
Perlahan namun pasti, Key dapat melepas kain dibagian tubuh atas sang istri. Sejenak Key terdiam saat melihat pemandangan indah didepan matanya. Hal yang sebelumnya sering menjadi imajinasinya, kini menantang dihadapannya.
Naya yang baru pertama kali memperlihatkan anggota tubuh sensitifnya, segera menutupi dadanya karena malu.
"Kenapa ditutupin?" tanya Key meraih tangan Naya.
"Malu," cicit Naya menundukkan pandangan.
Deg!
Sungguh, rasanya bukan Naya yang harus merasa malu, melainkan dirinya. Selama ini ia yang biasa disuguhi pemandangan-pandangan seperti itu dari setiap wanita merasa tak asing dan sudah menjadi hal lumrah. Namun, sekarang? Ia menyadari satu hal. Gadis yang ia nikahi kini, adalah sosok yang sangat mahal dan berharga. Kata malu yang terlontar dari bibir Naya, menjadi satu harga yang tidak dimiliki para wanita yang pernah ia temui.
Cup!
Satu kecupan hangat dilayangkan Key diatas kening sang istri. Kecupan penuh rasa syukur, ia dipertemukan dengan gadis seperti Naya.
"Makasih, udah jaga kehormatanmu demi suami seperti ku!" ucap Key berkaca-kaca. "Aku yang malu," lanjutnya menundukkan kepala, hingga satu tetes cairan bening lolos begitu saja dan jatuh keatas dada Naya.
Naya yeng mengerti segera menangkup wajah suaminya itu. "Jangan bilang gitu! Aku menerimamu dengan segala kekuaranganmu. Aku tidak pernah terpikir atau terbayangkan akan masalalumu. Aku gak tau dan emang gak mau tau. Aku hanya melihat kamu yang sekarang dihadapanku. Key, suamiku!" ucapnya tersenyum.
Key tersenyum bahagia mendapat kelapangan dari sang istri. Kembali ia mengecup kening itu seraya menggumamkan kata terima kasih. Kemudian, bibir Key turun mengecup mata Naya bergantian, semakin bawah, dan bawah lagi. Hingga sampai di dua gundukan yang menantang matanya. Memainkan kedua benda tersebut, membuat Naya kembali mendesis tertahan.
"Keluarkan aja suaramu, jangan di tahan!" titah Key. Lalu, ia menarik terlebih dahulu kaos yang melekat ditubuhnya sebelum melanjutkan aksinya.
Naya kembali merona melihat tubuh yang sering ia lihat itu. Sangat atletis dan nyaman di dekap. Sementara Key kembali melanjutkan aksinya. Ia ingin memberikan kesan pertama yang membuat Naya tidak dapat melupakannya. Memberikan sensasi luar biasa dan tidak akan pernah membiarkan gadisnya itu gugup.
"Hmmm A!" sesuai instruksi, Naya melepakan suara sexy itu agar terdengar oleh Key.
Melihat tubuh Naya yang sudah bisa merespon dengan baik. Key segera membuka sisa kain ditubun gadis itu. Lagi-lagi, ia terpana melihat lembah berbulu tipis yang membuat ia ingin menyantapnya.
__ADS_1
"Eh, eh, A. Mau ngapain?" tahan Naya mencegat kepala Key yang hendak menyapa si nona di bawah sana.
"Kenapa?" tanya Key heran.
"Jangan atuh, jorok ih!" larang Naya, saat sadar apa yang akan dilakukan pria itu.
Key terkekeh. "Gak apa-apa, aku suka!" balas Key dan hendak kembali menenggelamkan wajahnya, namun Naya kembali mencegatnya.
"Ihh A jangan atulah! Aku teh gak mau," larangnya lagi dengan wajah cemberut.
Key yang mengerti hanya menghembuskan napas pasrah. Padahal ia ingin sekali merasakan lembah berbulu yang di gadang-gadang manis itu. Namun, tidak ingin memaksa, ia pun kembali ke posisi. Mensejajarkan kepala dengan istrinya itu. "Ya deh, nggak!" finalnya. Namun tak ada tanggapan apa-apa dari Naya.
"Udah dong jangan cemberut, hem?" goda Key.
Naya hendak berkomentar, namun bibirnya terbungkam kembali oleh bibir Key. Pagutan yang lembut, semakin lama semakin menuntut. Membuat keduanya hanyut dan siap menyalurkan gairah yang berkabut.
Key melepas sejenak pagutan mereka. Lalu, ia turun sebentar, untuk membuka kain yang masih melekat di tubuh bagian bawahnya. Kini giliran Naya yang terpaku melihat benda panjang yang sudah berdiri tegak. Gadis itu menelan salivanya kuat-kuat, saat membayangkan benda tersebut menghantam nona manisnya yang teramat kecil.
Key yang melihat gurat ke khawatiran di wajah sang istri, mencoba meyakinkan. Bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Jadi, kamu gak usah tegang, ya! Relax aja udah. Kayak tadi, biarin naluri kita yang bergerak, hem?"
Naya menghela dan membuang napas takutnya. Mencoba meyakinkan diri dan hati seperti yang dikatakan Key barusan. Berdoa dalam hati agar malam pertamanya sukes dan mendapat keberkahan. "Tapi, pelan-pelan aja ya, A!" peringatnya dan di angguki yakin oleh Key.
Kembali Key men cum bu wajah sang istri. Memberikan ketenangan agar mereka bisa menikmatinya bersama-sama. Tangan Key tak mau diam dan terus bergerak bermain di dua buah favoritnya. Satu tangannya bergerak kebawah. Menyapa si nona manis untuk memberikan jalan masuk bagi si jacknya.
Setelah dirasa cukup, dan tubuh Naya kembali relax. Key mencoba mempertemukan si nona dan si jacknya yang sudah siap bertempur.
"Aaakkh!" pekik Naya, kaget sekaligus sakit menerjang area pribadinya.
"Tahan ya! Ini belum apa-apa," titah Key yang terus berusaha keras mendorong si jack agar tenggelam.
__ADS_1
Naya hanya mengangguk dengan sekuat mungkin menahan sakit yang menderanya. Meraba dan mencakar apapun yang ia temukan, sebagai alat pelampiasan. Tentu ia juga membaca artikel malam pertama terlebih dahulu sebelum melakukannya. Dan hal yang ia rasakan terdapat di artikel tersebut. Ia pun mencoba mengikuti langkah-langkah agar ia tidak mengecewakan suaminya.
Dan ternyata, pundak Key lah yang menjadi pelampiasan gadis itu. Sekuat mungkin Key pun meredam teriakan saat kuku Naya menancap sempuran dikulitnya. Ia yang kian penasaran, terus mendorong senjata tangguhmya itu hingga akhirnya.
"Aahhh!" sejoli itu menyatu dengan sempurna.
Key meraup oksigen terlebih dahulu sebelum melanjutkan aksinya. Ternyata melakukan penyelaman tidak semudah yang ia bayangkan. Butuh perjuangan untuk bisa menembus selaput dara seorang gadis. Namun, tak dapat dipungkiri. Rasanyaa tidak mampu ia jabarkan dengn kata-kata.
"Aku gerak ya!" izin Key dan hanya diangguki pasrah oleh Naya. Gadis itu sudah tidak sanggup lagi berucap dan membiarkan sang suami untuk melakukan aksinya.
Tau sang istri kesakitan, Key tidak berani bergerak liar. Meski jiwanya mengingkan hal tersebut, namun ia mencoba untuk tidak menyakiti istrinya.
Perlahan namun pasti, Key bergerak mengikuti nalurinya. Suara de sa han mulai menggema silih bersahutan. Rasa sakit yang sebelumnya dirasakan Naya, hilang seiring dengan hentakan yang diberikan Key. Menyisakan rasa yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata.
"A Key!" desis Naya saat tiba-tiba sesuatu dalam dirinya ingin keluar. "Aku, aku pengen pipis," cicitnya malu.
"Itu bukan pipis, lepasin aja. Gak apa-apa!" titah Key.
Tubuh Naya bergetar hebat saat ia dapat mencapai puncak. Namun, Key masih setia bergerak belum menemukan tanda-tanda ia akan mencapai puncak itu. Gerakan Key kian cepat, saat ia merasakan sesuatu akan meledak dari dalam dirinya. Hingga akhirnya, suara erangan panjang mengakhiri aktifitas panas mereka.
Brukk!!
Tubuh Key terjatuh tak berdaya diatas tubuh Naya. Peluh membanjiri tubuh keduanya dengan napas ngos-ngosan. Key masih membiarkan si Jack tenggelam lebih dalam. Membiarkan bibitnya menyelam mencari persinggahan di rahim terdalam sang istri.
Cup!
Satu kecupan dalam dilayangkan Key pada kening Naya. Dengan senyum merekah dari bibirnya.
"Makasih, Honey! Ini, luar biasa."
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*