
Ceklek!
Key membuka pintu kamar sang Mama. Terlihat wanita cantik itu tengah melamun ditepi ranjang. Pria tampan itu mendekat dan berlutut dihadapan wanita yang yang sudah berantakan dengan air mata itu.
"Ma!" lirihnya menyentuh punggung tangan sang Mama.
Sena mendongak menatap putranya itu. Tangisnya kembali pecah, seraya memeluk leher sang putra. "Maafin Mama Key, Maafin Mama!" lirihnya dengan isak tangis memilukan.
"Maafin Mama sudah membuatmu merasa terabaikan. Mama salah, Mama egois. Mama lupa akan peran utama Mama. Maafin Mama, maafin Mama ...."
Key pun tak kuasa membendung air matanya. Ia memeluk erat tubuh wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya itu. Bukan itu yang ia maksud, bukan menyalahkan sang Mama atas pengasuhannya. Tapi, menyalahkan diri yang tidak bisa menerima keadaan.
"Nggak, Mama gak salah. Aku yang salah! Aku anak yang gak pernah bersyukur. Melupakan bagaimana aku lahir kedunia. Melupakan siapa yang berjuang mempertaruhkan nyawa untukku? Maafin aku, Ma. Maafin aku!" sesal Key.
Anak dan ibu itu larut dalam tangis penuh rasa sesal. Sama-sama saling mengintropeksi diri dari kesalahan masing-masing. Abi yang baru keluar dari kamar mandi, tidak ingin merusak suasan haru antara keduanya. Untuk kali ini, ia membiarkan sang putra memeluk istrinya itu dan memilih keluar dari kamar.
Pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang kakek itu, hendak memasuki dapur untuk meminta dibuatkan kopi. Namun, ia justru melihat sang menantu yang tengah berdiri didepan jendela besar yang memperlihatkan halaman belakang. Tangan si ibu hamil itu terlihat mengusap perut ratanya.
Pria itu mendekat untuk menyapanya. "Nay?"
Sontak Naya menoleh mendapat sapaan itu, "Papa?!" sapanya balik.
"Kamu sedang apa? Gak baik, ibu hamil banyak berdiri!" tanyanya yang disertai nasehat.
Naya melebarkan senyum. Sangat langka mendapat kalimat panjang dari ayah mertuanya itu. "Nggak, Pa! Aku lagi lihat pohon jambu itu," tunjuk Naya pada tanaman diluar.
Abi mengikuti telunjuk Naya pada pohon tersebut. "Kamu menginginkannya?" tanyanya dan diangguki semangat oleh si calon ibu itu.
"Kalo gitu, Papa akan minta pak Asep buat petikin," Belum juga Abi berlalu, Naya sudah menyelaknya.
"Pa!"
Abi menoleh lagi dengan menaikan sebelah alisnya.
Naya terdiam sejenak, tiba-tiba terbesit keinginan dikepalanya yang mungkin tidak akan terpenuhi. "Emm ...." ucapnya sedikit ragu.
__ADS_1
"Papa keberatan gak, kalo Papa aja yang metikin?" tanya Naya ragu. Abi sedikit syok mendengar permintaan sang mantu.
"Aku teh pengen Papa yang petik aja, boleh?" Si ibu hamil itu tersenyum menampilkan deretan gignya.
"Hah?!"
**
Key tergelak, saat mendengar sang papa sudah mendapat iseng dari calon cucunya. Tidak dapat dibayangkan pria yang anti tunjuk orang lain, selain istrinya itu. Bisa tunduk jika bersangkutan dengan keturunannya.
"Isshh udah atuh A, jangan ketawa terus. Aku teh malu tau sama Papa!" protes Naya memberenggut kesal.
Ia sendiri bingung, bagaimana bisa ia meminta sang papa mertua melakukan hal itu? Ia yang biasa tak banyak bicara apalagi meminta apapun pada pria itu, tiba-tiba demikian.
Key memeluk sang istri yang tampak kesal dan malu tentunya. "Udah gak apa-apa. Papa pasti senang kok, lakuin itu! Lagian itu menandakan, Papa sayang sama mantu dan cucunya," ucpanya menenangkan.
"Tapi, A. Aku gak enak sama Papa. Dikiranya aku teh gak sopan. Padahal .... Entahlah ...." rengek Naya yang kemudian menutup wajahnya malu.
"Nggak kok, Honey! Serius, percaya sama aku. Kata Mama, itu tuh perasaan ilmiah. Ikatan batin antara kakek dan cucunya," jelas Key.
"Dari pada kamu mikirin jambu yang udah masuk ke dalam perut. Mening kita mikirin cara nengok baby yang aman, gimana?" tawar Key menaik turunkan alis, tentu dengan wajah mesumnya.
Naya yang hendak protes, tidak mampu mengeluarkan kalimat, saat bibir sexy Key sudah membungkam bibirnya itu. Bahkan Naya hanya bisa pasrah, saat tangan Key dengan cepat melepas kain yang menempel ditubuhnya.
"Ssshh Mmmhh," Suara Naya melantun indah, saat tangan Key sudah bertengger didua buah miliknya.
"Ini cuma perasaanku aja apa emang iya, makin hari, berasa makin gede ya?" tanya Key menangkup kedua buah itu yang semakin meluber dari tangannya.
Ia mencoba mengingat ukuran kedua benda tersebut sebelumnya yang memang sedikit kecil dari sekarang.
"Ya iya atuh, A. Kamu sendiri gak absen buat mijitin. Ya otomatis atuh makin gede. Sekarang apalagi makin kenceng, karena perbawa si utun," jelas Naya disela de sahannya.
"Iya juga, ya!" kekeh Key.
Tidak ingin ambil pusing dengan ukuran yang justru semakin memanjakannya. Key memilih untuk segera meluapkan kerinduannya. Sebelumnya ia sudah konsultasi, perkara berhubungan ditengah kehamilan muda bersama sang Dokter. Hingga ia bisa lebih tenang saat melakukannya.
__ADS_1
"Mmhh A ... Lebih cepat!" pinta Naya, saat Key bergerak pelan dan hati-hati.
"Nggak, Honey! Kita bergerak pelan aja. Kasihan baby nya," tolak Key.
"Tapi, aku gak kuat mmhh!" rintih Naya yang ingin segera mencapai *******.
Belum juga Key menjawab. Naya sudah mendorong tubuh suaminya hingga terguling ke samping. Hal yang membuat Key sedikit syok. Hingga pria itu kian syok, saat tiba-tiba Naya dengan berani, beralih menindih tubuh Key dan memposisikan si nona makan pisang.
"Honey, apa yang kamu lakukan?" tanya Key khawatir.
"Kalo kamu gak bisa memimpin dengan benar. Aku yang akan jadi leadernya!"
"Bu- Mmhhh!" Suara Key tertahan saat Naya sudah mulai bergerak menari lincah diatas tubuhnya. Tentu ia pun ingin bergerak seperti demikian. Namun, karena tidak ingin menyakiti baby nya, ia tidak melakukan itu.
Suara de sahan menggema memenuhi ruangan. Peluh bercucuran membasahi sejoli yang tengah memadu kasih, diranjang yang masih saja terasa panas ala pengantin itu.
Terlihat kali ini Naya lebih bersemangat. Hormon ibu hamil dalam dirinya, membuat ia menggila hari ini.
"Ho-Honey, pelan-pelan. Kasihan baby nya!" peringat Key. Namun, tak dihiraukan wanita itu.
Takut sang istri kelelahan, segera Key membalikan keadaan. Ia kembali memimpin dan mulai bergerak dengan cepat sesuai keinginn istri dan gelora di dirinya. Hingga entah di menit ke berapa, keduanya pun tumbang diwaktu bersamaan.
Nafas keduanya beradu silih bersahutan. Key benar-benar kewalahan. Ia yang biasa memimpin, dan akan tumbang setelah sang istri mengalami pelepasan berulang kali. Tiba-tiba sekarang si ibu hamil itu mampu menyeimbanginya.
"A ...." cicit Naya.
"Iya. Kenapa?" tanya Key yang masih ngos-ngosan.
"Deui!"
"Hem?!"
"Sekali lagi ya!"
"Hahhh?!!!"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*