Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Putus lagi


__ADS_3

Hari terus berlalu, hubungan Key dengan beberapa pacarnya hanya bertahan beberapa hari saja. Ia sama sekali tidak dapat bermain-main dengan para gadis itu. Bayangan wajah Naya selalu menjadi alasan dan menghantuinya saat berkencan.


"Arggh, sial! Lama-lama gue beneran gila," erang Key frustasi.


Niat hati ingin mencoba melupakan dan menyangkal perasaan aneh itu terhadap sang gadis, justru ia semakin tenggelam dalam bayang-bayangnya.


Pria itu membuka jaket dan melemparnya kesembarang arah. Menjatuhkan diri di atas sofa dengan wajah kusut. Naya yang baru naik setelah mengambil jus mengerutkan dahi heran, saat melihat pria itu terlihat demikian. Padahal baru sebentar pria itu keluar dengan berpakaian rapi dan wangi.


'Apa dia teh putus lagi?' batinnya bertanya.


Naya mencoba menghampiri Key yang tengah terpejam mengadah diatas sofa. Ia menyimpan jus tersebut di atas meja di hadapan mereka. Lalu, mendudukan diri disamping pria itu.


"Kamu teh kunaha (kenapa)? Putus lagi?" Pertanyaan Naya yang tiba-tiba, sukses membuat pria itu terlonjak.


Sontak ia membuka mata seraya menegakkan diri. "Astaga!" ia mengusap dada karena terkejut.


Naya yang melihat ekspresi wajah Key, terkekeh geli. Wajah Key sudah seperti mengisyaratkan melihat hantu. "Isshh biasa aja atuh A tuh muka, aku teh 'kan cuma nanya," ledeknya. Kemudian, tersenyum dan mengambil gelas berisi jus yang ia bawa tadi.


Deg! Deg!


Lagi-lagi senyuman gadis itu membuat Key terpaku. Jantungnya bukan berdegup lagi, tapi terasa seakan berhenti seketika. 'Gue gak tau apa lagi yang harus gue lakuin. Senyum lu, bener-bener bikin gue gak bisa bernafas,' batinnya.

__ADS_1


'Air, gue butuh air!' Pria itu kelabakan mencari sesuatu yang dapat menetralkan tenggorokannya yang tercekat.


Baru juga Naya menyecap minuman berperisa jambu merah itu, Key segera menyambar gelas tersebut dan menegak seluruh isinya hingga tandas. Seketika Naya melongo melihat kelakuan Key yang menghabiskan jusnya.


"Ya atuh A, itu jus aku kenapa atuh dihabisin?" tanya Naya kesal.


Key tidak menanggapi, yang penting untuknya tenggorokannya normal kembali. Naya hanya berdecak dengan bibir memberenggut kesal.


"Maaf, Mas Key. Diluar ada yang nyari," Suara mbak Ati mengalihkan atensi kedua manusia itu.


Key menaikan alisnya heran. "Siapa?" tanyanya.


"Seorang perempuan, Mas. Dia nangis-nangis minta ketemu sama Mas Key," balas mbak Ati.


Segera ia berdiri untuk menyelesaikan urusannya. Sementara Naya masih saling tatap dengan mbak Ati. "Lagi?" tanyanya dan diangguki malas oleh mbak Ati.


Hembusan napas panjang pun dilontrakan dua wanita berbeda generasi itu. Hingga didetik berikutnya kedua wanita tersebut tersenyum dan segera bergerak untuk menyusul Key. Tentu, mereka tidak akan menyia-nyiakan tontonan gratis yang cukup menghibur itu. Kedua wanita itu akan stay duduk di atas kursi santai di samping rumah. Menyaksikan adegan sejoli yang penuh drama itu ditemani cemilan dan jus yang disiapkan mbak Ati.


"Ningsih teh yakin, yang ini juga gak lebih geulis (cantik) dari Ningsih," celetuk gadis yang baru saja bergabung mendudukan diri bersama mereka.


Sontak kedua wanita itu terlonjak kaget mendapati suara Ningsih yang tiba-tiba memecah kefokusan mereka. "Ya ampun, Ning! Kamu tuh mau bikin kita jantungan apa?" omel mbak Ati mengusap dada. Begitupun Naya yang sama mengikuti gerakan mbak Ati.

__ADS_1


Gadis itu hanya cengengesan seraya mencomot kripik dari toples dipangkuan mbak Ati. "Ck! Mau comot aja," peringat mbak Ati yang masih kesal, menepis tangan gadis itu.


"Isshh atulah, Mbak. Jangan galak-galak! Ningsih teh 'kan cuma mau ikutan nonton," rengek Ningsih dan hanya ditanggapi kekehan oleh Naya.


Gadis itu kembali fokus dan memperhatikan setiap gadis yang menjadi pacar Key. Ia bisa menyimpulkan pria itu tidak ada niatan untuk berpacaran. Tapi, untuk apa dia menerima setiap gadis untuk menjadi pacar, kalo dia sendiri tidak suka? Apa jadi playboy harus seperti itu? Pikirnya bertanya-tanya.


"Aku sayang sama kamu, Key! Aku tau kamu gak pernah punya perasaan sama aku. Tapi, apa gak bisa kamu biarin hubungan kita ini? Kita baru dua hari jadian, aku gak mau putus!" isak seorang gadis menggenggam tangan Key.


Key melepaskan tangan sang gadis pelan. "Maafin gue, Beby. Gue gak bisa!" tolaknya.


"Tapi, kenapa Key?" tanya Beby histeris.


"Lu tau siapa gue? Dan lu masih nanya?" tanya Key tersenyum sinis.


Gadis itu semakin histeris. Tidak seperti gadis sebelumnya, Beby benar-benar menangis terpukul.


"Udahlah lu gak usah nangis, percuma! Gue emang cowok brengs*k, dan air mata lu tuh gak akan mengubah apapun," titah Key dengan entengnya. Beby tidak membalas apapun, gadis itu masih menangis tersedu dengan tertunduk.


"Lebih baik sekarang lu pergi! Gak usah bikin keributan dirumah gue. Dan inget gue gak mau berurusan lagi sama lu!" usir Key seraya memberi peringatan.


"Key!!!"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2