
Pagi menjelang, Naya sudah bangun sebelum adzan Subuh berkumandang. Sudah menjadi kebiasaan gadis itu selalu rajin bangun pagi dan melaksanakan kewajibannya. Tidak lupa ia juga membersihkan kamar tidurnya sebelum membersihkan diri.
"Lagi buat apa, Bi?" tanya Naya.
"Ishh kamu, bikin kaget aja!" Bi Tarsih memegang dada merasa terkejut saat tiba-tiba gadis itu berada dibelakangnya. Naya terkekeh melihat ekspresi takut dari wanita paruh baya itu.
"Bibi lagi nyiapin masakan buat Nyonya sama Tuan. Hari ini mereka kembali ke luar kota. Jadi sebelum berangkat, bukan cuma sarapan biasa, Nyonya selalu meminta dimasakin makanan berat buat makan bersama," jelas Bi Tarsih dan diangguki mengerti oleh Naya.
Melihat begitu banyak makanan, Naya jadi berpikir sejenak. "Banyak banget ya, Bi?" tanyanya heran.
"Oh iya, biasanya Nyonya selalu mengundang seluruh anggota keluarga buat makan bersama sebelum beliau berangkat," balas bi Tarsih menjelaskan.
"Seluruh anggota keluarga?" tanya Naya lagi. Tentu ia tidak tau siapa saja anggota keluarga disana.
"Iya, nanti ada Nonya sama Tuan besar. Orang tua dari Nyonya. Ada Nyonya Oma sama Tuan Opa juga, Tante Omnya. Sama keluarga Tuan Shaka, Kakak dari Nyonya."
"Terus orang tua dari Pak Abi?" tanya Naya penasaran. Sebab, Bi Tarsih tidak menyebutkan keluarga dari si Tuan rumah.
"Tuan Abi tinggal sendiri. Kedua orang tuanya sudah wafat. Gak punya saudara juga. Sekalinya saudara. Ya, Nyonya sendiri," bisik Bi Tarsih pelan, takut-takut terdengar sang Nyonya.
"Hah?!" Naya melongo mendengar penjelasan wanita itu.
Bi Tarsih yang mengerti menghembuskan napas pelan. Pastilah Naya bingung dengan penjelasnnya. Ia yang sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun, tentu tahu silsilah keluarga itu. Bahkan, ia sudah tidak sungkan lagi dengan Nyonya rumah yang menganggapnya sudah seperti keluarga.
"Jadi, Tuan dan Nyonya ini bukan orang lain. Mereka masih sepupu dari nenek masing-masing. Jadi, singkatnya mereka masih keluarga. Cuma Tuan ini turunan tunggal semua. Sementara Nyonya memiliki saudara, begitu pun ibunya Nonya." jelas Bi Tarsih panjang kali lebar.
Naya ber 'oh ria' menanggapi. Sekarang ia tau silsilah keluarga dirumah itu. 'Pantas aja atuh, si A Key jadi nakal. Dia pastinya dimanja dengan harta banyak kayak gini,' gumamnya dalam hati.
"Maaf Bi, aku kesiangan!" suara Mbak Ati mengalihkan atensi mereka.
"Iya, gak apa-apa," balas Bi Tarsih disertai senyum. Wanita itu memang begitu baik dan ramah, hingga semua orang begitu menyukainya.
"Anakmu ngajak begadang lagi?" tanya Bi Tarsih.
__ADS_1
"Iya, biasalah lah Bi. Tiap malam dia ngajak VC an terus," balas Mbak Ati sendu.
"Sebaiknya, kamu meminta cuti sama Nyonya buat nemuin anakmu dulu. Pasti dia sangat merindukanmu," saran Bi Tarsih.
"Kayaknya, harus gitu, Bi." balas mbak Ati yang mulai ikut membantu di dapur.
Naya yang mendengarkan curhatan dua wanita itu, dapat mencerna dengan baik. Ia juga sedikit tau tentang permasalahn wanita berusia kepala tiga itu. Lalu, ia pun menepuk bahu wanita yang lebih tua darinya itu, untuk menyemangati. "Semangat, Mbak!" Mbak Ati pun tersenyum menanggapi.
Ketiga wanita berbeda generasi itu terus bergulat dengan wajan dan kawan-kawannya disertai canda tawa. Bahkan, ketiganya tidak menyadari dua wanita tua menghampiri mereka.
"Ehem!!!"
Suara deheman keras akhirnya mampu menghentikan canda tawa mereka. Seketika ketiga wanita itu senyap dan langsung memberi hormat pada kedunya.
"Kalian sedang masak apa? Rame bener?" tanya salah satu wanita tua yang masih segar itu.
"Selamat pagi, Nyonya besar!" sapa bi Tarsih. "Kita sedang membuat menu spesial, sesuai permintaan Nyonya," lanjutnya dan diangguki wanita itu.
Wanita tua itu hendak berlalu, namun satu wanita disampingnya menghentikan pergerakan wanita tersebut. "Tunggu dulu, Kak Ay!" cegatnya.
Wanita itu terlihat menurunkan sedikit kacamatanya untuk melihat seseroang yang baru ia lihat. "Itu bukan Ningsih, ya?" tanyanya heran.
Seseorang yang dimaksud adalah Naya. Gadis itu menunduk hormat, bingung dan malu harus berucap apa.
"Iya, Nyonya Oma. Dia Naya, tamunya Nyonya," balas bi Tarsih memperkenalkan.
Kedua wanita tertua disana saling pandang mendapati jawaban bi Tarsih dengan pikiran sama. Tamu? Hingga suara Sena mengalihkan perhatian.
"Mama, Onty! Kalian sudah sampai?" tanya Sena menghampiri. Lalu, memberi salam dan cipika cipiki dengan kedua wanita itu.
"Ishh kamu lihat sendiri, kita berdiri disini. Masa iya, nyawa kita ditinggal," celetuk Oma Siska. Wanita yang masih saja terlihat lucu diusianya.
"Ppptt" Tanpa sadar Naya melipat bibirnya, hingga hampir saja meledak.
__ADS_1
Semua atensi tertuju pada Naya, hingga gadis itu gelagapan dan segera menundukkan kepala meminta maaf.
Oma Siska memberi kode pada Sena untuk mengetahui siapa gadis tersebut. Sena tersenyum dan meminta Naya untuk mendekat. Lalu, tanpa segan Sena merangkul bahu gadis itu.
"Kenalin, Ty, Ma. Ini Naya. Dia putri dari teman aku Santi, yang aku ceritain waktu itu," Sena memperkenalkan gadis itu pada mereka.
"Oh ini anaknya juragan sapi itu? Yang kita selalu beli buat Kurban itu, ya?" tebak oma Siska dan diiyakan Sena.
"Oalah, ternyata kamu cantik sekali," segera wanita tua itu memeluk Naya, menyambut hangat gadis itu. Begitupun oma Ay, ia juga menyambut sang gadis sama hangat.
Naya tersenyum senang. Ia tidak mengira, seluruh keluarga itu benar-benar baik dan hangat.
Mereka pun berkumpul dimeja makan untuk melangsungkan makan bersama. Terlihat opa Ar dan opa Age juga ikut berkenalan. Tak berselang lama datang lagi satu keluarga yang mereka tunggu. Keluarga Shaka, keempat orang itu menghampiri mereka di meja makan.
"Cher. Kenalin, Naya. Dia akan jadi teman baru kamu dikampus!" Sena memperkenalkan Naya pada keponakan menantunya.
"Wah, senang bertemu denganmu Naya. Aku Cheryl, menantu keluarga ini," Cheryl mengulurkan tangan dan disambut gadis itu dengan senyumnya.
"Enak aja! Kamu menantu Mama, bukan menantu Onty," protes pria disamping Cheryl, yang mana membuat mereka tertawa.
"Cih! Dasar bucin, lu!" ledek Key menoyor kepala sepupunya itu saat melewati kursinya.
Sontak saja hal itu membuat Arga, pria yang diledek itu berdecak kesal menepis tangan Key. Key hanya terkekeh seraya mendudukkan diri, tepat dikursi kosong disamping Naya.
Suasana semakin ramai. Tingkah Arga dan Key selalu membuat suasana semakin menghangat. Pertengkaran mereka selalu menjadi hal yang justru membuat mereka kian harmonis.
Naya tersenyum melihat kehangatan keluarga itu. Ada sedikit perasaan iri menyelimuti, saat ia sadar ia tidak akan pernah merasakan itu. Terlahir tanpa saudara, dan keluarga yang menjauh setelah kepergian sang ayah, membuat gadis berusia sembilan belas tahun itu menunduk dan terdiam.
Hal itu ternyata menjadi perhatian Key yang duduk disampingnya. Hingga terbesit ide diotak pria itu untuk mengalihkan perhatian gadis itu. Ia pun membisikkan sesuatu ditelinga sang gadis. Hingga gadis itu tercengang.
"Kalo kayak gini, kita juga kayak pasangan suami istri, ya nggak?"
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1