
Naya menerima buku dari tangan pria itu seraya menganggukan kepala. "Iya, gak apa-apa!" balasnya.
Pria itu hanya menganggukan kepala, lalu berlalu pergi meninggalkan ketiga perempuan itu, tanpa kata-kata lagi. Ketiganya hanya memperhatikan punggung pria asing yang semakin menjauh itu.
"Kayaknya, anak baru ya?" tebak Reysa.
"Kayaknya gitu," balas Cheryl.
"Aku masuk dulu, ya!" pamit Naya saat sadar ternyata mereka sudah sampai didepan pintu salah satu dosen.
Cheryl dan Reysa mengangguk menyetujui. Mereka berpamitan untuk memasuki kelas mereka masing-masing.
**
"Tunggu, Key!" Angel mencegat tangan Key yang baru saja keluar dari toilet.
"Lu?" tunjuk Key didepan wajah gadis itu, dengan tatapan tak percaya. "Lu sampai nungguin gue berak?" tanyanya.
Angel hanya tersenyum manis menanggapi. Saat Key berpamitan ke toilet, gadis itu memilih untuk menunggunya. Baginya tidak ada waktu untuk menyia-nyiakan kesempatan itu. Berbeda dengan satu gadis yang bersama mereka tadi, ia memilih untuk masuk ke kelasnya.
Key masih dalam mode melongo tak percaya. Ada yang sampai segitunya untuk menarik perhatian dirinya. Angel semakin mendekat dan mendongak untuk bisa bersitatap dengan Key yang lebih tinggi darinya itu. Lalu, ia memberanikan diri, merangkul leher Key hingga atensi pria itu tertuju padanya.
"Harus seperti apalagi aku membuktikan? Kalo aku bener-bener sayang dan ingin menjadi kekasihmu. Bahkan, aku merelakan kakiku lecet berdiri disini, demi kamu Key." jelas Angel serius.
Key menarik satu sudut bibirnya. Lalu, satu tangannya menarik pinggang gadis itu hingga tubuh keduanya berdempetan. "Lu yakin mau jadi pacar gue?" tanya Key. Satu tangan lagi bergerak membelai wajah sang gadis.
Angel hanya memejamkan mata seraya menganggukkan kepala. Sentuhan dan perlakuan Key, sungguh membuat gadis itu melayang. Key menyeringai, akhirnya ia menemukan kekasih untuk beberapa waktu kedepan. Tangan yang bergerak menelusuri pipi berpindah menelusuri tengkuk sang gadis. Kemudian, Key hendak menyambar bibir gadis yang cukup cantik itu.
Namun, ketika bibirnya dengan sang gadis semakin dekat dan hanya mengikis jarak beberapa centi saja, tiba-tiba wajah manis Naya yang muncul dihadapannya. Sontak, Key yang kaget segera melepaskan tubuh Angel begitu saja.
Angel sendiri reflek membuka mata, dengan tangan yang sudah terlepas dari leher pria itu. Tentu gadis itu ikut kaget melihat perlakuan Key yang tiba-tiba melepaskan. Padahal ia sudah siap menerima serangan dari pria itu.
"Kenapa Key?" tanya Angel heran.
Key berdehem keras untuk mengalihkan perhatian. "Ehem! Gue baru inget, gue ada kelas," ucapnya. Tanpa babibu pria itu berlenggang dari area toilet, tidak menghiraukan suara Angel yang terus memanggilnya.
"Key! Tunggu, Key! Aku gimana? Key!!!" teriak Angel. Gadis itu berdecak kesal menghentakkan kakinya dilantai dengan wajah memberenggut kesal.
Sementara Key berjalan cepat, secepat jantung yang berdegup tak beraturan. Ia pegang dadanya yang seolah ingin loncat, berusaha bergulat dengan hati dan pikiran-pikiran tentang apa yang terjadi pada dirinya.
__ADS_1
'Gue kayaknya udah gak waras nih, masa iya gue lihat tuh anak di wajah Angel' gumamnya dalam hati.
'Apa gue?' tebaknya. 'Ah! Nggak, nggak!' tepisnya.
Key terus berjalan bergumam dengan dirinya sendiri. Bahkan ia tidak berniat untuk memasuki kelas. Ia lebih memilih untuk melihat gadis yang tiba-tiba memenuhi otaknya kini.
**
Naya memasuki kelas untuk memulai pelajaran pertamanya. Suasana cukup hening diruangan luas itu. Terlihat dari aktifats orang-orang disana yang berfokus pada buku, dapat dipastikan hanya orang-orang rajin yang memenuhi ruangan tersebut.
Naya mengedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk. Hingga terlihat sebuah kursi kosong disamping seorang pria, ia pun segera mendekat. Lalu, mendaratkan bokong disana.
Naya memperhatikan wajah pria disampingnya itu yang terasa familier. Hingga ia teringat seseorang "Kamu?" sapanya.
Pria itu menoleh, lalu tersenyum. "Hai!" sapanya balik.
"Kamu teh yang tadi ...." tebak Naya.
Pria itu mengangguk seraya menyodorkan tangannya. "Daniel!" ucapnya memperekenalkan diri.
Naya menyambut uluran tangan itu seraya tersenyum ramah. "Naya!"
"Baru masuk, ya?" tanya Wildan dan diangguki Naya.
Ternyata interaksi kedua manusia itu terekam jelas oleh mata Key yang tengah mencari gadis itu. Mata pria itu memicing melihat Naya yang tersenyum dan terlihat akrab dengan seoramg pria.
"Ck! Siapa cowok itu?" tanyanya bermonolog sendiri.
Puk!
Sebuah tepukan dipundak tak dihiarukan pria tampan yang tengah mengintip dari jendela itu. Dua kali masih tidak ia hiraukan dan hanya mengedikan bahu. Tiga kali tepukan itu berlanjut. Hingga Key yang kesal berbalik.
"Apaan sih lu?" bentaknya.
Namun, nyalinya tiba-tiba menciut saat tau siapa yang ia bentak. "Em, maaf, Pak!" sesalnya cengos. Key hendak pergi, namun dicegat oleh pria berkaca mata yang ternyata seorang Dosen itu.
"Kamu gak masuk?" tanyanya.
"Enggak, Pak. Saya bukan anak fakultas sini. Saya permisi dulu!" Segera Key ngibrit meninggalkan pria paruh baya itu.
__ADS_1
Dosen tersebut hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan pria itu. Lalu, segera memasuki ruangan itu untuk memulai kelasnya.
"Ck! Sialan tuh anak. Gue kira dia bener-bener polos. Eh, ternyata ...." Key terus menggerutu sepanjang koridor.
Ia yang mengira Naya berbeda dengan gadis lain, harus mencabut kata-katanya kembali. Melihat sang gadis yang sama saja dengan kebanyakan gadis membuat ia mengubah pandangannya akan gadis itu.
"Jadi ... Gak ada alasan dong buat gue memperlakukan dia kayak cewek lain," ucapnya menyeringai.
Entah apa yang terjadi pada pria itu. Karena kekesalannya, ia pun sampai melupakan pesan sang Mama sebelumnya.
**
Waktu kian sore, jam pelajaran Naya selesai. Gadis cantik itu keluar dari kelas berdampingan dengan Daniel.
"Aku antar pulang, ya!" tawar Daniel.
"Emm gak usah!" tolak Naya halus.
"Emang kamu pulang sama siapa?" tanya Daniel khawatir. Sedikit ia tau jika Naya baru dikota itu.
"Dia bareng sama gue!" sambar Key yang sudah bersandar ditembok menunggu gadis itu.
Tentu hal itu mengejutkan dua manusia itu. Naya merasa heran, ternyata Key sudah menunggu. Bukankah seharusnya pria itu keluar lebih lambat? Pikirnya.
"Ayo buruan!" Tidak ingin berbasa basi dengan pria disamping Naya, Key segera meraih tangan Naya dan menyeretnya pergi.
"Eh, eh, tunggu dulu atuh!" protes Naya hendak menghentikan pergerakan Key. Namun, tak dihiraukan pria itu.
Hingga tiba-tiba pergerakan mereka terhenti saat tangan Daniel mencegat sebelah tangan Naya. Seketika Naya dan Key berbalik menatap Daniel.
"Maaf! Kamu terlalu kasar sama perempuan," ucap Daniel.
Key tersenyum sinis. Ia mendekat kearah pria itu, lalu melepaskan tangan Daniel dari tangan Naya. Wajah Key berubah dingin dengan tatapan tajam menusuk mata Daniel.
"Siapa lu?" tanya Key. Daniel tidak menjawab dan hanya balik menatap Key.
Suasana tiba-tiba menegang. Naya sendiri bingung harus berbuat apa, mungkinkah akan terjadi pertengakaran?
"Gak usah so keren!" peringat Key menepuk bahu pria itu.
__ADS_1
"Gue punya tanggung lebih atas Naya, paham!"
\*\*\*\*\*\*