
**
"Baik! Terima kasih, Pak!"
"Baik, Pak. Saya permisi!"
Seorang petugas polisi berlalu meninggalkan dua orang pria berbeda generasi, dimana salah satunya berseragamkan SMA.
"Ada yang ingin kamu jelaskan?" tanya Abi, pria tersebut.
Pria berseragam SMA, yang tak lain adalah Key menghembuskan napas panjang. "Penjelasan seperti apa lagi. Aku udah bilang dari tadi, aku gak pernah ikut tawuran a-"
"Lalu, motor itu?" sela Abi.
Lagi-lagi Key harus banyak-banyak meraup kesabaran. "Aku gak tau, kenapa motorku bisa masuk daftar anak-anak berandal itu," jelasnya.
"Kau yakin?" tekan Abi.
"Astaga!" Key memijit pelipisnya yang mulai berdenyut. Ia meraup banyak-banyak oksigen untuk tetap menghormati orang tuanya itu.
"Bisa gak sih, Papa tuh percaya sama aku?" tanya Key.
"Apa kamu bisa dipercaya?" tanya balik Abi dengan datar.
Key tersenyum sinis. Selain tidak memiliki waktu untuknya, sang Ayah juga tidak ingin mengerti tentangnya. "Mungkin nggak! Karena Papa sendiri gak ingin tau gimana aku," pungkasnya dan berlalu meninggalkan posisinya.
"Key!" Panggilan sang papa tak dihiraukan Key yang sudah keluar dari ruangan.
Diluar, Key sudah disambut sang Mama dan Oma Ay beserta Opa Ar. Sementara gadis yang bersama Key tadi, sudah pulang menaiki taxi sebelum Key dibawa ke kantor polisi.
"Sayang, kamu baik-baik aja?" tanya Sena. Key hanya mengangguk sebagai jawaban.
Terdengar helaan napas lega dari ketiga orang yang menyambut disana. Abi sendiri mengekori dari belakang Key, keluar dari ruangan.
"Belajarlah dengan baik. Tinggalkan teman-temanmu itu!" Peringatan Abi membuat Key menahan napas seraya memejamkan mata.
Tentu Abi tau, Key tidak pernah ikut tawuran yang dilakukan anak-anak berandal itu. Namun, pertemanannya dengan sebagian anak-anak itu membuat ia juga ter cap demikian.
"Masih ada Arga. Bermainlah dengannya!" lanjutnya dan hendak pergi.
Key kembali tersenyum sinis. "Apa harus Papa terus mengekangku seperti ini?" tanyanya tak percaya.
__ADS_1
Abi terdiam tanpa menoleh sedikit pun. Pria dingin itu, hanya menampilkan wajah datar dengan kedua tangan memasuki saku celana.
"Menjadikanku sebuah boneka yang gak ada gunanya?" lanjut Key.
"Key!" mama Sena memegang bahu sang putra yang lebih tinggi darinya. Anak remaja itu tertawa sumbang, meledek dirinya sendiri.
"Terkadang aku berpikir, apa benar disini memang tempatku? Benarkah aku terlahir dari keluarga ini?"
Seketika Abi menoleh dengan tatapan tajam. "Benarkah aku diinginkan?" lanjut Key menatap balik Abi tanpa gentar.
"Key!" isak Sena dan sang Oma.
Sena hendak memeluk putranya itu, namun Key menepis dengan kasar. "Berhenti bersikap peduli padaku!" sentak Key pada Sena.
Bugh!
"Aaaa!!!" teriak kedua wanita disana histeris.
Sudah cukup Abi mendengar kata-kata kasar putranya. Hingga ia naik pitam, saat Key dengan berani membentak wanita tercintanya yang tak lain ibu kandung Key sendiri. Rahang pria itu mengeras dengan tatapan tajam. Sementara ketiga orang disana segera membantu Key yang tersungkur.
"Abi! Apa yang kamu lakuin? Bukan seperti ini cara mendidik seorang anak," bentak opa Ar tak terima.
"Itu pantas didapatkan seorang anak yang tidak bisa menghormati wanita yang sudah susah payah mengandung dan melahirkannya," balas Abi.
"Sebaik apapun anak itu, jika dia tidak dapat menghormati ibunya sendiri, dia pantas mendapatkannya. Bahkan, harus lebih dari itu."
"Jika kau ingin menyalahkan, salahkan Papa! Tapi, tidak dengan Mamamu!" lanjut Abi dan berlalu dari tempat itu.
Key tidak menjawab, ia hanya terdiam dipelukan Mama dan Omanya yang terus menangis. Opa Ar memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Ia tidak bisa membenarkan ataupun menyalahkan tindakan sang menantu, dengan keadaan sekarang yang semakin rumit.
Dari kejadian tersebut, benteng pun terbentang dan benar-benar membuat jarak antara anak dan ayah itu. Sementara Sena terus mendekatkan diri dengan Key. Hingga Key sendiri tidak berani lagi berbicara kasar pada sang Mama dan hubungan mereka pun kian hangat.
Namun, kenakalan Key tidak cukup sampai disitu. Ia sudah terlanjur terjerumus dalam lingkar gelap yang membawa ia keluar masuk klub malam. Tujuannya hanya untuk menenangkan pikiran, membebaskan diri dengan sebotol minuman untuk membuat ia terlelap hingga pagi menjelang.
Meski begitu, di pagi hari ia akan menjadi Key si penurut dan rajin. Prestasinya disekolah tidak terlalu membuat mereka khawatir. Hingga tidak ada yang tau, apa yang dilakukan Key saat malam menjelang. Remaja itu semakin menjadi dengan bergonta ganti perempuan. Mempermainkan mereka seolah menjadi kesenangan tersendiri untuk remaja tampan itu.
Memasuki dunia kampus, Key masih dengan kegiatannya keluar masuk klub. Pria yang kian tampan itu bahkan mengenal para pria dewasa dan ikut berinvestasi dibeberapa perusahaan saat bertemu di klub. Fasilitas yang diberikan Abi, tidak semena-mena hanya digunakan untuk hura-hura saja. Namun, untuk hal positif juga yang tentu tidak diketahui orang tuanya.
Hingga kelakuan negatifnya terendus, saat Key hendak menjebak kekasih Arga, sang sepupu. Seketika fasilitanya dicabut oleh sang Papa, dan hubungan mereka pun kian merenggang. Key pun mendapat pengawasan ketat dari sang mama. Dari kejadian itu, ia tidak bisa menyentuh lagi minuman haram tersebut, namun tidak dengan para gadis saat dikampus.
Flash back off~
__ADS_1
Hingga hari ini, untuk pertama kali lagi Key menyentuh minuman haram tersebut. Nasehat Naya sebelumnya dan bayangan-bayangan masalalu membuat pria tampan itu kehilangan akal sehat. Dan berakhir ditempat itu.
"Cih! Dia pikir dia siapa?" racaunya kembali menegak satu gelas minuman ditangannya.
Satu botol sudah habis ia tegak. Hingar bingar suara musik terdengar riuh sama sekali tidak memenuhi telinga key. Hanya terdengar suara Naya yang terus terngiang ditelinga.
"Lu emang benar-benar keterlaluan, Nay. Kenapa lu terus ngomong ditelinga gue!" racaunya lagi.
"Astaga, Key! Berasa ngimpi gue lihat lu disini lagi?" sapa Doni, salah satu teman Key. Pria itu mendudukkan diri disamping Key.
Key tidak menanggapi, ia sibuk menuang dan menegak air pekat itu berulang kali. Hal itu tentu membuat Doni keheranan. "Lu kenapa, Bro? Ada masalah?" tanyanya menepuk bahu Key.
"Ck!" Key hanya berdecak seraya menepis tangan temannya itu.
"Kayaknya lu minum telalu banyak, deh. Udah, udah ntar nyokap lu ngamuk lagi," peringat Doni saat sadar temannya itu sudah terlalu banyak minum. Pria itu menghentikan pergerakan tangan Key yang hendak menegak minuman tersebut kembali.
"Arrggh! Apaaan sih lu? Siapa lu ngatur-ngatur gue?" kesal Key.
Doni tak menghiraukan, dan segera membantu memapah pria itu untuk pulang. Key sempat berontak, namun kesadarannya sudah ditengah ambang batas. Tubuh Key sudah lunglai seperti tanpa tulang, hanya mulut saja yang terus meracau tak henti sampai di mobil.
"Lu tuh cuma gadis Desa. Gak usah ngatur hidup gue!"
"Tapi kenapa lu selalu hantuin pikiran gue? Kenapa lu selalu ... Huh!"
"Ya ampun, nih anak ngomong apa sih? Gadis mana yang dia maksud?" tanya Doni keheranan. Ia hanya menggelengkan kepala, seraya menidurkan temannya itu di jok belakang dan segera mengantarnya pulang.
Tak berselang lama, mobil yang di kemudikan Doni sampai dihalaman depan rumah Key. Waktu sudah menunjukan dini hari, hanya bi Tarsih yang menyambut tuannya itu dan membuka pintu untuknya.
"Ya ampun, Mas Key!" Bi Tarsih membantu pria itu, untuk berjalan ke kamarnya setelah berterima kasih pada Doni.
Namun, baru menaiki satu anak tangga, Key menolak untuk di bantu. "Udah, Bibi kembali tidur, gih! Aku gak apa-apa," titah Key, dengan mata sayu.
"Yang bener, Mas! Biar Bibi bantu sampai kamar, ya!" bujuk wanita paruh baya itu khawatir.
Key menolak dan menggelengkan tangan. Bi Tarsih hanya menghembuskan napas panjang. Ia tidak segera kembali dan memperhatikan terlebih dahulu pria itu hingga benar-benar sampai di lantai atas. Lantas setelah itu, ia pun kembali ke kamar.
Dengan tubuh sempoyongan, Key sampai didepan kamar. Ia membuka pintu itu, lalu segera melepas kaos dan celana panjang yang ia kenakan setelah menutup pintu, hingga menyisakan boxer saja. Membuka sepatunya dan segera merebahkan diri diranjang dengan mata tertutup. Ia memeluk guling yang dirasa begitu nyaman hingga meremas-remasnya.
"Ah! Nyaman sekali ...."
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1