Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 26.


__ADS_3

Tap


Tap


Tap


Suara sandal yang menapaki anak tangga, membuat kedua pria tampan itu menatap ke arah yang sama.


"Kalian, ada apa? Langsung saja, karena aku sedang tidak ingin di ganggu." tanya jihan datar. Hatinya benar-benar sedang resah memikirkan semua masalah yang sedang dihadapinya.


"Aku." Ucap kedua pria itu bersamaan.


Jihan mendekati mereka, dan ikut duduk di sofa dimana mereka duduk.


"Kalian ada apa?" ulang jihan.


"Aku, kesini hanya ingin memastikan kebenaran kabar yang aku dengar." ibra membuka suaranya terlebih dahulu, dan nampaknya najib pun ingin menanyakan hal yang sama, karena dia mengangguk saat ibra mengatakan itu.


"Luar biasa! Bahkan matahari saja belum sempurna naik, tapi kabar itu sudah kalian ketahui."


"Aku akan membantumu, jihan. Kamu jangan khawatir. Dan satu hal yang perlu kamu ingat. Apapun ancaman yang kamu dapatkan jangan pernah kamu menyetujui menikah dengan pria bernama riki itu." Ucap ibra tegas.


"Astaga! Apakah kau mengetahui semuanya?" tanya jihan.


"Ya, aku tahu semuanya dari cerita nenek." jawab ibra.


"Nenek, jadi nenek ada di rumah tante riana?"


"Ya, semalam kak riana yang membawanya dari rumah angga."


Jihan nampak memikirkan sesuatu, dia merasa ini adalah ulah dari paman dan tantenya. Hatinya memanas hanya dengan membayangkan wajah keduanya.


"Aku tidak akan menuruti apapun itu, walaupun kamu tidak menawarkan bantuan. Aku lebih baik masuk penjara andai tidak bisa membuktikan kalau bukan aku yang mencuri surat rumah nenek."


"Itu bagus, aku juga akan membantumu, jihan." ucap najib yang sedari tadi hanya diam menyimak.


"Baiklah! Terima kasih. Sekarang kalian boleh pergi."


"Eh! Apakah tidak ada makanan atau minum untuk sarapan." ucap najib.


Aisyah bahkan lupa untuk memberi tamunya minum, saking banyaknya pikiran yang mengisi kepalanya.


"Ini bukan warkop. Kalian bukan orang miskin. Beli saja sendiri!"


Ibra terbahak, senang melihat najib mati kutu.


"Kamu kira aku topeng mony*t yang sedang menghibur, hah! Tertawa tidak tau sikon."


"Ya ya ya ... Anggap saja seperti itu."


Jihan meninggalkan keduanya di ruang tamu, dia sedang tidak tertarik melihat lelucon receh kedua pria tampan itu.


"Kalau kalian keluar, jangan lupa tutup pintunya! Aku tidak mau barang-barang nenek hilang dan aku yang jadi tersangka!" teriak jihan yang sudah berada di tangga paling atas.


"Astaga! Si jihan, keterlaluan. Masa ditinggal begini sih." ucap najib.


Bukannya pulang kedua pria itu malah merebahkan diri di sofa ruang tamu.


Tiga jam kemudian....

__ADS_1


Melihat pintu tidak dikunci kinan dan riana segera masuk dan mendapati dua pemuda sedang tertidur di ruang tamu.


"Eh! Kenapa pada tidur disini?" gumam kinan yang baru saja memasuki rumah neneknya.


"Astaga!" ucap riana saat tahu kalau najib pun ada dirumah ibunya.


"Jihan!" teriak riana


"Aisyah! Turun kalian!" teriaknya lagi. Wajah riana sungguh sangat menakutkan.


Najib dan ibra langsung bangkit dari tidurnya saat mendengar suara riana yang menggelegar. Bahkan tikus dan semua binatang pun mulai mencari tempat yang aman demi berlindung dari suara lantang riana.


"Mah, kecilkan suaranya." tegur kinan.


"Dimana ibu dan anak itu. Benar-benar tidak tau diri!"


"Mah."


"Diamlah! Aku sedang tidak bicara denganmu, kinan." ucap riana yang sudah tidak sabar ingin memaki jihan dan aisyah.


"Kak, kecilkan suaramu. Ini bukan rumahmu!" teriak ibra.


"Tapi ini rumah ibuku! Kalian sedang apa disini, hah!"


"Aku bukan anak 5 tahun yang harus menjawab pertanyaan konyolmu itu, kak." jawab ibra dengan mode santai.


Lain halnya dengan najib yang hanya diam saja tanpa memgatakan apapun. Dia benar-benar terkejut dengan suara riana, bahkan sekarang pun nampaknya nyawanya belum sepenuhnya kumpul. Hingga membuatnya seperti orang linglung.


"Tante, mencariku. Ada apa?" tanya jihan. Yang sudah berada di belakang riana. Entah kapan gadis itu turun dari atas.


"Dimana ibumu?" tanya balik riana.


"Kamu jawab saja, dimana ibumu?" kesal riana.


"Bagaimana kalau aku tidak mau menjawabnya?" tantang jihan menatap riana dengan tatapan tajam.


"Ck! Bagaimana bisa ibuku memelihara maling seperti kalian dirumah ini." ucap riana memancing emosi jihan.


"Berdo'alah sebanyak-banyaknya, tante riana. Karena, kalau aku menemukan bukti dari fitnah ini. Aku tidak akan melepaskan orang tersebut. Akan aku buat kaki dan tangan nya patah." ucap jihan tegas.


Jantung riana hampir saja lepas dari tempatnya. Mendengar ucapan jihan, bahkan dia harus susah payah menelan salivanya.


"Jangan anggap aku bodoh, hanya karena aku tamagan SMP dan miskin. Karena aku punya otak yang cerdas untuk bisa menemukan dalang dari fitnah ini." sambung jihan lagi.


"Kak jihan, aku percaya kalau kakak tidak mungkin melakukan itu." ucap kinan mencairkan ketegangan yang terjadi antara jihan dan riana.


"Terima kasih! Sekalipun kamu tidak percaya. Aku tidak akan pernah terpuruk, apalagi menangis hanya untuk meratapi kesalahan yang bahkan tidak aku lakukan." ucap jihan dengan mata masih tertuju ke arah riana.


"Asalamu'alaikum." ucapan salam membuat semuanya memgalihkan pandangan ke arah pintu.


"Wa'alaikumsalam"


"Ibu ais, sini aku bantu." ucap kinan, saat melihat aisyah yang baru datang dengan membawa beberapa kantong plastik.


Tap


Riana mencekal tangan kinan yang akan menghampiri aisyah, dan menariknya hingga kinan yang sudah maju kembali mundur akibat tarikan riana.


"Mamah."

__ADS_1


"Jangan membantah! Dan hentikan panggilan ibu untuk wanita miskin itu." ucap riana dengan mata membulat sempuran.


"Kak, tarik kembali ucapanmu!" teriak ibra dengan rahang mengeras. Dia sudah tidak tahan dengan kelakuan kakak iparnya itu.


"Kamu jangan ikut campur! Dan kamu juga najib, pulanglah." usir riana.


Najib yang sedari tadi hanya diam saja akhirnya angkat bicara.


"Maaf tante, aku dan ibra disini untuk membantu jihan menemukan siapa dalang dibalik ini semua." jawab najib tegas.


"Untuk apa? Kalian hanya akan membuang waktu kalian saja. Karena ibuku sudah melaporkan semuanya kepada polisi." ucap riana.


"Dan, perlu kalian tahu. Bahkan istri pertama pria bernama riki itupun akan melaporkan jihan, atas kasus perselingkuhan."


"Gadis seperti itukah yang kalian bela, hah? Dia bahkan menipu neneknya sendiri hanya demi uang." teriak riana lantang.


Deg


Deg


Deg


Aisyah terkejut, hingga semua belanjaan lepas dari genggaman tanganya.


Plak


Plak


Tamparan mendarat di pipi mulus riana, jihan sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Dasar tidak tau diri!" ucap riana mengusap pipinya yang terasa panas.


"Hentikan omong kosongmu itu. Tante. Atau aku akan mencabik-cabik mulut besarmu." ucap jihan dengan napas memburu menahan amarah yang sudah hampir meledak.


"kinan. Bawa ibumu pulang, atau aku akan lepas kendali." sambung jihan dengan sorot mata tajam.


Bahkan najib dan ibra tidak berani bersuara melihat kemarahan jihan yang begitu tampak di wajahnya.


"Ya, baiklah. Aku akan pulang, dan ingat. Kamu harus bersiap-siap masuk penjara, dan aku akan mengusir ibumu. Karena orang miskin seperti kalian tidak pantas dirumah mewah seperti ini." hina riana dengan senyum sinis menatap aisyah.


Gigi jihan mengemeretak menahan emosi, bahkan tangannya sudah terkepal erat. Melihat kondisi yang tidak baik, kinan segera menarik ibunya keluar dari rumah itu.


prank


Prank


Prank


Jihan menghentakan kakinya menendang apapun yang ada didekatnya.


Bersambung...


Hai, sahabat semuanya...


Terima kasih atas dukungan kalian di cerita pertamaku. Semoga selalu suka dengan ceritanya ya. selamat malam dan sehat selalu


Love love love 😘


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2