Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Paling cantik


__ADS_3

"Ya ampun, Nay. Kamu cantik banget," puji Ara berdecak kagum dengan mata berbinar.


Bagaimana tidak? Kebaya silver yang melekat ditubuh proporsional Naya begitu pas, membentuk lekukan di bagian-bagian tertentu. Riasan wajah natural yang sedikit berbeda dari sehari-hari gadis itu, membuatnya nampak lebih anggun. Dengan rambut yang disanggul kecil dibagian bawah, sungguh terlihat mempesona.


"Aku rasa, manten pun kalah ini," celetuk Cheryl yang ikut memuji.


"Ah kalian ini, bisa aja! Kalian juga cantik atuh," Naya tersipu malu, mendapat berbagai pujian dari kedua gadis itu. Hingga ketiga wanita itu pun tertawa bersama.


"Oh iya, Nay. Ini 'kan kebaya couple ya, pastinya. Apa samaan sama Key?" tanya Ara penasaran.


"Em, iya!" balas Naya menunduk malu.


"Hah?! Seriusan?" tanya Ara syok dan diangguki mantap oleh Naya.


"Wah, fix sih ini. Si Key emang suka sama kamu Nay. Kalo enggak, mana mau dia pakai baju samaan kayak gini. Ya, gak Cher?" ucap Ara memberi opini.


"Benar tuh, Nay!" sambung Cheryl. "Key itu gak pernah peduli sama cewek manapun. Tapi, aku lihat akhir-akhir ini, dia begitu perhatian sama kamu. Jarang banget lho, dia kayak gitu. Ya, kecuali sama kita keluarganya," terangnya.


Naya hanya tersenyum menanggapi. Gadis itu sendiri merasakan beberapa perubahan di diri Key, dari beberapa waktu lalu. Hal yang ia rasa aneh, mungkinkah itu bisa diartikan sebagai rasa suka? Bolehkah ia berharap seperti itu?


Setelah berkutat didalam kamar, dengan salah satu petata rias. Ketiga perempuan itu pun keluar dari kamar, bergabung dengan para orang tua wanita yang sudah siap. Ternyata tidak hanya kedua saudara itu saja yang memuji kecantikan Naya. Para ibu itu pun juga memujinya.


Naya semakin malu, hingga wajahnya kian memerah. Untuk pertama kali, ia melihat sebuah keluarga besar yang begitu hangat dan juga kompak. Meski mereka dari kalangan atas, tidak ada satu pun dari mereka yang memandang status sosial. Sementara ia sendiri dengan keluarga di Desa, tidaklah demikian. Adik dan kakak dari ayahnya sendiri saja bahkan, memusuhinya. Jika teringat akan hal itu, tiba-tiba saja ia teringat pada sang ibu yang ia tinggal sendiri. Apakah Ibu baik-baik saja?


"Ada apa, Sayang?" tanya Sena membuyarkan lamunan Naya.


"Ah, gak apa-apa, Bu!" balas Naya beralibi. Gadis itu mencoba tersenyum, untuk menutupi kesedihannya.


Sena tersenyum seraya menoel hidung mancung Naya. "Kalo ada sesuatu yang mengganjal dihatimu, jangan sungkan beritahu, Tante ya?" usulnya dan diangguki mantap oleh Naya.


Sementara itu, Key keluar dari sebuah kamar bersama Arga dan Alzein. Ketiga pria tampan itu baru selesai berganti pakaian dan berjalan untuk bergabung dengan yang lain.


Deg!

__ADS_1


Tiba-tiba Key menghentikan langkah dan terpaku melihat sesorang yang nampak berbeda diantara para wanita lainnya. Seseorang dengan kebaya senada dengan kemeja yang ia kenakan. Sungguh begitu mempesona dimatanya.


Arga dan Alzein yang reflek ikut berhenti merasa aneh pada sepupu mereka. Kedua pria itu saling memberi kode, seolah bertanya. Kenapa? Ada apa dengan Key? Arga menoleh, hingga ia bisa melihat Key yang tersenyum dan tidak berkedip sama sekali. Hal itu tentu membuat, Arga mengikuti arah tatapan Key yang ternyata tertuju pada seorang gadis.


Tentu Arga pun mengerti. Ia menyeringai menatap sepupunya itu. Kemudian, ia beralih membisikkan sesuatu pada Alzein dan diangguki mengerti oleh pria itu.


"Ya ampun, cantik sekali!" celetuk Alzein.


"Siapa?" tanya Arga menyimpulkan senyum.


"Gadis yang mengenakan kebaya silver itu, siapa dia?" tanya balik Alzein terdengar antusias.


"Oh, itu Naya!" balas Arga.


Sontak percakapan mereka, membuat Key memicingkan mata dan telinganya. Merasa harus waspada terhadap sepupunya itu. Arga terkekeh pelan, bertos ria dengan Alzein dibelakang Key. Sepertinya menyenangkan untuk membuat pria itu kelabakan.


"Apa dia udah punya pacar?" tanya Alzein memancing.


Percakapan tersebut membuat Key meradang. Ia menoleh menatap tajam pada kedua sepupunya. "Berisik lu pada," kesalnya. Kemudian, berlalu meningglkan mereka.


Satu detik, dua detik, tawa pun pecah seiirng berlalunya Key. Kedua pria itu tergelak melihat wajah memerah Key. Jika dapat digambarkan, mungkin sudah keluar tanduk dan kobaran api di kepala pria itu. Atau mungkin kepulan asap sudah keluar dari kedua telinganya, menjerit seperti air mendidih dalam teko di atas kompor.


"Mampus! Lagian sok sok an, gak mau ngakuin. Baru gitu aja udah kelabakan. Udah kayak cacing kepanasan 'kan tuh?" ledek Arga merasa puas.


"Eh, tapi beneran, Ga. Itu gadis cantik banget. Beneran bukan pacar Key?" tanya Alzein memastikan, setelah beberapa saat memperhatikan gadis itu.


"Bukan. Tapi gue yakin, bentar lagi di embat sih," balas Arga. "Kenapa? Lu suka juga?" selidiknya.


Alzein tersenyum, tentu saja ia pun menyukai gadis cantik seperti Naya. Namun, dalam artian sebatas mengagumi. "Tentu saja. Aku 'kan pria normal," kekehnya.


"Cih!" Arga berdecih. Tentu ia mengerti maksud sepupunya itu. "Terus hati lu?" tanyanya memancing.


"Pada seseorang, yang sampai saat ini aku sendiri gak tau. Kenapa aku menyukainya?" balas Alzein dengan membayangkan seorang gadis yang setiap malam menghantuinya.

__ADS_1


Arga terkekeh seraya menepuk pundak sepupunya itu. "Kalo sudah pas, jangan sampai di lepas, yang ujungnya bisa bikin lu bernasib naas!" nasehatnya. "Udah buruan di gass!" lanjutnya menyemangati. Hingga keduanya pun tertawa.


Sementara itu, Key berlalu mendekati rombongan para wanita untuk menyapa gadis yang membuat ia kebakaran jenggot itu. Kedatangannya disambut senyum sang oma yang melihatnya terlebih dahulu.


"Ya ampun, cucu oma ganteng sekali," celetuknya.


Sontak semua orang beralih melihat ke arah Key, dengan senyum menyambut pria berpenampilan rapih itu. Melihat dirinya yang tampak seperti pasangan dengan Key, membuat Naya menundukkan wajahnya karena malu.


"Cieee ... Couple baru nih 'ye!" lagi-lagi suara Ara meledek membuat riuh para wanita disana.


Hal itu semakin membuat Naya menunduk dengan semburat merah di kedua pipinya. Begitu halnya dengan Key. Ia yang biasa percaya diri dan menunjukkan pesonanya, tiba-tiba menjadi kikuk.


Ia hanya tersenyum kaku seraya mengusap tengkuknya. Terlihat wajah malu-malu dari pria itu. Dan hal itu tentu membuat Ara semakin gencar menggoda. "Bentar-bentar, kalian kudu foto dulu!" Gadis itu begitu heboh untuk mengatur posisi pasangan tersebut.


Ara mendorong Key ke tempat stand khusus berfoto. "Apaan sih lu?" desis Key berbisik merasa malu. Terlihat wajahnya yang nampak memerah.


"Diem! Udah ngikut aja," titah Ara


"Ayo, Nay!" Cheryl ikut membantu mengatur posisi Naya. Menggandeng gadis itu untuk berdekatan dengan Key. Meski malu, namun Naya tidak dapat menolak dan hanya bisa pasrah mengikuti langkah Cheryl.


Suara kembali riuh saat pasangan itu sudah stay berdampingan ditempat tersebut. Naya kian tertunduk mendapati sorak sorai dari mereka. Begitupun Key, yang nampak canggung dan kikuk harus berbuat apa.


"Jangan nunduk dong! Ayo lihat sini," titah Ara dari hadapan mereka.


Dengan ragu, Key meraih tangan Naya dan menggenggamnya. Sontak Naya mendongak menatap ke arah Key, yang ternyata sudah stay menatap kamera dengan senyum maut ciri khasnya. Terlihat tampan dimata siapapun, dengan satu tangan masuk kedalam saku celananya.


"Gue tau, gue tampan," celetuk Key, kemudian ia menoleh menatap Naya dengan senyum yang sama. Membuat gadis itu terdiam dan terpana. Hingga mata keduanya pun bertemu dan saling mengunci.


"Dan lu ... Yang paling cantik hari ini!"


Cekrek! Cekrek!


******

__ADS_1


__ADS_2