Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab6 menyesal


__ADS_3

Plak


Plak


dua kali tamparan mendarat di pipi mulus jihan.


"Nenek!" teriak kinanti yang tidak percaya kalau nenek akan menampar jihan.


"Bu... Kita bisa bicarakan baik-baik." ucap ibu dengan suara bergetar sambil terus memeluk ku.


"Bu, jihan tidak apa. Bukan salah nenek jika aku mendapat tamparan ini." ucapku.


Aku lihat amanda yang tersenyum puas di belakng nenek, ya.. Aku memang salah harusnya aku tidak menampar amanda, tapi setelah melihat senyum itu. Rasanya satu tamparan masih belum cukup.


"Ma... Maafkan nenek." ucap nenek dengan suara bergetar. Bahkan airmatanya hampir jatuh.


"Tidak masalah, tamparan ini tidak berarti apa-apa untuk ku. Dan aku tidak pernah menyesal menampar amanda." jawabku.


Aku pergi meninggalkan mereka semua.


"Jihan, maafkan nenek sayang!" teriak nenek setelah aku menaiki tangga menunju lantai dua.


Aku abaikan ucapan nenek, bukan karena marah padanya tapi karena aku yang tidak bisa berbuat apapun bahkan untuk pergi darisini saja aku masih ragu.


Sampai di atas segera aku kunci pintu kamar, merasakan panas di pipiku.


Tok.. Tok.. Tok..


"Jihan, buka pintunya, nak."


"Biarkan ibu masuk."


"Jihan... Jihan.."


Ibu masih saja memanggilku, karena masih tidak ingin bicara aku abaikan ibu dan memilih menutup diriku dengan selimut.


"Ais, biarkan saja. Nanti kalau sudah tenang biar ibu yang bicara dengan nya"


Suara nenek yang mencoba menghentikan ibu mengetuk kamar ku.


Tidak ada lagi suara di depan pintu kamar, aku segera bangkit dan membuka pintu. Benar saja sepertinya ibu kebawah bersama dengan nenek.


Segera aku mengambil ponsel dan mulai mengetik cerita bab demi bab aku selesaikan.


Aku memang hanya tamatan smp, sebab itulah susah untuk mendapatkan pekerjaan, di usia ku yang hampir 20 tahun ini aku masih belum bekerja, bukan karena tidak mau tapi sudah berusaha mencari dengan modal ijazah smp ku. Tapi semuanya tidak pernah menghasilkan.


Akhirnya aku membantu ibu yang bekerja menjadi buruh cuci dari rumah ke rumah.


Sampai pada akhirnya aku bertemu dengan seorang penulis yang memberikan banyak ilmu dan juga membimbingku hingga aku memberanikan diri menjadi penulis di salah satu platfrom online.


Alhamdulilah, berkat bimbingan dan keuletanku akhirnya aku sudah menjadi penulis kontrak yang setiap bulan mendapatkan bayaran. Walaupun masih pemula aku terus berusaha agar bisa membantu perekonomian keluarga.


"Jihan.. Jihan.. Keluar kamu!"


Suara paman angga di depan pintu, aku yakin amanda pasti sudah mengadu yang tidak-tidak.


Ceklek

__ADS_1


plak


Plak


Baru saja pintu aku buka, tangan paman angga sudah mendarat di pipiku. Rasa panas yang tadi belum hilang sekarang ditambah lagi.


"Paman... Hentikan!" ucap najib yang menahan tangan paman angga saat akan kembali mendarat di pipiku.


"Gadis ini pantas mendapatkan nya, beraninya dia menampar amanda, memangnya siapa dia!" hardik paman angga dengan berapi-api.


"Jihan, sudah mendapatkan nya dari nenek. Paman tidak pantas menampar jihan, selain jihan perempuan dia juga tidak sepenuhnya salah." jawab najib berusaha membelaku.


"Wow ada apa denganmu, najib? Kamu membela gadis sialan ini?" lagi-lagi paman angga menghinaku.


"Diamlah kalian! Aku disini bukan untuk mendengar ucapan sampah kalian. Kalau paman mau menamparku lagi, silahkan. Tapi aku akan mematahkan tangan paman yang sudah menyentuh kulit wajahku!" geramku.


"Apa yang kamu katakan, dasar gadis gila!" hardiknya.


Paman pergi meninggalkanku setelah mengatakan hal yang tidak enak.


"Aku tau kamu takut, paman." gumamku.


"Apa kamu akan benar-benar mematahkan tangan paman angga?" tanya najib dengan wajah yang masih terkejut.


"Kenapa tidak. Bahkan aku juga bisa mencongkel matamu kalau kamu masih menatapku seperti itu." jawabku.


Mendengar itu najib segera memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


"Pergilah! Kamu mau apa lagi masih disini?"


"Ya, iya aku akan pergi. Saranku jangan terlalu galak, nanti semua pria akan takut menikahimu." ucapnya sebelum benar-benar pergi dari hadapanku.


Aku banting pintu kamarku, setelah najib menghilang dari pandangan mataku.


Rasa kesal yang belum hilang membuat kepalaku semakin berdenyut, entah sampai kapan aku akan bertahan dirumah ini. Andai saja ibu mau pergi dari sini, akan aku ajak pergi dari sini dan mencari kontrakan kecil untuk sekedar berteduh.


***


Keesokan hari...


Seperti biasa aku membantu ibu di dapur, menyiapkan sarapan dan lain sebagainya.


"Jihan, apakah pipimu masih terasa sakit?" tanya ibu setelah semua sarapan tersaji di meja makan.


"Tidak, ibu jangan khawatir." jawabku.


"Syukurlah"


"Bu"


"Hemm"


"Apakah kita pergi saja dari rumah ini, aku tidak mau paman dan tante menyakiti ibu." ucapku.


"Apakah kamu sudah tidak bisa bertahan disini? paling tidak untuk nenek."


"Apa yang harus aku pertahankan? Bahkan nenek menamparku tanpa bertanya apa masalahnya."

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari ibu, aku yakin ibu merasa bingung karena bagaimanapun ibu tidak bisa meninggalkan nenek sendiri di usia yang sudah senja.


"Apakah jihan masih marah?"


Aku dan ibu melihat ke asal suara, ternyata nenek sudah berada di belakangku dan ibu. Entah sejak kapan nenek disana.


"Apakah kamu tidak mau memaafkan, nenek?" tanya nya lagi.


"Maafkan nenek.. Nenek tau kamu pasti masih marah dan kesal, tapi nenek mohon jangan pergi dari sini." sambungnya lagi.


Aku masih tidak menjawab pertanyaan nenek, rasa kesal masih sangat memenuhi relung hatiku. Bagaimana tidak, setiap kali mengingat tamparan nenek, seakan-akan senyum puas amanda menari-nari di pelupuk mataku. Sehingga rasa kesal itu kembali memenuhi hatiku.


"Jihan, nenek sangat menyesal. Maafkan nenek, karena kemarin tidak bertanya dulu apa masalahnya." ucap nenek dengan suara yang bergetar menahan tangis.


"Jihan, bicaralah" sambung ibu.


"Aku tidak marah nek, aku juga sudah memaafkan nenek. Adalah hal yang wajar kalau nenek kemarin menamparku. Aku sudah melupakan nya." jawabku.


Grepp


Nenek memeluk ku dengan airmata yang sudah tidak bisa lagi ditahannya.


"Hik.. Hik.. Maafkan nenek, jihan. Nenek sangat menyesal"


"Setelah mendengar penjelasan kinanti, nenek merasa sudah berbuat aniyaya kepadamu, nak." ucap nenek dengan isak tangis.


"Nek, jihan tidak marah. Nenek tenang saja selama ibu masih menginginkan tinggal disini, aku akan tetap disini." jawabku, melepaskan pelukan nenek dan ku hapus airmata di wajah tuanya.


Melihat nenek menangis aku jadi merasa bersalah, begitu egoisnya aku hingga membiarkan nenek sampai menangis tergugu.


"Maafkan jihan, karena sudah membuat nenek menangis." ucapku.


Kembali nenek memeluk ku, ah aku paling benci suasana seperti ini. Dimana harus melihat airmata


"Kapan kita akan sarapan, nek. Jihan sudah sangat lapar." tanyaku saat nenek masih dengan erat memeluk ku.


"Ah iya, nenek sampai lupa."


"Ayo makan, ais tolong nanti masukan beberapa lauk dan juga nasinya kedalam kotak bekal. Biar jihan antarkan ke kantor najib, dia tadi berangkat pagi sekali sampai lupa sarapan." ucap nenek.


Uhuk


Uhuk


"Jihan, pelan-pelan." ucap ibu menyodorkan segelas air.


Aku minum hingga tandas, bagaimana bisa nenek bicara begitu tanpa bertanya apakah aku mau atau tidak.


"Kamu mau kan, jihan." tanya nenek.


"Eh! I... Iya nek." jawabku.


"Astaga! Kenapa aku jawab iya." gumamku di dalam hati.


"Nenek tau, kamu pasti tidak akan menolak permintaan nenek." ucap nenek.


Setelah semuanya disiapkan ibu, aku segera tancap gas menuju kantor najib. Awalnya nenek memintaku menggunakan mobil diantar supir, tapi aku menolaknya karena aku lebih suka menggunakan motor.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2