
Key menoleh mendengar bentakan seseorang. Naya yang melihat adegan itu sudah tidak dapat menahannya lagi. Segera ia menghampiri sepasang manusia itu dengan raut wajah tak bersahabat. Bagi gadis itu setiap ucapan Key, sungguh keterlaluan dan begitu meruntuhkan harga diri seorang wanita.
Sontak Key menatap tak percaya, pada gadis yang tiba-tiba saja berani padanya. Untuk pertama kali Naya membentaknya dengan tatapan menghunus tajam.
"Semua orang teh tau, kalo kamu itu emang kasep (ganteng). Tapi, kamu gak bisa atuh berbuat semena-mena sama perempuan. Kamu kira perempuan teh barang. Yang bisa seenaknya di picen kitu wae (di buang begitu saja)? Dikira bungkus somay? Beak somayna, picen bungskusna (Habis somaynya, buang bungkusnya)?" cerocos gadis itu kesal. Hingga bahasa kerajaannya bercampur ikut masuk di dalam kalimatnya.
Beby menghentikan tangis mendengar ocehan gadis itu. Ia yang baru tau gadis itu banyak bicara menjadi melongo. Sementara Key pun tidak dapat menjawab, ia masih syok pada gadis yang bisa mengoceh panjang kali lebar itu.
"Kalo kamu teh gak suka. Gak usah atuh pake menerima semua gadis dan pacarin mereka. Kamu tau perempuan itu bukan bahan kimia yang bisa dijadiin bahan percobaan. Bukan masakan yang bisa dicicipi, yang udah tau rasanya terus dimuntahin gitu aja. Ingat atuh! Kamu teh lahir dari rahim perempuan. Kumaha (gimana) coba rasanya jadi Ibu Sena? Kalo tau dia teh pasti kecewa," lanjut Naya yang dengan napas terengah-engah dan mata berkaca-kaca.
Key terdiam mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari gadis itu. Menyinggung sang mama tentu membuat hatinya tersentil.
"Beby, sebaiknya kamu teh pulang! Gak pantas seorang perempuan mengemis cinta pada seorang lelaki. Apalagi lelaki yang tidak pernah menghargai seorang perempuan. Kita ditakdirkan untuk di ratukan, bukan untuk di babukan. Jika, kamu memilih untuk bertahan untuk direndahkan, makan selamanya kamu teh akan hidup seperti itu!" final Naya yang berhasil menyinggung keduanya.
Gadis itu hendak pergi, namun tangan Key mencekalnya dengan erat. Naya menoleh dan melihat pria itu dipenuhi kabut emosi. "Siapa lu, berani ceramahin gue?" tanyanya pelan namun penuh penekanan.
Suasana tiba-tiba mencekam dengan dua pasang bola mata yang saling beradu. Beby yang sempat kesal pada ucapan Naya dan hendak berkomentar, seketika mengurungkan niatnya. Melihat tatapan menakutkan dari mata Key membuat nyali gadis itu menciut. Tidak ingin membuat Key membencinya, ia pun memilih pergi diam-diam.
__ADS_1
Sementara mbak Ati yang khawatir memilih mendekat diikuti oleh Ningsih dibelakangnya. Untuk pertama kali kedua wanita itu melihat tatapan menakutkan dari tuan mereka.
"Tau apa lu soal gue? Apa lu tau artinya dihargai?" tanya Key masih dengan nada yang sama.
"Tau! Sedikitnya aku tau," balas Naya tanpa gentar.
Mbak Ati mencoba untuk melerai keduanya, namun bingung harus bagaimana? Begitupun Ningsih.
"Orang yang merasa hidupnya sendiri, merasa hidupnya tidak dihargai. Hingga dia pun melampiaskan dengan gak menghargai orang lain," balas Naya. Gadis itu sedikit tau dari cerita bi Tarsih akan keadaan keluarga Key sebelumnya.
"Terus ... Mau sampai kapan? Sampai kapan kamu teh mau seperti ini?" tanya Naya, satu tetes bulir jatuh dari sudut matanya.
"Aku emang bukan siapa-siapa. Tapi, aku seorang perempuan yang suatu ketika akan menjadi seorang ibu. Dimana akan menyakitkan, melihat anaknya seperti ini," lanjut Naya diiringi isak tangis.
Key hanya memejamkan mata sejenak, ia melepas cekalan dan berlalu begitu saja meninggalkn mereka. Mbak Ati mendekap tubuh Naya yang bergetar. Sekuat mungkin ia menahan rasa takut menghadapi pria itu. Ningsih ikut mengusap punggung Naya, meski terkadang ia masih merasa kesal. Namun, kali ini ia ikut salut pada gadis yang mau menasehati tuannya itu.
Tanpa mereka sadari, Sena melihat adegan dan drama disana. Ia yang baru pulang sengaja berhenti di depan setelah mendapat laporan dari bi Tarsih mengenai beberapa gadis yang bertamu akhir-akhir ini. Sena sengaja meminta bi Tarsih untuk melaporkan kegiatan sang putra yang ternyata cepat akrab dengan Naya di rumah. Hingga laporan beberapa gadis itu, membuat wanita itu penasaran.
__ADS_1
Dan sekarang bersama sang suami, ia melihat dengan mata kepala mereka sendiri akan kelakuan putra mereka. Wanita itu menangis, mengetahui banyak perempuan yang sudah putranya itu permainkan.
"Naya!"
Panggilan Sena sontak mengalihkan mereka. Mbak Ati melepaskan dekapannya, lalu serentak mereka menoleh. Naya syok, melihat Sena yang berjalan cepat menghampiri mereka.
"B-Bu Sena?"
Greepp!!!
Segera wanita paruh baya itu mendekap tubuh Naya. Ia tidak mengira, gadis itu begitu bijak menasehati Key. Meski dengan keadaan ketakutan, tapi gadi itu tidak gentar menghadapi.
"Makasih, Sayang! Makasih," ungkapnya.
Naya masih terdiam syok, wanita yang sudah ia agungkan dan bela didepan putranya. Tiba-tiba berada dihadapannya. Sena melepaskan dekapannya seraya mengusap air matanya.
"Mulai sekarang, Tante akan mempercayakan Key sama kamu. Jangan sungkan untuk menasehati dia! Jika dia kembali melakukan itu pada gadis manapun kamu boleh menghukumnya. Tante yakin, cuma kamu yang bisa merubah anak itu!"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*