Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Kalut


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar, Key mondar mandir seperti setrikaan. Ia masih enggan menutup panggilan dan membiarkan ponselnya tersambung. Tidak ada suara apapun semenjak kata-kata terakhir Naya.


"Nih anak kemana sih? Apa mungkin berak?" tanya Key pada dirinya sendiri.


Beberapa menit berlalu, namun suara Naya belum juga kembali. Terlalu kesal, ia pun mematikan panggilan tersebut. Namun, entah kenapa ia tidak juga tenang. Hingga setalah tiga puluh menit berlalu, Key pun memutuskan untuk mencoba menghubunginya kembali, panggilan tersambung namun tidak juga ada jawaban. Hingga dipanggilan kedua barulah panggilan itu terangkat.


"Lu kemana aja sih? Ngilang tanpa permisi. Gak tau apa gue nungguin ampe karatan! Lu-"


"Nak Key!" Bukan suara Naya yang menjawab. Tapi, suara yang terdengar bergetar yang terdengar.


"I-ibu?" tanya Key gugup dan juga malu karena sudah bicara terlalu kasar. Bukan itu saja, suara isak sang ibu membuat jantungnya berdegup tak karuan.


"Nak, Key. Tolongin Ibu. Naya ...." tangis sang ibu pecah.


Deg!


Sontak Key membelakak kaget. Benar perasaanya mengenai hal buruk benar-benar terjadi. "A-ada apa, Bu? Nay, Nay kenapa, Bu?" tanyanya dengan perasaan tak karuan.


Terdengar Santi menarik napasnya terlebih dahulu dengan dalam. "Ceritanya teh panjang. Tolongin Ibu, pinjamin dulu ibu uang seratus juta. Kalo nggak, Naya ... Naya ...."


"Ibu, tolong Bu. Naya kenapa? Apa yang terjadi?" desak Key yang sudah kalut.


"Kalo nggak, Naya mau dinikahin anak juragan Samsudin, malam ini juga ...." tangis Santi kian pecah. Penuturan sang Ibu membuat Key benar-benar naik darah.


"Apa? Nikah? Siapa yang berani nikahin Naya?" tanyanya melengking digendang telinga Santi.


"Ibu, Ibu tenang aja! Kirim nomor rekening Ibu. Aku akan transfer uangnya ke rekening Ibu sekarang juga, kalo perlu aku akan kasih tambahan. Dan bilang sama bajingan itu. Gak ada yang bisa nikahin Naya kecuali aku. Awas saja kalo dia berani nyentuh Naya sehelai rambut pun. Akan ku pastikan besok pagi, dia hanya tinggal nama saja," geram Key dan segera menutup panggilan tersebut.


"Kurang ajar! Brengs*k! Gak bisa dibiarin. Gue harus cepat-cepat menyusul Naya ke Desa," gerutunya.


Gegas Key meraih kunci mobil dan jaketnya. Lalu, berjalan cepat menuruni anak tangga. Ia tidak menemukan kedua orang tuanya dimana pun. Padahal ia ingin sekali menanyakan alamat rumah gadis itu. Hingga ia teringat, data gadis itu di laptopnya. Segera Key kembali untuk melihat alamat sang gadis.


"Oke, dapat!"

__ADS_1


Tidak ingin membuang waktu ia pun bergegas untuk segera berangkat. Ia tidak memedulikan apapun. Bahkan, ia tidak mendengarkan sama sekali ucapan sang Bibi yang menyapanya.


Segera ia menaiki mobil sportnya. Berharap kendaraan itu akan dengan cepat membawa ia pada tempat tujuan. Benar saja, ia melesat menuju jalan raya yang sudah sedikit renggang kendaraan.


Key benar-benar tak mengurangi kecepatan. Membayangkan gadis pujaan dihalalkan pria lain, membuat ia tidak terima. "Nggak, gue gak rela Naya dinikahi orang lain. Gue pasti bisa gagalin pernikahan itu. Iya, gue pasti bisa!" yakinnya menancap gas tak kira-kira.


Mobil itu terus melaju dengan kecepatan tinggi. Hingga beberapa menit kemudian mobil pun sampai di perbatas Desa, sesuai petunjuk dari aplikasi. Bahkan, ia melupakan jalan yang ia lalui bukanlah jalan raya. Tanpa ia sadari, mobil menyerepet seorang pejalan kaki.


Ckitt!!!


Segera ia menginjak pedal rem dengan perasaan tak karuan. Segera ia keluar dan melihat keadaan seorang pria paruh baya yang ia senggol. Beberapa warga menghampiri ikut membantu.


"Maaf, Pak. Saya gak sengaja. Apa Bapak, baik-baik aja?" tanya Key khawatir.


"Ya Alloh Gusti, kakiku!" pekik pria itu kesakitan.


"Si Aa main kebut-kebutan aja, sudah tau ini teh jalan Desa, kecil. Mentang-mentang pake mobil alus (bagus). Saenakna wae (seenaknya saja)," kesal salah satu warga.


"Iya, Pak. Iya, saya akan tanggung jawab. Maaf sudah mengebut, saya dalam perjalanan urgent! Gawat darurat," balas Key memberi penjelasan.


"Heleh, alasan. Udah buruan bawa si Mamang ka puskes!" titah salah satu warga itu.


"Iya, Pak! Tapi, apa puskesnya jauh dari sini?" tanya Key. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. "Saya gak punya banyak waktu, keadaan saya juga sama darurat," lanjut Key.


"Kamu teh mau lari dari tanggung jawab?" todong salah satu warga terlihat geram.


"Bukan, Pak. Bukan begitu maksud saya. Kalo, salah satu dari Bapak, bisa membawa mobil. Silahkan bawa saja mobil saya untuk membawa Bapak ini ke puskes. Dan ini ...." jelas Key. Membuat keempat Bapak-bapak itu melongo.


Apalagi saat tanpa ragu, Key mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu pada Bapak yang tertabrak tersebut, beserta kunci mobilnya.


"Bukan saya tidak sopan, Pak. Tapi, saya benar-benar dalam keadaan urgent. Kekasih saya mau dinikahin orang sekarang juga. Dan saya gak bisa biarin itu terjadi. Jadi, saya mohon pada Bapak-bapak sekalian untuk membawa Bapak ini ke puskes. Setelah urusan saya selesai, saya janji akan menyusul Bapak ke puseks," jelas Key panjang kali lebar. "Kalo gitu, saya permisi dulu, Pak!" pamit Key dan berlari begitu saja, meninggalkan mobil dan Bapak-bapak disana.


Keempat Bapak-bapak itu menganggukkan kepala dan saling bertukar pandang dengan tatapan tak percaya. Kemudian, mereka menatap uang yang digenggaman Bapak yang terluka itu.

__ADS_1


"Itu teh serius uang? Loba pisan (banyak banget)," tanya salah seorang yang yang merasa tak percaya dan diangguki serempak ke tiganya.


"Kayaknya teh dia bukan pemuda sembarangan," balas temannya dan diangguki kembali oleh mereka.


"Sepertinya dia teh bener-bener dalam keadaan urgent."


"Ngomong-ngomong siapa atuh ya, kekasihnya?" Mereka hanya mengedikakn bahu, pertanda tidak tau.


"Kumaha (gimana) Mang, apa mau ke puskes?"


"Sepertinya gak usah. Kaki saya teh gak apa-apa, cuma rasanya teh terkilir," balas Bapak yang menjadi korban.


"Ya udah kalo gitu mah, kita ke mak Odah aja buat diurut," saran dari salah satu Bapak dan diiyakan setuju oleh mereka.


"Terus ini, mobil si Aa itu kumaha atuh (gimana)?"


"Udah biarin aja. Lagian kita teh gak tau cara jalaninya kayak gimana."


Mereka pun setuju untuk meninggalkan mobil tersebut disana. Dan hanya membawa kunci mobilnya saja. Ketiga warga itu pun membantu memapah sang Bapak menuju tukang urut yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Sementara itu, Key terus berjalan mencari alamat yang di maksud. Ia lupa menanyakan alamat itu pada Bapak-bapak yang ia tinggal. Namun, ia yakin rumah Naya tidak jauh lagi. Hingga ia pun bertanya pada para pemuda yang tengah berjaga di pos ronda.


"Oh Teh Naya. Calon istrinya A Juned tea nya?" tanya salah satu pemuda disana. "Tuh, A. Rumahnya teh yang bercat hijau itu," tunjuknya pada salah satu rumah yang tak jauh dari sana.


"Kayaknya teh lagi sibuk, soalnya denger-denger besok mau nikahan," lanjut pemuda itu.


Mendidih sudah darah Key. Segera ia berlari tanpa pamit ataupun mengucapkan terima kasih. Apalagi ia dapat melihat mobil yang bertengger di halaman rumah sang gadis. Tanpa permisi ataupun salam, ia menerobos membuka pintu dan berteriak.


"Pernikahan dibatalkan! Saya-"


Deg!


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2