Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 57.


__ADS_3

"Riana! Berhenti teriak. Biarkan saja, kita akan menemui kinanti saat dia sudah sadar nanti." Ucap angga kesal, karena riana tidak mau mendengarkan nya.


"Tapi, kak. Ibra akan mempengaruhi kinan."


"Biarkan saja! Tugasmu sekarang segera urus surat-surat yang sudah di cap jempol suamimu. Setelah pemakaman selesai."


Riana tidak lagi menjawab, entah kenapa hatinya kini merasa sepi setelah kepergian bram untuk selamanya. Ada rasa bersalah karena sudah membuat suaminya terkena serangan jantung hingga meninggal. Tapi, rasa itu segera ditepisnya jauh-jauh.


"Riana, cepatlah!" ucap angga yang tidak sabar dengan pergerakan riana yang lambat.


Riana hanya menganggukan kepalanya mengikuti saran dari kakaknya. Segeralah dia menemui dokter dan memgurus semuanya, diapun segera menghubungi ibunya memberitahu kabar duka itu.


**

__ADS_1


Pagi-pagi sekali setelah memberitahu semua keluarga besarnya, proses pemakaman bram pun segera di lakukan. Isak tangis mengiringi kepergian bram. Bahkan sang ayahpun ikut datang menghadiri, dia tidak kuasa menahan laju air matanya yang terus mengalir. Entah menangis karena apa, rasa kehilangankah atau bersalah yang sudah menelantarkan anak-anaknya. Kinanti yang masih tidak percaya harus kehilangan sang ayah kembali tidak sadarkan diri. Dia benar-benar terpukul ditambah lagi ingatannya yang tidak pernah lepas dari semua perkataan angga di rumah sakit semalam.


Drap


Drap


Drap


Semua mata tertuju pada langkah kaki yang begitu nyaring memenuhi pemakaman itu. Ya, dia adalah ibrahim abdulah yang datang bersama dengan beberapa anak buahnya dan juga dua orang polisi. Bukan untuk menangkap riana melainkan hanya untuk menekan seorang riana dan angga sekaligus memberitahunya kalau bukan penjara akhir dari kehidupan riana dan juga angga beserta antek-anteknya yang berada dibelakang mereka.


"Nenek." ibrahim menyalami nenek dan melepaskan kaca mata hitam yang sejak tadi bertengger di hidungnya.


"Tidak ada apa-apa, dia hanya teman dari kak bram yang ingin mengikuti proses pemakaman kak bram. Sekaligus mencari tahu kenapa kak bram meninggal secara mendadak. Tentu bukan karena penyakit jantungnya tapi sebab dari kenapa penyakitnya bisa sampai kolaps dan meninggal." Sambung ibrahim menatap tajam riana dan angga. Sehingga menimbulkan tanya dibenak sang nenek.

__ADS_1


"Ibrahim! Jaga ucapanmu!" Bentak sang ayah yang merasa kalau ibrahim selalu saja mengacaukan.


"Wah, rupanya anda juga hadir disini. Untuk apa? Untuk turut berbahagia karena kematian kak bram adalah impian istri mudamu itu." Ucap ibrahim. Sontak saja semua mata kini beralih kepada ayah dari ibrahim dan bram.


"jaga bicaramu! Atau aku..."


"Aku tidak pernah menganggapmu setelah kematian ibu dan kamu lebih memilih wanita itu! Jadi, tidak ada yang perlu aku jaga dalam berucap kepadamu. Karena itu kenyataannya, jangan menutup matamu hanya karrna cinta. Karena kamu harus tau, kak bram pun mati karena cintanya yang gila. Hingga dia tidak bisa membedakan mana malaikat dan mana iblis." Ucap ibrahim memotong kalimat yang akan ayahnya ucapkan.


"Tapi, ya sudahlah! Urusanmu bukan urusanku. Hanya saja, kalau aku menemukan nama istrimu masuk dalam daftar orang yang menghabisi kak bram. Jangan harap aku akan mengampuninya walaupun dia istrimu, camkan itu!!" sambung ibrahim. Dia melangkah pergi meninggalkan ayahnya dan ibu tirinya. Kakinya melangkah pasti ke arah jasad sang kakak, di ciumnya untuk yang terakhir kali. Walaupun harus bersusah payah dia menjaga air mata agar tidak menetes. Setelah mengatakan janjinya kepada sang kakak, ibrahim berlalu pergi dari sana. Di ikuti riko dan juga beberapa orang anak buahnya.


"Aku tidak akan hancur seperti yang kamu inginkan, riana." ucap bram lirih. Saat dirinya melewati riana kakak iparnya itu.


Tidak ada jawaban dari riana, dia hanya membuang mukanya dengan dada yang bergemuruh merasakan aura yang sangat menakutkan dari suara ibrahim.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2