Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Simbiosis mutualisme


__ADS_3

Naya mengerutkan dahi melihat pria dihadapannya terdiam dengan tatapan entah kemana. 'Ini dia kenapa? Jangan-jangan kesambet jurig (setan) lagi,' batin Naya bergidik ngeri.


Tidak ingin hal negatif benar-benar terjadi, ia pun segera menyadarkan pria itu. "A ..." Naya melambaikan tangan didepan wajah pria itu.


Namun tidak ada tanggapan sama sekali dari Key. "A Key!!!" pekik Naya sedikit keras, hingga sukses membuat pria itu terlonjak.


"Ishh malam-malam begini malah melamun, nanti teh kesambet, kumaha (gimana)?" omel Naya. Gadis itu beranjak dari hadapan Key seraya menggelengkan kepala.


Key yang menyadari dirinya tiba-tiba aneh, buru-buru menuju washtaple untuk mencuci wajahnya. Mungkin apa yang dikatakan Naya ada benarnya. Ia baru saja kesambet dan berubah menjadi seperti itu.


Naya yang hendak menyeduh kopi terkekeh melihat tingkah pria itu. Ia pikir Key sudah mengantuk berat, hingga bersikap aneh. Namun, ada hal yang membuat ia tertegun. Mata gadis itu terpana melihat air yang menelusuri setiap lekuk wajah tampan Key. Terlihat begitu sexy dan ....


'Ya ampun, apa yang aku fikirin?' batin Naya. Ia segera menggelengkan kepala, mengembang kempiskan pipinya yang tiba-tiba mamanas.


Tidak ingin Key mengetahui dirinya yang sempat terpesona, Naya segera menyeduh kopi untuk pria itu. Sementara Key menarik dan menghembuskan napasnya kasar setelah berulang kali membasuh wajah.


'Ini gak bener. Gue gak mungkin mengingkan dia. Gue cuma kesambet, iya!' batinnya menenangkan seraya memegang dadanya.


"Nih, A kopinya!" Naya menyimpan secangkir kopi instan yang ia seduh dari lemari, dan ia taruh di meja bar tadi.


Key kembali ke tempat duduknya setelah dirasa cukup tenang. Sementara Naya memilih untuk kembali ke kamar. Gadis itu hendak pergi, namun Key tiba-tiba mencegatnya. "Lu mau kemana?" tanyanya.


"Ke kamar atuh," balas Naya dengan raut wajah bingung.


"Maksud gue, lu temenin dulu gue ngopi bentar!" pinta Key.


"Tapi ..."


"Lu butuh laptop 'kan? Gue pinjemin deh," sela Key. Tentu saja hal itu membuat mata Naya berbinar.


"Wah beneran, A?" tanya Naya tak percaya dan diangguki Key.


Setelah sepakat, Naya pun benar-benar menemani Key menikmati kopi, ditemani laptop pula di pangkuannya. Key yang penasaran dengan apa yang dilakukan gadis itu mengintip dari samping.

__ADS_1


"Lu lagi ngapain? Bukannya besok baru masuk?" tanya Key saat sadar Naya sudah mulai mengerjakan tugas.


Naya tersenyum menanggapi. "Aku cuma iseng aja nyiapin tugas awal," balasnya.


Hah?! 'Ngerjain tugas dia bilang iseng?' tanya Key dalam hati. Padahal apa yang dikerjakan Naya itu bukan materi iseng-iseng. Tapi, gadis itu bilang?


Key menggelengkan kepala melihat kelakuan gadis itu. Hingga tiba-tiba terbesit sesuatu diotaknya. 'Kalo bener dia pinter, bisa dong ngerjain tugas gue buat diserahin besok?' batinnya menyeringai.


Pria itu bangkit dari duduknya. Lalu, berlenggang memasuki kamar. Naya mengerutkan dahi heran, saat Key meninggalkannya begitu saja di sofa panjang didepan kamar mereka.


"Eleh-eleh pamit dulu kek, ini mah main tinggal aja. Dasar gak sopan," gerutu Naya kesal.


Gadis itu berpikir bahwa pria itu meninggalkannya begitu saja, hingga didetik berikutnya ternyata Key kembali membawa beberapa buku ditangannya. Sontak Naya yang melihat Key mengerutkan dahi mengikuti arah pria itu duduk.


Key mendudukan diri disamping sang gadis seraya menyimpan buku-buku itu di meja didepan mereka. Buku-buku tebal berbasis ilmu pendidikan bisnis itu membuat Naya semakin binggung. Untuk apa? Pikirnya. Tentu buku-buku tersebut tidak sejalur dengan apa yang ia kerjakan sekarang.


"Ini teh?" tanya Naya heran.


"Karena gue udah baik, minjemin lu laptop. Sebagai gantinya, lu harus bantuin ngerjain tugas gue. Gimana?" tawar Key dengan entengnya menaik turunkan alis.


"Udah, gue tau lu anak pinter. Cuma tugas kayak gini aja mah enteng lah buat lu," celetuk Key menyelak.


Naya hendak kembali berkomentar, namun suara Key kembali menyelak. "Kalo lu mau bantuin gue, gue kasih dah laptop itu buat lu." bujuknya.


Sontak mata Naya terbuka lebar. Tentu saja ia begitu membutuhkan laptop tersebut. Mengingat sang ibu tidak mungkin dapat membelikan benda tersebut, ia pun berpikir keras untuk menentukan penawaran tersebut. Sementara Key tersenyum tipis, melihat gadis itu seperti tengah berfikir keras. Ia yakin gadis itu tidak akan menolak.


'Ayo terima!' gumam Key dalam hati.


"Emm, baiklah! Aku coba," final Naya penuh semangat.


Tentu saja hal itu membuat Key tersenyum lebar. Tidak susah ternyata memberi penawaran untuk Naya. Cukup menawarkan apa yang gadis itu butuhkan, maka ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan.


'Seperti Simbiosis mutualisme!' batin Key tertawa senang.

__ADS_1


Naya mulai mengerjakan tugas Key. Meski sesekali gadis itu menanyakan hal yang tidak dimengerti, namun Key dengan senang hati memberitahunya. Naya begitu serius dalam mengerjakan tugas itu, hingga diam-diam Key memperhatikan wajah sang gadis dari samping dengan jarak yang begitu dekat.


'Sexy banget kalo lagi serius? Gimana kalo lagi s*nge, ya?' batin Key menerka-nerka.


Tiba-tiba jiwa liar Key menguasai, ia bahkan melupaka siapa gadis disampingnya itu. Ia semakin mendekatkan wajah untuk meraih bibir Naya yang menarik perhatiannya, hingga ia tersadar saat buku mendarat tepat diwajahnya.


"Yang ini teh, kayak gimana?" tanya Naya, yang kemudian shok melihat buku itu tepat mengenai wajah pria itu.


"Aduh maaf, A! Punten, aku gak sengaja," sesal Naya merasa bersalah.


Key menarik napas dalam seraya menurunkan buku tersebut. Ia berusaha tersenyum meski dengan perasaan dongkol. "Hem, gak apa-apa!" balasnya.


Naya begitu khawatir, takut-takut pria itu marah. Berulang kali ia meminta maaf sebelum kembali pada laptop untuk mengerjakan tugas itu. Ia sampai lupa menanyai hal yang tidak ia mengerti barusan, hingga ia bisa mengerjakannya sendiri.


Sementara Key berusaha untuk tidak marah, demi sang tugas yang belum seselai. Meski sebenarnya ia begitu kesal, karena untuk pertama kalinya, ia gagal mendapati ciuman seorang gadis.


'Apes banget gue! Mau bikin suasana romantis, eh malah ambyar!' batin Key merutuki nasibnya kali ini.


Pria itu hanya mampu menghela napas kasar, seraya memijit pelipinya yang berdenyut. Untuk mengalihkan rasa kesal, ia pun meraih benda pipih untuk bermain game. Tentu, setelah mengnon-aktifkan data terlebih dahulu.


Baru saja satu rounde bermain, tiba-tiba Key dikejutkan dengan sesuatu yang menimpa bahunya. Sontak ia menoleh dan mendapati Naya sudah bersandar dan terlihat tidak bergerak sama sekali.


"Lu tidur?" tanya Key, namun tidak ada jawaban dari gadis itu.


Pria itu pun mencoba melihat wajah sang gadis, hingga terlihat mata gadis itu tertutup rapat disertai hembusan napas teratur dari bibirnya. Key tersenyum melihat dengan mudahnya gadis itu terlelap, padahal ia rasa baru beberapa detik yang lalu sang gadis masih terfokus pada laya persegi dipangkuannya.


Segera ia menyimpan data, sebelum mematikan laptop tersebut. Lalu, memindahkannya dari pangkuan ke atas meja. Kemudian ia menggendong tubuh mungil itu dengan hati-hati menuju kamarnya.


Srett!!!


Key menarik selimut menutupi tubuh gadis itu hingga dada. Ia tersenyum saat menyadari gadis itu terlihat manis saat menutup mata. Hingga ia kembali tertarik untuk meraup bibir manis itu. Semakin dekat, namun pergerakan itu terhenti saat ia tersadar sesuatu.


'Kalo Mama tau? Mampus gue!'

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2