
Naya masih tampak termenung dimeja makan. Mencoba menerka-nerka apa yang dilakukan Key padanya. Namun, semua terasa nihil, ia tidak mengingat kejadian apapun saat tertidur.
"Udah gak usah dipikirin! Mbak yakin, gak terjadi apapun sama kamu dan Mas Key," ucap mbak Ati membawakan teh hangat dan roti untuk mereka nikmati.
Kini kedua wanita berbeda generasi itu tengah menunggu giliran untuk menggunkan kamar mandi. Kamar mandi belakang yang masih diperbaiki, membuat mereka terpaksa harus antri dikamar mandi dapur.
"Biarpun Mas Key playboy, Mas Key gak berani berbuat macam-macam sama cewek. Percaya deh!" lanjut mbak Ati meyakinkan.
"Tapi, Mbak. Dari mana atuh, Mbak teh tau?" tanya Naya keheranan.
"Jadi gini, waktu itu ada mantan pacarnya Mas Key yang datang kesini. Dia nangis-nangis karena diputusin. Untung aja Nyonya lagi gak ada dirumah, kalo ada gak tau deh bakal kayak gimana," jelas mbak Ati memulai bercerita.
"Terus, terus?" tanya Naya antusias. Gadis itu begitu tertarik untuk mendengar cerita tentang Key.
"Nah, waktu itu 'kan Mas Key nya juga lagi gak ada. Sekeluarga ini lagi di acara resepsi nikahan Mas Arga. Dia gak mau pulang seharian dan memilih menunggu diteras. Mana nangis mulu. Kita bingung ya, mau diapain? Seluruh anggota keluarga juga gak akan pulang dalam sehari. Akhirnya Mbak tanya, ajak curhat lah dia. Dia minta pertanggung jawaban-"
"Hah?!" Sontak Naya yang terkejut menyelak ucapan wanita itu.
"Isshh belum selesai," protes Mbak Ati. Naya pun cengengesan dan mempersilahkan wanita itu melanjutkan ceritanya.
"Kayak kamu, Mbak juga syok dong dengan pikiran yang sama. Kamu tau? Ternyata, bukan tanggung jawab karena hamil."
"Hah?!" Lagi-lagi Naya melongo. "Terus naon (apa) atuh?" tanyanya penasaran.
"Dia mau minta tanggung jawab sama Mas Key yang gak menyentuhnya sama sekali. Dia kesal Mas Key meninggalkannya begitu saja," lanjut Mbak Ati.
Naya makin melongo, tidak percaya ada wanita yang seperti itu. Bukankah sebagai wanita, harusnya dia senang karena tidak mendapat perlakuan tak senonoh dari seorang pria. Lha ini?
"Oh dan satu lagi hal yang paling mengejutkan!" ucap Mbak Ati yang membuat Naya semakin kepo. Gadis itu semakin mendekatkan diri untuk mendengar cerita Mbak Ati.
"Katanya, Mas Key membuat peraturan untuk setiap pacarnya. Tidak ada penyatuan antara mereka. Jadi, udah dipastiin Mas Key masih perjaka!"
__ADS_1
"Ah, yang bener, Mbak?" tanya Naya tak percaya.
"Serius. Paling cuma bibirnya aja yang jalan-jalan," celetuk Mbak Ati.
Meski begitu, Naya tetap bergidik jijik dan ngeri membayangkan bibir Key yang sudah menjelajah setiap bibir pacarnya. Walaupun ia belum pernah pacaran, tapi adegan kissing sering ia tonton di drama korea.
"Tapi, Mbak lebih bingung. Kok Mas Key tahan ya, gak berbuat begituan? Padahal 'kan tiap pria pasti bangkit kalo disuguhi wanita-wanita sexy?" tanya Mbak Ati penasaran.
"Isshh Mbak ini, mana aku tau atuh," balas Naya yang memilih untuk meraih cangkir dihadapannya.
Pembahasan itu terlalu sensitif untuk gadis polos yang belum berpengalaman seperti Naya, hingga sedari tadi membuat wajahnya terus memanas. Mungkin ada sedikit ke khawatiran bagi Mbak Ati, takut tuannya belok atau memiliki riwayat penyakit yang lain. Namun, itu adalah sebuah keberuntungan untuk Naya. Setiap hari harus bergandengan dengan pria itu tidak harus membuat gadis itu khawatir.
"Oh iya, Mbak. Ningsih kenapa tiba-tiba menangis?" tanya Naya saat teringat Ningsih tadi.
Mbak Ati tertawa, ketika mengingat kelakuan Ningsih tadi. Seperti seorang istri yang memergoki suaminya selingkuh. "Dia emang gitu. Baperan orangnya. Dikasih kedipan sama Mas Key aja, salah paham dia," jelasnya.
Naya ikut terkekeh. Memang bukan sekali, gadis itu terlihat aneh saat berhubungan dengan Key. Mungkin benar, gadis itu adalah salah satu dari wanita-wanita yang menginginkan Key. Lalu, apa ia sendiri menginginkan itu?
Ditengah tawa mereka, bi Tarsih keluar dari kamar mandi. Mbak Ati segera berdiri untuk mendapati gilirannya. "Mbak duluan ya, Nay! Kalo kamu gak kuat, mening ke kamar kamu aja. Lagian Mas Key, masih tidur. Kamu bisa gunain kamar mandi," saran Mbak Ati dan diangguki gadis itu.
Benar juga yang dikatakan Mbak Ati. Lagi pula, tidak akan terjadi apapun pada dirinya, dengan keadaan Key yang tidak bisa menyentuh perempuan. Segera ia kembali ke kamar setelah berpamitan terlebih dahulu pada bi Tarsih.
Naya memasuki kamar, mengintip keadaan Key yang ternyata benar masih terlelap. Ia pun segera mengambil pakaian ganti dari lemari, lalu bergegas memasuki kamar mandi. Tanpa gadis itu ketahui, Key sudah terbangun saat suara pintu kamar terbuka.
"Cih! Haruskah kita mendengar gadis mandi?" tanyanya bermonolog sendiri, diiringi seringai dibibirnya.
Terdengar suara gemericik air didalam ruangan lembap itu. Key bangkit dan mengendap-endap layaknya seorang maling, ia ingin tau seperti apa gadis itu saat mandi. Pria itu melihat pintu berkaca es tebal yang tidak tebus pandang. Namun, memperlihatkan sekelabat bayangan seseorang yang tengah mandi.
Glup!
Key menelan salivanya kuat-kuat, meski bayangan itu tidak jelas, entah kenapa otaknya tiba-tiba membayangkan tubuh Naya tanpa sehelai benang pun. Apalagi setelah ia tau ukuran dada sang gadis yang tidak main-main, oh sungguh hal itu membuat sesuatu dibawah sana tiba-tiba saja bangkit.
__ADS_1
"Gimana suaranya, ya?" gumamnya menggigit-gigit kuku jempol.
Terlalu peansaran, ia pun menempalkan telinga diantara pintu berkaca tersebut. Meski kaca itu tebal, suara apapun dari dalam sana tetap saja terdengar.
"Ahhh ... Segernya ...." Suara Naya yang menikmati air menyapa tubuh, terdengar seperti sebuah ******* ditelinga Key.
"Huuhhh!!!" Suara itu terdengar begitu merdu, hingga Key segera menjauh, ketika merasa tubuhnya tiba-tiba memanas.
"Haahh!! Gue kenapa?" tanyanya mengibas-ibaskan tangan. Kakinya bergerak kesana kemari seperti cacing kepanasan.
"Oke, Key tenang! Dia cuma seorang gadis, sama seperti yang lain. Dan suara itu ...." Key menggantungkan kalimatnya.
Ia sering mendengar suara sexy seperti itu dari para kekasihnya. Namun, hal itu tidak cepat membangkitkan si jack. Apalagi kebanyakan dari para wanita yang menghasilkan suara yang dibuat-buat. Berbeda dengan suara Naya yang terdengar natural dan ....
"Akhhh!! Gue bisa gila!" erangnya frustasi.
Ceklek!
"Astagfirulloh!" Naya yang baru keluar kamar mandi merasa kaget saat mendapati Key yang sudah terbangun dengan rambut berantakan tengah berkacak pinggang.
"Ka-Kamu udah bangun?" tanya Naya sedikit gugup memalingkan wajah. Tentu ia tidak ingin melihat Key yang bertelanjang dada.
Begitu pun Key. Pria itu mendadak gelagapan, seolah tertangkap basah. "Oh, he'em," balasnya singkat.
"Kalo gitu, kamu teh bisa kembali ke kamar. Aku, aku mau Sholat," ucap Naya berlalu menuju lemari untuk mengambil mukenanya.
"Iya," balas Key. Ia kembali ke atas kasur untuk mengambil kaosnya. Bukan segera pergi, pria itu justru memperhatikan gerak gerik gadis itu.
Tanpa memedulikan Key, Naya memilih untuk segera melaksanakan kewajibannya karena waktu yang kian siang. Key terdiam memperhatikan setiap gerakan gadis itu. Hatinya tiba-tiba terenyuh, saat teringat sudah sekian lama ia melupakan setiap kewajibannya tersebut.
'Bahkan dari banyak gadis yang kutemui. Hanya lu yang berbeda.'
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*