
Waktu kian sore, semua tamu undangan satu persatu sudah pulang kerumah masing-masing. Keluarga Key juga sudah kembali ke Kota. Menyisakan beberapa tetangga yang kebetulan panitia tengah ikut membantu beres-beres sisa hajat. Sementara sepasang pengantin pun juga sudah membersihkan diri dan sudah berada di kamar mereka.
"Wah, banyak banget kadonya?" tanya Key menghampiri Naya yang tengah membuka kado dari beberapa teman dan keluaraga Key.
Pria itu mendaratkan diri setelah selesai menggosok rambut, disamping sang istri diatas ranjang. Naya tersenyum canggung melihat Key yang nampak lebih segar.
"Eh buka dulu ini yang dari oma Siska. Katanya sih spesial!" titah Key. Tanpa menjawab, Naya meraih kotak tersebut dan membuka isinya.
Sebuah kain berwarna hitam yang nampak tembus pandang. Naya mengangkat kain itu dan membeberkannya.
Blush!
Merah sudah pipi Naya, saat menyadari hal itu. Ternyata itu sebuah baju dinas yang sempat ia pertanyakan pada Cheryl.
"Wihh, Oma Siska emang paling keren!" puji Key tersenyum senang. "Coba kamu pake!" titahnya.
Naya melengos merasa malu. "Nggak ah, A. Isin (malu)," cicitnya.
Key yang baru mengerti situasi sang gadis terkekeh, ia menggeser posisi Naya yang tengah bersila kehadapannya. Hingga gadis itu pun menatapnya. Key tersenyum, lalu membelai pipi merah itu. Hal itu tentu saja membuat Naya semakin tak karuan.
"Makasih, kamu sudah mau menjadi istri aku! Menjadi bagian dari hidupku," ucap Key tulus.
Naya tersenyum menatap pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu. "Iya, aku teh juga makasih. Dari sekian banyak wanita yang memuja A Key. Aa teh malah pilih aku," lirihnya.
Key tersenyum membenarkan ucapan Naya. Ia sendiri bingung, kenapa bisa memilih seorang gadis yang begitu jauh dari kriterianya selama ini. Namun, satu hal yang ia sadari. Dari beribu wanita yang kencani, tidak ada satu pun yang dapat meluluhkan hatinya kecuali Naya. Gadis cantik yang ia takuti. Takut saat melihat senyum manis yang mendebarkan jantungnya. Takut saat harus jauh dari gadis itu. Takut kehilangan sosok yang begitu nyaman ia ajak segala hal, dan itu adalah Naya.
Tangan Key yang bertengger di pipi sang gadis, beralih masuk ke sela-sela rambut Naya hingga sampai di tengkuknya. Key mendekatkan wajah, hingga hembusan napas menyapu wajah cantik itu. "Bolehkan aku memulainya?"
Jantung Naya kian berdegegup kencang. Ini adalah malam yang akan menjadi sejarah baginya. Meski dengan malu, ia menganggukkan kepalanya pelan. Bagaiamana pun, ia harus belajar jadi istri yang berbakti. Melayani kebutuhan fisik dan batin sebagai salah satu kewajibannya sekarang.
__ADS_1
Key tersenyum dengan degup jantung sama seperti sang gadis. Untuk pertama kali, ia akan menyerahkan keperjakaannya pada wanita halal dihadapannya dengan segenap jiwa raga. Tanpa adanya embel 'main-main' yang selama ini ia lakukan.
Dekat, semakin dekat, Key hendak meraup bibir manis itu. Namun, lagi dan lagi, usaha itu harus gagal. Saat tiba-tiba saja pintu kamar mereka diketuk dari luar.
Tok! Tok! Tok!
"Nay, keluar dulu ada tamu!" teriak Santi dari luar.
Key memejamkan mata menahan hasrat yang harus ambyar, melebur dengan kekesalan. Naya menoleh mendengar panggilan sang ibu. "Iya, Bu!" balas Naya.
Gadis itu terkekeh melihat Key yang mengadah memejamkan mata. "Maaf atuh A, kita lanjut nanti malam aja! Kayaknya teh, masih ada tamu kalo jam segini," sesalnya memberi saran.
Key hanya mampu menghela napas berat, seraya melepaskan Naya untuk keluar menyapa tamunya. Ia hanya merebahkam diri telentang merutuki nasibnya. "Nasib gue apes banget sih. Cuma mau nyicip bibir doang gagal mulu. Bahkan sekarang udah halal pun masih aja gak dapat-dapat," gerutnya kesal.
"Apa ini karma buat gue, ya?"
**
"Oh iya, Nak Key. Ibu teh mau tanya, itu kandang sapi yang jadi mahar, beneran kandang sapi yang disita polisi?" tanya Santi.
"Iya, Bu!" balas Key.
"Tapi, kenapa atuh kamu teh harus susah-susah, bela-belain beli kandang itu?" tanya Ibu tak enak hati.
"Kandang-kandang itu 'kan awalnya milik Ibu sama Naya. Jadi, aku hanya mengembalikan itu pada pemilik awalnya," jelas Key.
Seketika air mata Santi jatuh. Ia tidak mengira semua kandang yang direbut kedua iparnya, hingga sampai ditangan si lintah darat akan kembali ke tangannya. Tepatnya, kembali menjadi hak milik sang putri.
"Udah atuh, Ibu teh jangan nangis. Pasti ini rezeki yang sudah diatur sama Allah, hem?!" titah Naya dan hanya diangguki oleh wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Makasih ya, Nak Key!" ucap Santi tulus dan diiyakan Key dengan senyum senang.
Santi segera menghapus air matanya. Ia hanya terharu akan nasib baik yang menimpa putrinya kini. "Ya udah kalian istirahat! Ibu mau anterin dulu makanan ini ke Nini Sum sama Meli," titahnya dan diiyakan sejoli itu.
Kini pasangan pengantin baru itu sudah berada di kamar mereka. Baru saja Naya menutup pintu, tangan besar Key sudah bertengger memeluknya dari belakang. Sedikit terlonjak, namun tak ayal gadis itu tersenyum saat mendengar kata-kata manis dari suaminya.
"Aromamu, sungguh menenangkan!" ucap Key mencium dalam-dalam rambut Naya yang tergerai.
"Cih, gombal!" ledek Naya.
"Gombal sama istri sendiri gak apa-apalah," kekeh Key.
"Ya iya atuh. Aku teh gak akan biarin juga, kamu gombalin cewek lain," balas Naya ikut terkekeh.
Tanpa Naya duga, wajah Key sudah tenggelam diantara ceruknya. Menjelajahi kulit yang terhalang rambut-rambut, membuat gadis itu memejamkan mata. Dengan degup jantung yang kembali beradu, Naya merasakan sengatan dan gelenyar aneh yang baru ia rasa. Matanya terpejam merasakan setiap sentuhan yang diberikan Key.
Tangan Key sudah menelusup ke balik piyama Naya, menyusuri perut ratanya. "Sss mmmh!" Reflek suara Naya mendesis begitu saja. Membuat Key semakin tak karuan.
Segera Key membalikan tubuh istrinya itu, hingga mata Naya terbuka kembali. Tidak ingin aksinya terhenti lagi, Key segera menyambar bibir ranum itu. Menyentuhnya lembut penuh perasaan. Naya yang baru pertama merasakan sebuah ciuman, hanya terdiam mempelajari apa yang kini diajarkan Key.
"Maaf, A. Aku belum pernah melakukan ini," sesal Naya menggigit bibir bawahnya. Tentu ada perasaan takut saat tiba-tiba Key menjauhkan wajahnya. Takut kecewa karena ia tidak melakukan apa-apa.
Key tersenyum merasa bangga, saat tau gadis itu belum berpengalaman sama sekali. "Gak apa-apa, aku akan mengajarimu. Jadi lakukan apapun sesuai nuranimu. Jangan kamu tahan, hem?" sarannya memberi intstruksi.
Naya mengangguk mantap menyetujui. Key kembali meraup bibir yang ternyata begitu lembut dan manis itu. Menyesapnya pelan, agar sang istri bisa menyeimbanginya. Dan benar saja, lambat laun Naya pun bisa mempelajari setiap perlakuan Key sesuai nuaraninya.
Hal itu mampu membuat Key semakin enggan melepaskan. Ia bergerak maju, mendorong pelan tubuh Naya, hingga keduanya terjatuh bersama di atas ranjang.
Brukkk!!!
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*