Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Lamaran


__ADS_3

Seketika Key syok, hingga kalimatnya tercekat di tenggorokan. Mendapati pemandangan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.


"Papa? Mama?! Kalian?"


Ketiga penghuni diruangan itu tersenyum hangat menyambut Key yang nampak terpaku di ambang pintu. Masih belum bisa mencerna apa yang tengah terjadi. Hingga suara seseorang mengalihkan atensinya.


"A Key?!" cicit Naya yang baru keluar dari arah dapur.


Key bergegas cepat mendekati Naya, lalu tanpa aba-aba mendekap erat tubuh ramping gadis itu. Menyembunyikan bulir hangat yang tiba-riba saja keluar dari sudut matanya di bahu sang gadis. Ia bahkan melupakan ketiga orang yang kini menonton adegan tersebut dari sofa.


"Berhenti buat gue khawatir. Gue bener-bener takut kehilangan lu!" lirihnya.


Naya terpaku mendengar ungkapan Key. Ia tidak menyangka, pria itu bisa mengucapkan hal tersebut. Hatinya bergetar dan menghangat, hingga tanpa sadar ia hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Namun, atensi gadis itu tertuju pada ketiga orang tua yang menatap dan tersenyum melihat adegan mereka.


"A-A Key!" panggil Naya menepuk pelan punggung pria itu. Jujur ia sangat malu ditonton demikian.


"Gue gak akan pernah lepasin lu! Kalo pun ada yang berani melamar lu, jangan pernah terima siapapun itu, kecuali gue!" tegas Key, yang masih enggan melepas dekapannya.


"Ta-tapi. Tapi aku udah ...." Naya tergugup menggantungkan kalimatnya.


Sontak Key melepaskan dekapan dan menatap menyelidik pada sang gadis seraya memegang kedua bahunya. "Udah?" tanya Key memastikan.


Naya menundukkan kepala karena terlalu malu. "Menerima lamaran," cicitnya.


"Apa? Menerima lamaran? Lamaran siapa yang lu terima?" pekik Key tak terima.


"Papa!"


Suara datar seseorang, seketika membuat Key memutar kepala menatap tak percaya pria dibelakang yang tak lain adalah Papanya sendiri.


"Pa-Papa ngelamar Naya? Buat apa Papa ngelamar Naya?" tanya Key tak terima. Sontak ketiga orang disofa menautkan alis bingung dengan pertanyaan Key.


"Ya tentu aja, buat-" belum selesai ucapan Sena, Key sudah menyelaknya.

__ADS_1


"Buat jadi madu Papa, gitu?" selak Key, hingga sukses membuat mereka melongo. "Enak aja! Nggak ada, nggak bisa! Lagian belum cukup apa Mama buat Papa, hah?!" jelasnya nyerocos tak jelas.


Sontak ocehan Key membuat kedua wanita di sofa tergelak. Sang papa sendiri terkekeh seraya menggelengkan kepala. Sementara Naya sendiri hanya melipat bibir menahan tawa. Melihat semua orang menertawakannya, tentu membuat Key kebingungan.


Abi yang tengah bersandar, menegakkan diri dengan tatapan serius ke arah Key. "Kamu mau apa? Mau menentang?" tanyanya. Kedua wanita itu menghentikan tawa, membiarkan Key berpikir logis.


"Ya iyalah. Bandot kayak Papa, seenak jidat memilih anak gadis. Gak inget umur!" kesal Key.


"Terus kamu mau apa, kalo Papa lamar Naya buat jadi calon mantu Papa? Hem?" tanya Abi sekali lagi.


"Ya, aku bakal ...." Key menggantungkan kalimatnya, saat sadar dan mencerna ucapan sang Papa. Apa? Calon mantu?


Pria itu menatap satu persatu orang disana yang tengah menahan senyum dan tentu menertawakannya.


"Oh, astaga!" Key mengusap wajahnya kasar. Lalu, berkacak pinggang dengan lengkung bibir yang tiba-tiba saja terbit. "Ini beneran?" tanyanya memastikan dan diangguki mantap oleh sang Papa.


Key tertawa kecil merasa tak percaya. Kakinya bergerak tak karuan, menahan gejolak bahagia yang ia rasakan. "Ya Tuhan! Ini, ini beneran, Nay?" tanyanya lagi memastikan pada Naya. Gadis itu hanya mengangguk dan tertunduk malu.


Key tidak sanggup mengungkapkan kata apapun lagi. Namun dari gerak-geriknya, semua orang tau jika pria itu begitu bahagia. Bahkan, tingkahnya begitu lucu menurut mereka. Key yang tak kuasa membendung kebahagiaan segera berhambur memeluk kembali gadis dihadapannya itu. Meski mendapat peringatan dari sang mama ia tidak peduli sama sekali.


Ia tidak peduli jika harus mendapat ledekan kedua orang tuanya atau siapapun itu. Yang jelas hatinya semakin terasa lega, setelah mengungkapkan apa yang selama ini mengganjal di hatinya.


Naya yang mendapat pernyataan cinta itu pun, tersipu bahagia. Tanpa sadar ia pun membalas memeluk Key. "Nay juga, A!" ungkapnya.


Setelah mendapat beberapa pencerahan dari Ara dan Cheryl. Ia tersadar, jika perasaannya terhadap Key juga seperti yang pria itu rasakan. Hari-hari yang mereka lewati bersama, membuat Naya mengerti apa itu arti kebersamaan. Perhatian, pengertian, dan rasa saling percaya satu sama lain, menguatkan ikatan meski tanpa sebuah status di antara mereka.


**


Flash back on~


Selesai melaksanakan tiga rakaat kewajibannya, Santi masih termenung diatas hamparan sajadah. Memikirkan sang putri yang harus menikah dengan putra dari lintah darat, tentu membuat hati ibu manapun tak terima. Hingga ia terus memutar otak untuk mencari jalan keluarnya.


"Apa aku teh minta bantuan Bu Sena lagi, aja ya?" tanyanya bermonolog sendiri. "Tapi ... Hutangku yang kemarin teh juga belum lunas. Kumaha atuh nya (bagaimana ya)?"

__ADS_1


"Tapi ... Kumaha deui atuh lamun (bagaimana lagi kalo) si Neng jadi nikah sama si Juned? Teu rela oge (gak rela juga)."


Wanita itu nampak terus berpikir, untuk mencari solusi yang terbaik. Hingga tiba-tiba saja terdengar suara panggilan masuk. Ia pun bangkit dari posisi, untuk melihat siapa yang menghubunginya.


"Bu Sena?" gumamnya. Segera ia mengangkat panggilan tersebut, seraya mendaratkan bokong di tepi ranjang.


"Iya, Bu. Walaikumsalam."


"Baik, Alhmdulillah. Ibu sendiri gimana atuh?"


Keduanya nampak bercengkrama saling menanyakan kabar satu sama lain. Tidak lupa, Santi juga berterima kasih karena Sena sudah merawat putrinya selama dikota.


"Rencananya, aku sama Abi mau jenguk kamu sore ini. Eh, kita malah pulang kesorean," sesal Sena. Ia yang baru pulang dari rumah sepupunya Aska dan Vanilla, harus mengurublngkan niat untuk menjenguk temannya itu.


"Gak apa-apa atuh, Bu. Gak usah repot-repot. Perjalanan dari luar kota 'kan jauh. Ibu pasti capek, jadi gak usah maksain atuh nya!" balas Santi memberi pengertian.


Sena terdengar tertawa kecil dari sebrang telepon. Sementara Santi, masih bingung harus meminta bantuan wanita itu lagi, apa tidak? Uang yang hendak ia pinjam, bukanlah nominal yang sedikit. Apa Sena bakalan bersedia membantunya?


"Hallo, San. Kamu masih disana?" panggilan Sena sontak membuat Santi tersadar dan segera membalasnya.


"Kamu kenapa? Apa ada masalah? Dari tadi cuma aku doang yang nyerocos, mau cerita sama aku?" cecar Sena dengan berbagai pertanyaan.


"Itu, anu ...." Santi nampak ragu untuk menjawab. Ia masih menimang akan keputusannya.


"Ayolah cerita! Gak apa-apa, siapa tau aku bisa membantu?" bujuk Sena.


Santi menarik dan menghembuskan napas dalam, sepertinya ia tau apa yang harus ia lakukan. Ia pun mulai menceritakan duduk permasalahan yang kini menimpanya. Ia sudah kehabisan akal untuk bercerita dan meminta bantuan kepada siapa lagi, selain pada wanita itu.


"What? Jadi, Naya akan dinikahi anak juragan itu, jika uangnya malam ini gak ada?" tanya Sena syok dan diiyakan Santi.


"Gak bisa dibiarin. Kamu tenang aja, aku akan transfer uangnya sekarang juga! Jangan sampai sesuatu terjadi pada Naya!" tegas Sena dan diiyakan Santi dengan berulang kali mengucapkan banyak terima kasih.


"Pokoknya aku gak akan biarin, calon menantuku, dinikahi orang lain!"

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2