Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Ciuman pertama


__ADS_3

Flash back off~


Key mendengus kesal mendengar cerita sang Mama, yang sukses membuat ia ketar ketir seperti orang gila. Namun, dibalik itu terselip rasa bahagia. Saat mengingat kedua orang tuanya begitu bergerak cepat, selangkah lebih maju darinya.


"Makasih, Papa sama Mama udah bantu aku untuk menyadari perasaanku sendiri," ungkap Key menundukkan kepala.


"Apapun akan kami lakukan untukmu! Apa kamu lupa? Selama ini yang kami lakukan hanya untukmu, hem." ungkap Sena menepuk pundak sang putra dan dibalas senyum dan anggukan oleh Key.


Abi yang duduk disamping lain Key, ikut menepuk bahunya. "Sekarang, tau kan caranya menghargai dan melindungi seorang wanita? Serahkan sepenuhnya hatimu padanya. Maka kamu akan mendapatkan kebahagiaan itu!" nasehatnya.


Key tersenyum juga pada sang papa. "Iya, Pa!" satu keluarga itu pun kembali terasa hangat yang disertai senyum bahagia.


"Hayuk atuh, makan malamnya udah siap!" Suara Santi, mengalihkan atensi ketiganya. Mereka pun gegas bangkit untuk berlalu menuju ruang makan.


Terlihat dengan gesit, Naya tengah mempersipakan makan malam alakadar untuk mereka ke atas meja. Makanan yang selama ini tidak pernah dilihat Key dimana pun, di rumah apalagi di resto.


"Wah ini pasti enak banget. Sudah lama nih gak makan masakan kayak gini!" celetuk Sena.


Berbeda dengan Key, bukan makanan itu yang menjadi perhatiannya. Namun si penata makananlah yang tak lepas ia pandangi. Hingga tanpa sadar satu kata lolos begitu saja dari bibirnya. "Cantik!" gumamnya.


Sontak semua orang menatap pada Key. Naya yang menyadari pria itu memandangnya, hanya mampu menunduk malu. Menyembunyikan semburat merah di kedua pipinya. Sementara ketiga orang tua disana hanya terkekeh melihat Key yang begitu berbeda dari sebelumnya.


"Udah gak usah dilihatin terus, belum halal juga!" celetuk Sena meledek. Tentu hal itu membuat Key terlonjak dan tersadar. Ia berdehem merasa malu sang Mama begitu jujur dihadapan calon mertuanya.


Santi tertawa merasa lucu akan tingkah calon menantunya itu. Untuk mengalihkan kecanggungan, ia pun mengajak ketiga tamunya untuk segera makan karena waktu yang juga kian malam.


Untuk pertama kali, Key merasakan masakan Naya yang ternyata begitu menari di lidah. Ia tersenyum merasa bangga, gadis yang sudah resmi menjadi calon istrinya itu ternyata begitu pintar dalam berbagai hal. Bahkan, Sena terang-terangan terus memuji ke ahlian Naya tersebut. Meski hanya menggunakan bahan yang ada. Namun, soal rasa, dapat disejajarkan dengan chef di restoran berbintang.


"Oh ya, Nay. Maaf ya, Mama belum sempat beliin kamu cincin. Harusnya 'kan lamaran tuh, ada cincin sebagai pengikat," sesal Sena yang tak segan lagi menyebutkan dirinya Mama, berharap Naya bisa memanggilnya demikian seperti yang dilakukan Key.


"Gak apa-apa kok, Bu!"

__ADS_1


"Kok, Ibu sih. Mama dong!" bujuk Sena.


Naya tersenyum malu. "I-iya, maksudnya, Ma!" ulang Naya ragu. Namun, berhasil membuat Sena tersenyum. "Itu mah bukan hal penting kok, buat Nay," lanjutnya.


"Siapa bilang?" sela Key. "Tentu aja cincin tuh penting. Kalo kita pakai cincin yang sama, biar seluruh dunia tau. Kalo kamu hanya milikku!" jelasnya.


Blush!


Lagi-lagi semburat merah kembali nampak di kedua pipi Naya. Hanya karena mengganti panggilan 'gue-lu' berubah menjadi 'aku-kamu' saja sudah membuat gadis itu bahagia dan di spesialkan. Apalagi dengan mengklaim kepemilikan. Sungguh membuat gadis itu terbang melayang.


Ketiga orang tua itu hanya terkekeh dengan kelakuan Key yang terkesan nyablak. Membiarkan kebucinan Key tumbuh dan mungkin sebentar lagi akan berkembang biak.


"Ya udah, nanti kalian cari bareng!" titah Sena dan diangguki pasangan yang tengah di mabuk asmara itu.


Setelah menyelesaikan acara makan malam mereka, Sena dan Abi berniat untuk pulang ke rumah sang mama. Namun, karena waktu semakin malam dan ternyata rumah sang mama berada di Desa sebelah, terpaksa mereka pun menginap di rumah Naya. Tentu saja hal itu tidak berlaku untuk Key. Pria itu terlihat bahagia tanpa paksaan menginap dirumah calon istrinya.


"Maaf ya, disini kamarnya teh kecil-kecil," sesal Santi merasa sungkan.


"Gak apa-apa, ini nyaman kok," balas Sena.


"Kalo A Key perlu sesuatu, panggil aja!" pinta Naya sedikit canggung menundukkan pandangannya. Ia masih tidak sanggup untuk menatap mata pria itu.


"Tunggu!" cegat Key mencekal tangan sang gadis, hingga tanpa sadar gadis itu mendongak.


Key tersenyum, karena akhirnya gadis itu mau menatapnya. "Makasih! Udah mau menatapku lagi," ucapnya. Sontak Naya yang tersadar kembali hendak menundukan pandangan. Namun, ia harus menghentikan gerakannya saat Key kembali mencegatnya.


"Jangan menunduk! Jangan pernah alihkan pandanganmu saat bersamaku!" larangnya.


"Tapi, aku-" Suara Naya terhenti saat Key menarik dagu gadis itu.


"Kayak gini. Tataplah aku kayak gini!" titah Key tersenyum.

__ADS_1


Meski masih malu-malu. Namun, akhirnya Naya tersenyum dan mempertahankan pandangannya untuk menatap kekasihnya itu. Tangan Key pun beralih mengusek pucuk kepala Naya dengan gemas.


"Good night, nice dream Honey!" ucap Key tersenyum manis.


"Apa sih gombal?" Naya menundukan kepala lagi merasa malu, ia sampai menggigit bibir bawahnya gemas.


"Kok gombal? Jawab apa, hem?" goda Key.


"Apaan?" cicit Naya malu. "Udah ah!" Ia hendak pergi, namun tangannya sama sekali tidak dilepaskan Key.


"Jawab dulu!" desak Key.


"Selamat malam," cicit Naya lagi nyaris tak terdengar.


"Apa? Gak ke dengeran?"


"Selamat malam," Lagi, suara Naya sedikit agak kencang.


Seolah tuli, Key kembali bertanya menggodnya. "Apa-apa?"


Tau dirinya di permainkan. Naya pun mendongak dan kembali mengucapkan selamat malam dengan tegas.


Cup!


Naya membelakak kaget dan terpaku mendapat satu kecupan dalam dari Key. Keadaan mendadak hening. Naya, tidak dapat berkutik sama sekali. Wajahnya memucat mendapat ciuman pertama dari seorang pria, meski hanya diatas kening.


"Selamat malam!" final Key tersenyum manis seraya mrengusek pucuk kepala sang gadis.


Naya tersadar dan tanpa pamit segera berlalu menuju kamar sang ibu. Mendekap dadanya, takut-takut jantungnya keluar dari tempat. Ia mengibas-ibaskan tangan, saat tiba-tiba saja hawa begitu panas di sekitarnya. "Ya ampun gusti, hareudang (gerah) nya," gumamnya disertai senyuman tak karuan. Tak ingin membangunkan sang ibu, karena keheboahnnya. Segera ia mendaratkan tubuh di samping sang ibu yang sudah terlelap.


Tidak tau saja Naya, jika sebenarnya Key sering melakukan itu saat ia terlelap. Bahkan, hampir mengecup bibir yang sering sekali gagal karena keadaan. Kini pria itu merasa bahagia dan lega. Akhirnya ia bisa mengklaim sang gadis menjadi miliknya.

__ADS_1


"Akhirnya, selangkah lagi. Dan kamu benar-benar akan menjadi milikku, Nay!"


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2