
Waktu semakin malam, kedua anak manusia itu sudah selesai menikmati makan malam mereka. Bahkan, melihat cara makan Naya yang begitu tidak sungkan, membuat pria tampan itu ikutan menyentuh nasi. Alhasil, kedua remaja itu benar-benar lahap makan bersama malam ini.
"Eh, A tunggu!" Naya menarik kemeja Key, hingga pria tampan itu terseret kembali ke belakang. "Nyelonong aja, bayar dulu atuh!" peringat Naya.
Key menghembuskan napas pasrah dan ikut berhenti di depan kasir. Kedua wanita dibalik kasir itu hanya tersenyum melihat pamandangan unik di hadapan mereka.
"Gak usah, ayo kita balik!" ajak Key, meraih tangan Naya, namun dihentikan kembali gadis itu.
"Kenapa gak usah? Mau ngutang dulu? Atau kumaha (gimana) sih?" tanya Naya heran.
Dua wanita itu terkekeh, sementara Key kembali menghembuskan napas panjang. Seorang Key ngutang? Oh tentu saja tidak.
"Ck! Bukan, enak aja ngutang. Lagian ngapain juga gue bayar? Toh, hasil dari sini tetap setor rekening gue. Ya kali, sekarang gue gesek besok masuk lagi," cerocos Key yang membuat Naya berpikir sejenak. Hingga didetik berikutnya ia pun tersadar dan membolakan matanya.
"Jadi, ini resto teh milik kamu?" tanyanya tak percaya.
"Hem," balas Key dengan wajah malas.
"Wah keren!" puji Naya. Key berdecak melihat tanggapan gadis itu, yang mana tanggapan tersebut sama dengan para wanita lainnya.
"Suatu hari nanti, kamu teh juga kudu bisa bikin kayak gini. Bapak sama Ibu emang keren deh," celetuk Naya.
"Hah?!" Key melongo merasa tak percaya. Bukankah gadis itu barusan memujinya? Kenapa menjadi orang tuanya? Pikirnya.
"Ini resto gue, Oneng!" sela Key tak terima, mencolek pipi gadis itu. Pasalnya, itu resto udah fix atas nama dirinya. Dan semua laba akan masuk rekeningnya.
"Heleh, ngaku-ngaku! Emang kerja? Palingan mah juga atas nama kamu doang. Yang cape teh tetep Ibu sama Bapak," ledek Naya yang benar adanya.
Naya sedikit tau perilaku dan tabiat Key bukan dari Mbak Ati saja. Namun, Sena juga pernah sedikit menceritakannya. Jika Key, hanya hobi hura-hura dan bermain dengan para kekasihnya.
"Enak aja! Siapa bilang? Gue kerja, kok," protes Key.
"Cih, kerja apa?"
"Kerja, bantuin do'a," celetuk Key.
Sontak kedua wanita dibalik kasir itu tergelak. Selain tampan, mereka tidak mengira jika boss mereka seseorang yang sangat lucu. Hingga suara Key berhasil membungkam bibir mereka rapat-rapat.
"Diem lu pada!" sentaknya.
__ADS_1
Segera Key meraih tangan Naya. "Udah gak usah ngoceh mulu, buruan balik! Gue udah nggak kuat," kesalnya menyeret tangan sang gadis.
Naya yang hendak pamitan pada kedua wanita itu tidak sempat melakukannya. Hingga ia hanya pasrah mengikuti langkah jangkung pria itu.
"Ya ampun, Mas Key makin hari makin ganteng ya!" celetuk salah satu dari mereka.
"He'em. Kapan ya, gue jadi pacarnya?" balas satunya lagi dengan pikiran melayang membayangkan hal indah bersama sang boss.
"Heleh ngimpi," ledek temannya mengusap wajah gadis itu, hingga ua berdecak kesal.
"Oh iya, gadis tadi kekasih barunya, ya?" tanyanya.
"Entah sepertinya begitu." balasnya. Hingga tiba-tiba keduanya terdiam saat mengingat sesuatu.
"Buruan balik! Gue udah gak kuat!"
Sontak kedua gadis itu menutup mulut mengingat kembali ucapan pria tampan itu. Jelas mereka paham apa maksudnya.
**
"Huaaapph!"
"Lu ngantuk gak sih? Mata gue sepet banget?" tanya Key. Namun, tidak ada jawaban dari gadis itu.
"Nay?"
Merasa tidak kunjung ada jawaban, pria tampan itu pun menolehkan wajah. Terlihat Naya sudah terlelap dikursinya.
"Yah, asyem nih anak!" gerutu Key.
Takut tidak dapat mengondisikan matanya, karena lama dalam perjalanan, Key pun segera memacu mobilnya lebih cepat. Hingga tak membutuhkan waktu lama mereka sampai di garasi rumah.
Key membuka sabuk pengamannya. Ia melihat Naya yang kian terlelap pun, mencoba untuk membangunkan gadis itu.
"Hei, bangun!" ucapnya menepuk pundak gadis itu. Namun, tidak ada jawaban apapun dari gadis itu.
"Nay, bangun!" titahnya lagi.
Merasa tidak ada jawaban dan gerakan apapun, helaan napas pun nyaris tak terdengar dari sang gadis. Tentu membuat pria itu khawatir. Ia mendekatakan diri untuk mendengar hembusan napas gadis itu.
__ADS_1
Terasa hembusan hangat nan pelan menyapu telinganya. Key memejamkan mata, merasakan itu dengan jantung yang kembali berdegup tak beraturan. Segera ia membuka matanya kembali, lalu menatap intens wajah sang gadis.
'Gue gak tau apa yang sebenarnya gue rasain. Mungkinkah gue bener-bener terpesona sama lu?' batin Key bermonolog.
Tangan Key bergerak merapihkan anak rambut yang sedikit berantakan. Tatapanya tak lekat mengabsen setiap inci bagian wajah cantik itu. Hingga atesinya kembali tertuju pada bibir ranum yang membuat ia kembali tertarik. Lantas ia semakin mendekat, untuk menyecap manis bibir tersebut.
Belum juga bibir mereka bertemu, tiba-tiba suara pintu yang menghubungkan garasi dengan ruang sampinh, mengagetkan Key. Segera pria tampan itu mengurungkan niatnya dan menjauh, dengan tangan memegang dada seolah tertangkap basah tengah mencuri.
Melihat Naya yang tidak terusik sama sekali mendengar suara pintu itu, dipastikan ia tidak akan terbangun sampai pagi. Hingga dengan pasrah, Key berinisiatif untuk menggendongnya.
"Mas Key! Baru pulang, Mas?" tanya Ningsih, seseorang yang sengaja menyambut sang tuan ke garasi, hingga menimbulkan suara bising pada pintu yang membuat Key terkejut.
"Hem," balas Key malas. Entah kenapa ia begitu kesal, saat aksinya itu harus gagal karena gadis itu.
"Bukain pintunya!" titahnya menunjuk pintu tadi dengan dagu.
"Hah?!" Ningsih melongo tak mengerti. Sementara Key berlalu mengitari mobil, membuka pintu samping kemudi.
"Buruan!" perintah Key, ketika melihat Ningsih masih terpaku memperhatikan dirinya.
"I-iya, Mas!" balas Ningsih sedikit terkejut mendapat perintah dengan nada tinggi dari tuan tampannya itu. Tidak ingin membuat kesalahan dan membuat sang tuan kian marah, Ningsih segera berlalu membuka pintu.
Gadis itu syok bukan main, melihat Key menggendong Naya dari dalam mobil. Bagai terrlempar batu yang menimpa hatinya.
Kreekkk! Mungkin seperti itu gambaran hati Ningsih yang seketika remuk melihat adegan yang menyesakkan jiwa raganya tersebut. Padahal tidak tau saja dia, Key lebih dari itu pada gadis-gadis diluaran sana.
"Ngapain lu ngalangin jalan? Awas, berat ini," omel Key yang sudah mengeluarkan seluruh tenaganya.
Seketika Ningsih tersentak kaget dan segera menepi dari ambang pintu. Ia tidak mampu berucap apapun dan membiarkan sang tuan berlalu dengan gadis lain.
"Emak ... Nyeri hate (Sakit hati) ...." Tangis Ningsih pecah setelah Key berlalu. Gadis itu pun memasuki rumah dan berlari memasuki kamarnya.
Sementara Key masih berjuang menapaki satu persatu anak tangga, untuk sampai dikamar mereka. Dengan wajah yang sudah memucat, ia tidak menyerah dan akhirnya sampai didepan kamar Naya.
"Astaga, kecil-kecil tubuh lu berat juga. Sebenarnya apa yang lu makan?" tanya Key dengan napas ngos-ngosan.
Ia pun merebahkan diri disamping gadis itu untuk meraup banyak-banyak oksigen yang hilang dari paru-parunya. Key menoleh melihat Naya yang tidak terusik sama sekali. Ia terkekeh dengan kelakuan gadis itu.
"Kalo tidur lu kayak gini, gue yakin. Sampai lu telanj*ng juga, gak bakal inget!"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*