Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Pulang


__ADS_3

Acara sakral pun selesai digelar penuh khidmat. Serangakian acara sudah selesai dilaksanakan. Kini para tamu yang tak lain semua keluarga, mengucapkan selamat satu persatu pada keduanya.


"Selamat ya, Ze!" ucap Key memeluk tubuh sang mempelai wanita. Bagaimanapun tengilnya ia, tentu ada rasa haru dan bahagia menyelimuti hati menyambut kebahagiaan sepupunya tersebut.


"Thanks, Key!" balas Zea tersenyum.


Key melerai pelukannya. "Gue harap lu selalu bahagia," ucapnya lagi tulus dan diangguki Zea dengan senyuman manis. "Dan buat ponakan gue. Baek-baek ya, di dalam! Jangan nakal, jangan nyusahin mami lu!" lanjutnya mengusap perut Zea yang di sambut kekehan pengantin itu.


"Iya, Om! Aku gak akan nakal," kekeh Zea dengan suara dibuat kecil.


"Cih! Om. Uncle aja dah, atau nggak paman aja sekalian," balas Key. Ia melirik seseorang di belakangnya. "Gue takut kena tampol onty Kia," bisiknya terkekeh yang disambut tawa oleh Zea.


Benar saja, wanita paruh baya dibelakang Key sudah memicing dengan tatapan penuh selidik pada keduanya. Wanita yang masih saja terlihat manis diusianya itu, sangat sensitif pada siapapun anggota keluarga yang menyematkan panggilan Om. Karena baginya, panggilan tersebut hanya ia khususkan untuk sang suami seorang. Aneh memang, tapi itulah onty Kia.


Segera Key pun maju beralih pada Darren. "Selamat!" ucapnya mengulurkan tangan, yang kemudian disambut oleh sang mempelai pria disertai senyumannya.


"Gue gak tau kalo lu ternyata sepupu Reysa," kekeh Key. Kemudian ia menepuk lengan pria itu. "Gue titip sepupu gue, ya! Tolong jagain dia! Agak ribet sih orangnya, jadi lu harus banyak bersabar," lanjutnya yang sukses dapat tampolan dari Zea pada lengannya.


Key meringis mengusap tangannya. "Tuh 'kan? Lu lihat sendiri. Jadi, bersabarlah!" ucapnya meledek Zea dihadapan Darren. Dan hanya disambut senyum dan anggukan mempelai pria itu.


"Udah sana! Banyak drama," usir Zea mendorong tubuh Key agar menjauh.


"Ck! Iya, iya. Bawel lu!" kesal Key dan berlalu hendak menjauh.


"Oh iya, aku juga punya pesen buat calon istrimu nanti, Key. Bilangin sama dia, jangan terlalu percaya sama calon suaminya. Takutnya kena mental, 'kan kasihan!" ledek Zea yang disambut gelak tawa anggota keluarga lainnya.


Key yang sudah menjauh dari pelaminan hanya berdecak kesal mendapati ledekan dari Zea, yang mana membuat seluruh anggota keluarga ikut-ikutan. "Ck! Asyem," umpatnya kesal.


**


Waktu pun sudah berganti malam. Meski kedua mempelai sudah meninggalkan kediaman Aska, namun seluruh anggota keluarga masih menikmati pesta kecil-kecilan mereka. Sangat jarang untuk mereka bercengkrama dan menghabiskan waktu bersama. Jadi, mereka akan menghabiskan malam itu dan menginap dirumah Aska. Rencananya besok pagi mereka juga akan pergi berwisata bersama, sebelum pulang malam berikutnya.

__ADS_1


Drrt ... Drrt ...


Getaran dari saku celana Naya, membuat gadis itu tersadar. Ia melihat si pemanggil yang ternyata dari tetangganya di Desa. Segera ia berlalu meninggalkan keramaian orang-orang yang tengah asyik ber-karaoke untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, Mel?" sapa Naya.


"Apa? Ibu sakit?" tanyanya syok.


"Iya, iya. Aku pulang sekarang," final Naya dan mengakhiri panggilan tersebut.


Gadis itu terlihat kalut, mondar mandir tak karuan. Mendengar sang ibu sakit, hingga dirawat di puskesmas, membuat gadis itu teramat khawatir. Ia nampak kebingungan, jika ia bicara pada yang lain, maka ia akan mengacaukan acara mereka. Namun, jika tidak. Bagaimana ia pulang?


"Kereta!" celetuknya mendapatkan sebuah ide.


Segera ia mencari informasi mengenai perjalanan kereta dari tempat itu menuju Desanya. Mengingat rumah itu juga tidak jauh dari stasiun kereta, maka akan memudahkan ia untuk segera sampai di Desanya.


"Alhamdulillah dapat," ucap Naya senang. Setelah mencari di salah satu aplikasi, gadis itu pun berhasil mendapat tiket dari tempat itu menuju Desanya.


Merasa tidak banyak waktu ia segera membereskan barangnya, tanpa ada siapapun yang tau. Ia berencana tidak akan berpamitan terlebih dahulu. Karena menurutnya itu akan mengganggu kebersamaan keluarga Key. Ia hanya mengirim chat kepada Sena untuk berpamitan.


**


Ara ikut melakukan hal sama. Ia memperhatikan pintu masuk berharap gadis itu muncul dari sana. "Apa mungkin dia diajakin keluar sama Key?" tanyanya.


Cheryl mengedikan bahu. "Entahlah, mungkin aja," balasnya.


Beberapa menit kemudian, Key menghampiri dan sama mencari gadis itu. "Naya mana?" tanya.


"Justru kita yang harusnya nanya. Dari tadi dia gak balik-balik. Kita kira lu menggondolnya," celetuk Cheryl.


Key terdiam sejenak, kemudian ia segera berlalu untuk mencari gadis itu. Segera ia mencari Naya di salah satu kamar yang ditempatkan untuk sang gadis bersama Ara. Namun, tidak ada siapapun. Membuka kamar mandi yang ternyata isinya pun kosong.

__ADS_1


"Lu dimana sih?" Key mulai kelabakan. Ia merasa khawatir akan keadaan gadis itu.


Ia hendak mencari keruangan lain, namun sesuatu terasa ganjal di kamar itu. Ransel yang tadi pagi ia ambil dari gendongan sang gadis sudah hilang dari kamar itu. Hanya menyisakan sebuah sweater yang tertinggal.


"Naya!" gegas ia keluar dan hendak mencarinya lagi. Namun, ia justru berpapasan dengan sang Mama.


"Key!"


"Ma, Naya gak ada, Ma. Ranselnya juga. Aku akan cari dia sekarang," ucap Key panik.


Pria itu hendak pergi, namun sang mama mencekalnya. "Eh, tunggu dulu!" cegatnya.


"Apa sih, Ma? Udahlah, ini lagi urgent," kesal Key.


"Eh, kamu tuh bentar dulu! Ini Naya kirim caht sama Mama, katanya-" ucapan Sena terhenti, saat Key merampas benda pipihnya dengan kasar.


Terlihat satu chat dari Naya beberapa menit yang lalu.


[Maaf, Bu. Aku pulang sekarang karena dapat panggilan dari tetanggaku, kalo ibu di rawat dipuskesmas. Aku mendapatkan tiket kereta cepat untuk tujuan Desa. Maaf, karena tidak sempat berpamitan pada yang lain! Setelah sampai nanti, aku akan hubungi Ibu.]


Sepenggal chat tersebut membuat Key menghembuskan napas berat. Bagaimana bisa gadis itu tidak menghubunginya dan malah menghubungi sang Mama? Padahal dirinya begitu khawatir dan hampir hilang akal.


"Kalo gitu, aku akan menyusulnya. Aku takut terjadi apa-apa sama dia," Key hendak bergegas, namun sang Mama kembali mencegatnya.


"Kamu mau pergi pake apa? Lihatlah! Ini jam berapa? Kereta sudah tutup. Mau pake mobil pun akan membahayakan," tanya sang mama yang begitu heran dengan tingkah putranya itu.


"Tapi, Ma. Kalo terjadi sesuatu sama dia gimana? Mama lupa, dia hampir aja nyasar pas datang ke kota. Dan sekrang ..." Tentu saja Key tidak bisa berdiam diri saat gadis yang sudah memenuhi pikirannya kemungkinan dalam bahaya.


Sena tersenyum simpul. Sekarang ia mengerti apa yang membuat putranya itu frustasi. Ada cinta yang diam-diam terselip di mata pria itu. "Kamu sangat mengkhawatirkan Naya? Kenapa? Apa ...." Sena menggatungkan ucapan menyelidik.


Sontak Key yang tersadar segera berdehem keras, merasa gugup saat tiba-tiba sang mama bertanya seperti itu. Sena yang menyadari itu tersenyum lebar. Segera ia mendekat dan membisikkan sesuatu.

__ADS_1


"Mau jenguk calon ibu mertua?"


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2