Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Salah culik


__ADS_3

Key, Naya, bu Inah, dan beberapa warga gegas memasuki puskesmas yang di maksud. Peringatan petugas puskes pun tak dihiraukan para warga yang datang ramai-ramai. Setelah mendapat penjelasan dari pak Kades, petugas pun mengerti dan membiarkannya begitu saja.


"Ela!" pekik Inah saat melihat gadis itu sudah sadarkan diri diatas brankar, dan tengah diperiksa seorang bidan.


"Ibu!" lirihnya bangkit.


Segera Inah berhambur memeluk putrinya itu. Tangis pun pecah dari kedua wanita berbeda generasi itu. Mang Asrip yang sampai belakangan ikut mendekat ke arah putri dan istrinya itu.


"Maafin Ibu ya, Ela. Ini semua teh salah Ibu," sesal Inah. Ela tak menanggapi, ia masih menangis ketakutan akan apa yang menimpa dirinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa benar kamu teh di culik?" tanya Inah, setelah melepaskan pelukan mereka. Ela hanya mengangguk mengiyakan.


"Siapa yang berani menculik kamu? Apa dia?" tanya Inah yang kemudian menunjuk Key.


"Bu!" peringat mang Asrip tak enak hati.


Ela menoleh dan menatap siapa yang ditunjuk oleh Inah. Segera Ela menggeleng menyangkal tuduhan sang Ibu.


"Terus siapa? Siapa yang culik kamu?" desak Inah kesal.


"Bu, udah, Bu! Kita bersyukur karena Ela gak apa-apa," peringat mang Asrip menenangkan.


"Tapi, Pak! Kita teh kudu tau siapa penculiknya," jelas Inah.


"Bu Inah benar, Mang," balas Naya. "Ini adalah sebuah tindak kejahatan, yang dimana A Key juga terfitnah," lanjutnya mendekat.


Ela menunduk dan menangis mendengar suara Naya, tentu hal itu membuat semua khawatir. Segera Naya mendekat dan menggenggam tangan gadis itu.


"Ela! Aku tau kamu teh pasti takut. Tapi, seandainya kamu teh tau siapa pelakunya. Tolong kasih tau kita!" pinta Naya.


"Kamu teh gak usah mendesak Ela kayak gitu! Lagian Ela teh udah bilang, dia bukan pelakunya," kesal Inah menunjuk Key. Terlihat wanita itu seperti menyesal karena bukan Key pelakunya.


Naya hanya mampu menghembuskan napas panjang. Benar kata Inah, ia memang tidak bisa memaksa Ela yang kemungkinan masih trauma dengan apa yang menimpanya. Setidaknya, sang kekasih terbukti tidaklah bersalah. Ia hendak menjauh, namun tangan Ela mencekalnya.


"Sebenarnya ...." Ela menunduk, nampak ragu untuk berucap.


"Kenapa, Ela? Apa kamu mau mengatakan sesuatu? Gak apa-apa atuh katakan aja!" tanya Naya meyakinkan.


"Benar, kata Naya. Lu gak usah takut. Katakan aja apa yang terjadi! Kita semua ada disini ngelindungi Lu," sambung Key dan diangguki yang lainnya.


"La! Kalo ini teh informasi penting, sebaiknya kamu teh katakan! Takutnya, akan ada penyesalan diakhir nanti. Jangan takut!" nasehat mang Asrip mengusap kepala putrinya itu.


Terlihat Ela menarik dan menghembuskan napas sebelum akhirnya bicara. "Sebenarnya ...."

__ADS_1


Flash back on~


Ela kaget saat tiba-tiba saja mulutnya dibekap seseorang. Ia hendak berontak, namun semua rasanya percuma. Tubuh pria yang membekapnya terlalu besar dan tak dapat ia imbangi.


"Diem! Ayo ikut!" peringatnya. Ela tak mau kalah dan terus memberontak, hingga pukulan dipundak, membuat pandangannya kabur dan gelap.


Gadis itu akhirnya pingsan. Kedua pria yang membekap Ela pun menutupi kepala Ela dengan kain hitam. Lalu, mereka pun gegas pergi membawanya.


Terdengar samar-samar suara yang dapat Ela dengar. Namun mata dan seluruh anggota tubuhnya tidak dapat ia gerakan.


"Dasar tolol, belegug sia! Kenapa si Ela yang kamu bawa?" tanya seorang pria yang terasa tidak asing ditelinganya.


"Maaf Boss, tadi tuh ..."


Plakkk!!!


"Maaf, maaf! Aku teh nyuruh kamu nyulik Naya. Biar si lalaki sok kasep itu teh kelabakan. Gimana sih? Aku teh udah siapin obat kuat nih, biar Neng Naya teh klepek, klepek!" cerocosnya kesal.


Pendengaran Ela kian tajam, matanya juga mulai terbuka. Hingga ia bisa melihat siapa laki-laki yang tengah mengomel dan berkacak pinggang di depannya. "A Juned?" cicitnya.


"Boss, Boss! Dia bangun Boss!"


Juned menghembuskan napas kasar. "Bikin dia gak sadarkan diri! Terus bawa dia dari sini!" titahnya.


"Bawa kemana Boss?"


Keduanya pun mendekat, menghampiri Ela. "Jangan mendekat!" tahan Ela lemah dan ketakutan.


"Diem! Kamu teh cuma mau kita bikin pingsan. Kita bius, habis itu kita buang!" jelas salah satu dari mereka.


"Sontoloyo! Kamu teh ngapain atuh kasih tau segala ke dia?" kesal temannya yang lain yang baru selesai menuangkan cairan bius ke atas sebuah kain.


Lalu, segera pria itu membekap Ela dan membawanya pergi dari sana. Hingga ditemukanlah ia di sebuah sawung itu.


Flash back off~


**


Semua orang membelakak kaget mendengar cerita dari Ela. Mereka tentu takut jika harus berurusan dengan si lintah darat itu. Berbeda dengan key, mendengar calon istrinya dalam pengintaian penjahat. Bahkan, sampai perencanaan penculikan membuat pria tampan itu murka. Matanya menghunus tajam, dengan rahang mengeras dan kedua tangan mengepal kuat.


"Brengs*k! Cecunguk, keparat!" umpatnya. "Siapa dia? Beraninya dia, main-main sama gue," geramnya dengan napas memburu.


Sontak semua orang yang baru tau sisi lain pria yang ramah akan senyuman itu merasa takut. Naya medekati Key, merangkul lengan pria itu untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Udah A, gak usah diladeni," ucap Naya takut.


"Gak bisa!" tegas Key. "Dia udah berani berniatan menyentuh kamu! Aku gak akan pernah biarin dia tenang," lanjutnya.


"Benar, Nak! Juned itu bukan orang sembarangan. Sebaiknya, kita teh menghindar dan gak berurusan sama dia," jelas Santi dan diangguki semua orang.


Key tersenyum sinis. "Siapa dia? Sampai semua orang takut sama dia?" tanyanya.


"Dia teh anaknya juragan tanah. Orang yang paling berkuasa di Desa ini," balas mang Asrip. "Jadi, sebaiknya kita tutup aja kasus ini," lanjutnya.


"Oh jadi dia, si lintah darat itu," ucap Key menyeringai. Ia sedikit tau masalah tersebut dari penjelasan sang mama malam itu.


Semua orang terdiam melihat gelagat menyeramkan dari Key. Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Lalu, terlihat menghubungi seseorang.


"Hallo, Om Damar! Ini aku, Key. Aku butuh bantuan Om sekarang juga."


"Sederhana, hanya cecunguk kecil yang kerap mengganggu warga Desa!"


"Baiklah, Om! Aku tunggu hasil buruannya!"


Key terlihat memutuskan sambungan tersebut dan kembali menyimpan ponselnya. Semua orang membelakak kaget, melihat kelakuan pria itu. Naya yang mengerti menggenggam tangan Key. Hingga pria itu menoleh dan tersenyum.


"Kamu tenang aja! Dia hanya akan mendapat hukuman setimpal. Karena aku gak akan biarin siapapun mengusik hartaku yang paling berharga ini." ucap Key mengusap sayang kepala Naya disertai senyuman manisnya.


Blush!


Naya bahagia dan tersipu mendapat perlakuan itu. Ia menuduk malu dan salah tingkah, karena atensi semua orang mengarah padanya.


"Ehem, ehem!" Beberapa warga berdehem kecil melihat keromantisan seorang Key. Mereka dibuat baper akan kelakuan pria itu. Tentu dengan membayangkan mereka di posisi Naya sekarang.


Key yang tersadar kembali mengalihkan atensi pada orang-orang. "Jadi, kalian semua gak perlu takut. Ada pihak berwenang yang akan melindungi kalian. Jika dari kalian ada yang merasa dirugikan, kalian bisa ikut membantu melapor, untuk memberatkan hukuman orang itu," jelas Key.


"Saya sendiri bisa menjamin, bahkan Bapaknya sekalian bisa masuk jeruji. Namun, jika kalian mau membantu itu semakin bagus. Dan Desa ini juga akan aman dan damai."


Semua orang mengangguk setuju. Selama ini mereka memang selalu takut akan ancaman Juned dan anak buahnya. Dan sekarang mungkin waktunya mereka bersuara.


Key mengulurkan tangan untuk menggandeng tangan Naya, gadis itupun segera meraihnya. Hingga mereka pun keluar dari puskes tersebut.


"Siang ini, kita akan siap-siap!"


"Hem, siap-siap apa?"


"Siap-siap buat bikin foto berlatar biru."

__ADS_1


"Hah?!"


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2