Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Salah kamar


__ADS_3

Mentari sudah nampak dari arah timur, meninggalkan fajar dan siap menyambut hari. Entah kenapa pagi itu begitu hangat dan nyaman. Hingga Naya sulit sekali membuka mata dan enggan bangkit dari posisinya.


Memimpikan seseorang yang begitu disayangi mungkin menjadi alasan utamanya. Dekapan mendiang sang Ayah begitu terasa nyata ia rasakan. Hingga ia sendiri enggan untuk melepaskan.


"Aku kangen sama Ayah," ungkap Naya semakin mengeratkan pelukannya.


Pergerakan demi pergerakan yang Naya lakukan, mampu membuat seseorang yang ia peluk terusik, hingga terbangun dari tidurnya.


Dia adalah Key, pria yang Naya pikir adalah sang Ayah. Semalam karena mabuk berat, Key salah memasuki kamar, ia masuk kedalam kamar sebelah, yang tak lain adalah kamar Naya. Hingga disinilah ia sekarang, diranjang yang sama dengan posisi yang begitu dekat.


Key membelakak kaget saat sadar Naya berada dalam dekapannya. Ia memutar kembali memorinya semalam, saat ia memasuki kamar tersebut. 'Astaga! Apa semalam yang gue remas itu ....' batin Key bertanya.


Ia menggantungkan kalimatnya dengan tatapan meunduk melihat posisi tubuh depan sang gadis yang begitu nempel diperutnya. Ia dapat melihat jelas dua bulatan sintal milik sang gadis dari atas.


Glekk!!


Key menelan salivanya kuat-kuat melihat pemandangan indah itu. Seperti yang ia bayangkan, ukuran dua buah itu tidaklah main-main dan sangat terlihat menarik.


Naya bergumam semakin menelusupkan kepala didada Key. Hal yang membuat pria itu harus menahan napasnya. Key yang tidak mengenakan pakaian, tentu merasakan gelenyar aneh yang membangunkan sesuatu dibawah sana, saat kulitnya tersentuh oleh gadis itu. Jangan tanyakan jantungnya, yang pasti sudah tidak baik-baik saja.


'Astaga, apa yang harus gue lakukin?' batin Key bertanya bingung.


Ingin ia segera menghindar, namun takut sang gadis terusik dan membuat keributan seperti sebelumnya. Tetapi jika tidak, keadaan sangat tidak menguntungkan dirinya. Pelan-pelan, Key menggerakan tangan untuk melepaskan tangan Naya, setelah dirasa gadis itu terlelap kembali.


'Gue lupa, dia 'kan tidur udah kayak kebo, ya!' gumam Key dalam hati.


Key terkekeh mengingat ketakutannya barusan, oh sungguh memalukan. Padahal jika ingin, ia bisa melakukan lebih tanpa sepengetahuan gadis itu. Namun, ia harus berpikir ulang. Mengingat kedua orang tuanya ada dirumah.


Dengan entengnya, Key melepas pelukan tangan Naya dari tubuhnya. Benar saja, gadis itu tidak terusik sama sekali. Key tersenyum lucu melihat raut wajah cantik yang sangat anteng tersebut. Tangannya bergerak menyelipkan anak rambut yang mnejuntai dipipinya.

__ADS_1


'Cium doang, gak apa-apa kali ya?' batinnya cekikikan.


Key mendekatkan wajah hendak meraup bibir gadis itu. Dekat, semakin dekat, hingga tinggal beberapa centi lagi, tiba-tiba saja mata Naya terbuka lebar.


Deg!


Key terpaku saat mata keduanya bersitubruk. Keadaan menjadi hening untuk beberapa saat. Hingga entah didetik ke berapa, kesadaran Naya kembali sepenuhnya. Ia membelakak kaget dan hendak berteriak. Namun suaranya tidak keluar saat sebuah tangan membekapnya.


"Mmmpphhh!"


"Suuutt diem! Jangan teriak!" peringat Key.


Naya memberontak mencoba melepaskan bekapan tangan Key, namun tenaganya tentu tidak dapat menyeimbangi tenaga pria itu. Key kebingungan, jika ia melepaskan takut sang gadis berteriak dan menggegerkan seisi rumah. Jika tidak pun, ia tidak ingin sang gadis salah paham, mengecam dirinya yang hendak macam-macam.


"Oke, oke. Lu diem dulu! Jangan salah paham gue jelasin. Oke!" bujuk Key pelan.


"Gue lepasin. Tapi, lu gak usah teriak-teriak, entar orang-orang pada salah paham," lanjutnya memperingati.


Posisi yang terlalu intim membuat Key segera bangkit dan mendudukkan diri. Tentu hal itu untuk menghindari hal yang membahayakan jiwa kelelakiannya. Naya ikut mendudukkan diri dengan wajah menekuk. Gadis itu kaget saat baru menyadari penampilan pria itu segera ia memalingkan wajah dan menutupinya dengan selimut.


"Kamu kenapa gak pakai baju?" tanya Naya.


Key menoleh dan menghembuskan napas kasar, saat melihat Naya tidak ingin melihat keadaannya. "Gak usah ditutupi juga kali, gue 'kan gak telanjang," kesalnya. Sungguh baru kali ini ia melihat gadis yang tidak mau melihat tubuhnya.


"Apanya yang gak telanjang? Itu teh kamu telanjang," balas Naya ikut kesal.


"Ck! Norak lu! Semua cewek seneng kali lihat tubuh keren gue ini. Lagian cuma dada, si jack gue 'kan masih aman," celetuk Key. Namun, tak ayal pria itu meraih kaosnya yang tertanggal dilantai.


"Kamu tuh walaupun laki-laki, jangan mau atuh sedekah tubuh sama perempuan. Punya tubuh keren mah atuh bagusnya dijaga buat istrimu nanti, ka-"

__ADS_1


"Iya, iya. Udah deh gak usah ceramah. Nih, gue udah pake baju," Key menyelak ucapan gadis itu yang bakal panjang kali lebar.


Perlahan Naya mengintip, dan benar saja pria itu sudah mengenakan kaosnya kembali. Namun, boxer ketat yang menampilkan sebuah tonjolan dibawah sana, membuat sang gadis kembali kelabakan. Segera ia melempar selimut untuk menutupi tubuh bawah Key.


"Apa lagi sih?" tanya Key heran. Namun, tidak ditanggapi Naya yang tiba-tiba saja berwajah memerah.


"Kamu teh ngapain di kamar aku? Mana berpenampilan gitu lagi?" tanya Naya mengalihkan pembicaraan ke topik utama.


"Gue salah masuk kamar," balas Key.


Naya menautkan alisnya heran. Kenapa bisa salah masuk? Pikirnya. Melihat Naya yang kebingungan, Key pun menjelaskan saat dirinya pulang dalam keadaan mabuk berat dan salah memasuki kamar, hingga sampai dikamar gadis itu.


Naya mengangguk mengerti, ia juga baru mencium bau aneh dari tubuh Key yang kemungkinan itu adalah bau minuman haram tersebut. Namun, hanya satu pertanyaan gadis itu.


"Kok, aku teh gak inget, ya?" tanya Naya heran.


"Harusnya gue yang nanya. Lu tidur apa mati?" kekeh Key balik bertanya.


Naya berdecak mencebikkan bibirnya. Ia sendiri bingung, kenapa tidurnya bisa seperti itu? Padahal biasanya ia tidak akan pernah tidur senyenyak itu jika ditempat selain kamarnya sendiri. Namun, di rumah itu? Entah kenapa ia bisa tidur seperti itu. Mungkinkah karena kasur yang terlalu empuk?


"Tapi ... Itu bagus," Suara Key yang tepat ditelinganya, membuat Naya terlonjak.


Naya menautkan alis heran. "Bagus kenapa?" tanyanya.


Key menyeringai dan semakin mendekatkan wajah. Hingga reflek Naya pun menjauhkan wajah ketakutan.


"Gue bisa rasain dua buah sikembar lu!"


Plak!!!

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2