Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Bikin jantungan


__ADS_3

"Astaga!"


Ckittt!!!


Terlalu terkejut, membuat Key tidak sengaja menginjak pedal rem secara mendadak. Hingga mobil pun berhenti seketika. Sontak seseorang dari belakang hampir tersungkur kedepan, jika tidak berpegangan diantara kursi.


"Ya ampun!" pekiknya ikut kaget.


Key menoleh, tentu ia syok melihat Naya yang tiba-tiba saja berada di dalam mobilnya. Sejak kapan? Pikirnya.


"Lu? Lu ngapaim disini?" tanya Key dengan raut wajah masih syok.


Bukan menjawab, Naya justru menampilkan senyum yang teramat manis. Hal yang membuat Key terpaku, diiringi degup jantung yang semakin tak menentu. Untuk beberapa detik, suasana mendadak hening. Seolah memberi celah untuk Key menikmati setiap debaran jantungnya tersebut.


"A Key!" Naya melambaikan tangan, namun tidak ditanggapi pria yang masih mematung itu.


'Jantung gue. Perasaan apa sebenarnya ini? Apa iya, gue beneran suka sama ini anak? Tapi, apa bener selera gue udah berubah?' batin Key terus berperang mempertanyakan perasaannya sendiri.


Merasa aneh karena tidak ada tanggapan dari pria itu. Naya kembali memanggil seraya menggoyangkan bahu Key. Hingga akhirnya pria itu terlonjak dan memekik kaget.


"Astaga!"


Sontak Naya tertawa melihat ekspresi menggemaskan Key. Semakin wajah pria itu pucat, ternyata semakin menggemaskan dimata Naya. Dan benar saja, melihat senyum Naya, Key semakin terlihat pucat.


"Ya ampun! Kamu teh kenapa?" Naya mencubit kedua pipi Key dengan gemas. Key menjauhkan wajah melengos dengan napas terengah.


"Jangan ketawa. Lu nyeremin!"


"Isshh, kamu mah. Aku teh hanya gadis biasa. Bukan ririwa (setan). Kenapa atuh kamu teh takut sama aku?" kekeh Naya menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan pemikiran pria itu.


"Gue gak takut sama siapapun. Hanya saja, senyum lu keterlaluan. Bikin gue jantungan!" balas Key.


"Hah?!" Seketika Naya melongo, merasa salah mendengar ucapan Key yang kurang jelas ditelinganya. "Apa? Apa?"


Key yang tersadar akan apa yang barusan ia katakan, mendadak gelagapan. Bagaimana bisa ia nyablak berbicara seperti itu pada sang gadis? Bisa-bisa gadis itu ke ge-eran. Pikirnya.


"Nggak!" sangkalnya. "Senyum lu tuh, udah kayak kuntilanak," alibinya.

__ADS_1


"Ck! Enak aja. Senyum manis gini nih," sela Naya tak terima, seraya menampilkan senyumnya ke hadapan Key. "Masa disebut kuntilanak?"


"Ehem!" Key berdehem keras untuk menetralkan jantungnya, yang benar-benar seperti hendak copot dari tempatnya. Dalam hati ia terus bergumam menenangkan diri.


"Sebenarnya lu ngapain sih, mau ngikutin gue?" tanya Key, mengalihkan pembicaraan.


"Iya," balas Naya apa adanya.


Sontak Key menoleh menatap gadis itu. "Buat apa?" tanyanya.


Naya menghembuskan napas panjang. "Aku tau, kamu teh pasti akan pergi ketempat-tempat banyak minuman kayak gitu. Pulang-pulang mabok kayak malam kemarin, dan ujung-ujungnya masuk kamar aku lagi. Aku teh gak mau atuh kamu kayak gitu," jelas Naya panjang kali lebar.


Key terkekeh, hingga ia bisa menyimpulkan. Gadis itu sengaja mengikutinya dan hendak mecegahnya untuk masuk bar. Agar kejadian kemarin tidak terulang kembali. Cukup masuk akal. Tapi, apa boleh ia mabok saja, supaya bisa tidur kembali bersama sang gadis? Pikirnya.


"Astaga, dari mana coba lu bisa berpikiran gue kayak gitu?" tanya Key masih terkekeh. Setidaknya, penjelasan sang gadis sudah membuat jantungnya aman kembali.


"Ya, emang kamu teh kayak gitu 'kan? Si kang mabok, saat punya masalah," celetuk Naya. "Bukannya menyelesaikan, malah mabok-mabokan. Apa untungnya coba? Yang ada kamu teh malah gak sadarkan diri, organ tubuhmu rusak sama minuman, belum lagi dosa yang akan kamu tanggung. Kata pak Ustadz, ibadah kamu juga gak bakal diterima selama empat puluh tahun. Coba bayangin, kamu minum sekali, empat puluh tahun gak diterima ibadah. Dua kali udah delapan puluh tahun. Tiga kali, kalikan aja atulah sendiri. Dengernya aja aku mah ngeri," cerocos gadis itu membuat Key terdiam mencerna ceramahannya.


"Nah, kalo kamu mau nenangin diri. Aku punya tempat yang bagus," saran Naya.


Key menautkan alis seolah bertanya, kemana? Naya hanya tersenyum menanggapi. Tanpa ada drama lagi, akhirnya mobil pun melesat menuju tempat yang dimaksud sang gadis.


"Yuk!" ajak Naya melangkahkan kaki menuju bangunan megah dihadapannya.


Sementara Key tertegun, ia diam ditempat menatap bangunan yang terlihat begitu teduh itu. Sudah sekian lama, ia tidak pernah memijakkan kaki ditempat tersebut.


"Kenapa masih disitu atuh, hayuk masuk!" teriak Naya yang sudah menjauh. Key pun menurut dan berjalan mengikuti gadis itu, memasuki bangunan tersebut.


"Kamu mau jadi imam?" tanya Naya setelah selesai mengenakan mukena.


Sontak Key menoleh setelah mengenakan peci hitam dikepala. Tidak lupa sarung yang terlilit dipinggangnya, begitu tampan terlihat. "Apa gue bisa?" tanyanya tidak yakin.


"Tentu atuh. Seorang lelaki itu harus siap jadi imam. Yuk belajar!" balas Naya menyemangati.


Key tersenyum seraya menganggukkan kepala. Ia pun mulai siap-siap untuk menjalankan empat rakaat kewajibannya. Untuk pertama kali dalam hidup, ia menjadi seorang imam. Meski grogi, namun ada rasa tenang yang tidak dapat ia jabarkan.


Suasana Mesjid yang sudah sepi, membuat mereka hanya berdua melaksanakan Shalat berjamaah Isya di tempat itu.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, aktifitas mereka pun selesai. Kini sepasang manusia itu tengah duduk diatas hamparan hijau, disebuah taman yang tidak jauh dari mesjid tersebut. Menunggu nasi goreng pesanan keduanya, untuk menu makan malam mereka kali ini.


"Aku kira kamu teh masih harus belajar tata cara Shalat. Eh ternyata sudah khatam," celetuk Naya yang terdengar sebuah ledekan.


"Cih!" Key terkekeh menanggapi. "Gue emang sempet ngaji, dulu waktu SD. Cuma ...."


"Gak digunain," sela Naya ikut terkekeh.


Key tertawa dengan tangan mengusek pucuk kepala gadis itu. "Tuh lu tau," balas Key, membuat Naya ikut tertawa.


"Punya ilmu itu dimanfaatin, sayang atuh kalo diperam. Gak akan beranak juga," celetuk Naya. "Shalat itu menenangkan menurutku. Masalah apapun yang dihadapi terasa ringan dan mudah jalan keluar," lanjutnya.


"Cih! Udah kayak Ustadzah lu," ledek Key mengacak gemas rambut gadis itu.


"Ya ampun, jangan diacak atuh! Gak ada sisir ini," protes Naya. Namun, pria itu semakin gencar melakukan, membuat Naya menjerit meminta ampun. Sepasang manusia itu terus becanda, hingga nasi goreng pesenan mereka pun sampai.


"Kok, punya lu gak ada telornya?" tanya Key heran.


"Aku mah gak suka telor mata sapi. Tim orak arik aku mah," balas Naya.


"Udah bosen ya, tiap hari lihatin mata sapi," ledek Key hingga dapat tampolan dilengan dari Naya.


"Kapan-kapan boleh lah, kita main ke Desa lu," ucap Key seraya menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Ngapain atuh?" tanya Naya disela kunyahannya.


"Buat lihat kembaran lu, yang dikandang," ledek Key lagi.


"Ck! Enak aja," Lagi-lagi tampolan dilayangkan Naya pada lengan Key, hingga menimbulkan canda tawa lagi dari keduanya.


"Oh ya, lu tau dari mana Mesjid ini?" tanya Key.


"Dari artikel. Dulu waktu di Desa, aku teh pengen pisan (banget) masuk ke Mesjid ini. Menurutku Mesjid ini sangat cantik dan pasti menenangkan," jelas Naya.


"Dan sekarang aku teh seneng pisan, bisa berkunjung dan Shalat di Mesjid ini," lanjut Naya tersenyum, menatap Key. Hingga Key pun menghentikan suapannya saat ditatap seperti itu oleh sang gadis.


"Sama kamu."

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Awas yang mesem-mesem sendiri diatas kursi, awas ke jengkang🙈🤣🤣


__ADS_2