Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Keluarga yang ...???


__ADS_3

Naya benar-benar menikmati perjalanannya menaiki sebuah pesawat. Untuk pertama kali, gadis itu merasa benar-benar bahagia dapat melihat pemandangan dari atas awan. Bahkan, gadis itu terlihat segar hingga mereka mendarat.


"Lu gak mabok 'kan?" goda Key meledek.


"Enak aja, ya enggak atuh!" sangkal Naya menampol tangan pria itu, hingga ia terkekeh.


Tiba-tiba saja Key meraih tas yang di gendong Naya, hingg gadis itu tertarik dan mundur kembali. "Eh, eh, kenapa ditarik?" protes gadis itu kaget.


"Lepas!" titahnya.


"Kenapa harus dilepas atuh?" tanya Naya heran.


"Ck! Bawel lu, udah lepas aja!" titah Key.


Tidak ingin banyak drama, Naya pun terpaksa melepas ransel dan hanya menyisakan tas selempang kecil saja dibahunya. Entah apa yang akan terjadi pada ranselnya itu. Yang jelas ia hanya bisa pasrah, meski raut wajah tidak demikian.


"Udah, jalan!" titah Key saat gadis itu hanya berdiri di tempatnya.


"Terus itu-" Belum sempat Naya melanjutkan ucapannya, Key sudah menarik tangan sang gadis. Menggandengnya berjalan, dengan satu tangan lagi membawa ransel tersebut.


Sontak hal itu menjadi perhatian bebeapa anggota keluarga. Oma Ay tersenyum melihat tingkah Key yang menggemaskan menurutnya. Entah kenapa ia teringat kembali masa muda bersama suaminya.


"Kenapa?" tanya opa Ar heran, ketika melihat sang istri berhenti.

__ADS_1


"Coba lihat, bang!" tunjuk oma Ay dengan dagu pada pasangan muda mudi dihadapan mereka. "Mereka gemes banget, ya! Jadi inget waktu kita muda dulu," kekehnya.


Opa Ar tersenyum, kemudian merangkul wanita tercintanya itu. "Iya bener. Jadi, pengen bikin part ngamer," celetuknya.


"Isshh abang nih, malu tuh sama readers." Oma Ay mencubit perut sang suami hingga kedua baya itu tertawa. "Mereka masih inget gak, ya?"


**


Setelah melewati perjalanan, kini mereka sudah sampai di kediaman uncle Aska dan Onty Vani. Ada Onty Kia dan Ara yang menyambut mereka di depan rumah. Mereka pun cipika cipiki bersalaman dengan saling menanyakan kabar satu sama lain.


"Cieee ... Key bawa cewek, nih! Pacar ke berapa maseeh?" ledek Ara yang langsung dapat toyoran sepupu lucknutnya itu.


"Enak aja lu ngomong!" kesal Key yang disambut keplakan tak mau kalah juga dari Ara.


"Kenalin, aku Ara!" Gadis itu menyodorkan tangan yang segera disambut oleh Naya.


"Naya!"


"Malas banget sih ngakuin dia sepupu. Tapi, ya mau gimana lagi," ledek Ara melirik ke arah Key.


"Ck! Sialan lu!" umpat Key yang hendak menoyor kembali kepala Ara. Namun, dengan cepat gadis itu menghindar.


"Sebaiknya kita ke dalam, yuk! Gak baik, lama-lama deket dia," ajak Ara merangkul lengan Naya dan Cheryl dengan semangat. Ketiga gadis itu pun berlalu tanpa memedulikan teriakan Key.

__ADS_1


"Cih, dasar kang rumpi. Mau nyuci otak tuh anak pasti," kesal Key.


"Udah biarin aja! Biar Naya terbiasa dulu sama kondisi keluarga kita, yang ya ... Kayak gini lah!" kekeh Arga menepuk bahu sepupunya itu.


"Ck! Apaan sih lu?" elak Key.


"Heleh! Gak usah bohong," ledek Arga. Ia mendekatkan diri berbisik ditelinga Key. "Lu suka 'kan sama Naya? Ngaku aja deh!"


"Enak aja! Siapa juga yang suka? Nggak!" sangkal Key, yang tentu perasaannya tidak ingin diketahui siapapun.


"Yakin?" desak Arga.


"Lu ngapa dah? Udah kaya emak-emak. Ngeselin tau gak?" elak Key berusaha mengalihkan permbicaraan, seraya menoyor kepala Arga.


Arga tertawa melihat ekspresi Key. Tentu, ekspresi itu berbeda ketika ia di desak mengenai beberapa gadis. Jika sebelumnya ia begitu arogan seolah menanggapi perempuan itu begitu enteng. Berbeda untuk kali ini, Key nampak gelagapan dan mencoba menutupi sesuatu.


"Saran gue ya! Lu jangan lama-lama ngulur waktu. Kalo dia dipepet, digondol orang, baru nyaho lu!" nasehat Arga yang kemudian berlalu meninggalkan sepupunya itu.


Key berdecak kesal menanggapi. Namun, dibalik itu ia membenarkan ucapan Arga. Jika ia tidak juga cepat bergerak, maka ia akan kehilangan kesempatan. Membayangkan Naya di tikung pria lain, dan menolak dirinya dengan alasan seorang playboy. Tentu membuat ia ketar ketir.


"Nggak! Nggak! Nggak! Pokoknya udah paten tuh anak cuma milik gue."


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2