
Sepanjang perjalanan menuju mobil, Key masih menampilkan wajah masamnya. Pria itu teramat kesal pada sikap Gisel yang seenaknya. Ia tidak suka diakui kekasih apalagi di bentak didepan umum seperti tadi. Sungguh hal itu menurunkan derajatnya sebagai seorang pemain perempuan.
Naya yang menyadari kemarahan pria itu terlalu takut untuk bersuara. Ia hanya mengekori dari belakang dengan membawa barang belanjaannya seorang diri. Ingin gadis itu meminta tolong pada Key, untuk membawa sebagian barang yang memenuhi tangannya. Namun, ia tidak seberani itu.
Brukk!!!
Satu paper bag jatuh dari tangan gadis itu. Naya berjongkok hendak meraihnya. Namun, tanpa diduga benda itu sudah terlebih dahulu diambil seseorang.
"Lu 'kan punya mulut, gak bisa ngomong buat minta bantuan ke gue?" omel Key, mengambil paksa semua paper bag dari tangan Naya.
Gadis itu hendak menjawab, namun melihat Key yang sudah berjalan kembali, ia pun hanya mengekori. 'Padahal gak harus diminta, kamu teh lakik kudunya mah harus ngerti,' batin Naya menjawab. Tentu ia tidak berani berbicara langsung.
Didalam mobil keadaan kembali hening, Naya masih enggan memulai obrolan. Namun, ada suatu hal yang ingin sekali ia tanyakan. "Emmm ... Apa ...." Gadis itu nampak ragu untuk bertanya, hingga suara Key menyelaknya.
"Tadi Gisel, cewek baru gue," sela Key.
Naya menautkan alisnya. "Bukan itu, aku-"
"Gak usah mikirin dia. Gue udah mutusin dia. Gak ada alasan lu khawatir sama dia," sela Key lagi.
Naya melongo merasa tak percaya, segampang itu Key memutuskan seorang wanita? Lagian bukan itu yang ingin ia tanyakan.
"Segampang itu ya, mutusin perempuan? Ampun gusti!" celetuk Naya menggelengkan kepala. "Kasihan sekali atuh si teteh itu. Udah kayak barang bekas dibuang begitu aja," lirihnya.
"Ck! Lebay lu. Gak pernah pacaran apa ya? Dalam pacaran tuh jadian sama putus udah biasa kali," sewot Key. Entah kenapa ia begitu kesal seolah di pandang gak punya hati. Padahal kenyataannya memang seperti itu.
"Nggak! Dan sekarang setelah tau pacaran teh kayak gitu, aku gak mau. Buat apa atuh pacaran-pacaran kalo cuma buat putus? Gak ada gunanya, mening nikah sekalian," cerocos Naya. Key hanya mencebikan bibir mendengar ocehan gadis itu.
"Lagian, bukan perempuan tadi yang mau aku tanyain teh, tapi laptop. Kamu punya laptop apa enggak?" tanya Naya.
Key mengerutkan dahi mendengar itu. "Laptop?" tanyanya heran dan diangguki Naya.
"Jadi, lu bukan nanyain cewek tadi? Lu bukan kepo tentang gue?" tanya Key lagi dan dibalas gelengan gadis itu.
__ADS_1
Key menghela napas kasar, Naya satu-satunya gadis yang tidak penasaran akan dirinya. Disaat semua gadis begitu mencari-cari kesempatan saat ia putus dengan satu gadis, Naya justru tidak minat sama sekali.
"Buat apa atuh harus kepo masalah orang, kalo kata pak Ustadz mah, pamali!" jelas Naya dan hanya dibalas hembusan napas pasrah oleh pria itu.
'Gue lupa, dia 'kan gadis polos.'
**
Malam kian larut, Naya sudah dipindahkan dari kamar pembantu ke kamar dilantai dua, bersebalahan dengan Key. Tentu semua itu adalah perintah sang nyonya besar, Sena. Meski Naya berulang kali menolak, namun perintah wanita cantik itu tidak dapat dibantah.
Naya sudah selesai merapihkan barang-barang yang tadi ia beli. Bahkan kamar itu begitu luas dan lengap dengan isinya. Hingga gadis itu merasa tidak nyaman tinggal dikamar seluas itu.
"Mbak Ati tidur sama aku aja disini atuh!" pinta Naya saat mbak Ati ikut membantu merapihkan kamar Naya.
Wanita kepala tiga itu terkekeh. "Ya, gak bisa lah. Bisa-bisa Mbak dipecat sama Mama boss," celetuk mbak Ati.
"Lha, kenapa atuh? Apa salahnya Mbak tidur sama aku?" tanya Naya heran.
"Isshh kamu tuh. Kamu itu disini tamunya Nyonya, bukan pembantu kayak aku. Udah buruan istirahat! Besok pertama kamu masuk kuliah 'kan?" jelas mbak Ati panjang kali lebar.
Mbak Ati pamit untuk keluar, namun suara Naya menghentikan langkahnya. "Emm, tunggu dulu, Mbak!" tahannya.
"Hem, apa?" tanya mbak Ati membalikan lagi tubuhnya.
"Ngomong-ngomong, apa kamar ini teh udah lama gak ditempatin?" tanya Naya, mengusap bulu kuduknya.
Mbak Ati kembali mendudukkan diri ditepi ranjang. Tiba-tiba terbesit ide jahil diotaknya untuk menakuti gadis itu. "Bener, kamar ini udah lama gak ditempati. Hati-hati aja," jelasnya yang diakhiri peringatan.
"Isshh atulah Mbak, jangan gitu atuh! Aku 'kan jadi takut," rengek Naya ketakutan memegang tangan wanita itu.
Seketika Mbak Ati tergelak meihat ekspresi menggemaskan dari gadis itu. "Nggak, Mbak cuma becanda. Lagian, kamar ini biar gak ditempatin, selalu dibersihin kok!" jelasnya menenenangkan dan dibalas wajah memberenggut oleh Naya.
"Eh dari pada setan, ada yang lebih harus kamu takutin, lho!" celetuk Mbak Ati membuat alis Naya bertaut antara takut dan penasaran.
__ADS_1
"Apa, Mbak?" tanyanya.
"Mas Key!"
Selanjutnya Mbak Ati tergelak dengan ucapannya sendiri. Sementara Naya berdecak menanggapi. Hingga ia berpikir, semenakutkan itukah seorang Key?
"Udah sekarang kamu istirahat! Mbak ke bawah dulu," pamit Mbak Ati menepuk pundak gadis itu.
Naya hanya mengangguk sebagai balasan dan benar-benar membiarkan wanita itu untuk pergi. Ia merebahkan diri, menyelimuti dirinya sendiri. Ingin sekali ia menghubungi sang ibu sebelum tidur, namun karena waktu sudah teramat malam, ia pun mengurungkan niatnya dan memilih untuk memejamkan mata.
Sementara dikamar sebelah, Key masih belum bisa memejamkan mata. Ia masih bingung memilih gadis yang akan dijadikan pacar untuk besok. Kabar mengenai Gisel yang dicampakkan Key beredar begitu saja diantara para gadis, hingga kini pria itu dipaksa harus memilih kembali.
"Hisshh lama-lama gue bisa gila!" Key melempar ponsel miliknya saat ia mendapati chat dari para gadis di grup chat khusus "pecinta Key".
Entah siapa yang membuat grup tersebut. Tiba-tiba Key dimasukan di grup dan menjadi idol untuk para gadis disana. Bahkan, ia tidak mengenal satu persatu gadis itu.
Pria itu pun bangkit dan memilih turun ke lantai bawah untuk meminta kopi pada seseorang yang terhadang pintu lemari es, yang ia kira itu Ningsih.
"Ning, bikinin gue kopi, dong!" pinta Key mendudukan diri didepan meja bar.
Bukan Ningsih, namun itu adalah Naya yang tengah mengambil air putih. Merasa haus, Naya yang hendak tidur memilih mengambil air minum terlebih dahulu ke dapur.
"Lu?" tanya Key kaget, saat Naya menutup pintu lemari es.
"Aku haus," balas Naya setelah menegak air dari gelas digenggamannya. Lalu, gadis itu tersenyum menampilkan deretan giginya.
Hal yang ternyata membuat Key terpaku. Penampilan Naya dengan rambut acak-acakan dan piyama yang ia pilih tadi, membuat gadis itu semakin berbeda dari saat mereka bertemu.
"Kamu teh mau kopi apa? Biar aku bantu bikinin," tanya Naya mendekatkan wajah tepat di depan wajah Key.
Sontak, Key yang sempat melamun, terperanjat. Tiba-tiba jantungnya berdegup tak beraturan saat tersadar wajahnya hampir dekat dengan gadis itu.
'Jantung gue kenapa?'
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*