Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Terlalu unik


__ADS_3

Naya yang melihat tatapan mengerikan dari Key, segera meraih lengan pria itu. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada teman barunya karena perlaukan Key.


"Ah iya, kita teh harus cepet pulang!" ucap Naya mengalihkan atensi mereka.


"Daniel, kita pulang duluan, ya! Makasih buat tawarannya," pamit Naya, segera ia menggandeng Key dan menyeret pria itu pergi.


Daniel menatap tangan Naya yang menyeret lengan pria itu. Entah kenapa ada rasa kurang nyaman, saat gadis itu lebih memilih pulang bersama pria lain dibanding dirinya. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa saat mengingat kembali ucapan pria itu.


"Sebenarnya siapa dia? Apa mereka memiliki hubungan?"


**


Naya menerobos melewati koridor tanpa memedulikan tatapan orang-orang. Saat ini tujuannya hanya satu, ingin segera sampai di parkiran. Sementara Key yang baru tersadar jika Naya menggandengnya tersenyum menang. Ia tau dirinya tidak akan kalah saing sama siapapun.


"Kamu teh kenapa atuh bersikap kayak gitu sama Daniel?" tanya Naya melepaskan lengan Key, saat mereka sudah sampai di depan mobil.


"Kenapa? Emang gue lakuin apa?" Bukan menjawab Key justru balik bertanya tanpa dosa.


Naya menghembuskan napas kasar. "Ya, kamu kenapa? Nakut-nakutin orang," tanyanya masih mencoba setenang mungkin.


"Emang gue nakutin? Gue cuma meringatin dia," balas Key masih merasa tak bersalah.


"Ck! Susah ngomong sama kamu mah," kesal Naya berlalu memasuki mobil. "Teu ngarasa, sakitu mata jiga jurig (Gak merasa, padahal mata sudah seperti setan)," gerutunya.


Key yang tentu tidak mengerti bahasa gadis itu, hanya mengerutkan dahi. Namun, dari ekspresinya ia dapat menebak, jika sang gadis tengah mendumel. Bahkan mungkin merutukinya.


"Eh bentar dulu! Lu ngomong apaan?" tanya Key, ikut memasuki mobil mendudukan diri dibalik kemudi.


Naya cuma melirik sekilas, lalu menghembuskan napas panjang. "Nggak!" balasnya singkat.


"Lu gak usah bohongi gue, gue tau lu lagi ngedumel. Kenapa? Lu belain dia?" cecar Key.


Seketika Naya menghadapkan diri ke arah Key dengan wajah serius. "Ya, aku mendumel. Aku kesel sama sikap kamu yang semena-mena itu. Pertanyaannya, kenapa kamu teh kayak gitu sama temen aku? Salah dia teh apa?"


"Itu ... Euu ...." Key terdiam sejenak, bingung harus memberi alasan apa. Bahkan dia sendiri tidak tau kenapa bisa melakukan itu. Naya menautkan alisnya meminta jawaban.


'Ck! Sial! Bener juga, ngapain gue kayak gitu?' batinnya merutuki.

__ADS_1


"Ehem! Ya, itu karena gue khawatir. Lu inget 'kan, nyokap gue pernah bilang apa? Gue harus jagain lu. Apalagi dia 'kan orang baru, lu harus lebih hati-hati sama orang baru," jelas Key yang terdengar masuk akal.


Naya memicing merasa kurang puas akan jawaban pria buaya itu. Cuma karena khawatir? Benarkah? Tentu itu bukan jawaban yang akan di ucapkan pria penuh tipu muslihat seperti Key, pastinya ada alasan lain.


Key yang mengerti tatapan gadis itu kembali memutar otak mencari alasan. Ia tidak ingin gadis itu mengetahui jika dirinya merasa kesal melihat sang gadis dengan pria lain.


"Ck! Kalo gue gak bisa jagain lu, gue bisa di deportasi ke Desa lu dan disuruh ngurus sapi-sapi lu. Ogah banget gue," Untung saja masih ada alasan lain untuk meyakinkan gadis itu.


Sontak saja Naya tergelak mendengar penjelasan Key. Membayangkan pria itu harus mengurus sapi-sapi, entah mengapa terasa ada yang menggelitik diperutnya. Ia bahkan melupakan kekesalannya barusan, karena penjelasn itu. Sementata Key justru terdiam melihat lengkung tawa dari bibir sang gadis. Hal yang membuat kondisi jantungnya berdegup tak beraturan.


Seketika ia mengarahkan diri ke depan, meraba jantung yang semakin tak menentu. 'Ini gak bener. Gue bener-bener udah gak waras,' gumamnya.


Key melirik gadis yang masih tertawa itu. Tidak ingin mati muda karena jantungan. Ia melempar tas ke arah pangkuan gadis itu, untuk menghentikan tawanya.


"Ya ampun!" kaget Naya. Seketika ia menoleh dan hendak protes. Namun, suara Key menyelaknya.


"Udah berhenti ketawa, kita jalan!" celetuk Key seraya memasang sabuk pengamannya.


Naya hanya berdecak. Lalu, menyimpan tas Key ke jok belakang, yang dilanjutkan memakai sabuk pengamannya. Setelah drama panjang itu, mobil pun melesat meninggalkan parkiran.


**


"Ngapain kita kesini?" tanya Naya heran.


"Lu pikir resto buat apaan?" Key balik bertanya dengan nada mejengkelkan.


"Ya, aku tau atuh, resto buat makan. Maksud aku teh, ngapain makan disini. Bi Ningsih 'kan pasti masak?" tanya Naya heran.


"Ck! Banyak nanya lu. Udah turun aja!" ajak Key sudah keluar lebih dulu dari mobil.


Naya menghela napas pasrah dan ikut turun dari mobil. Rasanya percuma banyak tanya pada pria itu. Menurut adalah jalan satu-satunya ia bisa selamat sampai rumah. Lagi pula sepertinya ia harus terbiasa dengan balasan atau ucapan kasar Key.


Sepasang manusia itu memasuki resto yang terlihat instragamable tersebut. Bahkan, resto itu lebih terlihat seperti kafe bukan resto-resto mewah pada umumnya.


"Selamat malam, Mas Key!" sapa seorang wanita dari balik meja kasir.


"Hem! Biasa," balas Key.

__ADS_1


Wanita itu tersenyum lebar menanggapi. "Siap, Mas!" balasnya.


Key menarik tangan Naya yang masih sibuk memperhatikan interior diruangan luas itu dan membawanya menuju sofa yang tersedia tepat disamping jendela besar. Hingga menampakkan pemandangan kota dengan langit gelap dan kerlap kerlip lampu.


"Wah! Indah banget," Naya berdecak kagum dengan mata berbinar memperhatikan keindahan kota dimalam hari.


Key terkekeh mendapat reaksi gadis itu, seraya menggelengkan kepala. Sekali lagi ia menepis, jika ia terpesona akan gadis itu. Sangat mustahil jika ia mengagumi gadis yang terlihat jauh dari kriterianya.


"Permisi, Mas!" Suara seorang waiters mengalihkan atenis mereka.


Tanpa memesan apa yang mereka mau, makanan sudah tersedia begitu saja. Hal itu tentu membuat Naya heran. Namun, gadis itu tidak ingin banyak bertanya. Seperti apa yang ia tanyakan sebelumnya, justru dibalas tak enak oleh Key.


"Lu gak naenya?" tanya Key yang terdengar sebuah ledekan.


"Aku gak pengen naenya," balas Naya dengan logat sama seperti Key. Hingga pria itu berdecak kesal. Naya tersenyum dapat membalikan ucapan pria itu.


Melihat menu yang berjejer, tidak membuat Naya ingin menyantapnya. Key yang melihat Naya hanya menperhatikan isi meja tersebut menautkan alisnya. "Kenapa? Lu gak suka?" tanyanya heran.


"Emm, bentar dulu A!" ucap Naya seperti kebingungan. "Ini teh nasinya mana?" celetuknya.


"Uhuk! Uhuk!" Sontak makanan yang belum siap untuk ditelan harus nyelonong begitu saja ditenggorokannya.


"Astaga, lu bener-bener!" Key hendak protes, namun tenggorokannya terasa tercekat.


Segera Naya mendekatkan air putih kehadapan pria itu. "Minum dulu, A. Minum!" titahnya.


Key segera menegak air yang disodorkan Naya hingga tandas. Setelah dirasa cukup, ia pun mulai berkomentar. "Lu pikir ini warung nasi padang?" tanyanya tak percaya.


"Atulah A. Aku teh dari pagi cuma makan dikit. Ya, atuh sekarang cuma makan lauk doang. Lemes atuh A," protes Naya.


Key menghembuskan napas kasar. Tidak habis pikir akan kelakuakn sang gadis. Padahal yang ia tau beberapa wanita enggan untuk makan malam dengan alasan diet, lha ini?


"Mas!" panggil Key. Sesuai keinginan Naya, Key meminta nasi untuk gadis tersebut pada waiters disana dengan beberapa lauk tambahan.


Beberapa menit kemudian, Naya tersenyum senang, saat nasi dan beberapa lauk yang ia inginkan sudah tersaji dihadapannya. Tanpa memedulikan Key, segera Naya menyantap makanan itu begitu lahap. Ia benar-benar kelaparan hari ini.


Key yang melihat cara makan Naya hanya terkekeh seraya menggelengkan kepala. Untuk pertama kali lagi, ia melihat gadis yang tidak merasa malu makan dihadapannya bahkan terlihat apa adanya.

__ADS_1


'Lu emang beda, terlalu unik. Mungkin hal itu yang membuat gue tertarik.'


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2