
Semenjak malam itu, banyak perubahan dari sikap Key. Pria itu sudah tidak lagi tebar pesona di kampus. Godaan dari para gadis tidak ia gubris sama sekali. Bukan karena permintaan orang tuanya saja, Key juga ingin meyakinkan perasaannya terhadap Naya. Meski pria itu belum menyatakan langsung pada sang gadis, namun sikapnya sudah membuktikan hal tersebut.
Bagaimana tidak? Key benar-benar memberi jarak antara Naya dengan pria lain, termasuk Daniel. Sikap posesifnya menarik perhatian siapapun untuk menyimpulkan, jika mereka sudah seperti pasangan kekasih.
"Nay!" cegat Daniel menghentikan langkah Naya yang hendak keluar dari kelas.
"Hem, iya. Ada apa, Niel?" tanya Naya.
"Emm, besok apa ada waktu?" tanya Daniel ragu.
"Yah, maaf Niel. Besok aku teh mau keluar kota," balas Naya.
Sontak Daniel menautkan alis tak mengerti. "Ke luar kota? Ke mana?" tanyanya heran.
"Sepupunya Key, mau nikahan. Semua keluarga akan berangkat. Bu Sena, sengaja meliburkan semua ART. Jadi, ya aku pun harus ikut," jelas Naya dan diangguki Daniel dengan raut wajah lirih.
'Sepertinya, gak akan ada kesempatan buatku dekat sama kamu, Nay. Bahkan, kamu begitu deket dengan keluarganya,' batin Daniel.
"Nay?!" sapaan Key mengalihkan atensi mereka. "Yuk buruan!" ajaknya dari ambang pintu.
"Ya udah, Niel. Aku pulang dulu, ya. Nanti atuh kita jadwalkan lagi buat jalan mah, oke!" pamit Naya dan diangguki pria itu disertai senyum sebiasa mungkin.
Melihat Key yang mengusek pucuk kepala gadis itu, hingga keduanya becanda bersama, membuat hati Daniel terasa teriris. Perlu diakui, ia sudah memendam perasaan pada Naya semenjak mereka bertemu. Namun, melihat gadis itu terlihat bahagia bersama pria lain, mungkinkah ia harus merelakan?
**
"Lu lagi ngomongin apa sama si kudanil? Kayaknya serius amat," selidik Key. Ketika mereka tengah berjalan menyusuri lorong.
"Namanya teh Daniel. Kamu mah ih, suka sekali ganti-ganti nama orang," protes Naya.
"Bodo amat. Gue taunya dia kudanil," balas Key sekenanya dan hanya dibalas decakan oleh gadis itu.
"Gue 'kan udah sering ingetin, jangan terlalu percaya sama cowok! Inget, lu tuh tanggung jawab gue. Lu mau gue kena hukum sama si Mama?" peringat Key dan dibalas gelengan gadis itu.
"Ya udah, makanya nurut sama gue," final Key dan hanya ditanggapi wajah menekuk dari Naya.
Ditengah perjalanan mereka menuju mobil, seorang gadis menghentikan langkah keduanya. Seketika mereka pun berhenti dengan Key yang beraut wajah jengah.
"Key?" cicit Beby, gadis yang menghentikan mereka.
__ADS_1
"Mau ngapain lagi sih?" tanya Key kesal.
"Key!" peringat Naya. Sering sekali Naya memperingati Key untuk tidak berlaku kasar pada wanita.
Key yang mengerti hanya menghembuskan napas kasar. "Apa? Mau apa lagi?" tanya merendahkan suaranya. Meski tak dipungkiri wajahnya masih tetap saja sama.
Beby menggenggam tangan Key, dengan mata berkaca-kaca. "Key, aku mohon. Kasih aku kesempatan sekali aja! Aku sayang sama kamu Key, aku pengen kita membangun hubungan yang belum apa-apa kita jalani," pintanya memohon.
Naya melengos melihat adegan tersebut. Entah kenapa ada rasa tak terima, gadis itu menggenggam tangan Key seraya memohon demikian.
"Sorry! Gue gak bisa," tolak Key melepas genggaman tangan gadis itu. "Sudah cukup, gue nyakiti lu dan cewek-cewek yang lain. Gue mau berhenti jadi cowok brengs*k!" lanjutnya.
Beby semakin terisak mendengar ucapan Key. "Nggak Key, kamu gak brengs*k. Aku gak pernah merasa tersakiti sama kamu. Jadi ... Kita bisa memulainya dari awal Key!"
Key menggelengkan kepala mantap. "Sorry! Mulai sekarang gue gak berminat berpacaran sama siapapun," ucapnya, kemudian melirik Naya yang nampak mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Gue lagi berusaha menata hati, buat menjalin komitmen dengan gadis yang benar-benar gue sayangi," lanjutnya. Kemudian, kembali menatap Beby.
"Gue harap lu bisa menghargai keputusan gue!" finalnya, hingga Beby semakin histeris.
Key meraih tangan Naya dan berlalu menggandengnya. Naya terlonjak, namun ia tidak bisa mengelak dan hanya bisa pasrah mengikuti. Ia hanya melihat sekilas ke belakang, untuk melihat gadis yang kini tengah menangis tersedu. Ada perasaan iba, melihat Beby yang seperti itu. Namun, ada perasaan lega juga saat mendengar Key berkata begitu bijak.
**
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang terbuka mengalihkan atensi gadis itu. Ia menoleh dan mendapati Key tengah berdiri bersandar di ambang pintu. "Ada apa?" tanyanya.
"Bikinin gue kopi dong!" pinta Key.
"Jam segini?" tanya Naya tak percaya. Pasalnya itu sudah terlalu larut untuk mengisi perut dan diangguki enteng oleh Key.
Naya hanya mampu menghembuskan napas pasrah. Bagaimana pun ia harus memenuhi permintaan Key. Sebab, para ART sudah pada pulang sejak sore tadi. Tanpa protes, gadis itu pun berlenggang pergi dan diikuti Key dengan senyum puas dari belakang.
Sepasang manusia itu berlalu menuju dapur. Key duduk menunggu di depan meja bar seraya memainkan ponsel ditangannya. Sementara Naya mencari kopi instant yang hendak ia seduh. Entah sejak kapan posisi kopi mendadak pindah dilemari paling atas. Terpaksa ia pun mengambil kursi untuk meraih kopi tersebut. Belum sempat ia naik, tangan Key mencekal lengan gadis itu. Hingga Naya terlonjak dan menoleh.
"Lu mau ngapain?" tanya Key.
"Mau ambil kopi," balas Naya polos.
__ADS_1
"Ya lu kira-kira lah. Lu 'kan bisa minta bantuan gue. Kalo lu jatoh gimana?" omel Key, membuat Naya hanya terdiam tak menanggapi. "Udah sana, gue yang ambil!"
Naya bergeser, memberikan celah untuk Key menaiki kursi tersebut. Dengan sekali gerakan, ia dapat meraih kopi instant tersebut. Lalu, menyerahkan kopi itu pada Naya. "Nih!"
Naya tersenyum seraya meraih pemberian Key. "Hatur nuhun (Makasih)," ucapnya dan segera berlalu menuju meja pantry.
key terkekeh dan turun dari kursi itu. Sementara Naya dengan lincah menyiapkan gelas dan menuangkan kopi itu kedalamnya. Namun, saat hendak menuangkan air panas dari dispenser. Tiba-tiba tombol pada alat itu tidak berfungsi. Berulang kali Naya mencoba, namun tidak juga keluar.
"Kenapa atuh ini teh? Apa rusak?" tanyanya bermonolog sendiri. Naya terus mencoba memencet tombol dengan satu tangan meraba lubang air tersebut. Hingga setelah percobaan yang kesekian kali, air pun keluar tanpa sempat Naya menjauhkan tangan dari lubang. Dan alhasil air itu mengenai tangan sang gadis.
"Awww!!" pekik Naya kaget sekaligus panas menjalari kulitnya. Ia pun segera mengibas-ibaskan tangannya.
"Nay?" Pekikan Naya berhasil membuat Key yang baru saja memindahkan kursi, merasa khawatir. Segera ia mendekat untuk melihat keadaan sang gadis.
Melihat tangan Naya yang mengibas, membuat ia sadar. Jika tangan sang gadis pastilah terkena air panas. Segera ia meraih tangan itu dan benar saja punggung tangan Naya memerah seperti akan melepuh.
"Huh~ huh~ sakit," ringis Naya, meniup-niup tangannya.
"Gue 'kan udah sering ngingetin. Hati-hati! Ceroboh banget sih lu," omel Key lagi seraya ikit meniup kulit itu.
"Mana aku tau, kalo tombol airnya bermasalah," balas naya yang sudah berkaca-kaca.
Key hanya menghembuskan napas seraya menarik gadis itu untuk duduk. "Bentar!" Pria itu berjalan mengambil kotak P3K yang tersedia di dapur. Membawa kotak itu pada sang gadis untuk segera mengobti luka tersebut.
"Aww, aww!" ringis Naya kesakitan saat Key mengolesi salep pada lukanya.
"Diem, bentar lagi beres!" titah Key masih telaten mengolesi.
"Tapi ini sakit," rengek Naya terisak.
"Astaga, gitu aja sakit," ledek Key.
"Pelan-pelan!"
"Ini juga gue pelan-pelan, sabar dong. Gak gue tekan-tekan keras juga," balas Key.
Ternyata suara mereka, membuat seorang wanita yang hendak mengambil air menjadi meradang. Entah kenapa percakapan mereka membuat ia ketar ketir. Apalagi melihat keadaan dapur yang remang-remang membuat darahnya mendidih, karena tidak dapat melihat keberadaan si pemilik suara. Sena bergegas mendekati mereka seraya berkacak pinggang.
"Kalian lagi ngapain?"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*