
Naya telah selesai dengan kegiatannya, ia bangkit dan menoleh. Betapa terkejutnya gadis itu saat mengetahui Key belum juga pergi dari kamarnya.
"Astagfirulloh!"
Lagi-lagi untuk kesekian kalinya di pagi ini, ia dihadapkan dengan berbagai hal yang membuatnya senam jantung berulang kali.
Key yang tersadar, segera berpamitan. "Emm, sorry, gue pergi!" ucapnya gelagapan. Kemudian berlalu dari sana.
"Ya ampun gusti! Ini lama-lama jantung bisa copot atuh," ucap Naya mengusap dada seraya mengatur napasnya.
**
Hening!
Tidak ada yang bersuara didalam mobil yang tengah melaju menuju kampus. Kedua manusia penghuni sang kijang besi, masih terlihat canggung satu sama lain. Naya bingung harus memulai obrolan dari mana, haruskah ia bertanya akan kejadian semalam?
Sementara Key, masih terus berperang dengan pikirannya tentang perasaan aneh mengenai Naya. Egonya terus menyangkal jika ia menyukai gadis itu. Namun, jantungnya berkata lain saat berada didekat sang gadis.
"Ehem!" Naya berdehem, hingga mengalihkan atensi Key.
"Semalam kenapa atuh kamu bisa tidur dikamar aku?" tanya Naya memberanikan diri. Jujur ia masih kesal saat sadar pria itu berada disampingnya.
Key menoleh dengan tatapan tak percaya, mendengar pertanyaan yang terdengar meninterogasi itu. "Cih! Kamar lu. Itu rumah gue, bebaslah gue mau tidur dimana aja," balasnya kesal.
Naya mendengus kesal, ia akui itu memang rumah Key. Namun, tidak seharusnya pria itu bisa sesuka hati. "Kalo gitu teh, aku akan meminta bu Sena aja buat biarin aku nge kost, biar gak ada yang seenaknya," sindirnya.
Tentu penuturan itu membuat pria itu kian kesal. Ia menginjak pedal rem mendadak membuat Naya tersungkur, hingga jidatnya mencium dashbor.
"Awww!!" pekik Naya meringis mengusap jidatnya. "Kamu teh kunaha (kenapa)? Kalo kita celaka kumaha (bagaimana)?" kesalnya.
"Kenapa? Bukannya lu bisa sekalian laporin hal ini sama nyokap gue. Sempurna banget 'kan gue jadi pria paling brengs*k?" tanya Key dengan tatapan tajam dan penuh penekanan. Naya terdiam mencerna ucapan key dengan tatapan itu.
"Iya, gue emang brengs*k," lanjut Key mengalihkan tatapan ke depan. Lalu, kembali melajukan mobilnya. "Sampai gak bisa ninggalin manusia tertidur di dalam mobil."
__ADS_1
Naya kembali tertunduk, merasa tersentil dengan ucapan Key. Benar, seharusnya ia tidak berpikiran negatif dulu akan pria itu. Ia harusnya sadar, tidak akan mungkin sampai di atas kasur jika tanpa bantuan Key. Sebelum marah, bukankah ada baiknya bertanya bagaimana bisa ia sampai di kamar?
"Maaf!" cicit Naya.
Key tidak menjawab, ia cukup kesal akan tingkah gadis itu. Bukan salahnya jika ia sampai tertidur di kamar sang gadis karena kelelahan, setelah menggendong tubuhnya yang cukup berat. Tapi, apa yang ia dapat sekarang? Ia hanya dipandang dari sisi negatif saja.
Keadaan kembali hening didalam kijang besi itu. Naya tampak takut dan tak enak hati pada pria disampingnya. Ia hanya mampu tertunduk memainkan kedua tangannya. Bahkan rasa sakit dikeningnya tidak ia rasa sama sekali. Tak berselang lama, mobil pun sampai diparkiran kampus.
Key keluar terlebih dahulu tanpa suara. Naya hanya mampu menghembuskan napas berat Mungkin ia pantas mendapat perlakuan seperti itu. Ia ikut turun dari mobil, namun hal tak terduga tiba-tiba terjadi.
Key menggenggam sebelah tangan Naya dan menggandengnya, sedikit menyeret gadis itu untuk berjalan. Naya tidak bisa menolak dan hanya pasrah mengikuti langkah jangkung Key yang masih berwajah datar. Pria itu berjalan melewati para gadis pemujanya, tanpa menyapa atau menerima sapaan para gadis itu. Para gadis pun merasa aneh melihat Key yang tiba-tiba dingin pada mereka. Naya yang mengerti, hanya menggelengkan kepala sebagai kode, jika Key sedang tidak baik-baik saja.
Key membawa Naya menuju kantin. Pria itu mengambil es batu dari lemari pendingin dengan tangan tak lepas menggandeng sang gadis. Naya yang kebingungan tidak berani bertanya, dan hanya mengikuti setiap pergerakan pria itu.
"Duduk!" titahnya.
Naya mengangguk dan menuruti perintah Key. Ia mendudukan diri dengan wajah menunduk disamping Key, meski belum mengerti apa yang akan dilakukan pria itu ia hanya pasrah mengikuti intruksi.
Rasa dingin yang menjalar, membuat gadis itu mendongak. Ia terkejut sekaligus tidak mengira, es batu yang diambil Key untuk mengompres keningnya.
Deg! Deg!
Naya merasa ada debaran aneh didada saat menatap Key yang begitu serius merawat dirinya. Ia tidak dapat menampik, wajah Key memang nyaris sempurna. Hingga tidak terlihat sedikitpun cacat di wajahnya. Sangat pantas, jika semua gadis begitu memuja pria hidapannya itu.
"Kenapa? Baru sadar kalo gue ganteng?" tanya Key yang terdengar sebuah ledekan.
Blush!
Naya berdehem dan kembali menunduk, dengan wajah memanas. Pertanyaan Key, sungguh membuat ia malu sudah ketahuan memperhatikan pria itu.
Key yang melihat semburat merah dipipi sang gadis menarik satu sudut bibirnya. Ia memang kesal pada Naya, namun ada rasa bersalah juga sudah membuat gadis itu terluka.
"Maafin gue! Gue gak sengaja buat jidat lu benjol gini," ucap Key. Pria itu terkekehan dan sedikit menekan benjolan tersebut di akhir kalimatnya.
__ADS_1
"Aww, aww!! Sakit atuh A," keluh Naya mengusap keningnya.
Bukan iba, Key justru semakin terkekeh melihat ekspresi sang gadis yang menggemaskan menurutnya. "Makanya, gak usah ngeselin," ledeknya.
Naya mencebikan bibir seraya menghadang tangan Key agar tidak menyentuh keningnya lagi. "Iya atuh punten, maafin aku!" sesalnya.
Key hanya menghembuskan napas panjang. "Lu pantes sih berpikiran negatif tentang gue. Gue 'kan emang brengs*k!" ucapnya tersenyum kecut.
Naya mendongak dan melihat wajah sendu pria itu. Entah kenapa, seperti ada sesuatu yang belum ia ketahui betul tentang pria itu. Apalagi menyinggung orang tua yang sepertinya membuat Key begitu marah. Mungkin nanti ia harus menanyakan hal itu pada Mbak Ati atau bi Tarsih. Yang jelas ia harus menghibur pria itu terlebih dahulu.
"Isshh, jangan gitu atuh! A Key baik, kok. Kalo nggak, mana mungkin mau bawa aku sampai kamar 'kan? Makasih ya, A. Hatur nuhun," Niat ingin menghibur, Naya justru mengucapkan hal tulus dari hati.
"Cih!" Key berdecih, namun dengan hati yang menghangat.
Naya tersenyum melihat ekspresi Key yang sudah kembali seperti semula. Sementara Key, terus mengalihkan pandangan untuk menetralkan jantungnya yang kembali berdegup tak menentu melihat senyum manis sang gadis.
'Sialan! Kenapa lagi nih jantung gue?' batinnya merutuki.
"Oh iya, kalo boleh tau. Gimana atuh caranya aku bisa sampai dikamar? Apa aku digendong?" tanya Naya penasaran.
"Nggak!" balas Key singkat.
"Terus?" tanya Naya menautkan alis heran. Jika tidak digendong, lalu dengan cara apa?
"Gue seret!" celetuk Key sekenanya.
Naya berdecak, "ck! Dikira aku teh karung beras apa? Pake diseret," gerutunya dengan bibir komat kamit gak jelas.
Key terkekeh. Padahal sudah jelas pastinya gadis itu di gendong. Mana mungkin juga ia berani menyeret. Baru diseret keluar mobil saja mungkin sudah terbangun.
'Entah kenapa gue lebih suka lihat lu menggerutu seperti itu? Menggemaskan!'
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1