Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Perasaan aneh


__ADS_3

"Makasih, udah ngimamin aku!" ungkap Naya tulus. Gadis itu tersenyum, lalu kembali melanjutkan makannya.


Sementara Key masih terpaku. Entah kenapa kalimat Naya begitu menyentuh relung hatinya. Kata 'Imam' sungguh menggetarkan sisi lain dalam dirinya.


'Apa seperti ini rasanya menjadi seorang imam? Pemimpin sebuah keluarga?' batin Key bertanya seraya tak lekat memandang sang gadis yang begitu lahap memakan nasi gorengnya.


**


Berulang kali Naya meraup udara yang begitu sejuk dari deretan pohon, yang dihiasi lampu kerlap kerlip. Deretan bintang menambah indahnya suasana malam di taman tersebut. Sepasang manusia itu tengah berjalan santai untuk menggerakan karbo yang sudah masuk kedalam tubuh mereka.


"Gimana perasaan kamu, udah mulai tenang?" tanya Naya mengadahkan pandangan, melihat ekspresi wajah Key yang lebih tinggi darinya.


"Hem, lumayan!" balas Key tersenyum, namun tatapannya tetap lurus kedepan.


"Aisshh!" Naya berjalan mendahului menghadap ke arah Key dan berjalan mundur.


"Emm, sebenarnya ada satu lagi sih cara buat nenangin diri," ucap Naya.


"Jangan ngadi-ngadi deh! Jalan yang benar, entar lu ke jengkang lagi," peringat Key.


"Gak akan atuh," balas Naya percaya diri.


"Emang lu punya spion, bisa jalan mundur? Udah jalan yang bener!" kesal Key, membuat Naya tertawa.


Belum juga ludah Key kering, benar saja. Kaki Naya tersandung dan ia hampir kejengkang, jika saja Key tidak sigap meraih tangan sang gadis.


"Eh, eh!!"


Sett, grep!!!


Bukan jatuh ke tanah, Naya justru jatuh ke dalam pelukan pria tampan itu. Key menarik keras tangan Naya, hingga tubuh Naya menubruk tubuhnya.


Deg! Deg! Deg!


Detak jantung keduanya bertalu saling beradu. Seketik keadaan menjadi hening, hanya detak jantung saja yang terdengar bersahutan dari keduanya. Bahkan, nafas keduanya seakan hilang tak terdengar.

__ADS_1


Satu detik, dua detik, hingga entah sudah berapa puluh detik, kedua insan itu masih belum saling melepaskan. Masih menikmati gejolak yang belum bisa mereka artikan.


'Gusti, jantung aku teh kenapa? Setiap deket sama A Key, rasanya teh aneh. Perasaan apa ini teh?' batin Naya bertanya-tanya.


'Gue gak bisa lagi menyelak rasa ini. Semakin gue menyangkal, rasa ini semakin gak dapat dikendalikan. Gue ... Benar-benar suka sama lu, Nay!' batin Key, yang akhirnya mau mengakui perasaannya itu.


"Nay?"


"Hem?" Naya tersadar dan hendak melepaskan pelukan mereka. Namun, Key justru memperratnya. Hingga Naya pasrah dengan hati kian berdebar.


"Gue ...."


Drrrttt ... Drrrttt ....


Suara dering tanda panggilan masuk, menyelak kalimat Key. Hingga kedua insan itu terlonjak dan segera saling melepaskan pelukan satu sama lain. Keduanya berdehem merasa gugup dengan apa yang barusan terjadi.


"Ehem, ponsel lu," ucap Key memberitahu.


Naya segera meraih ponsel tersebut dari tas selempang yang mengait pada bahunya. Lalu, segera mengangkat panggilan yang ternyata dari sang ibu.


Key yang tidak ingin mengganggu, berlalu menjauh. Ia memutuskan untuk membeli jajanan di deretan pedagang kaki lima yang berjejer disana. Sudah lama, sejak ia masih menduduki bangku sekolah dasar belum lagi merasakan jajanan seperti itu. Key yang biasa nongkrong di resto dan kafe-kafe, merasa rindu makanan kesukaannya waktu kecil.


"Iya, Bu. Ibu teh baik-baik aja 'kan? Kok, suara Ibu kayak abis nangis?" cecar Naya dengan beberapa pertanyaan saat mendengar suara sang Ibu yang nampak berbeda.


"Nggak ah, Ibu teh gak apa-apa!" sangkal sang Ibu dari sebrang telepon.


"Nu bener atuh, Ibu. Suara Ibu teh gak bisa bo'ong?" desak Naya yang masih belum percaya.


"Ihh kamu mah, beneran atuh. Ibu teh cuma terharu, wara'as kitu (terharu gitu) bisa denger suara kamu," balas Ibu Santi.


"Ah si Ibu mah, Nay oge (juga) jadi terharu atuh. Jadi kangen sama Ibu," rengek Naya yang ikut berlinang air mata, ikut terharu akan suara sang Ibu.


"Iya atuh, Neng. Ibu oge sami kitu (juga sama gitu). Tapi, Neng. Kamu teh tenang aja, nanti Ibu jenguk kamu kesana, ya! Sekalian atuh Ibu teh mau silaturahmi sama bu Sena, udah lama." jelasnya.


"Serius, Bu?" tanya Naya girang dan diiyakan yakin oleh sang Ibu.

__ADS_1


"Bagus atuh, Bu, kalo gitu mah. Ibu kabarin dulu atuh nya kalo mau kesini. Soalnya minggu depan teh bu Sena sama keluarga mau keluar kota. Mau ngehadiri acara pernikahan sepupu A Key. Aku juga diajak, soalnya di rumah juga sendiri. Gak apa-apa, 'kan Bu?" terang Naya panjang kali lebar.


Tidak terdengar suara apapun dari sang ibu. Hingga Naya mengerenyit heran. "Bu, Ibu? Ibu masih disana?" tanyanya.


"Ah, iya. Ada ibu masih disini. Kayaknya sinyalnya ini teh," balas bu Santi


"Oh ya udah atuh, Bu. Nanti kita ngobrol lagi. Sekarang aku teh juga lagi di luar, udah malam mau pulang dulu!" pamit Naya.


"Ya udah kalo gitu, kamu teh hati-hati pulangnya, ya! Kalo mau ikut sama bu Sena, ikut aja gak apa-apa," saran bu Santi dan diiyakan Naya.


Setelah berpamitan, panggilan pun akhirnya berakhir. Mendapat restu dari sang Ibu, Naya pun memutuskan untuk ikut keluarga Key ke luar kota. Sekalian liburan pikirnya. Jarang-jarang juga, ia bisa jalan-jalan keluar kota.


Sementara itu di sebuah rumah yang terlihat sepi, bu Santi menangis mendengar suara sang putri yang begitu ia rindukan. Berbagai masalah yang tengah ia hadapi seorang diri membuat wanita itu rapuh. Namun, demi sang putri ia harus tetap kuat dan tegar. Setidaknya suara putri semata wayangnya memberikan ia kekuatan dan semangat.


"Kamu teh tenang aja, Neng. Ibu akan lakuin apapun untuk kebahagiaan dan juga impian kamu," ucapnya yakin, menguatkan diri.


**


"Udah nelponnya?" tanya Key menghampiri dengan berbagai bingkisan ditangannya.


"Udah," balas Naya. Gadis itu menautkan alis melihat begitu banyak kantong palstik ditangam Key. "Kamu teh beli apa? Banyak pisan (banget)," tanyanya takjub.


"Nih! Gue habis borong jajanan dari situ. Buat kita makan," balas Key menujukan tangannya.


"Sebanyak itu?" tanya Naya syok dan diangguki enteng oleh Key. "Ya ampun, emang kamu teh gak kenyang? Aku mah makan nasgor aja udah kengang atuh," lanjutnya tak percaya.


"Lu gak mau? Ya udah buat gue aja," balas Key. Pria itu mendudukkan diri di sebuah bangku panjang yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Naya pun mengikuti dan mendudukan diri disamping pria itu. Ia menatap lucu pada Key yang begitu menikmati sosis bakar dan kawan-kawannya. Hingga berbagai saus belepotan dibibir pria itu. Melihat Key yang begitu lahap, Naya pun merasa penasaran dan ikut mengambil salah satu sosis besar berbalut mayo yang nampak menggugah selera itu.


"Heleh, pengen juga 'kan?" ledek Key dan hanya dibalas cengiran oleh Naya.


Key menelan salivanya kuat-kuat melihat cara makan gadis itu yang berbeda dari yang lain. Kebanyakan orang makan sosis itu langsung gigit dan kunyah, namun Naya justru tidak melakukan itu. Ia menjil*ti terlebih dahulu mayo nya, membuat otak liar Key tiba-tiba saja bekerja.


'Astaga, apa dia bakal selihai itu juga memanjakan si jack?'

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2