emosi." Nasehat aisyah dengan lembut di telinga jihan.
"Bu, katakan padaku. Apa yang harus aku lakukan untuk membela diriku."
"Berdo'alah, nak. allah maha tau apa yang sebenarnya terjadi, tidak ada masalah kecuali allah sudah menyiapkan jalan keluarnya. Ibu berharap kamu tetap yakin, kalau ada allah yang maha segalanya."
Sesungguhnya hati aisyah sendiripun tidak setenang ucapannya, karena aisyah justru lebih takut daripada jihan. Namun aisyah tidak mau, ketakutannya menjadikan jihan semakin lelah dan lemah. Walaupun jihan terlihat biasa saja, tapi hati seorang ibu tidak bisa dibohongi kalau anaknya sedang tidak baik-baik saja.
"Bu, terima kasih." ucap jihan lirih.
Najib dan ibra sungguh tidak bisa melihat adegan mengharukan antara ibu dan anak itu, Najib bahkan tidak malu meneteskan air matanya.
Hingga bunyi dering ponsel ibra mengalihakan semua mata, entah siapa yang menelponnya. Ibra segera pergi setelah mengakhiri panggilan di ponselnya, langkahnya yang tergesa membuatnya lupa pamit kepada tiga manusia di ruangan itu.
"Astaga! Dasar gak ada akhlak. Main pergi-pergi saja." ucap najib.
"Bu, aku juga pamit. Jangan terlalu dipikirkan, aku dan yang lainnya akan mencari tahu kebenaran dari ucapan tante riana.
"Jihan, aku ada untukmu." ucap najib lagi. Entah keberanian dari mana dia mengatakan hal itu.
Jihan mengerutkan keningnya mendengar ucapan najib yang entah itu rayuan, atau apalah semacamnya.
"Kenapa? Ada yang salah dengan ucapanku, hem?" tanya najib pura-pura tidak paham dengan tatapan jihan yang seakan meminta penjelasan atas kalimat yang di ucapkannya.
Aisyah menyunggingkan senyum melihat jihan yang seolah akan menerkam najib.
"Baiklah, kalau kalian masih mau ngobrol. Ibu akan kebelakang untuk merapihkan belanjaan." ucap aisyah berlalu meninggalkan najib dan jihan.
Disisi lain hatinya aisyah merasa bersyukur karena jihan dikelilingi orang-orang yang masih perduli dan menyayanginya.
__ADS_1
Jihan menatap najib dengan penuh selidik, karena sejak kemarin dia sangat mencurigai pria tampan didepannya itu.
"Berhentilah menatapku seperti itu. " ucap najib berusaha menetralkan degupan di dadanya.
"Pergilah! Bukankah tadi kamu sudah pamit. Lalu kenapa masih disini."
"Eh! Aku kira..." kalimat najib terpaksa menggantung, melihat jihan yang sudah berlalu dari hadapannya.
"Astaga, jihan. pesonamu membuatku hilang akal." gumamal najib.
Segera najib keluar dari rumah mewah itu, tak lupa dia menutup pintunya.
***
Tak
Tok
Tak
Jari jari ibra mengetuk meja, karena rasa bosan yang menghampirinya.
Dia yang pergi dengan terburu, hingga lupa untuk pamit dan sekarang bahkan dia masih harus menunggu.
"Bos" ucap seorang pria di belakang ibra.
"Katakan. Apa yang kamu dapat?" tanya ibra langsung pada intinya.
"Surat itu ada di tangan angga, dan pria bernama riki itu seorang pria tua yang memiliki kelainan seksual. Sudah banyak gadis yang menjadi korban nya." lapor pria bernama riko, yang tak lain adalah anak buah ibra.
"Lalu."
"Hanya itu saja, bos. Saya masih belum menemukan keterkaitan kakak ipar bos."
pletak
Ibra melemparkan asbak yang berada di meja cafe itu, membuat semua mata menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Aku sudah menunggu hampir satu jam disini, dan kamu hanya memberiku info itu sjaa. Dasar tidak berguna!"
"Maaf bos, saya tidak berani menyelidiki kak riana, karena bos bram melarangnya."
"Jadi kak bram sudah tau, kalau aku sedang menyelidiki istrinya."
"Ya, bahkan dia bilang. Kalau urusan kak riana. Bos bram yang akan mengurusnya.
"Baiklah."
"Sekarang, saya harus apa bos?" tanya riko.
"Kamu carikan aku istri!"
"Apa?" mata riko membulat mendengar perintah ibra yang selalu di panggilnya bos itu.
Ibra tidak menanggapi anak buahnya itu. Dia pergi meninggalkan riko yang masih bingung dengan perintah ibra, itu perintah atau hanya lelucon garing yang ibra katakan. Membuat riko pusing dibuatnya.
Dikediaman angga...
"pah, apakah benar kalau jihan mencuri surat rumah nenek dan menggadaikannya?" tanya amanda yang baru mendengar kabar itu dari riana. Karena dia baru saja pulang dari singapur untuk menenangkan hatinya yang patah. Sehingga dia banyak kehilangan info penting di keluarganya.
"Ya, kamu benar."
"Jadi, kenapa papah tidak usir saja mereka."
"Tidak, manda. Papah akan membuat jihan masuk penjara terlebih dahulu, karena dia sudah berani membuat najib menolak dirimu. Setelah itu papah baru akan mengusir aisyah. Papah yakin jihan akan sangat menderita."
Amanda tersenyum mendengar semua rencana papahnya, ya. Amanda yang berusaha mencari info tentang najib dan kinanti. Malah dikejutkan dengan info yang mengatakan kalau najib mencintai jihan, bahkan zia tante dari najib mendukungnya dan sedang berusaha mendekatkan mereka.
Karena itulah amanda pergi untuk menenangkan dirinya ke singapur. Tapi ternyata angga tidak bisa terima kalau anaknya amanda harus kalah dari jihan yang hanya seorang gadis biasa dan miskin. Tanpa mereka tahu kalau jihan sama sekali tidak pernah mencintai najib.
Ego dan emosi sesaat, mengalahkan akal sehat mereka.
Bersambung
Terima kasih gaes. Atas dukungan kalian. Semoga masih semangat yah baca ceritanya... Jangan lupa dukungan poin nya untuk jihan. Like dan komen jika kalian suka dengan ceritanya
__ADS_1
Salam sehat untuk semua sahabat 😘