
Jika untuk sebagain orang, menunggu hari yang dinanti itu terasa begitu lama. Berbeda dengan pasangan calon pengantin ini, waktu yang mereka lalui terasa begitu cepat. Bukan karena persiapan yang mungkin saja belum rampung. Namun, skripsi Key sebagai persyaratan lah yang membuat pria itu ketar ketir dan harus segera menyelesaikannya.
Key mendaratkan tubuhnya disamping Naya yang tengah duduk di sofa memainkan ponselnya. Sontak Naya menoleh dan melihat Key yang tampak berantakan. Tentu ia tau kekasihnya itu sudah bekerja begitu keras untuk menyelesaikan tugasnya tersebut.
Naya mengusap rambut pria itu. "Mau aku ambilkan minum?" tawarnya.
Key yang kini menutup mata dengan sebelah lengan hanya bergumam kecil. Naya yang mengerti, hendak bangkit untuk mengambilkan kopi kesukaan pria itu. Namun, tangannya tiba-tiba dicekal oleh Key, hingga gadis itu terduduk kembali.
Key menjatuhkan kepala tepat, diatas pangkuan Naya. Sontak gadis itu kaget, takut kelakuan mereka siketahui calon ibu mertuanya. "A, jangan gini! Ntar ketahuan Mama," peringat Naya. Gadis itu sudah membiasakan diri memanggil Sena dengan panggilan Mama, sesuai permintaan wanita itu.
"Gak apa-apa. Lagian, hari H kita bentar lagi," balas Key cuek.
"Ishh yang ada bukan sebentar atuh, A. Bisa-bisa teh di majuin. Emang mau?" protes Naya.
Key membuka mata dan menatap wajah cantik itu dari bawah. Senyum terukir, saat melihat wajah khawatir calon istrinya itu. "Kamu tenang aja! Pernikahan kita tetap berjalan pada hari yang sudah ditentukan. Jadi ... Kamu gak perlu khawatir malam pertama kita akan diundur," jelas Key yag diakhiri kekehan.
"Isshh apaan sih?" elak Naya malu, mengusap wajah tampan itu. Wajahnya melengos dengan semburat merah dikedua pipinya.
Key terkekeh merasa lucu. Ia menjawil pipi merah itu hingga si empunya meringis. Canda tawa pun terdengar dari sejoli itu.
"Oh iya, kamu gak nanyain aku?" tanya Key. Naya menautkan alis tidak mengerti.
"Nanya apa?"
"Itu syarat nyeleneh dari Papa buat nikahin kamu," balas Key malas.
Naya terkekeh menanggapi, tentu ia mengingat itu. "Kenapa? Kamu teh nyerah?" ledek Naya.
Key hanya menghembuskan napas pasrah dengan wajah sendu. Sontak Naya mengerti apa yang terjadi. "Ya udah, nanti kamu bilang sama Papa, di lanjut setelah akad aja atuh!" sarannya.
Key masih terdiam membuat Naya bingung cara menghibur pria itu. "Udah atuh A, gak usah dipikirin!" ucap Naya menyemangati, namun tidak disahuti apapun oleh Key.
Naya tersenyum saat ia mendapat ide untuk menghibur pria itu. "Udah A, sekarang kita fokus ke pernikahan kita aja," ucap Naya. "Kita fokus buat malam pertama," bisik Naya. Meski harus menahan malu. Tapi, demi untuk menghibur sang calon suami, ia rela menyebutkan kata-kata sedikit vulg*r padanya. "Menurutmu, apa atuh yang harus aku siapin?"
Key menarik satu sudut bibirnya, dan kembali mendongak menatap sang gadis. "Benarkah? Kamu mau nyiapin sesuatu?" tanyanya berbinar dan diangguki mantap oleh gadis itu.
"Gak banyak sih, kamu tinggal nyiapin tenaga aja sama ... Baju dinas yang menggoda," bisik Key menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
Tentu saja membayangkan gadis itu mengenakan lingerie sexy, membuat otak Key traveling sampai di malam pertamanya yang pasti akan terasa memanas. Namun, berbeda dengan Naya, ia yang tidak tau mengenai artian baju dinas merasa kebingungan. Hingga ia memutuskan akan bertanya pada calon mama mertuanya nanti.
"Ya atuh, tenang aja!" final Naya dan dibalas senyum merekah pria itu. "Jadi ... Jangan dipikirin lagi soal skripsinya, atuh ya!"
Key bangkit dan mendudukkan diri menghadap Naya dengan tangan menopang di kepala sofa. "Aku gak mikirin itu," ucapnya tersenyum misterius.
Naya menautkan alisnya heran. Key mengikis jarak hingga wajah keduanya kian dekat. "Urusanku dengan Papa sudah selesai. Tinggal urusan kita berdua," jelasnya.
"Hah?!" Naya tersentak kaget, saat tiba-tiba Key meraih dagunya dan pernyataan itu? Benarkah Key sudah menyelesaikan tugasnya?
"Boleh ya, nyicil?" tanyanya tersenyum manis.
Plak!!!
Pukulan dikepala seketika membuat Key terperanjat dan meringis. Reflek ia mengelus kepalanya yang terasa sakit dan menokeh untuk melihat si pelaku.
"Nyicil-nyicil, lu kira kredit mobil?" celetuk seorang wanita yang kemudian mendaratkan bokong di sofa tunggal tanpa dosa.
"Ck, lu!" tunjuk Key kesal.
Plak!
"Kondisikan jari lu! Mau gue sunat?" ancam Arga, seraya ikut mendaratkan bokong di samping Key.
"Ck! Sialan lu berdua, suami istri gak ada akhlak!" umpat Key kesal dan hanya ditanggapi tawa si ibu hamil yang tengah menyomot cemilan dari atas meja, dan kekehan dari Arga.
"Ngapain sih kesini? Ganggu oranga aja," kesal Key. Sementara Naya hanya tersenyum melihat kelakuan tiga manusia itu.
"Kita kesini disuruh jemput manten," celetuk Cheryl.
Tentu saja Key tidak mengerti maksud si ibu hamil itu. "Manten?"
"Kamu udah siap 'kan, Nay?" Bukan menjawab, Cheryl justru beralih bertanya pada Naya.
"Udah kok," balas Naya.
"Ya udah, yuk berangkat sekarang!" ajak Cheryl hendak bangkit. Namun suara Key menghentikannya.
__ADS_1
"Eh bentar dulu! Maksudnya berangkat, berangkat kemana?" tanya Key bingung. Karena terlalu sibuk ia tidak tau apa yang terjadi.
Arga menepuk bahu sepupunya itu. "Pernikahan kalian tinggal lima hari lagi. Ya jelas lah, kalian tuh harus dipingit! Kita ditugasin sama uncle buat nganterin manten perempuan sampai rumahnya dengan selamat. Paham 'kan, pak Boss?" jelasnya. Sontak Key membolakan mata dengan mulut terbuka lebar.
Naya terkekeh melihat ekspresi terkejut dari calon suaminya itu. "Ya udah ya, A. Aku teh pulang dulu! Aku tunggu kedatangan A Key di hari H nanti, hem!" pamit Naya.
Gadis itu bangkit dan memasuki kamar untuk mengambil barang-barangnya. Sementara key masih mencerna ucapan ketiga orang disana.
"Banyak mikir! Kalo mau say good bye dulu, buruan sana!" usir Arga yang mengerti, mendorong tubuh sepupunya itu. "Jangan lama-lama, ketahuan uncle bisa batal nikah lu!"
Key yang tersadar pun tak memedulikan ucapan Arga dan segera menyusul gadisnya itu. Sepasang suami istri itu hanya terkekeh menggelengkan kepala.
"Aku rasa buaya kita udah berubah jadi cicak ya, Ga!" kekeh Cheryl.
"Bukan cicak, berubah jadi siput tuh dia," balas Arga, yang disambut tawa keduanya.
**
Grep!!!
Naya terlonjak kaget, saat tiba-tiba sebuah tangan besar mendekap nya dari belakang. Tentu ia tau tangan siapa itu.
"Biarin kayak gini dulu sebentar, untuk mengisi kerinduanku sebelum kita kembali bertemu!"
Naya pun hanya pasrah membiarkan Key memeluknya dan menenggelamkan wajah di pundaknya. Tak dapat dipungkiri, ia pun pasti akan sangat merindukan pria itu.
Key melerai pelukan mereka. Membalikkan tubuh sang gadis untuk berhadapan dengannya. Lalu, mengecup dalam kening gadis itu.
"Tunggu aku, ya! Dan hati-hati dijalan!" ucap Key tersenyum hangat membelai pipi cantik calon istrinya.
Naya tersenyum manis seraya menganggukkan kepala. "Iya, aku akan menunggumu!"
Tanpa di duga, Naya berjinjit dan mengecup ujung bibir Key. Hingga pria itu terpaku mendapat perlakuan tak terduga tersebut. Naya tersenyum melihat ekspresi Key. Kemudian ia berjinjit lagi dan berbisik ditelinga pria itu.
"Aku tunggu kelanjutannya di malam pertama nanti!"
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1