Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Will you marry me?


__ADS_3

Bukan tidak mengerti, tentu ia sangat paham akan maksud dari perkataan pria yang kini tengah berjalan di sampingnya. Namun, apakah itu benar? Apakah ucapan pria itu tidaklah main-main? Sementara ia tau, Key sering kali bercanda padanya.


"Kenapa lihatinnya gitu amat? Baru sadar 'kan kalo aku tampan?" ledek Key dengan percaya diri.


"Cih!" Naya berdecih namun tak ayal tersenyum juga. "Kamu tuh suka kepedean banget ya," ledeknya balik.


Key tertawa mendengar balasan gadis itu. Kini sejoli itu tengah berjalan menyusuri jalanan kecil beraspal untuk kembali ke rumah Naya. Tangan keduanya enggan terlepas, masih saling bergandengan. Sementara para warga dan sang Ibu memilih untuk menaiki angkot, mereka justru memilih untuk berjalan kaki. Biar romantis, katanya.


"Emm, soal tadi ...." Naya terlihat ragu untuk menanyakan hal yang mengganjal di hatinya.


"Apa?" tanya Key menoleh.


Naya tertunduk malu, bingung harus bertanya dari mana. Key yang mengerti, terbesit ide untuk menggoda terlebih dahulu gadis itu. "Kamu tenang aja, si Juned-Juned itu hari ini juga pasti masuk penjara. Aku udah kirim data, laporan pada Om Damar," jelas Key.


Naya melengos, tentu bukan itu yang ia maksud. Ia tidak peduli akan nasib si lintah darat itu. Hanya saja ....


Key tersenyum melihat reaksi Naya, namun ia masih ingin menggoda gadis itu. "Kenapa? Apa ada yang mau kamu tanyain?"


"Emm, enggak!" elak Naya yang masih menatap ke arah lain.


Tentu gadis itu malu untuk bertanya lebih dulu soal kalimat terakhir yang diucapkan Key padanya saat di Puskesmas tadi. Ia tidak ingin salah paham, ataupun salah menafsirkan ucapan tersebut.


Key terkekeh melihat wajah Naya yang nampak khawatir. Ia memasukan genggaman tangan mereka ke dalam saku hoddienya, hingga Naya pun menoleh dan mendongak.


"Siang ini kita ke studio foto!" ajak Key dengan tatapan lurus ke depan.


Kembali Naya menautkna alis, mencoba mencerna dengan jelas ucapan Key. Key tersenyum, tau jika gadis itu memperhatikannya. Ia menoleh seraya menarik hidung sang gadis, hingga meringis.


"Kamu tuh ya, gak peka-peka," ledek Key. "Aku tuh mau ngajakin kamu nikah, mau gak?" tanyanya yang terkesan begitu nyablak.


Naya memanyunkan bibirnya mendapat pertanyaan yang tidak ada romantis-romantisnya itu. "Isshh kamu tuh yang gak peka. Masa ngajakin nikah kayak ngajakin jajan," gerutu Naya kesal.


Key tergelak mendapati jawaban itu. Satu tangannya terulur mengusek pucuk kepala sang gadis. Namun, hal itu tidak dihiraukan Naya yang terlanjur kesal. Key pun menghentikan langkah, membuat Nay juga ikut berhenti. Lalu, pria itu meraih kedua tangan sang gadis dan menggenggamnya.

__ADS_1


Tanpa diduga, Key menjatuhkan diri didepan Naya. Menekukkan satu kakinya di atas aspal, mendongak menatap serius ke arah sang gadis. Sontak Naya terkejut, Ia membelakakkan mata, dengan mulut terbuka lebar. Keadaan yang cukup ramai, membuat mereka menjadi pusat perhatian. Namun, hal itu tidak dihiraukan Key sama sekali.


"Aku tau, aku bukan pria baik yang diidamkan gadis baik sepertimu. Bukan calon Imam panutan yang dibanggakan semua keluarga. Aku hanya pria hina, berlumur dosa, yang dengan tak tau malu, menginginkan gadis sempurna sepertimu." Mata Naya berkaca-kaca dengan debaran jantung yang bergemuruh.


"Jika kau berkenan izinkan aku menjadi bagian kecil di hidupmu. Dampingi aku menuju jalan yang lebih baik!"


"Kannaya Putri, maukah kau menikah denganku yang memiliki banyak kekuarangan ini? Dan menjadi Ibu dari anak-anakku?"


Deg!


Jatuh sudah air mata yang sedari tadi Naya bendung. Gadis itu menunduk, dengan perasaan haru yang sulit ia jabarkan. Ia hanya mampu menganggukan kepala yakin, sebagai jawaban.


"Benarkah? Kau bersedia?" tanya Key lagi memastikan dan diangguki kembali oleh Naya.


"Yess! Yess! Yess!" Key melepaskan genggaman tangan mereka, berselebrasi menyambut kebahagiannya. Senyum merkekah pun terpancar jelas dari bibir pria itu.


Naya hanya mampu tersenyum menutup mulut melihat tingkah konyol calon suaminya itu. Sungguh, itu adalah Key yang sesungguhnya.


Jika pria lain akan mengeluarkan cincin dari dalam kotak merah, berbeda dengan Key. Pria itu mengeluarkan sebuah cincin dari dompet. Hal yang sangat begitu langka terjadi bukan?


"I-Ini?" Naya bingung dari mana pria itu mendapatkan cincin tersebut.


"Ini cincin turun temurun dari oma Sha. Cincin ini diberikan Oma pada Mama, sebagai menantunya. Dan sekarang, Mama nyerahin ini untuk kamu, sebagai calon menantunya. Berhubung aku belum sempat beli, ya udah aku kasih ini aja," jelas Key panjang kali lebar. Naya hanya tersenyum menanggapi. Seketika suasana yang semapt terasa haru biru berubah menjadi terlihat konyol.


"Sebaiknya, kita ulang lagi, ya! Biar lebih dramatis," celetuk Key yang ditanggapi tawa kecil oleh Naya. "Terus di jawab, biar akunya gak kikuk!" lanjutnya dan diangguki oleh Naya.


Key meraih satu tangan Naya dengan tangan kirinya. Lalu, kembali menatap dalam pada gadis itu. Keadaan kembali serius seperti sebelumnya.


"Kannaya Putri, Will you marry me?"


"Yeah, I do!"


Tawa renyah terdengar dari keduanya. Key segera memasangkan cincin yang ia pegang pada jari manis Naya. Cincin putih bermata berlian itu nampak cantik, pas tersemat di jari lentik sang gadis. Kemudian, Key mengecup punggung tangan Naya. Hingga tanpa mereka duga, sorak sorai dan tepuk tangan terdengar riuh dari orang-orang yang menonton mereka. Ternyata angkot yang ditumpangi Santi dan para warga juga ikut menyaksikan ke haruan dan kekocakan pasangan tersebut.

__ADS_1


"Cieee ...." ledek ibu-ibu dari angkot itu.


"Selamat Nay!"


"Nikah, Nay nikah!"


Dan masih banyak lagi suara dari ibu-ibu dari dalam angkot yang sengaja berjalan perlahan dihadapan mereka itu. Santi mengacungkan kedua jempol dengan senyum haru pada mereka.


Key bangkit, berdiri disamping Naya dan merangkul bahunya. Keduanya ikut tertawa menanggapi mereka disertai lambaian tangan. Sejoli itu juga tidak lupa menganggukan kepala pada para warga yang ikut menyaksikan drama mereka disana.


**


"Jadi ... Kapan kira-kira waktu yang pas?" tanya Sena. Kini kedua orang tua Key beserta Opa Omanya dan Santi tengah menghitung tanggal untuk acara pernikahan putra putri mereka.


Santi yang memang tidak memiliki keluarga lagi, hanya seorang diri menyambut keluarga Key di rumah sederhananya.


"Sepertinya, bulan depan sudah waktu yang pas untuk menikah," balas Opa Ar.


"Baiklah! Jika begitu, sudah di pastikan bulan depan. Bagaimana bu Santi?" Abi meminta pendapat dari calon besannya yang hanya menyimak sedari tadi.


"Hem, saya setuju!" balas Santi menganggukan kepala.


"Kamu tenang aja, San. Semua persiapan kita lakukan bareng-bareng, oke!" saran Sena dan diangguki wanita itu disertai senyuman.


"Isshh, Mama juga biar udah tua. Tetap bantu, kok. Tenang aja!" sambung Oma Ay dan di tanggapai tawa kecil oleh mereka.


Mereka pun memutuskan acara akan di gelar di kediaman mempelai wanita. Meski keluaga Key bukan keluarga sembarangan yang pasti memiliki banyak kolega bisnis, namun mereka sepakat hanya akan mengundang keluarga dan teman dekat saja dari pihak Key untuk acara akad tersebut. Biar acara resepsi nanti mereka baru akan menggelarnya di gedung. Mereka juga akan mengundang semua warga Desa dan juga mengadakan seserahn seperti biasa.


Sementara para orang tua sibuk dengan perencanaan persiapan, sejoli itu justru tengah sibuk membuat makan malam di dapur. Tepatnya, hanya Naya saja. Key bukan membantu, ia justru terus mengganggu. Hingga suara Naya menggelegar karena sudah terlampau kesal.


"A Key!!!"


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2