
Berulang kali, Key melirik jam dipergelangan tangannya, saat sadar menit terus berganti. Namun, acara dirumah oma Siska belum juga dimulai. Pria tampan itu mulai resah, saat memikirkan apa yang tengah dilakukan Naya dengan teman prianya itu.
"Lu kenapa? Kaya emak ayam mau bertelur," ledek Arga mendudukkan diri disamping Key.
"Ck! Diem lu!" kesal Key.
Arga terkekeh begitupun dengan Cheryl yang ikut bergabung mendudukkan diri disamping sang suami, membawa susu ditangannya. "Nasib kadal mesum lah begitu, tiap hari mana tenang. Pasti yang dia pikirin cewek dan cewek, apalagi ceweknya ampe datang ke rumah. Minta pertanggung jawaban lah tuh," Cheryl ikut meledek pada sepupu iparnya itu.
"Ck! Berisik banget sih lu," kesal Key merebut susu dari tangan sang gadis.
"Eh, eh susu gue!" protes Cheryl ingin merebut gelas dari tangan Key, namun pria itu terlanjur menegak isi gelas tersebut.
"Eh, b*ngke seenak jidat lu minum susu istri gue," umpat Arga menoyor kepala sepupunya itu, setelah merampas gelas itu dari tangannya.
"Ya elah, lebay lu! Tinggal nyeduh lagi, apa susahnya sih," ledek Key yang berhasil mengahbiskan setengah dari air berperisa vanila tersebut.
"Masalahnya, ini tuh susu ibu hamil. Mau ikutan ngidam lu?" jelas Arga.
Sontak Key terdiam, mendapati penjelasn Arga. Sementara Cheryl sudah tergelak, yang disusul kekehan pula oleh Arga. Pria itu dengan sengaja mengelus-elus perut Key, semakin mengejek sepupunya tersebut.
Key menepis kasar tangan Arga. Ia menahan perutnya, lalu segera berdiri dan ngibrit menuju kamar mandi. Tawa sepasang suami istri itu kian pecah, menggelegar memenuhi ruangan tamu. Sementara Key, benar-benar merasa mual dan memuntahkan sesuatu yang sama sekali tidak ingin keluar.
"Sialan! Mereka," umpat Key dengan napas terengah-engah. Ia yang merasa haus, tidak mengira akan meminum nutrisi untuk ibu hamil. Segera ia berkumur untuk menghilangkan rasa amis yang memekat dilidahnya itu.
Sementara itu semua anggota keluarga tergelak mendengar cerita Cheryl, pasal sepupunya itu. Namun, tidak dengan oma Siska yang nampak murung. Oma Ay yang mengerti, bahwa sesuatu mungkin telah terjadi, segera mengalihkan pembicaraan.
"Sebenarnya ada apa?" tanya oma Ay, mengusap punggung kakak iparnya itu.
Keadaan pun seketika hening. Opa Ar bersama opa Age ikut bergabung setelah sebelumnya memasuki ruang kerja. Begitupun Key, yang baru keluar dari kamar mandi. Pria itu ikut bergabung disana.
Oma Siska menarik dan menghembuskan napasnya terlebih dahulu sebelum memulai obrolan. "Sebenarnya ada hal yang ingin Oma katakan pada kalian. Sebuah kabar, namun entahlah ini bisa disebut kabar baik atau kabar buruk," ucapnya mulai menjelaskan, lalu diakhiri hembusan napas berat.
Opa Age yang mengerti segera merangkul wanita tercintanya itu. Mencoba menguatkan apa yang kini menimpa keluarganya. Semua mata menatap bingung pada pasangan baya yang masih terlihat segar diusianya itu. Hanya keluarga opa Ar dan oma Ay saja yang berkumpul disana. Sementara anak serta cucu opa Age sendiri tidak dapat menghadiri.
"Tunggu, Oma! Maksudnya?" tanya Arga menimpali.
__ADS_1
"Minggu depan, Zea akan menikah," sambung opa Age.
"Lho bagus dong, Pih," sambung Sena bingung. Kebiasaan ia memanggil sang om papih, menempel sampai sekarang.
Semua orang mengangguk setuju. Hingga tiba-tiba mereka dibuat terkejut melihat oma Siska yang menangis.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya oma Ay yang khawatir menggenggam tangan wanita itu.
"Sebenarnya ... Zea ...." Kembali wanita itu membuat semua orang khawatir.
"Timom ... Sebaiknya timom tenang dulu! Ini minum dulu!" Shaka mendekat dan segera memberi air minum untuk oma Siska. Hingga pria itu berlutut dihadapan wanita yang sudah seperti ibunya itu.
Opa Age menghembuskan napas panjang. Sepertinya ia yang harus menjelaskan terlebih dahulu. "Sebenarnya, Zea menikah ... Karena dia sudah hamil," jelasnya.
"Apa?" Sontak semua orang mebelakak kaget mendengar hal tersebut.
"Kok, bisa?" tanya Key ambigu, yang membuat siapa pun ingin menampol kepala pria tengil itu. Hingga tangan Arga benar-benar mendarat dikepalanya.
"Kampr*t lu?" kesalnya menepis tangan Arga. "Maksud gue tuh, siapa cowoknya? Gue belum pernah denger dia pacaran. Kok, tiba-tiba hamil, sama siapa? Gitu maksud gue," herannya, yang tenyata mewakili pemikiran Cheryl.
"Entahlah ... Tapi, pacarnya mau bertanggung jawab. Karena kebetulan dia cucunya Feby," balas opa Age.
"What? Cucu onty Feby?" pekik Sena terkejut mewakili orang-orang disana.
"Anaknya Riska?" sambung Jingga, yang ikut bersuara.
"Siapa, Ma?" tanya Cheryl yang memang kurang mengenali. Ia hanya dekat dengan si kembar Reysa dan Rayna. Ia tidak mengetahui jika si kembar memiliki sepupu.
"Onty Riska. Dia putri kedua oma Feby, adiknya uncle Rizky. Katanya dia memiliki satu putra yang seumuran kalian, Mama lupa siapa namanya," jelas Jingga pada sang menantu.
Mereka pun mengangguk mengerti. Opa Ar mulai memberi pengertian pada kaka iparnya untuk mencoba ikhlas. Kehamilan adalah suatu keberkahan yang patut mereka syukuri. Meski mungkin cara mereka salah, namun tidak ada yang salah pada kehidupan baru yang akan lahir tersebut.
"Inilah kenapa Oma, menyuruh kalian semua untuk datang. Oma rasa, kalian semua berhak tau. Terutama kamu Key," jelas oma Siska.
"Lha, kok aku Oma?" protes Key.
__ADS_1
"Iya, lu. Disini 'kan buaya cuma lu," celetuk Arga yang tau maksud oma kesayangannya itu. Dan tentu disambut kekehan Cheryl disampingnya.
"Ck! Apaan? Apa urusannya coba sama gue?" protes Key lagi menoyor Arga.
"Uncle denger, akhir-akhir ini banyak cewek yang datang ke rumah meminta pertangung jawaban kamu," ledek Shaka.
"Dan Papa, butuh penjelasan kamu!" sambung Abi yang baru bersuara.
Bagai terintimidasi, Key disidang seluruh anggota keluarga diwaktu yang tepat. Sontak seluruh mata tertuju pada pria berjulukan playboy tersebut.
Glek!
"Hayo, Key. Jawab!" ledek Cheryl mengolok-olok yang diakhiri cekikikan.
Entah kenapa nyali Key, tiba-tuba menciut dihadapan semua orang. Jika saja, hanya sang papa yang bertanya, ia tidak akan se khawatir itu. Namun, di depan sang opa dan sang oma yang sudah seperti orang tuanya sendiri, membuat pria berusia dua puluh dua tahun itu kebingungan.
Oma Ay yang mengerti, mulai bersuara. "Key, kita tidak menyalahkan dengan siapapun kamu mau berpacaran. Tapi, pesan kami hanya satu. Jaga gadis tersebut jangan sampai merusaknya," jelasnya.
"Dan cobalah untuk menghormati seorang gadis. Lihat mereka, seperti kamu melihat Mama dan Oma!" sambung opa Ar.
"Awas jangan asal masuk lubang, selain dosa. Itu merugikan!" celetuk Opa Age yang disambut kekehan semua orang.
"Terus kalo, kamu udah gak sanggup bersolo karier, mening cepet cari lubang halal. Biar masuknya lebih enak!" tambah Shaka.
Seketika suasa yang sempat tegang menjadi riuh. Gelak tawa terdengar dari orang-orang disana, menyudutkan Key hingga wajahnya berubah masam. Sena sendiri tersenyum, Key mendapat nasehat dari semua keluarganya. Setidaknya, untuk kali ini ia tidak akan lelah untuk berceramah panjang kali lebar.
"Papa tau kamu gak akan pernah mendengarkan nasehat Papa. Setidaknya, dengarkanlah nasehat mereka!"
Suara Abi berhasil menghentikan gelak tawa mereka. Pria itu berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut. Sena yang mengerti segera menyusul untuk menenangkan pria tercintanya.
Semua orang disana saling lirik melihat keadaan tersebut. Arga menepuk bahu sepupunya itu, untuk memberi pengertian.
"Yakinlah, uncle cuma ingin melihat lu lebih baik!" ucap Arga. Key hanya tersenyum kecut menanggapi.
'Benarkah?'
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*