Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Calon istri


__ADS_3

Suara sang ibu dari pintu kamar mengalihkan atensi mereka. Ia yang mendengar suara gaduh dari luar, terbangun dari tidurnya. Penasaran, ia pun bangkit dan segera keluar. Namun, betapa terkejutnya Santi saat tau siapa yang tengah mengobrol dengan putrinya.


"Eh, Ibu mertua. Udah bangun, Bu?" tanya Juned tanpa tau malu.


Sontak hal itu membuat Naya mendengus kesal. Segera ia mendekati sang ibu untuk membantunya untuk duduk, namun wanita paruh baya itu mencegatnya.


"Masih ada waktu sampai malam. Jadi, kamu teh belum bisa membuat keputusan," celetuk Santi.


"Ibu, yakin? Padahal Ibu gak usah atuh pusing mikirin bayar. Cukup restuin kita aja, buat nikah besok," balas Juned dengan enteng.


"Idih siapa juga yang mau nikah sama kamu?" elak Naya tak terima.


"Jangankan kamu Neng, Ibu aja gak mau," sambung Santi.


"Emang siapa yang mau sama nini-nini?" tanya balik Juned membuat kedua wanita berbeda generasi itu melongo dan berdecih.


"Baiklah aku tunggu sampai malam! Kalo nggak ada juga, gak apa-apa atuh, Bu. Aku teh ikhlas atuh besok ngehalalin si Neng," celetuknya mengakhiri percakapan mereka yang hanya dibalas dengusan kesal oleh Naya.


Pria itu pun berpamitan dan berlenggang keluar dari rumah itu, membawa kembali kertas yang ia bawa tadi di tangannya. Sementara Naya menatap sang ibu dengan berbagai pertanyaan.


"Jadi ... Kenapa Ibu berurusan lagi sama mereka?" tanya Naya serius, setelah keduanya duduk berdampingan di sofa.


Santi menghembuskan napas panjang, sebelum menjelaskan perkara yang terjadi. "Ini semua gara-gara Uwa dan Mamangmu, Neng," jelasnya singkat.


"Uwa sama Mamang?" tanya Naya memastikan, tentu dengan kebingungan memenuhi pikirannya.


Ibu mengangguk mengiyakan. "Uwa sama Mamang, mengalami penurunan penjualan ternak. Belum lagi, penyakit mulut dan kuku yang pernah menyebar, hingga membuat mereka rugi. Alhasil mereka teh meminjam uang pada pak Samsudin," jelas Santi.


"Lha terus, hubungannya sama kita teh apa?" tanya Naya semakin bingung.


"Mereka gak bisa membayar tunggakan, bukan lunas, hutang mereka makin melebar. Dan parahnya lagi, mereka malah menjual rumah dan sekarang pergi entah kemana," jelas Santi lirih.


Naya tentu dapat menyimpulkan cerita sang Ibu. "Dan kita yang harus tanggung jawab atas mereka, begitu?" tanya Naya memastikan dan diangguki kembali oleh Santi.


"Kenapa Ibu gak beri aja kandang-kandang Uwa sama Mamang pada pak Samsudin?" tanya Naya heran.


"Sudah. Bahkan sebelum Ibu bilang juga, pak Samsudin sudah menyegel kandang-kandang mereka. Tapi, itu gak cukup untuk melunasi hutang tersebut," lanjut Santi.


"Terus karena kita keluarga Mamang dan Uwa, A Juned menekan ibu dan bikin perjanjian tadi. Begitu?"

__ADS_1


Lagi-lagi Ibu hanya mengangguk mengiyakan. "Maafin Ibu ya, Neng!" sesalnya menggenggam tangan Naya. "Ibu pikir dengan ibu melunasi hutang mereka dari hasil ternak kita, itu lebih baik dari pada ternak kita yang diambil. Dan perjanjian itu, ibu yakin bisa melunasinya sebelum hari ini tiba. Namun, sesuatu terjadi. Ternak yang siap panen mendadak sakit, dan harus dirawat terlebih dahulu. Jadi, belum bisa dijual sampai saat ini," jelas Santi panjang kali lebar, dengan air mata membasahi pipinya.


Naya menarik napas dalam seraya memejamkan mata. Sungguh berat ternyata beban hidup yang di pikul sang Ibu, hingga beliau sakit-sakitan. Ia mendekap tubuh sang ibu yang terguncang hebat.


"Gak apa-apa, Bu. Gak apa-apa! Kita akan cari jalan keluarnya sama-sama, hem?" ucap Naya mencoba menenangkan sang ibu, air matanya ikut jatuh memikirkan hal tersebut.


Bukan sehari atau dua hari, namun tinggal menunggu jam untuk ia dan sang ibu melunasi hutang-hutang dari saudara ayahnya itu.


'Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku mengalah dan menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai?' batin Naya berperang.


**


Hari kian sore, Naya memutuskan untuk pergi ke kandang, menengok sapi-sapi sakit yang di maksud sang ibu. Ada Mang Asrip, pengurus sapi-sapi tersebut di tempat itu.


"Bagaimana keadaan mereka, Mang?" tanya Naya.


"Seperti yang Neng Nay lihat. Sapi-sapi ini teh masih sulit disuruh makan. Tapi, kata Mantri mereka sudah lebih baik kok, Neng," jelas mang Asrip.


Naya mengagguk mengerti, mungkin jika ia memiliki waktu hingga beberapa hari ke depan, ia bisa mendapatkan uang tersebut. Ada sekitar lima ekor sapi yang siap panen sekaligus tengah sakit. Sementara sapi lain, sehat tanpa kendala apapun.


"Kok, rasanya aneh ya, Mang," celetuk Naya merasa janggal.


"Aneh gimana atuh, Neng?" tanya Mang Asrip bingung.


"Iya, sama kok, Neng!" balas mang Asrip, yang ikut berpikir. "Mamang teh, sudah mencoba meneliti bersama Mantri, gak ada kandungan apapun dari makanan mereka," lanjutnya.


Naya menghembuskan napas panjang, mungkin itu hanya firasatnya saja. "Baiklah, Mang. Makasih informasinya, Nay pulabg dulu atuh nya," pamitnya dan diiyakan mang Asrip.


Tak membutuhkan waktu lama, Naya sudah kembali ke rumah. Hari pun kian gelap dan Naya sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi esok hari. Ia tidak ingin membebani sang ibu untuk membicarakan hal tersebut.


Ditengah pikirannya yang kalut, tiba-tiba dering ponsel terdengar dari ponselnya. Ia meraih benda pipih itu dan melihat siapa yang meghubunginya.


"A Key," gumamnya tersenyum.


Begitu banyak masalah yang membuat ia lupa menghubungi pria itu. Dengan senang hati, ia pun mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, A?!"


"Lu dari mana aja sih? Kenapa gak hubungi gue? Ibu gimana keadaanya? Udah pulang 'kan?" Bukan sapaan, namun serentetan pertanyaanlah yang membuat gadis itu tersenyum.

__ADS_1


"Ya ampun, A. Kebiasaan kamu mah, nanya tuh satu-satu," ledek Naya. "Ibu udah sehatan, kok. Tadi kita pulang sebelum dzuhur," lanjutnya.


"Kalo dari siang, kenapa gak langsung hubungi gue, hah?" tanyanya yang masih terdengar kesal.


Mendengar celotehan Key, seketika membuat beban dalam pikiran Naya hilang. Entah kenapa terasa bagai mood booster untuk gadis itu.


"Ya, masa atuh cewek yang duluan nelpon. Isin atuh, A!" kekeh Naya.


"Ck! Au ah, kenapa sih lu-"


"Bentar, A!" sela Naya.


"Apa lagi? Lu mau ngehindar? Lu mau cari alasan?" tanya Key semakin kesal. Namun, tidak ada jawaban apapun dari gadis itu.


"Hallo, Nay? Hallo?!"


"Ck! Sialan, nih anak," gerutu Key yang tidak mendapat jawaban apapun dari gadis itu. Berulang kali ia mamanggil dan mengecek ponselnya, namun masih tidak ada jawaban apapun dari gadis itu.


"Perasaan ini masih nyambung?" tanya Key kebingungan.


"Kenapa tiba-tiba perasaan gue gak enak, ya?"


**


"Ada apa lagi A Juned kesini?" tanya Naya kesal sekaligus takut melihat pria itu kembali dengan dua orang pria bertubuh kekar.


"Tentu aja mau jemput, calon istri Aa," balas Juned dengan enteng mendekati kedua wanita itu.


"Ini masih jam delapan, masih ada waktu untuk kita bayar," tantang Naya tanpa gentar.


"Tapi waktunya sudah habis, dan Neng harus siap-siap untuk menjadi istri Aa besok," ucap Juned menyeringai mencekal pergelangan sang gadis.


"Lepasin, putriku! Aku gak ikhlas dan gak ridho dunia akhirat, dia menikah denganmu," Ibu berusaha mencegat dan mempertahankan Naya. Begitu pun Naya sendiri, ia berusaha berontak.


"Lepasin!"


Juned memberikan kode pada kedua anak buahnya untuk mencekal Santi. Hingga tangan wanita itu terlepas dan tidak dapat mencekal Naya lagi.


"Ibu!"

__ADS_1


"Neng!"


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2