
Matahari sudah nampak cerah menelusup diantara gorden yang tersibak hembusan angin pagi dari ventilasi. Seorang gadis yang sudah hilang ke gadisannya, mengerjapkan mata saat sinar tersebut mengganggu indera penglihatannya.
"Astagfirulloh! Aku kesiangan," pekiknya seketika bangkit.
Untuk pertama kalinya Naya kesiangan dan melewati dua rakaat kewajibannya. Pergerakannya ternyata membangungkan Key yang ikut terperanjat.
"Ada apa?" tanya Key seraya mengucek mata.
"Aku kesiangan. Aku sampai gak denger suara Adzan," keluh Naya.
Key menghela napas dalam. Ia pikir ada sesuatu yang membuat gadis itu terlonjak. "Aku kira ada hal urgent, udah yuk tidur lagi!" ajaknya menarik Naya kembali merebahkan diri.
"Isshh kamu mah. Ini teh juga urgent. Bukan urgent lagi, tapi dosa," cerocos Naya sedikit kesal.
Key terdiam. Ia yang memang sering kali mengabaikan kewajibannya merasa tersentil akan omelan istrinya itu. Harusnya ia sendiri yang menjadi alarm untuk sang istri. "Maafin aku ya, aku lupa buat jadi imam yang baik," sesalnya.
Naya menghembuskan napas kasar. "Bukan gitu maksudku," sangkalnya. "Kalo aku ingat, aku juga wajib membangunkan kamu. Tapi ... Ya sudahlah," lanjutnya pasrah.
"Ya udah, sini peluk!" ucap Key manja dengan wajah dibuat sendu. Naya yang melihat wajah Key merasa gemas, dan tidak mau menolak untuk memeluknya.
Tanpa sehelai benang pun, kulit mereka beradu saling memeluk. Naya sudah mulai terbiasa dan tidak merasa malu lagi memperlihatkan tubuhnya. Meski kenyataan, pipinya tidak berkata demikian.
"Mulai sekarang aku akan mencoba untuk menjadi imam yang baik buat kamu. Kalo aku salah, jangan bosen buat ngingetin aku, hem?" ungkap Key membelai rambut sang istri.
"Iya, tentu atuh. Aku juga gitu. Akan mencoba menjadi istri yang baik," balas Naya.
"Udah, kamu tenang aja. Lagian Allah tau kok, kalo kita juga kesiangan gak disengaja. Dia pasti memaklumi, hamba-Nya yang kelelahan setelah mencari pahala," celetuk Key terkekeh.
Sontak saja pria itu mendapat pukulan manja dari sang istri di dadanya. "Isshh, A Key!"
Key tergelak seraya mengeratkan dekapannya. Sungguh berulang kali ia bersyukur, Tuhan sudah mengirimkan sosok perempuan Sholeha seperti Naya. Begitupun Naya, meski Key bukanlah pria Sholeh. Namun, ia tetap bersyukur menjadi istrinya. Ia yakin, suatu saat Key akan membawa ia menuju Surga-Nya.
"Mau nyoba pagi pertama?" bisik Key tepat di telinga Naya.
__ADS_1
"Isshh, A Key!" pekik Naya saat Key menutupi seluruh tubuh mereka dengan selimut dan kembali menyerangnya tanpa ampun.
**
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Sepasang suami istri itu, baru selesai membersihkan diri.
"Ibu kemana?" tanya Key memasuki kamar dengan sudah berpakaian lengkap dan tengah menggosok rambutnya.
Kamar mandi yang berdampingan dengan dapur, membuat mereka harus keluar kamar terlebih dahulu untuk memasukinya.
"Tadi ibu teh pamit pergi ke kandang. Lihat kandang mahar," balas Naya yang tengah mengoleskan beberapa krim di wajahnya, di depan cermin.
Meski sebenarnya ia tak suka banyak krim yang di aplikasikan pada wajah, namun ia tidak akan menyia-nyiakan dan membuat mubadzir skincare bawa seserahannya itu.
Key mengangguk mengerti. Dan mendekat pada sang istri. "Aku bantu keringin," ucapnya tersenyum ke arah kaca dan dibalas senyum sama oleh Naya. Lalu, mulai membantu menggosok rambutnya.
"Oh iya, Papa udah sediain tiket buat kita honeymoon," ucap Key memberitahu.
"Benarkah? Kemana?" tanya Naya penasaran.
Naya mengangguk mengerti. "Gak lah, sebaiknya kita di rumah aja," putus Naya.
"Lho, kenapa?" tanya Key heran menghentikan pergerakannya.
"Sayang aja uangnya. Dari pada dipakai jalan-jalan, mening buat nambah beli kandang atau sapinya," celetuk Naya membuat Key menganga dibuatnya.
"Ya ampun kamu tuh. Soal kandang sama sapi gampang lah, itu bisa nanti kita beli lagi dari uang aku. Kalo ini 'kan uang hadiah dari Papa, jadi kudu digunain," jelas Key.
"Emm, gimana kalo ke luar Negri. Ke Swiss misalnya?" saran Key.
Naya tertawa kecil menanggapi. Sungguh ia tidak pernah berfikir sejauh itu. Sudah mendapat label halal saja, merupakan suatu kebahagiaan untuknya.
"Napa ketawa?" tanya Key mencubit kedua pipi istrinya itu gemas.
__ADS_1
"Emang harus, ya?" tanya balik Naya disela tawanya.
"Harus dong! Dan kamu gak boleh nolak!" pungkas Key mengusek rambut sang istri.
"Iya atuh, iya," balas Naya pasrah. "Hem, ada satu tempat yang pengen aku datangi," lanjutnya.
"Kemana?"
"Baitullah!"
**
Hari ini sepasang pengantin baru itu hendak kembali ke kota. Sesuai keinginan Naya, mereka akan pergi bulan madu ke tanah suci sambil melaksanakan ibadah Umrah. Namun sebelum itu, mereka akan ke rumah Key untuk mengurus paspor dan surat-surat terlebih dahulu.
"Ibu beneran gak mau ikut?" tanya Naya sendu. Tentu ia khawatir sesuatu terjadi saat dirinya berada jauh.
"Nggak! Nanti kalo tabungan Ibu udah cukup, di kandang udah stabil, Insya Allah atuh Ibu teh juga akan berangkat," tolak Santi.
"Ibu kalo mau, gak usah mikirin soal biaya. Nanti aku yang bayarin," sela Key membujuk.
"Ih gak usah atuh, Key. Ibu oge pengen berangkat dari hasil usaha Ibu. Terus lagi masalah terbesar Ibu itu sekarang ngurus kandang. Masih susah ini nyari pekerja tetapnya," jelas Santi dan hanya dibalas hembusan napas pasrah sepasang pengantin itu.
"Ya udah atuh, Bu. Kalo gitu, kita berangkat dulu!" pamit Naya menyalimi takzim tangan sang Ibu, yang diikuti juga oleh Key dari belakang.
"Iya, hati-hati dijalan, nya! Inget kamu harus berbakti sama suami. Jangan membakang!" nasehat Ibu dan diiyakan oleh Naya. "Oh iya, satu lagi, salam buat Ibu sama Bapak, nya! Terus kalo udah nyampe, jangan lupa atuh kabari Ibu," pesannya.
"Iya, Bu. Assalamualaikum!" pamit keduanya serempak.
"Waalaikumsalam," jawab Santi diiringi senyum bahagia.
Santi memperhatikan mobil yang melaju keluar dari pekarangannya. Beribu-ribu rasa syukur bahagia, ia lantunkan dalam hati. Melihat putri satu-satunya bahagia, adalah kebahagiaan terbesar dihidupnya.
"Ayah lihat 'kan? Berkat doamu, putri kita bisa hidup bahagia."
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*