Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Nasehat


__ADS_3

Canda tawa dari sepasang manusia yang baru memasuki rumah mengalihkan dua orang yang tengah asyik menonton televisi. Naya yang terus merengek meminta penjelasan pasal kekar-kejaran yang mereka lakukan hari ini, sementara Key yang bersikukuh tidak mau membahasnya. Hingga suara Sena mengalihkan atensi mereka.


"Kalian baru pulang?" tanyanya.


Naya tersenyum segera memberi salam dan menghampiri suami istri tersebut. Berbeda dengan Key yang enggan menghampiri mereka, lebih tepatnya sang papa.


"Key! Papa mau bicara sama kamu," Suara dingin Abi, membuat siapa saja bergidik mendengarnya. Namun, hal itu tidak dengan Key. Pria itu nampak malas menanggapi.


Melihat kode dari sang mama, ia pun pasrah untuk mengikuti langkah sang papa menuju ruangan kerjanya.


"Sebentar, ya!" Sena juga berpamitan pada Naya dan mengekori mereka dari belakang.


Naya memperhatikan pintu ruangan kerja itu dengan rasa khawatir. Takut akan ada keributan lagi antara ayah dan anak tersebut.


"Nay!" panggil bi Tarsih, mengalihkan atensi gadis itu.


"Iya, Bi." bi Tarsih menghampiri seraya membawakan kue basah permintaan Sena sebelumnya.


Bi Tarsih tersenyum melihat kegundahan diraut wajah gadis itu. "Hal itu udah biasa. Setelah ini, Mas Key pasti keluar," jelasnya tiba-tiba.


Sontak Naya menoleh, setelah sebelumnya memperhatikan kembali pintu tersebut. "Maksudnya, Bi?" tanyanya kurang paham dengan penjelasn dari bi Tarsih.


"Setelah Tuan selesai menasehati, Mas Key akan keluar rumah. Dia gak akan pulang sampai dini hari, bahkan terkadang sampai pagi. Alasannya hanya satu, untuk menghindari Tuan," jelas bi Tarsih.


"Terus kemana atuh dia pergi?" tanya Naya.


"Bibi juga kurang tau. Tapi, pas pulang pasti Mas Key mabuk berat," lanjut bi Tarsih.


"Kayak semalam, Bi?" tanya Naya lagi.


"Iya," balas bi Tarsih, kemudian wanita itu tersadar sesuatu. "Kok, kamu tau?" tanyanya heran. Pasalnya hanya ia yang tau Key pulang dalam keadaan mabuk berat.

__ADS_1


"Ah itu ...." Naya kikuk, bingung harus menjawab apa? Tidak mungkin ia berkata jujur, jika Key salah masuk kamar dan tidur bersamanya.


"Ah iya, Bi. Kira-kira mereka teh lama gak didalam?" tanya Naya mengalihkan perhatian.


"Em, paling sepuluh menitan," balas bi Tarsih dan dibalas anggukan gadis itu.


"Oke, kalo gitu, Bi. Aku ke kamar dulu," final Naya berpamitan. Segera gadis itu melesat menaiki anak tangga, meninggalkan bi Tarsih yang terkekeh menggelengkan kepala melihat tingkah lucu sang gadis.


**


Sementara di dalam ruang kerja, keadaan masih hening, hingga Key yang sudah merasa gatal segera memulai obrolan.


"Ada apa?" tanya Key to the point.


Abi masih berdiri membelakangi, menatap kearah jendela. Sementara Key dan Sena sudah duduk berdampingan di atas sofa.


"Papa mau kamu berhenti bermain-main," balas Abi dengan nada yang tidak pernah berubah.


"Aku sudah sering mendengar kalimat ini dari Papa. Dan sekarang aku tanya, main-main seperti apa yang Papa maksud?"


Abi menarik satu sudut bibirnya, hal inilah yang ingin ia dengar. Sebuah pertanyaan dari sang putra. Abi memutar tubuh, lalu mendudukkan diri di sofa bersebrangan dengan istri dan putranya.


"Banyak," balas Abi dengan tatapan serius. Key menaikan sebelah alis tidak mengerti.


"Pertama. Berhenti bermain-main dengan kuliahmu. Papa tau, dunia bisnis bukanlah jurusan yang kamu inginkan. Tapi, cobalah pahami, jika bukan dirimu siapa yang akan meneruskan perusahaan? Bukan untuk Papa dan Mama, tapi untuk kamu dan keluargamu kelak. Seperti yang dilakukan mendiang Opa dan Oma mu, untuk kesuksesan anak dan cucunya di masa depan. Papa dan Mama pun, tengah melanjutkan perjuangan mereka. Jika pun, kamu menginginkan bidang yang kamu inginkan, maka kejarlah jika kamu dapat meraih dua-duanya," jelas Abi panjang kali lebar.


Key melongo, bukan karena nasehat tersebut. Namun, karena kalimat sang papa yang panjang bagai kereta express. Yang tentu baru ia dengar kali ini. Woww amazing!


"Kedua. Berhentilah main-main terhadap perempuan! Sudah berapa gadis yang kamu sakiti dengan sengaja? Ingatlah, kamu sendiri terlahir dari seorang perempuan. Hormatilah mereka seperti kamu menghormati Mamamu. Seperti yang sudah terjadi pada Zea, Papa gak ingin hal itu terjadi padamu. Seriuslah dengan satu perempuan dan nikahi dia!" lanjut Papa Abi.


Lagi-lagi Key terdiam dengan nasehat panjang kali lebar itu. Ia mencerna kalimat demi kalimat yang papanya lontarkan.

__ADS_1


Sena menepuk pundak sang putra, hingga ia menoleh. "Benar yang dikatakan Papa, Key. Percayalah, kami hanya menginginkan yang terbaik untukmu. Kami gak bermaksud untuk mengekang atau membatasi segala aktifitasmu. Tapi, cobalah cermati apa yang kami maksud!" sambung Sena.


"Papa tau, Key. Sudah terlambat untuk Papa meminta maaf," ungkap Abi tersenyum kecut. Pria itu menunduk menyembunyikan mata yang sudah memerah. "Maaf! Maaf!" sesalnya.


Terlihat tubuh pria itu bergetar, tanda ia menangis dalam diam tanpa suara. Sena segera mendekat dan merengkuh tubuh suaminya itu yang masih menunduk. Key, yang melihat itu terdiam mematung. Untuk pertama kali, ia melihat sisi lain dari sang Papa.


"Sudah, Pa! Ini tidak baik untuk kondisimu," peringat Sena yang ikut meneteskan air mata.


Tidak ada suara apapun dari Abi, namun tubuhnya tetap memperlihatkan jika ia menangis. Key yang tersadar, segera mendekat dan berlutut dihadapan kedua orang tuanya. "Pa! Papa gak apa-apa?" tanyanya khawatir.


Sena segera meraih air yang terletak dimeja dan memberikannya pada Abi. Pria itu pun segera menegaknya hingga tandas. Napasnya terengah-engah dengan mata masih terpejam. Tidak ada air mata, tidak ada suara. Sudah dapat dipastikan seperti apa sakitnya.


Key benar-benar tak menyangka sang Papa bisa seperti ini. Yang ia tau sang papa begitu arogan dan dingin. Namun, ternyata?


Perlahan Abi sudah mulai tenang dan membuka matanya, mata elang itu tidak berair, namun memerah. Menatap teduh pada sang putra.


"Pikirkan apa yang Papa katakan! Cintailah seseorang. Maka kamu akan tau arti dari setiap apa yang Papa ucapkan!" titah Abi menepuk bahu sang putra. Lalu, segera ia berdiri dan berlenggang meninggalkan ruangan tersebut.


Sena tersenyum melihat ekspresi Key yang nampak berpikir keras. Setidaknya, tidak ada drama adu mulut seperti sebelumnya antara anak dan ayah itu. Wanita itu menepuk bahu Key, hingga pria tampan itu mendongak.


"Seperti kata Papa, cepat carilah gadis yang kamu cintai. Jika nggak, mama yang akan carikan untukmu," kekehnya, yang ikut berlenggang pergi meninggalkan Key sendiri diruangan itu.


Key berdecak menanggapi ucapan sang mama. Dipikir belanja online, udah suka tinggal chek out. Ia bahkan tidak tau seperti apa itu cinta?


Setelah lama berpikir, ia memilih untuk keluar. Bukan menaiki anak tangga menuju kamar, tapi pria itu berjalan menuju pintu keluar. Memikirkan apa itu cinta, membuat pikiran pria itu mumet. Hingga mencari angin, mungkin solusi yang tepat.


Ia pun memasuki mobil, dengan pikiran kembali mencerna ucapan sang Papa. Mobil itu pun melesat meninggalkan halaman menuju jalan raya. Hingga tiba-tiba suara dari jok belakang membuat Key benar-benar terlonjak kaget.


"Kita mau kemana?"


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2