Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
SAH


__ADS_3

Tampolan didapatakan Key dari sang Mama di pahanya. Pertanyaan nyeleneh Key, sungguh membuat wanita cantik itu malu dihadapan semua tamu. Sementara pak penghulu dan orang-orang terkekeh mendengar celetukan Key.


"Nak Key tenang aja! Yang dinikahin beneran Neng Naya, kok." jelas pak penghulu. "Sebentar lagi, juga pasti keluar."


"Kamu tuh, malu-maluin!" bisik Sena dari belakang. Key hanya mencebikan bibir mendapat peringatan dari sang Mama.


Padahal, tidak ada salahnya jika ia bertemu terlebih dahulu dengan calon istrinya, untuk memastikan. Jika tiba-tiba pengantinnya diganti, 'kan berabe.


"Ya udah, berhubung mempelai pria ingin melihat terlebih dahulu calon istrinya. Saya meminta untuk mempelai wanita keluar sekarang!" pinta pak Kades.


Sesuai intruksi, Naya keluar diapit oleh kedua pagar ayu. Berbalutkan kebaya putih khas sunda, yang melekat pas ditubuh proposionalnya. Riasan wajah yang membuat gadis itu pangling dan sulit dikenali.


Key terpaku menatap kecantikan calon istrinya. Namun, ia tersadar sesuatu saat gadis itu mendudukkan diri disampingnya. "Kamu beneran Naya?" tanyanya menyelidik.


"Hah?!" Naya melongo mendengar pertanyaan itu. Ia hanya mengangguk bingung sebagai jawaban.


"Ck! Kamu tuh, ini beneran Naya. Masa gak ketemu lima hari aja udah lupa," celetuk Sena.


Naya tersenyum menangapi, se pangling itukah dirinya? Namun, hal lain membuat ia tersenyum. Penampilan Key nampak bebeda hari ini. Terlihat begitu tampan dan berkharisma. Seperti di mesjid waktu itu. Penampilan Key mengenakan peci, sungguh sangat mempesona.


Sekali lagi Key menoleh memperhatikan gadis cantik disampingnya, Naya yang ditatap intens hanya mampu tersipu malu. Hingga Key tersenyum saat melihat wajah malu-malu itu.


"Kita mulai, Pak! Benar, ini calon istri saya," celetuk Key pada pak penghulu.


Sontak semua orang tergelak dan riuh, akan tingkah nyeleneh si calon mempelai pria. Sena sudah tertunduk malu mendengar hal itu.


"Baiklah, kita mulai!"


Suasana kembali khidmat. Pembacaan dua kalimat syahadat terlantun dari semua oramg tak terkecuali pengantin itu sendiri. Dengan tangan berkeringat dingin, Key menjabat tangan pak penghulu sebagai wali hakim dari Naya.


"Saudara Arkyano Abigail Permana bin Abizar Radeeya Permana, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Kannaya Putri binti almarhum Gunawan, dengan maskawin dari engkau berupa uang senilai dua ribu dua puluh tiga dollar, satu set berlian, dan lima peternakan sapi, di bayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Kannaya Putri binti Gunawan, dengan mas kawinnya tersebut tunai!"


Dengan sekali tarikan napas, Key dapat mengucap ijab kabul dengan jelas dan lantang.

__ADS_1


"Bagaimana saksi?" tanya pak penghulu pada Shaka dan Aska sebagai saksi.


"Sah!"


"Alhamdulillah tabarakallah ...." Pak penghulu melantunkan doa yang diaminkan sebagian orang.


Sementara beberapa orang masih nampak tercengang dengan mahar yang diberikan Key untuk Naya, yang ternyata tidaklah main-main. Jangankan warga yang memang tidak tahu, Santi dan Naya sendiri merasa syok dengan mahar tersebut. Hal itu pernah di bahas sebelumnya, Key menanyakan mahar apa yang diinginkan calon istrinya. Namun, Naya tidak pernah mempermasalahkan itu. Gadis itu menyerahkan semuanya pada Key.


Kedua mempelai di persilahkan untuk bertukar cincin, setelah menandatangi surat-surat. Naya tampak malu-malu, hingga tak kuasa menatap pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. Sementara Key sendiri merasa gemas melihat wajah malu-malu itu.


"Gak pensaran nih sama wajah suami?" bisik Key menggoda. Sontak Naya mendongak kaget, hingga mata keduanya bertemu. Senyum bahagia tidak juga surut dari pria tampan itu.


"Isshh," Meski malu, namun Naya tetap mencoba untuk tidak menundukkan kepala.


Setelah tukar cincin itu berhasil, kini Naya di instruksikan untuk menyalimi takzim tangan kanan suaminya. Menurut, gadis itu pun melakukannya. Setelah itu giliran Key yang mengecup kening istri sahnya itu. Tak lupa, momen itu terus tertangkap kamera, dari pertama acara dimulai.


Acara demi acara terus berlanjut. Dari sungkeman dan acara adat lainnya telah selesai terlaksana. Sampai acara salaman dari tamu undangan pun siap terlaksana. Banyaknya warga Desa yang hadir, membuat para ibu dapur kewalahan menyediakan makanan. Mereka bingung, mengatasi semuanya.


"Kamu gak usah khawatir San, aku sudah menghubungi resto untuk membawa katering kesini!" ucap Rizky menenangkan Santi yang tengah kalang kabut.


"Ah, Kak Iky ini. Dari dulu emang paling bisa diandalkan," balas Santi senang, menepuk bahu kawan lamanya itu.


"Oh iya, Kak. Istrimu mana? Kok, aku gak lihat dari tadi?" tanya Santi heran. Tentu ia tau siapa istri Rizky. Karena ia juga menghadiri acara pernikahannya kala itu.


Rizky tersenyum menanggapi. "Istriku udah berpulang," balasnya sendu.


"Inalillahi, maaf atuh Kak. Aku teh gak tau," sesal Santi dan di angguki pria itu.


Santi menepuk bahu pria itu. "Yang sabar ya, Kak. Kita memiliki takdir yang sama. Namun, Kak Iky harus mencoba mengikhlaskan dan jangan terlalu berlarut," ucapnya dan diiyakan Rizky.


"Iya, kamu juga," balasnya.


"Ngomong-ngomong, udah ada calon nih pasti. Udah siap dihalalin atuh?" goda Santi.


Rizky terkekeh menanggapi. "Gak ada. Kamu mungkin yang udah siap. Habis nikahin anak perawan, giliran emaknya dihalalin," balasnya.

__ADS_1


"Isshh mana ada atuh. Aku mah gak kepikiran buat nikah lagi. Bagiku udah cukup melihat putriku bahagia. Apalagi sekarang kandang ditambah lagi, udah sibuk aku. Riweuh ah!" balas Santi hingga keduanya tergelak.


Dibalik percakapan keduanya, seorang gadis tak sengaja menguping dibalik tembok. Tatapannya sendu melihat adegan kedua paruh baya itu.


"Kok aku sesek banget ya, lihat uncle ketawa ketiwi sama wanita lain?" lirihnya.


"Woy, kamu ngapain malah bengong disini?" Pertanyaan seseorang sukses membuat ia terlonjak. Tiga perempuan, dengan dua gadis berwajah sama menghampiri gadis itu.


"Kamu nangis, Ra?" tanya Cheryl khawatir. Sontak Ara meraba matanya yang ternyata berair. Sungguh ia tak sadar jika ia menangis.


"Kamu ada masalah?" tanya Reysa, menepuk bahu gadis itu.


"Nggak, kok!" elaknya seraya berdehem.


"Yakin?" selidik Reyna ikut bertanya dan diangguki yakin oleh Ara.


"Ada apa?" Pertanyaan Rizky mengalihkan atensi mereka.


"Gak apa-apa, uncle!" balas Ara menyelak sebelum para gadis itu menyahuti.


"Kamu nangis?" tanya Rizky yang menyadari air mata berantakan di wajah cantik Ara.


Segera Ara ingin menghapus kedua pipinya. Namun, tiba-tiba Rizky mengulurkan tangan memberi kain putih yang ia ambil dari saku jasnya. "Nih ambil!"


Dengan ragu, Ara meraih sapu tangan dari tangan pria itu dan segera menghapus jejak kebasahan dipipinya.


"Papih dari mana aja sih? Itu Oma nanyain. Katanya Pak Dadan minta dijemput di perbatasan Desa. Soalnya mobilnya mogok," jelas Reysa.


"Oh ya?" tanya Rizky melihat ponselnya. "Ya udah, kalo gitu kamu ikut Papih buat bantuin!" ajaknya.


"Nggak bisa, aku sama Reyna disuruh onty Sena buat bantuin dia," tolak Reysa.


"Ya udah, uncle. Biar aku aja yang bantuin," tawar Ara.


"Tapi 'kan kamu ...."

__ADS_1


"Gak apa-apa biar aku sekalian cari angin!"


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2