
Hembusan angin membawa satu tetes cairan bening yang terjatuh dari salah satu ujung mata seorang pria yang kini berdiri didepan pagar balkon. Dekapan hangat dirasakan pria berusia empat puluh tiga tahun itu dari belakang. Senyum kecil ditampilkannya saat tau tangan siapa itu.
"Aku pengen lihat senyum kamu," ucap seorang wanita dari balik tubuh tegap itu.
Pria itu mengembangkan senyumnya. Lalu, berbalik untuk melihat wajah cantik yang tidak lain adalah sang istri. "Apapun yang kamu minta," balasnya.
Sena, wanita tersebut mengembangkan senyum dam segera memeluk tubuh Abi, suaminya. "Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri! Key hanya butuh waktu untuk memahami semuanya," Lagi-lagi kalimat itu yang selalu dilontarkan Sena pada Abi.
"Aku tau," balas Abi singkat.
"Aku hanya tengah memahami waktu, dimana kalimatku akan berharga dan berguna untuk putraku."
Sena meneteskan air mata, mendengar kalimat Abi yang penuh dengan berbagai makna. "Kamu terbaik, Bi. Kamu terbaik," ungkapnya mengeratkan pelukan.
Dibalik tembok, Key mendengar semua ungkapan kedua orang tuanya. Bukan tidak ingin memaafkan sang Papa, namun ia butuh waktu untuk memulai semuanya dari awal. Ego yang tertanam diantara keduanya belum bisa hancur, masih saja kerasa seperti bongkahan karang yang sulit terkikis oleh sang ombak.
**
Sementara itu ditempat lain, tepatnya disebuah kafe. Naya tengah sibuk bersama teman satu kelompoknya yang terdiri dari empat orang. Ia dan Daniel bersama kedua teman perempuannya yang lain, tengah bertukar pendapat tentang projek tugas yang mereka kerjakan.
Nampak Naya begitu serius berkutat dengan laptop pemberian Key waktu itu. Hingga ia tidak menyadari, diam-diam Daniel mencuri pandang memperhatikannya.
"Gimana kalo seperti ini?" tanya Naya.
Seketika kedua perempuan disamping gadis itu mendekat untuk melihat rancangan yang dibuat oleh Naya, sementara Daniel tidak bergerak dari tempatnya. Sontak Naya pun menoleh melihat kearah Daniel.
"Niel? Daniel?" panggil Naya menggeplak pelan tangan pria itu.
"Ah, iya?" tanyanya gelagapan.
"Kamu melamun?" tanya Naya heran.
"Ah, itu ..." Daniel tersenyum kikuk, bingung harus menjelaskan seperti apa.
"Dari tadi dia melamun terus tuh Nay," sambar Lala meledek.
"Lebih tepatnya, melamun perhatiin kamu terus," sambung Yesi, hingga kedua gadis itu terkekeh.
Naya menaikan sebelah alisnya, seolah bertanya iya kah? Tentu saja ia tidak percaya, dan tidak ingin berpikir lebih. Hingga ia ikut terkekeh.
"Apaan? Nggak, tadi tuh aku juga lagi mikir, iya," sangkal Daniel dengan wajah sudah memerah menahan malu.
__ADS_1
Naya hanya menggelengkan kepala, segera gadis itu mengalihkan perhatian pada laptop di hadapannya untuk kembali pada pekerjaan mereka. Kedua gadis lainnya pun ikut kembali serius. Begitupun Daniel, meski gugup ia berusaha sebiasa mungkin kembali fokus.
'Entah kenapa? Melihatmu serius, mengalihkan keseriusanku,' batin Daniel menatap sejenak gadis disampingnya. Hingga tatapan Daniel kembali ke layar dihadapannya, saat Naya melihat ke arahnya.
Ternyata interaksi tersebut diketahui seseorang di balik sofa yang membelakangi mereka. Seorang pria berkacamata hitam dengan topi, bermaksud agar tidak dapat dikenali. Sudah seperti seorang idol yang takut dikejar para penggemar, seperti itulah yang dilakukan Key sekarang.
Pria itu segera pergi setelah mendapat ceramah berupa ledekan dari seluruh keluarganya. Ia enggan menanggapi dan memilih menghindar. Fokusnya hanya tertuju pada gadis yang membuat ia kelabakan dan tak tenang selama dirumah oma Siska.
Dengan bantuan sang mama ia dapat mengetahui keberadaan Naya, hingga sampailah ia disini sekarang. Celingukan seperti penguntit, memperhatikan empat remaja tersebut.
"Pokoknya gue gak boleh lengah. Mana tuh anak udah berani curi-curi pandang segala lagi, gak bisa dibiarin," gumamnya.
"Kak, minumannya," ucap salah seorang waiters dan hanya ditanggapi deheman pria itu.
"Emm, Kak. Kakak artis ya?" tanya waiters yang ternyata seorang perempuan itu.
"Bukan," balas Key singkat. Ia tidak menoleh sama sekali, dan tetap sibuk memperhatikan ke arah belakangnya.
"Boleh minta foto bersama?" tanyanya lagi.
Sontak Key menoleh merasa kesal dengan seseorang yang sudah mengganggu konsentrasinya. "Gue 'kan udah bilang. Gue bukan artis," kesalnya sedikit membentak.
"Maaf, Kak Key. Aku cuma minta foto bareng," cicit gadis itu ketakutan.
Key menghembuskan napas kasar. Inilah yang tidak ia harapkam, bertemu salah satu fansnya disana. "Udahlah lupain, sekarang gue lagi pensiun jadi cowok keren. Mending lu pergi, jangan gangu gue!" usirnya dan kembali berbalik untuk melihat situasi.
"Tapi ...."
"Ah, tuh 'kan? Gue kehilangan mereka. Pada kemana lagi?" Key bangkit dari duduknya dan celingukan mencari keempat orang yang sudah hilang dari kursi mereka.
Key meraih dompet, mengambil uang kertas pecahan seratus ribu dan menyimpannya diatas meja.
"Tapi, Kak. Ini belum diminum, terus kembaliannya-"
"Berisik lu! Buat lu aja," tanpa menghiraukan gadis itu, Key berlalu meninggalkan sang gadis dengan kebingungannya. Namun, melihat uang dan minuman yang masih utuh itu, membuat sang gadis teramat senang.
"Gak dapat foto, setidaknya dapat duitnya," ucapnya senang.
Key keluar dengan napas sedikit terengah. Segera ia membalikan tubuh dan bersembunyi dibalik tanaman, mengitip keempat orang yang ternyata masih megobrol tidak jauh ditempat ia berdiri.
"Kita mau kemana dulu, nih?" tanya Lala.
__ADS_1
"Gimana kalo kita nonton? Aku traktir deh," saran Daniel.
"Boleh tuh, yuk dah!" ajak Yesi. Gadis itu begitu bersemangat menggandeng kedua teman perempuannya. Daniel pun hanya mengekori ketiganya dari belakang.
Begitupun Key, dari jarak yang cukup jauh, ia mengekori mereka menuju bioskop di pusat perbelanjaan tersebut.
Key memilih kursi sedikit jauh dibelakang mereka. Terlihat Naya duduk berdampingan dengan pria itu. "Cih, kenapa juga harus sedekat itu?" kesal Key. "Dasar cari kesempatan dalam kesempitan. Awas aja kalo sampai macam-macam, gue kick!" gerutunya.
Film pun dimulai, romance teen yang begitu membosankan menurut Key. Namun, ia tetap tidak boleh lengah dan tetap waspada memperhatikan gadis itu. Tidak ada hal mencurigakan diantara Naya dengan pria itu. Hingga film pun selesai dan mereka pun keluar dari bioskop.
'Kok, aku kayak lihat A Key, ya?' batin Naya bertanya saat atensinya tidak sengaja menangkap sosok pria yang ia yakini itu Key.
"Kenapa, Nay?" tanya Daniel.
"Ah, nggak!" balas Naya mengelak, disertai senyumnya.
Sementara itu Key menghembuskan napas panjang saat yakin Naya tidak dapat melihatnya. Namun, sapaan seseorang membuat ia terlonjak. Seorang wanita menghampiri dengan wajah sumringah.
"Key!"
Pria itu memutar bola mata malas melihat salah satu mantannya disana. Tidak ingin menghiraukan wanita tersebut, Key segera berlenggang. Namun, pergerakannya terhenti oleh wanita itu.
"Tunggu, Key! Kamu mau kemana?" cegatnya.
"Ck! Lepasin!" kesal Key menepis tangan gadis itu. "Gue 'kan udah bilang, berhenti ngikutin gue. Jangan pernah lu ganggu gue lagi," lanjutnya.
"Kamu kok jahat banget sih, Key," cicitnya dengan air mata yang sudah menggenang dikedua pelupuk matanya.
"Gue emang kayak gini, kenapa lu gak suka? Ya udah gak usah kejar gue lagi!" final Key.
"Beraninya anda membentak, Nona kami?" Dua orang bertubuh kekar menghampiri.
Sontak Key membelakak kaget menatap mereka. Dua bodyguard wanita itu memberi tatapan membunuh padanya. 'Mampus gue!' batinnya.
Key menampilkan senyum tipis pada kedua pria itu. Lalu, tanpa kata ia segera berlenggang menjauh.
"Eh, anda mau kemana? Berhenti!" peringat salah satu dari mereka.
Bukan berhenti, Key justru semakin cepat hingga berlari saat kedua pria itu mengikuti dan mengejarnya. Aksi kejar-kejaran pun dilakukan Key dan dua pria tersebut. Hingga ....
Grepp!!!
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*