
Naya membolakan mata dengan wajah yang tiba-tiba memanas. Bisikan Key, sukses membuat gadis itu menelan salivanya kuat-kuat. Pasangan suami istri? Oh sungguh itu tidak ada sama sekali dalam pikirannya. Namun, entah kenapa sebutan keramat itu membuat ia takut, saat sadar siapa Key.
'Ampun gusti, biarpun aku harus nikah. Jangan sampai atuh, nikah sama A Key mah! Tiap hari nyeri hate (sakit hati) mulu, embung (gak mau) ah!' batin Naya bergidik.
Membayangkannya saja membuat Naya tidak berselera makan sama sekali. Berbeda dengan Key, yang terlihat tanpa dosa. Pria itu dengan lahap memakan makanannya.
Seperti biasa, tatakrama dalam makan mereka tidak ada yang boleh bicara. Mereka akan mengobrol setelah menyelesaikan makanan mereka. Key yang sadar Naya tidak makan dengan benar merasa aneh. Ia yang tidak bisa bicara, hanya menyenggol kaki gadis itu.
Sontak Naya menoleh menaikam sebelah alisnya, seolah bertanya apa? Namun, Key hanya memberi kode dengan gerakan dagu. Naya yang tidak paham terdiam sejenak dan menukikan kembali alisnya. Key memutar bola mata kesal, saat Naya tidak mengerti. Ia kembali menggerakan dagu, bahkan memakan makanannya seolah memberitahu cara makan. 'Makan!'
Lagi-lagi Naya bingung, apa ada yang dipinta pria itu? Pikirnya. Tiba-tiba saja, Key menarik dagu Naya hingga gadis itu menoleh. Seketika sang gadis membelakak kaget, saat Key tiba-tiba menekan pipi dengan jari telunjuk dan jempol itu, lalu menyuapi dirinya.
Hap!
Key tersenyum menang, Naya tidak segera mengunyah makanan itu dan justru masih menatap tak percaya pada pria itu. Perlakuan Key ternyata terekam jelas oleh mata Cheryl. Seketika sendok jatuh dari bibir gadis itu, kala menonton adegan yang terlihat romantis dimatanya.
Treng!
Sontak atensi pun tertuju pada Cheryl. Saat suara sendok begitu nyaring. Sementara Key segera menarik tangannya kembali, berharap semua orang tidak mengetahui kelakuannya.
"Ada apa?" tanya Arga khawatir mengusap kepala sang istri.
"Ah, itu ...." Cheryl menggantungkan ucapannya dan menatap bergantian Naya yang tertunduk dan Key yang nampak biasa saja.
Semua orang nampak saling lirik, meminta jawaban. Cheryl tersenyum manis menatap orang-orang disana. "Maaf ya, sudah mengganggu semuanya. Aku gak apa-apa, kok. Cuma ngasih kode aja sama Arga biar disuapin," ucapnya menyindir.
Semua orang terkekeh seraya menggelengkan kepala melihat kelakuan gadis itu, Arga tersenyum seraya mengusek kepala sang istri. "Ya udah, nih aku suapin!" Arga benar-benar meyuapi Cheryl, hingga suasana kian riuh.
Berbeda dengan Naya, ia semakin tertunduk menyembunyikan rona merah yamg tiba-tiba muncul dipipinya. 'Nu gelo (dasar gila)! Apa yang dia lakuin?' rutuknya dalam hati melirik tajam pria disampingnya yang benar-benar berwajah tanpa dosa.
'Ayo Nay, jangan sampai atuh kebawa baper sama perlakuan si A Key. Inget dia teh buaya!' batinnya lagi memperingati.
__ADS_1
Gadis itu berusaha mengatur nafas dan mencoba kembali bersikap biasa seperti yang dilakukan oleh pria itu.
"Aku udah selesai. Aku berangkat dulu!" pamit Key setelah menegak air putih dari hadapannya dan hendak berlalu.
"Eh, tunggu dulu! Itu Naya belum selesai," cegat mama Sena.
Namun, gadis itu segera berdiri saat ia teringat waktu sudah terlalu siang untuk segera sampai di kampus. "Nggak, Bu. Aku juga udah selesai," balasnya.
"Ibu sama Bapak, hati-hati dijalan ya!" pesan Naya yang ditunjukan untuk kedua tuan rumah disana. Abi hanya mengangguk menanggapi dengan wajah datarnya. Sementara Sena, tersenyum dan mengiyakan pesan dari gadis itu.
"Semuanya punten, aku permisi!" lanjutnya pada penghuni meja makan seraya mengangguk hormat. Semua orang tersenyum hangat membalas ucapan gadis itu.
Segera Naya pun berlenggang mengikuti Key yang sudah berjalan sedari tadi. Sementara penghuni meja makan disana mulai membicarakan gadis yang terlihat ramah itu.
"Bukannya dia gadis baik? Oma rasa dia bakal cocok sama Key," celetuk oma Siska memulai ghibah mereka.
"Ya, sepertinya begitu. Setidaknya gadis itu membawa aura positif untuk Key," balas oma Ay.
"Tapi ... Kayaknya nggak Oma?" celetuk Cheryl. Sontak semua orang menatap istri Arga itu penuh tanya.
"Ya, nggak lah, Pa. Masa Naya yang lugu harus bersanding dengan Key si suhu. Kasihan 'kan?" kekeh Cheryl yang disambut tawa mereka dan usekan gemas dari Arga.
"Isshh kamu ini, suka bener kalo ngomong!" balas Sena.
"Tapi ... Smoga aja, Naya memang seseorang yang Tuhan kirim untuk membawa Key ke jalan yang lebih baik," ucap Opa Ar memberi doa untuk cucunya dan diaminkan semua orang.
"Tapi, ya Opa-"
"Apa? Kamu mau komen apa lagi?" sela Arga menyelak ucapan istrinya itu, seraya mencubit hidung mancungnya.
"Isshh kamu tuh, aku 'kan belum selesai ngomong," protes Cheryl menepis tangan sang suami, yang membuat seluruh anggota keluarga itu terkekeh melihat pasangan yang romantis dengan caranya itu.
__ADS_1
"Iya, iya, apa?" tanya Arga gemas mengusek pucuk kepala gadisnya itu.
Cheryl terdiam sejenak, mendadak otaknya kembali lemot. "Kenapa? Lupa?" ledek Arga lagi.
"Ck! Gara-gara kamu sih," rengek Cheryl kesal. Gelak tawa semakin riuh diruangan makan itu.
Arga terkekeh seraya memeluk tubuh istrinya itu, hingga mendapat pukulan darinya. Cheryl menekukkan wajah mendapat ledekan suaminya.
"Udah, Ga! Kamu tuh, kasihan mantu Mama," peringat Jingga menggelengkan kepala.
"Ya udah, nanti kalo ingat ditanyain lagi," ucap opa Ar memberi pengertian.
"Oh iya, aku ingat Opa!" balas Cheryl berbinar. "Aku cuma penasaran, kenapa Key bisa punya kelakuan kayak gitu? Sedangkan Opa sama Uncle Abi, gak kayak gitu ya?" tanyanya heran.
Semua orang tergelak mendengar itu. Bahkan Abi yang sedari tadi hanya menyimak dengan wajah datar, menarik satu sudut bibirnya.
"Ck! Kamu gak tau aja Cher. Almarhum Oppa Rendi 'kan dulunya buaya. Wajarlah, kalo Key kaya gitu," celetuk opa Age menjelaskan. Semua orang mengangguk menyetujui.
"Isshh Bang, gak baik ngimongin jelek orang yang udah gak ada!" peringat oma Siska.
"Lha kenapa? Emang bener. Abi aja ngakuin bapaknya kayak gitu. Ya gak, Bi?" Opa Age meminta pembelaan dari Abi yang langsung dapat cubitan maut dari istrinya.
Tentu oma Siska merasa tak enak hati terhadap Abi. Karena sang suami bicara asal ceplos saja. Opa Age hanya meringis mengusap pinggangya yang terasa panas. Gerutuannya hilang menatap mata tajam wanita tercintanya itu.
Sementara Abi hanya tersenyum tipis, hal itu memang harus ia akui. Masalalu sang ayah, memang tidak sebaik masalalu ayah mertuanya. Namun, ia masih bersyukur, sang dady bertemu dengan mommy nya. Hingga pria bejuta peson itu bertaubat dan menghadirkan dirinya.
Dari semua orang, tentu hanya Cheryl yang tidak mengetahui hal itu. Pantas saja yang ia tau keturunan opa Ar semuanya type pria bucin tingkat dewa, dengan para perempuan cerewet kaum gesrek. Hingga fadis itu melongo masih merasa tak percaya.
"Beruntung 'kan kamu jadi isti aku? Aku tuh sama Key beda," bisik Arga penuh percaya diri.
Cheryl memutar bola mata malas mendengar ucapan suaminya itu. "Iya, beda. Beda banget!"
__ADS_1
"Key bermulut manis kaya gula, kalo kamu bermulut pedas kaya cabe secobek."
\*\*\*\*\*\*