
Santi kembali ke meja makan, menghentikan candaan sejoli itu. "Kamu tau gak Nay?" tanya Santi, seraya mendaratkan bokong di kursi.
"Nggak!" balas Naya yang masih kesal akan ledekan Key.
"Ishh, Ibu teh belum selesi ngomong," protes Santi.
"Iya, Bu. Gimana?" Bukan Naya, tapi Key yang bertanya.
"Itu mang Asrip, yang kerja di ternak. Semalam ketabrak mobil. Kakinya terkilir, sekarang jadi gak bisa kerja. Tadi anaknya si Ela, datang kasih tau," jelas Ibu.
"Kok bisa, Bu?" Naya yang semula kesal, mendadak penasaran.
Santi pun menjelaskan apa yang tadi di ceritakan oleh Ela. Hingga Key pun syok, saat menyadari sesuatu. "Ya ampun, aku baru inget, Nay!" pekiknya.
Sontak Santi dan Naya pun bertukar pandang merasa bingung. "Ingat apa?" tanya Naya.
"Aku baru inget. Semalam aku nabrak orang!"
"Hah?!"
**
Disinilah sekarang ketiga orang tersebut, di rumah mang Asrip. Bapak-bapak yang tertabrak Key, sekaligus pekerja Santi.
"Maafin Key, ya Mang! Semalam keadaannya teh emang darurat, jadi dia belum sempat buat jenguk," sesal Santi.
"Iya, Bu. Gak apa-apa. Lagian Nak Key ini juga gak lari begitu aja. Dia memberikan saya uang buat diurut, malah uangnya juga lebih," balas mang Asrip ramah. "Ini, saya kembalikan sisanya!" Ia menyodorkan uang yang menurutnya terlalu banyak itu pada Key.
"Gak apa-apa, Pak! Uangnya buat Bapak aja, saya ikhlas, kok!" tolak Key halus.
"Emang teh bagusan gitu. Ganti rugi namanya," sambar Inah, istri mang Asrip. Tanpa malu, ia juga menyambar uang dari suaminya.
"Lebih bagus lagi kamu teh gantiin suami saya kerja! Entah berapa hari ini, suami saya kayak gini gara-gara kamu," celetuk Inah dengan gaya sombongnya.
"Bu!" peringat mang Asrip.
"Bu Inah teh tenang aja, biar pun mang Asrip gak kerja, saya akan tetap bayar. Sebagai permintaan maaf dari calon menantu saya," jelas Santi.
"Bagus kalo gitu mah! Nyadar diri namanya," balas Inah lagi terdengar sarkas.
__ADS_1
Naya merasa kesal dengan perlakuan wanita sombong itu. Sungguh ingin sekali ia menyumpal mulutnya tersebut. Namun, tangan Key menggenggamnya. Mengingatkan agar Naya tidak tersulut emosi. Hal yang biasanya terbalik diantara keduanya.
"Ibu tenang aja. Saya akan bertanggung jawab, sampai Bapak sembuh. Saya akan bekerja menggantikan beliau," balas Key.
"Key!"
"A!"
"Gak apa-apa, bukankah kamu pernah bilang, seorang imam itu harus bertanggung jawab. Sebelum membangun rumah kita sendiri, bukankah aku harus belajar untuk mulai mandiri, hem?" tanya Key menatap Naya dengan senyum meyakinkan.
Naya menyambut senyum Key tak kalah manis. Hal yang membuat Santi dan mang Asrip ikut tersenyum. Berbeda dengan Inah yang berdecih, merasa kesal. Tentu ia sangat berharap, pria tampan dan mapan itu menjadi calon menantunya dari pada calon menantu Santi.
'Pokoknya teh, aku harus bikin pemuda ini jatuh cinta sama si Ela. Kapan lagi atuh bisa jadi orang kaya?' batin Inah bergumam yakin.
**
"Kamu teh yakin, A. Mau membersihkan kandang? Itu teh kotor lho, A?" tanya Naya untuk kesekian kalinya memastikan.
"Tentu saja! Ini tuh untuk membuktikan pada Ibu juga, kalo aku bisa bertanggung jawab atas kamu!" tegasnya penuh percaya diri. Naya hanya tersipu menanggapi.
Kini sejoli itu tengah berjalan menuju kandang. Key sudah siap dengan pakaian kebun milik mendiang Ayah Naya, meski sedikit lusuh. Namun, itu tak mengurangi ketampanannya sama sekali. Terbukti dari banyaknya atensi para wanita yang mengarah pada mereka sepanjang perjalanan. Dari wanita tua sampai gadis kecil seolah terhipnotis dengan ketampanan pria itu.
Tentu Key sendiri sadar. Ia menggenggam tangan Naya, hingga gadis itu mendongak menatapnya. "Jangan pernah menundukkan kepalamu! Tunjukkan pada mereka, kalo aku ini milikmu! Dan aku tidak akan pernah memandang wanita mana pun, selain kamu! Only you, Honey!"
"Cih, gombal!" ledek Naya.
"Serius!"
"Gak percaya!" ucap Naya berjalan lebih dulu, meninggalkan pria itu.
"Ya ampun, aku serius!" balas Key, namun hanya ditanggapi juluran lidah oleh gadis yang sudah menjauh itu.
"Wah minta di hajar tuh anak. Sini gak?!" teriak Key, namun Naya semakin gencar meledek.
Key pun berlari untuk menangkapnya. Sontak Naya pun juga ikut berlari. Teriakan dan candaan pun terdengar dari keduanya. Membuat sesorang yang diam-diam mengintip keduanya merasa geram.
"Udah atuh Boss, sikat aja!" saran seorang pria di sampingnya.
"Sikat-sikat. Emang WC. Pake otak atuh maneh mah!" kesal Juned menoyor kepala anak buahnya itu.
__ADS_1
"Kalo tau mobil semalam milik dia mah, kita kerjain, ya?"
"Tapi, sayang Boss. Itu mobil teh kayaknya mahal," celetuk pria itu yang kembali sukses dapat toyoran dari Juned.
"Mau mahal, mau apa teh bodo amat. Lain boga aing iyeuh (bukan punyaku ini)," balas Juned dan dibalas anggukan oleh pria itu.
"Terus gimana atuh Boss?"
"Kita tunggu malam ini, aing boga ide cemerlang!" ucapnya menyeringai dan diangguki mantap oleh anak buahnya itu.
Juned tentu masih kesal akan perlakuan wanita yang sudah dipastikan ibu dari pria yang kini bersama Naya. Selain tidak dapat menikahi Naya, karena Santi sudah membayar lunas. Ia juga harus di hadapi kenyataan jika gadis yang sudah lama ia suka, sudah memiliki calon suami. Ia tidak terima dan berniat membalas dendam pada mereka.
**
Key, melongo menatap pucat kotoran sapi yang harus ia bersihkan. Ini kali pertama ia memasuki sebuah kandang. Dan baunya ....
Huwek! Huwek!
Belum juga tangannya menyentuh pekakas pembersih. Key sudah muntah terlebih dahulu. Naya yang awalnya tergelak, kini mulai merasa iba.
Ia kembali mengajak Key untuk keluar dari sana, dan duduk di sebuah sawung (gubuk) yang tak jauh dari kandang.
"'Kan aku teh sudah bilang, kamu mah ngeyel," omel Naya memberikan air mineral yang biasa tersedia.
"Ya, aku gak ngira bakal kayak gitu. Aku pikir cuma kasih makan aja udah!" balas Key, yang tentu tak tau akan seperti itu. Segera ia menegak air pemberian dari Naya.
Naya mengambil masker dari saku celananya. "Hari ini sudah terlanjur. Cari pekerja juga kemana. Jadi, terpaksa kita yang harus lakuin! Nanti besok kita cari pekerja. Kamu yang gaji mereka, ya!" jelas Naya diakhiri kekehan.
Key hanya menghembuskan napas panjang. Jika begitu ia rela membayar berapapun dari pada harus demikian.
"Kita harus pakai ini dulu!" Naya memberikan masker pada Key. Pasrah, Key pun menerima dan mengenakannya.
"Yuk!" ajak Naya. Key pun berjalan mengikuti Naya.
Gadis itu mencepol terlebih dahulu rambutnya tinggi-tinggi. Menggulung baju panjang dan celananya. Hal yang membuat Key menatapnya tak berkedip. Bahkan, ia melupakan bau yang menyengat sebelumnya. Ia pun menuruti setiap intruksi dari Naya.
Keduanya pun bekerja sama membersihkan kotoran-kotoran itu. Diiringi canda tawa, sejoli itu seolah tidak mempedulikan sekitar. Bahkan, saat seseorang memanggil, tidak di sahuti mereka yang asyik sendiri. Hingga saat panggilan itu berubah teriakan, mereka pun mengalihkan atensi mereka.
"A Key!"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*