
Key dan Naya baru pulang dari rumah sang Oma di pagi hari. Sena memaksa sejoli itu untuk menginap bersama di rumah tersebut. Akhirnya mereka menurut dan baru kembali saat pagi menjelang. Saat baru saja turun dari mobil, sejoli itu sudah disambut oleh ramai warga yang mendatangi rumah Naya. Sontak sejoli itu bingung, apa yang terjadi disana.
"Punten, Ceu. Ada apa ini teh?" tanya Naya heran.
"Ini si pelakunya teh, tukang bawa kabur anak gadis orang!" tuduh salah satu warga pada Key.
Tentu saja, Key bingung dengan tuduhan mereka. "Maksudnya apa ya, Bu?" tanyanya.
"Apa-apa? Kamu teh bawa kemana si Ela, sampai gak pulang ke rumah?" tanya seorang Bapak.
"Hah?!" Key dan Naya terkejut mendapat pertanyaan tersebut.
"Nah, ieu yeuh pak Kades, ieu pelakuna teh (Nah, ini nih pak Kades, ini pelakunya)," teriak seorang wanita menggandeng tangan pak Kades, yang tak lain adalah Bu Inah.
"Bentar dulu atuh bentar! Kita bicarain dulu ini teh baik-baik," lerai pak Kades.
"Gak bisa atuh Bapak! Anak saya teh gak pulang dari semalam, setelah mengantar martabak ka lalaki ieu (lelaki ini)" cerocos Ina tak terima.
"Iya, saya teh tau. Hayuk atuh urang teh musyawarahken hela, apa masalahna?" jelas pak Kades menengahi.
"Jadi, semalam teh, saya nyuruh Ela buat kasih martabak ka si kasep ieu. Saya kira teh, dia udah pulang. Karena saya juga ketiduran. Eh, pas pagi saya cari, Ela teh gak ada. Dia gak pulang dari semalam, Pak Kades. Dan saya teh yakin, si kasep ini udah culik anak geulis saya," jelas Inah yang diakhiri tuduhan.
Key melongo memdengar penjelasan wanita itu. "Enak aja, Ibu nuduh saya sembarangan," balas Key tak terima. "Nih saya jelasin ya, Bu, Pak. Semalam saya emang ketemu si Ela itu. Dia bawa martabak yang katanya dari Ibunya buat saya. Baru saja saya ambil tuh paper bag, Ibu Santi manggil saya, buat benerin lampu kamar mandi. Nah, pas saya keluar lagi sama Naya, tuh si Ela udah gak ada. Saya kira udah pulang!" jelas Key, akan fakta semalam.
"Heleh, saya teh gak percaya! Pasti kamu teh sembunyiin Ela 'kan? Biar bisa nikahin dia 'kan?" tuduh Inah.
"Astagfirulloh!" Key mengusap dada mendengar itu. "Eh Ibu, itu anak orang bukan anak kucing! Lagian buat apa saya sembunyiin anak Ibu, gak ada untungnya juga. Saya sudah punya calon istri!" tegasnya yang sudah terlanjur emosi.
"Nih, calon istri saya!" Key merangkul bahu Naya. "Lebih cantik dari anak Ibu. Jadi Ibu, gak usah nuduh sembarangan!" kesalnya, yang disambut senyum warga lain.
"Terus kalo kamu gak sembunyiin? Anak saya kemana?" tanya Inah tak mau kalah.
"Ya, mana saya tau. Emang say baby sitternya!" pungkas Key.
__ADS_1
"Yang dikatakan Nak Key ini benar, Pak!" sambung Santi. "Malah setelah membantu saya, mereka berpamitan ke Desa sebelah menemui orang tua, Nak Key!" lanjutnya.
"Kamu teh gak usah belain deh! Bukannya sebelum masuk dia bertemu dulu dengan Ela. Siapa tau Ela teh, di macam-macamin dulu sama dia," celetuk Inah.
"Ibu, tolong berhenti memfitnah!" sambar Naya tak terima. Sontak semua atensi berpindah pada gadis itu.
Sudah cukup Naya diam sedari tadi melihat sang kekasih dipojokan seperti itu. Meski ia tau bagaimana masalalu pria itu. Namun, ia yakin, Key sudah berubah dan tidaklah seperti yang dituduhkan Inah.
"A Key, bukan orang seperti yang ibu tuduhkan! Sekarang saya teh tanya sama Ibu. Untuk apa Ibu menyuruh Ela ngasih martabak sama si Aa malam-malam?" tanya Naya.
Inah terdiam, nampak ia kebingungan mencari jawaban yang pas. Sementara semua orang mulai berbisik, sependapat dengan pertanyaan Naya.
"Terus siang kemarin. Ibu Inah juga nyuruh Ela buat ngasih makan siang sama si Aa. Buat apa atuh?" lanjut Naya bertanya dan kembali di tanggapi bisik-bisik warga lain.
Wajah Inah mulai memanas, ia sama sekali tak mengira Naya yang pendiam akan bersuara seperti itu.
"Naya teh bukan orang bodoh atuh. Nay teh ngerti dan paham. Semua orang teh suka sama si Aa. Pengen si Aa jadi mantu, jadi suami. Nay teh tau!" jelas Naya.
"Tapi ... Apa teh harus dengan memfitnahnya juga?" tanya Naya dengan suara bergetar.
"Eleh-eleh, kalo gitu mah sih, bukan salah si Aa kasep. Salah si Ela aja atuh yang kegatelan!" celetuk salah satu ibu-ibu dan diiyakan ibu yang lain.
"Iya atuh bener. Udah tau si Aa teh calon suaminya si Nay, malah digodain," sambung yang lain.
"Sudah Ibu-Ibu tenang-tenang!" lerai Pak Kades. "Dari pada kita ribut-ribut disini, sebaiknya kita teh cari si Ela, ya? Kasihan atuh mang Asrip dan Bapak-Bapak yang lain sedang cari Ela. Lebih baik teh kita bantuin," lanjutnya dan disetujui mereka semua.
"Eh tunggu dulu! Ini teh ada berita viral hari ini!" tahan salah satu ibu muda, menghentikan mereka yang hendak membubarkan diri.
"Apa tuh apa?"
"Di temukan seorang gadis tergeletak di sebuah sawung sawah di Desa X! Kini sang gadis masih belum sadarkan diri dan tengah mendapat perawatan di puskesmas setempat." jelas si ibu membacakan.
"Mana-mana beritanya? Di Desa sebelah ya?"
__ADS_1
"Sepertinya ini teh korban penculikan."
"Jangan-jangan korban pemerk*saan?"
"Kenapa atuh mukannya teh di sensor?"
Merasa penasaran, Naya merampas ponsel tersebut. Hingga Key dapat melihatnya juga. Ia membelakak kaget saat mengingat Ela pun mengenakan dress yang sama.
"Gak salah lagi, ini Ela!" pekik Key kaget.
Segera Inah merampas ponsel tersebut dan sama membelakak kaget melihat apa yang dikatakan Key ternyata benar. "Ela!!!" jeritnya histeris.
Warga pun ikut panik dengan mencoba menenangkan wanita itu. Akhirnya mereka pun bergegas menuju desa sebelah untuk melihat keadaan gadis tersebut.
**
Prankk!!!
"Ini semua teh gara-gara kalian!" Seorang pria mengamuk dan memecahkan gelas dari tangannya.
"Kerja gitu aja teh gak becus! Belegug sia! Aku teh suruh kalian culik Naya, kenapa malah si Ela?" kesal Juned pada kedua anak buahnya.
"Maaf atuh Boss! Semalam teh poek (gelap), mana tau atuh kalo itu teh si Ela," balas salah satu anak buahnya.
"Namanya malam pasti poek," gereget Juned seakan ingin memakan mereka.
"Nya cik atuh pake otak sia teh! Kenapa harus ninggalin dia di sawung? Kenapa gak di tinggalin di halaman rumahnya? Dasar belegug! Sontoloyo!" kesal Juned menoyor kepala keduanya satu persatu. Namun tak di tanggapi keduanya yang memang bersalah.
"Kalo udah gini mah, kita gak punya pilihan lain. Kita teh mesti kabur!" pungkas Juned dan diangguki keduanya.
Setelah melihat berita viral itu, tentu mereka merasa waswas akan polisi yang pasti dapat menemukan jejak mereka. Hingga mereka pun bersiap untuk kabur. Namun, belum juga mereka keluar, suara seseroang dengan todongan senjata api sudah menghentikan mereka.
"Jangan bergerak!"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*