
Flash back on~
Seorang bocah tampan berseragam TK, turun dari sebuah mobil dibantu oleh seorang wanita yang masih cukup muda, yang menyambutnya. Senyum bocah tampan itu mengembang saat melihat mobil yang begitu familier bertengger dihalaman rumah. Segera ia berlari menenteng sebuah kertas di tangannya.
"Mas, Key! Jangan lari-lari, Mas!" peringat seorang wanita mengikuti langkah tuannya seraya menenteng tas bocah tersebut.
"Papa! Mama!" Key kecil berteriak memanggil kedua orang tuanya setelah beberapa bulan baru pulang.
"Papa!" Wajah bocah itu terlihat berbinar melihat sang Papa yang tengah berdiri dengan tangan menempel menahan sebuah benda ditelinga.
"Papa, aku kangen!" Key kecil menubrukkan diri memeluk kaki sang ayah.
Hanya senyum tipis yang ditampilkan pria yang sibuk mengobrol dengan lawan bicara disambungan telepon tersebut. Tangannya bergerak mengusek pucuk kepala sang putra.
"Papa, Papa! Lihat deh, aku juara lomba melukis lho! Papa mau lihat?" Key kecil begitu antusias memperlihatkan gambar yang berada ditangannya.
Namun, sang Papa nampak serius dengan panggilannya, hingga tak menghiraukan Key. Bocah itu terdiam dengan wajah sendu, saat tidak ada respon apapun dari Papanya itu.
"Baiklah, tunggu sebentar! Saya akan segera berangkat," final Abi, sang ayah yang nampak sibuk itu.
Abi berjongkok, menekukkan kaki menghadap sang putra. "Maaf ya, Papa lagi sibuk! Akhir pekan besok, kita main bersama, oke!" sesalnya. Tanpa ia dengar penjelasan sang putra yang memperlihatkan frestasinya.
Key hanya mengangguk mengiyakan, seraya menyembunyikan kertas yang ia perlihatkan dibalik tubuhnya . Abi mengusek kepala sang putra, lalu mencium keningnya. Ia benar-benar tidak menyadari sang putra menunjukkan sesuatu padanya.
"Ayo, Pa! Mama sudah siap," Seorang wanita menghampiri seraya menyeret koper, dengan tatapan sibuk pada tas yang ditentengnya.
Melihat sang Mama yang sudah siap akan pergi, membuat bocah tampan itu bertanya, "kalian akan pergi lagi?"
__ADS_1
Sena, sang Mama mendongak. Ia baru sadar sang putra sudah pulang dari sekolahnya. "Eh, Sayang! Kamu udah pulang?" tanyanya. Segera wanita itu berjongkok dan menciumi seluruh wajah putra satu-satunya itu. Sementara Abi kembali berdiri dan berlenggang untuk siap-siap.
"Maaf ya, Sayang! Mama sama Papa ada meeting mendadak ke luar kota," sesal Sena.
"Mama 'kan udah janji akhir pekan ini, kita mau jalan-jalan. Kok, pergi lagi?" tanya Key polos.
"Iya, Sayang! Mama tau. Tapi sekarang pekerjaan Mama sama Papa lagi mendesak," jelas Sena pelan-pelan, agar putranya itu mengerti.
Wajah Key semakin kusut dan menunduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sena yang mengerti meraup wajah mungil itu hingga mata ibu dan anak itu bertemu.
"Mama janji, minggu depan kita jalan-jalan, ya! Sekarang kamu jalan-jalannya sama Oma dulu, sama Arga, hem? Nanti pulang, Mama beliin mobil yang bisa berubah jadi robot yang kamu pengen itu lho, oke!" bujuknya lagi.
Bocah tampan itu mengangguk mengiyakan dengan wajah antusias. Sena tersenyum dan mengecup pucuk kepala putranya itu. Seraya memujinya pintar. Setelah sudah siap, Sena dan Abi pun berpamitan. Kedua orang tua itu berlalu pergi.
Senyum Key menghilang saat ia melihat kembali gambar yang ia hasilkan. Bocah tampan itu berlari ke kamarnya. Ia membuang kertas itu kedalam tong sampah. Kemudian, menyembunyikan air mata yang tumpah diatas bantal.
**
Bocah tampan itu hanya mampu menangis dipangkuan sang Oma. Wanita yang selama ini selalu ada untuknya. "Udah ya, Sayang. Jangan nangis! Kita ajak Opa buat pergi ke pasar malam. Gimana?" bujuk Oma Ay.
"Gak mau, aku mau sama Mama," tolak Key.
"Ayo dong, Sayang! Kita aja bertiga, ya. Kita tinggalin Arga. Gimana?" bujuk Oma Ay lagi.
"Beneran, Oma?" tanya Key menghentikan tangis.
Oma Ay mengangguk semangat. "Iya, malam ini khusus untuk kita bertiga. Tanpa ada Arga," jelasnya.
__ADS_1
Key pun mengangguk setuju. Tidak banyak memang yang diinginkan setiap anak, hanya waktu kebersamaan, momen keutuhan keluaraga yang diinginkan Key kecil saat itu. Setelah melalui berbagai bujukan, akhirnya Key bersedia pergi bersama oma Ay dan opa Ar.
**
Hari berganti, tahun pun berlalu. Key, tidak lagi mengharapkan orang tua yang menemaninya setiap minggu. Kesibukan mereka sudah menjadi hal biasa untuk bocah tampan itu. Bahkan, janji sang Mama sudah tidak ia hiraukan. Baginya sudah cukup sang Oma dan Opa ada untuknya. Terkadang ia sudah menganggap sang Uncle dan Onty adalah orang tuanya. Uncle Shaka selalu dekat dengan putra dan ponakannya itu.
Hingga hari kelulusan sekolah dasar pun tiba. Key begitu mengharapkan kedua orang tuanya itu hadir. Namun, rasanya mustahil. Mereka yang tengah ada urusan di luar Negri, tidak mungkin cepat kembali. Dan benar saja, mereka datang setelah acara selesai. Sungguh kekecewaan Key kian menumpuk.
Memasuki sekolah menengah pertama, Key bertemu dengan teman-teman lain selain Arga. Anak-anak yang sama seperti dirinya. Hingga ia merasa nyaman dan mulai mengikuti gaya mereka. Key, sudah mulai jarang masuk sekolah dan memilih pergi nongkrong bersama teman-temannya itu. Arga yang tidak sekelas, tentu tidak tau kegiatan sepupunya itu. Bahkan, alasan kerja kelompok dijadikan anak itu bermain bersama mereka.
Kenakalan Key mulai diketahui sang Oma setelah mendapat surat teguran dari sekolah. Lagi-lagi kedua orang tuanya tidak dapat menghadiri undangan dari seolah, hingga sang opa lah yang harus menggantikan.
"Sayang, kenapa kamu gak masuk sekolah, hem?" tanya Oma Ay.
"Nggak, aku masuk kok, Oma." elak bocah yang kian tampan itu.
"Terus ini apa?" Oma Ay memperlihatkan surat teguran tersebut.
Key tertunduk tidak mampu menjawab. Oma Ay yang mengerti mendekat dan mengusap kepala sang cucu. Ia memang tidak bisa mendidik terlalu keras cucunya itu.
"Sayang, kalo kamu mau main, boleh Kok! Asal, jangan sampai bolos sekolah. Kamu ajakin teman-teman kamu sekolah dulu, habis itu baru kalian main. Kemana pun Oma gak akan larang, asal kamu juga memenuhi semua kewajiban kamu, hem?" nasehat Oma Ay.
Key mendongak dan memeluk tubuh sang Oma. "Maafin, Key, Oma!" sesalnya. Sang Oma yang mengerti mendekap tubuh cucunya tersebut.
Setelah kejadian tersebut, Key kembali rajin dan tidak pernah absen lagi masuk sekolah. Walaupun dibalik itu, ia lebih banyak bermain keluar bersama teman-temannya. Namun, hal itu tidak menyurutkan prestasi anak laki-laki itu.
Memasuki sekolah menengah atas, ketampanan Key semakin menjadi. Banyak gadis yang dengan terang-terangan menyatakan cinta padanya. Merasa tidak ingin mengecewakan, ia mulai menerima setiap gadis itu hanya untuk mendapat perhatian dari mereka. Mendapat perhatian setiap hari, menjadi kesenangan tersendiri untuknya. Hingga suatu hari, Key yang tengah membonceng salah satu pacarnya dihentikan seorang polisi dijalanan yang cukup sepi.
__ADS_1
"Berhenti! Motor kamu kami tahan, dan kamu ikut ke kantor polisi."
\*\*\*\*\*\*