Jangan Hina IBUku

Jangan Hina IBUku
Bab 25


__ADS_3

"Assalamu'alaikum." ucap jihan ketika pintu depan terbuka. Tqpi tak ada orang di dalam.


"Eh! Kok gak ada orang. Kemana ibu dan nenek" gumam jihan.


Jihan kembali ke luar dan menemui pak hasan.


"Pak, apakah nenek pergi?" tanya jihan saat melihat pak hasan di pos satpam sedang menikmati secangkir kopi.


"Tidak, neng. Sejak tadi nenek dan bu aisyah tidak pergi." jawab pak hasan.


"Oh, baiklah. Mungkin di kamar, terima kasih pak." ucap jihan dia segera masuk dan naik ke atas. Kamar ibunya yang menjadi tujuannya.


Setelah kepergian jihan, pak satpam merasa dia melupakan sesuatu, tapi entah itu apa.


"Bu, ibu!" panggil jihan di depan kamar aisyah.


Sekian menit jihan menunggu tapi tidak nampak pergerakan apapun didalam kamar aisyah, perasan khawatir mulai menyapa hati jihan.


Dia segera menuju kamar neneknya, dan hal yang sama pun didapati jihan. Kedua kamar itu seperti kosong dan terkunci. Entah kemana perginya nenek dan ibunya.


jihan kembali menuruni tangga, kini tujuan nya dapur dan taman belakang, semoga saja nenek dan ibu ada disana.


"Aku tidak mau tau, aku mau kamu menyetujui permintaanku kak ais!" teriak seseorang . Yang terdengar jelas ditelinga jihan. Dengan langkah seribu jihan segera menuju taman belakang, karena dia yakin mereka ada di sana, terbukti dengan terbukanya lebar pintu belakang yang menghubungkan antara dapur dan taman.


"Ibuuuu!" jihan segera menghambur memeluk ibunya yang sedang menangis.


"Bu, ada apa?" tanya jihan yang mulai terpancing emosi.


"Bagus kamu pulang, sekarang aku minta kamu tanda tangani surat ini." angga melempar beberapa kertas tepat di wajah jihan.


"Apa lagi ini? Bukankah surat hutang piutang sudah selesai. Lalu ini apa?"


"Itu surat perjanjian kalau kamu dan ibumu setuju untuk menerima pria yang bernama Riki menjadi suamimu."


"Apa! Apa maksud paman? Aku tidak mau. Apa-apaan ini!" jihan melempar kembali lembaran kertas itu di kaki angga.


"Dasar tidak tau di untung! Kalau kamu menikah dengan pria itu hidup kalian akan enak. Jadi kalian gak harus numpang lagi di rumah ini."


"Sudah miskin, jangan belagu. Aku ingatkan kalian, kalau dalam waktu 2 hari kalian tidak menandatangani surat itu. Aku pastikan kalian tidak akan lagi melihat nenek." Ancam angga. Dan dia segera meninggalkan jihan dan aisyah.


Jihan tidak mengerti kenapa dia harus menyetujui permintaan gila itu.


"Bu, apakah ibu baik-baik saja?" tanya jihan membantu ibunya berjalan masuk kedalam rumah.


"Ibu tidak apa-apa, tapi..."

__ADS_1


"Tapi apa?"


"Nenekmu, dibawa oleh angga dan ibu tidak tau nenek sekarang ada dimana. Tadi nenek sempat pingsan saat mendengar..." lagi dan lagi aisyah menjeda ucapan nya, hingga jihan dibuat kesal dengan kalimat aisyah yang menggantung.


"Mendengar apa?"


"Kalau kamu sudah menggadaikan surat rumah ini, dan kalau kamu tidak bisa membayarnya maka orang itu memintamu menjadi istrinya. Jika kamu menolak maka mereka akan memasukanmu kedalam penjara."


"Jihan, katakan pada ibu. Kalau semua ucapan pamanmu itu tidak benar."


"Bu, aku berani sumpah. Kalau aku tidak tau menau soal surat rumah ini, bagaimana bisa aku menggadaikan nya." jihan meraih tangan aisyah dan menggenggamnya erat.


"Walaupun ibu membawaku tidur dikolong jembatan, aku akan mengikuti ibu daripada harus menggadaikan surat rumah nenek."


"Apakah ibu tau, berapa jumlah uangnya." tanya jihan lagi.


"5 Milyar."


Glek


Tiba-tiba saja jihan merasa sulit menelan salivanya, mendengar nominal yang disebutkan aisyah.


"Li... Lima milyar." ulang jihan yang mendadak menjadi gagap.


"Tapi bagaimana bisa bu, aku bahkan tidak pernah mempunyai uang sebanyak itu. I... Ini pasti ada yang salah. Bu katakan padaku kalau ibu percayakan, jihan gak mungkin melakukan semua itu dan untuk apa."


"Aku tidak perduli dengan yang lain, bagiku asalkan ibu percaya itu sudah cukup!"


Aisyah memeluk jihan dengan erat, air matanya mengalir walaupun dia sudah berusaha untuk tidak menangis. Tapi rasanya mengingat semua yang akan menimpa jihan, dirinya sungguh tidak kuasa menahan sesak didadanya.


"Bu, berhentilah menangis. Aku akan mencari tahu semua ini, bagaimana bisa tuduhan itu mendarat padaku."


"Dan kalau aku menemukan orang yang sudah memfitnahku, tolong jangan halangi aku untuk menghajarnya hingga dia berlutut di kakimu, bu." sambung jihan dengan emosi yang berusaha dia tahan.


Aisya semakin tergugu, didalam hatinya dia terus melangitkan do'a, agar jihan selalu dalam lindungannya. Begitu banyak yang menginginkan kesusahan untuk jihan, aisyah tidak bisa melakukan apapun selain bait bait do'a yang dia gaungkan disetiap sujudnya. Mengharapkan kehidupan yang lebih baik untuk jihan putrinya.


Sementara itu di rumah angga, terlihat angga dan riana tertawa bahagia, karena rencananya sebentar lagi akan berhasil. kebencian dihati riana membuatnya tega melakukan apapun demi untuk melihat jihan dan aisyah semakin terpuruk.


"Kak, sekarang bagaimana dengan surat itu?" tanya riana.


"Ada padaku, dan kamu tenang saja semuanya aman. Orang miskin seperti mereka tidak akan mengerti kalau ini hanya jebakan."


"Lalu, bagaimana dengan si riki itu. Kak angga dapat darimana?"


"Dia itu laki-laki kaya raya yang sudah tua dan doyan kawin. Makanya saat aku menawarkan jihan dan memperlihatkan fotonya dia langsung mau dan rela mengeluarkan uang berapapun."

__ADS_1


"Jadi, maksud kakak. Dia akan dijadikan istri kedua."


"Bukan kedua, tapi ke lima. Dan kamu tau, pria itu mempunyai kelainan. Yang selalu tidak puas dengan satu wanita."


"Astaga! "


" Ya, kamu akan melihat bagiaman jihan akan menderita kalau harus menikah dengan bandot tua itu. Ha ha ha ha" suara tawa angga menggema diseluruh penjuru rumah itu. Entah kesalahan apa yang jihan lakukan hingga mereka sangat buruk dalam memperlakukan jihan dan aisyah.


"Satu lagi yang kamu pasti bahagia, ri."


"Apa itu?"


"Ibu sangat membenci jihan dan aisyah, saat tau kalau rumah ibu digadaikan."


"Benarkah? Ini kabar yang sangat baik. Aku akan merayakan nya." ucap riana bahagia.


***


Tak


Tok


Tak


Tok


Jari-jari jihan terus mengetuk meja di depannya, semalaman jihan tidak bisa tidur memikirkan semua kejadian yang sekarang sedang menimpanya. Bahkan beberapa panggilan diponselnya pun dia abaikan.


Pikiran jihan melayang jauh, mencoba mencari solusinya. Namun semua sia-sia karena otaknya benar-benar tidak bisa bekerja. Dia menyesali kebodohannya. Dia juga menyesali selama ini kurang waspada hingga semua fitnah ini sekarang menghimpit dirinya.


"Jihan."


"Ibu, ada apa?"


"Di depan ada ibra dan juga najib."


Jihan menautkan kedua alisnya, merasa heran bagaiman bisa kedua pria itu datang dalam waktu yang sama.


"Temuilah mereka."


Jihan menganggukan kepalanya, dan segera turun menemui ibra dan juga najib.


Bersambung.


Dukung terus ceritaku ya. Berikan poinnya, like dan komen.

__ADS_1


Terima kasih😘


__ADS_2