
Key sampai juga di loby. Namun, ia tidak melihat tanda-tanda sang istri disana. Ia mencoba menghubungi nomor ponsel istrinya, seraya berjalan keluar. Namun, hanya suara operator yang terdengar. Ia mencoba menghubungi dari via laman hijau, namun tidak aktif.
"Ya ampun, Honey! Kamu dimana?" Key mulai panik. Ia tidak berhenti menghubungi nomor tersebut. Namun, hasilnya tetap nihil.
"Apa dia pulang?" tanyanya bermonolog sendiri. Tanpa basa basi ia segera memasuki basemen untuk mengambil mobilnya.
Mobil pun melesat cepat keluar dari gedung bertingkat itu. Key menancap kecepatan diatas rata-rata untuk sampai di rumah. Hingga hanya membutuhkan beberapa menit untuk pria itu sampai dirumah.
Ia memarkirkan mobil sembarang dan segera berlari memasuki rumah. Mbak Ati yang melihat sang majikan pulang merasa heran. Belum juga makan siang, kenapa tuannya itu sudah pulang? "Mas Key!" sapanya.
"Mbak Ati, Naya mana, Mbak?" tanya Key panik.
"Naya di kamarnya, Mas. Dari tadi dia belum turun," balas Mbak Ati.
Segera Key berlari menaiki anak tangga untuk sampai di kamar Key, yang sudah dijadikan kamar mereka. Key terus memanggil, namun tidak ada jawaban dari arah manapun. Ia keluar dan beralih ke kamar sebelah. Kamar yang sebelumnya menjadi kamar Naya, kini sudah disulap menjadi kamar baby. Namun, istrinya itu tidak ada juga disana.
"Astaga, kamu dimana, Nay?" Key semakin frustasi, saat tidak menemukan sang istri dimana pun.
"Bi, Mbak, Ningsih!" teriak Key menuruni anak tangga.
Gegas ketiga wanita berbeda generasi itu menghadap pada sang tuan yang memanggil mereka.
"Iya, Mas?" tanya Bi Tarsih khawatir.
"Dimana Naya?"
"Lho, bukannya dia di kamar, Mas?" heran Mbak Ati.
__ADS_1
"Kalo ada. Aku gak akan nanya kalian," sungut Key kesal.
"Mas Key, sabar dulu, Mas!" ucap bi Tarsih menenangkan. "Kita emang belum ada yang melihat Naya turun lagi setelah sarapan tadi," jelasnya.
"Tadi dia datang ke kantor. Dan kalian gak tau?" tanya Key menyelidik, membuat ketiganya bertukar pandang. Karena memang tidak satu pun orang yang tau. Mereka pun hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"****!" umpatnya kesal.
"Terus mana? Dimana dia sekarang? Aku kan udah bilang sama kalian. Jaga dia!" bentak Key dengan amarah yang meluap. Ketiganya hanya menunduk tidak berani menjawab.
"Kalo sesuatu terjadi sama istri dan calon anakku, gimana?" erangnya frustasi, mengacak rambut.
Ia keluar dari rumah, memanggil Pak Asep dan Pak Samsul untuk menanyai hal itu.
"Apa? Kalian gak tau?" bentak Key. "Terus kerja kalian ngapain aja? Hah?" kesalnya. Kedua pria paruh baya itu hanya menunduk tidak berani menatap tuannya itu.
"Ck! Gak guna kalian semua!" teriaknya.
"Nay, kamu dimana?" tanyanya bermonolog sendiri.
Key menghentikan mobil dibahu jalan, saat teringat siapa yang harus ia tanyai. Ia mencoba menghubungi Cheryl. Namun, si ibu hamil itu juga tidak tau dimana keberadaan Naya. Bukan, mendapat bantuan, Key justru mendapat ceramahan dari sepupunya itu. Lanjut, ia menghubungi anggota keluarga lainnya. Namun, hasilnya tetap sama dengan ceramahan yang sama. Hanya ibu mertuanya yang tidak berani ia hubungi. Mengingat, Naya baru saja hilang. Tidak mungkin juga sudah sampai ke Desa.
"Apa dia ke kampus?" tebaknya.
Ada kemungkinan si ibu hamil itu memilih kampus untuk menenangkan diri. Segera, ia kembali melajukan kendaraan untuk sampai di kampus.
Sesampai di kampus, Key mulai mencari keberadaan istrinya itu. Mencari diberbagai tempat yang sering wanita itu kunjungi, namun hasilnya tetap nihil. Penampilan Key yang sudah berantakan, menjadi pusat perhatian para gadis. Pria itu kian mempesona dengan penampilan tersebut. Namun, hal itu sama sekali tidak dihiraukan Key.
__ADS_1
Beberapa mahasiswa mendapat todongan pertanyaan Key, termasuk Daniel. Pria itu syok mendengar Naya yang menghilang dan tengah di cari. Ia bertanya pada Key, apa yang terjadi. Namun, Key enggan menimpali.
Pria itu memilih untuk berlalu kembali memasuki mobil. Ia semakin frustasi saat mengetahu Naya tidak ada si kampus. Hingga suara dering ponsel membuat ia tergesa mengangkat panggilan.
"Hallo, Nay. Kamu dimana?" tanyanya panik.
"Naya belum ketemu?" Bukan Naya. Tapi, suara sang Papa dari sebrang telepon.
"Hem belum!" balas Key malas.
"Tenanglah, Papa udah kerahin semua suruhan Papa buat bantu cari. Sekarang, kamu cepat temui dulu klien di resto XX, ada meeting penting!" titah Abi.
"Pa! Istri aku hilang. Papa malah suruh aku meeting. Otak Papa dimana sih?" bentak Key tak terima.
"Papa udah kerahin semua orang buat cari. Kamu temui dulu klien kita, sebentar!" Sekali lagi Abi menjelaskan.
"Tapi ... Pa!" kesal Key
"Lima menit. Mereka cuma butuh waktu lima menit. Kalo nggak, proyek besar kita gagal. Kamu paham 'kan?" jelas Abi tak dapat di bantah.
Tut! Tut!
"Arrgghhh!!!" erang Key frustasi memukul stir.
Tentu ia bimbang antara mencari sang istri, atau meeting. Karena, hal itu juga yang memberi ia kesempatan untuk bisa memimpin satu perusahaan atau jika gagal, ia harus melanjutkan kuliah di luar Negri sesuai kesepakatan dengan sang Papa. Yang tentu akan meninggalkan sang istri dan calon bayinya.
"Nay, aku harus gimana? Pulanglah, ku mohon!"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*
Maafken mak othor, baru up🙏 keadaan si utun bener-bener pengen di manja🙈 doakan smoga besok bisa normal seperti biasa, yaa🤲😅