Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Jiwa buaya


__ADS_3

Keadaan mendadak hening antara dua manusia itu setelah keluar dari toko elektronik. Key memaksa membelikan ponsel yang ia pilih dengan alasan tugas dari sang mama. Naya hanya pasrah mengikuti keinginan Key.


Pria itu melirik Naya yang terlihat diam tidak banyak bicara. Key yang sadar jika ia sudah salah menyinggung soal orang tua gadis itu merasa sedikit tak enak hati. Sungguh ia tidak tau, jika Naya adalah seorang gadis yatim.


"Emm, sorry!" ucap Key ragu.


Naya menoleh menatap pria itu, terlihat garis wajah Key yang tidak seperti sebelumnya. Naya tersenyum melihat itu, ia tidak mengira Key akan merasa bersalah padanya.


"Buat apa atuh, A?" tanya Naya.


"Ya, buat yang tadi. Gue gak tau, kalo bokap lu udah gak ada. Gue gak maksud buat lu ...." Key menggantungkan ucapannya. Bingung harus menjelaskan seperti apa.


Jujur selama ini, ia tidak pernah mengerti soal perempuan. Ia tidak tau cara meminta maaf dan menghibur perempuan yang tengah sedih.


Naya tertawa kecil. "Gak apa-apa atuh, A. Lagian, 'kan kita teh baru kenal."


Key menarik satu sudut bibirnya, ia pikir gadis itu akan sedih karena ucapannya. Namun, ternyata gadis itu lebih tegar dan terlihat baik-baik saja.


"Ini kita mau kemana lagi, A?" tanya Naya mengalihkan perhatian.


"Emm ..." Key berfikir sejenak. "Sebaiknya kita beli keperluan kuliah dulu. Tas, buku dan lainnya," usulnya.


Naya mengangguk setuju. Mereka pun gegas memasuki toko perlengkapan sekolah. Suasana yang sempat sedikit canggung, kini kembali seperti semula. Setelah selesai, kini sepasang manusia itu memilih untuk mencari pakaian untuk Naya. Mengingat semua barang Naya yang digondol copet, membuat Key menyarankan gadis itu untuk membeli seluruh perlengkapannya.


"Isshh, mahal banget atuh. Padahal kalo dipasar, harga segini bisa dapat selusin," gumam Naya bermonolog sendiri.


"Kenapa?" tanya Key menghampiri.


Sontak Naya kaget dan segera menyembunyikan barang yang tengah ia lihat ke belakang tubuh. "Ah, bukan. Bukan apa-apa," balasnya gelagapan.


Tiba-tiba wajah gadis itu memerah, merasa malu saat Key memergoki dirinya tengah membeli barang yang penting. Key mentatap heran, namun didetik berikutnya ia tersadar apa yang sedang dipilih gadis itu.


Key tersenyum meledek melihat Naya yang salah tingkah. Ia meraih tangan yang tersembunyi dibalik punggung Naya dan mengangkatnya. Sontak Naya membelakak kaget dengan wajah kian memerah.


"Berapa ukuran lu?" tanya Key yang terdengar menjengkelkan. Memperhatikan benda berbentuk kaca mata ditangan Naya.

__ADS_1


Gadis itu melengos malu. Haruskah Key bertanya se sarkas itu? Berbeda hal dengan Key yang membelakak kaget. Benarkah dua buah bukit Naya mempunyai ukuran yang cukup menantang?


"L-Lu serius punya ukuran segede gini?" tanya Key tak percaya.


Merasa malu, Naya segera menepis tangan Key dan mengembalikan benda tersebut. "Ng-nggak!" sangkalnya dan segera berpindah tempat dari sana.


Ia terus merutuki dirinya sendiri. 'Ya ampun, Nay. Malu-maluin aja. Kenapa juga atuh a Key kudu tau?' batinnya merutuki.


'Pokonya mah, aku gak akan beli itu sekarang. Nanti aja, kalo mbak Ati ke pasar aku titip dia,' batinnya lagi berpendapat.


Sementara Key masih terpaku ditempat dengan otak sudah berkeliyara. 'Gue gak nyangka, kecil-kecil tuh anak gede juga tete nya. Kira-kira rasanya gimana, ya?' batinnya menerka-nerka kemolekan sikembar milik Naya, jika dalam genggamannya.


Hingga didetik berikutnya ia tersadar sesuatu. 'Astaga, apa yang gue pikirin?' batinnya bertanya.


'Sadar, Key. Sadar!' sangkal pria itu menggelengkan kepala saat otak warasnya menolak keliaran jiwa buayanya.


Terlalu sibuk dengan pikiranya, Naya tidak menyadari seseorang dihadapannya. Hingga ia menabrak orang itu dan terjatuh.


"Awww!!!" pekik seorang gadis yang Naya tabrak, memegang pinggangnya.


Namun, tanpa diduga tangan Naya justru ditepis kasar. Segera gadis itu bangkit seraya berakacak pinggang. "Lu gak punya mata, ya? Main tabrak aja sembarangan. Lu lihat! Baju mahal gue kotor, gara-gara lu!" kesalnya memperlihatkan bok*ngnya yang sebenarnya tidak kotor sama sekali.


"Iya, sekali lagi maaf, ya. Aku teh gak sengaja beneran!" ucap Naya memelas.


"Maaf-maaf, seenak jidat lu minta maaf. Pokoknya lu harus ganti rugi," tegasnya.


"Hah?!" Sontak Naya shok. Ganti rugi? Apa yang harus ia ganti? Pikirnya.


Key yang mendengar keributan segera mendekat. "Ada apa?" tanyanya.


"Key?!" pekik gadis itu kegirangang. Tanpa tau malu ia segera menerobos diantara Key dan Naya, memeluk possesif lengan pria itu.


Tentu hal itu membuat Naya hampir saja terjatuh. Ia menatap aneh pada sang gadis, dengan mencoba menebak-nebak.


"Aku gak nyangka deh, ternyata kamu nyusulin aku. Aku seneng banget," ucap gadis itu begitu manis. Berbeda dengan ucapannya pada Naya.

__ADS_1


Key memutar bola mata jengah terlihat enggan menanggapi. Apalagi banyak atensi yang menatap mereka setelah kejadian barusan. Naya memiringkan tubuh melihat keduanya bergantian, hingga ia bisa menebak siapa cewek tersebut.


"Kayaknya teh, cewek ini pacarnya si A Key," tebak Naya dalam hati. "Kata si mbak Ati dia 'kan playboy, kira-kira ini cewek ke berapa ya?" tanyanya masih dalam hati.


"Key, kamu harus minta dia tanggung jawab. Soalnya dia udah bikin aku terjatuh, sampai dress ku kotor," rengek gadis itu menunjuk Naya.


"Ya atulah, Mbak. Aku 'kan udah minta maaf! Lagian, dress Mbak juga gak apa-apa," balas Naya.


"Tapi, tetap aja lu harus tanggung jawab. Lu-"


"Udahlah Sel, gak usah di perpanjang! Gak malu apa lu, dilihatin orang-orang?" sela Key kesal. Bagaimana tidak? Mereka masih saja jadi perhatian orang-orang.


Gisel gadis yang kini disamping Key pun hendak kembali berkomentar, namun suara pria itu kembali menyelak.


"Dan lu, Nay. Buruan selesai in belanjaan lu, kita harus pulang!" ajak Key pada Naya dan diangguki gadis itu.


"Eh, tunggu dulu!" cegat Gisel saat Naya hendak berlalu.


"Kamu kenal gadis ini?" tanya Gisel menatap tak percaya pada Key. Tentu ia tau siapa Key, tapi ia tetap tak terima pria itu lebih memilih jalan bersama gadis lain, saat harusnya bersama dirinya.


"Iya, kenapa?" tanya Key tanpa dosa.


"Kamu nolak nganter aku, dan milih sama dia. Iya? Tega kamu ya!" bentak gadis itu.


"Ck! Lu ngapain sih teriak-teriak? Bikin malu tau gak," bentak balik Key.


Sudah terlanjur kesal dengan sikap gadis itu. Ia menepis tangan sang gadis yang bertengger di lengannya, lalu menarik tangan Naya dari tangan gadis itu.


"Mulai sekarang, gak usah hubungi gue lagi! Gak usah ngikutin gue, ngerti!" peringat Key.


Begitulah Key, pria itu buka tpye pria bucin yang dapat diatur wanita manapun. Semua yang ingin berpacaran dengannya, tentu harus mengetahui hal itu. Namun, sepertinya Gisel tidak menerima atau melupakan hal itu.


Gisel terus berteriak memanggil, namun tak dihiraukan Key. Naya yang tidak mengerti hanya pasrah mengikuti langkah pria itu dengan berbagai pertanyaan.


'Ini mereka teh putus, apa gimana?'

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2