Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Melepas rindu


__ADS_3

Seorang wanita terbaring lemah memejamkan mata dengan selang infus yang menempel di punggung tangan kirinya. Tangan kanannya digenggan erat oleh seorang gadis yang duduk di kursi di samping brankar. Terlihat gurat ke khawatiran yang mendalam pada wajah sang gadis.


Beberapa menit kemudian, wanita itu pun membuka mata dan tersadar. Hal yang membuat sang gadis sedikit bernapas lega.


"Ibu! Ibu teh gak apa-apa?" tanyanya khawatir.


"Neng, ini beneran kamu?" tanya balik sang ibu memastikan. Takut jika itu hanya sebuah mimpi.


Gadis itu mengecup punggung tangan sang ibu, lalu memeluknya. "Iya, Bu. Ini teh Naya. Neng geulisna Ibu," jelasnya mencoba tersenyum.


"Naya!" bu Santi menangis seraya membentangkan tangan. Segera Naya berhambur memeluk tubuh ibunya itu dan ikut berurai air mata.


Beberapa bulan berlalu, untuk pertama kalinya lagi ibu dan anak itu dipertemukan. Rasa rindu tidak dapat disembunyikan lagi oleh kedua wanita berbeda generasi tersebut.


Setelah lama berpelukan, melepas rindu. Naya pun melerai pelukan mereka. "Ibu teh kenapa atuh bisa sakit kayak gini? Kata Bu Bidan Ibu kelelahan dan banyak pikiran. Sebenarnya apa yang terjadi, Bu? Apa yang Ibu pikirin sampai kayak gini?" cecar Naya dengan berbagai pertanyaan seraya menangkup wajah sang Ibu.


Bu Santi berusaha tersenyum, menampilkan wajah baik-baik saja pada putri semata wayangnya itu. "Ibu gak apa-apa, Neng. Mungkin ini teh cuma karena Ibu kangen aja sama kamu," balasnya.


"Ibu teh jangan bohong! Masa iya, kangen sampai sakit-sakitan?" selidik Naya tak percaya.


"Isshh bener atuh. Emang kamu teh gak kangen sama Ibu?" balas Santi meyakinkan.


Naya kembali mendekap tubuh sang Ibu. "Tentu atuh, Nay teh kangen pisan sama Ibu," ucap Naya yang kembali berurai air mata, begitu pun Santi yang sama menangis.


Setelah beberapa menit, Naya membiarkan sang Ibu istirahat. Waktu yang juga sudah menunjukkan tengah malam, membuat keadaan di haruskan untuk senyap.


Naya yang juga hendak terlelap di atas kursi, disamping sang Ibu. Dikagetkan dengan getaran ponsel dari saku celananya. Ia melihat siapa yang tengah malam begini menghubunginya. "A Key?"


Segera ia keluar untuk menerima panggilan tersebut.


"Hallo, A?!"

__ADS_1


"Lu dimana? Udah sampi belum? Kenapa lu pergi gak ngasih tau gue? Kenapa gak hubungi gu?" Pertanyaan memberondong dari sebrang telepon membuat Naya tersenyum. Entah kenapa suara pria itu begitu terdengar lucu di telinganya.


"Ya ampun, satu-satu atuh A, nanyanya?" kekeh Naya.


"Au ah, ngeselin lu. Gue disini hampir gila nyariin lu. Lu bisa-bisanya santai, tanpa ngabarin gue," gerutu Key yang masih terdengar kesal.


"Iya, maaf atuh A, punten! Ya, gimana atuh. Aku juga bingung, panik denger Ibu di bawa ke puskes," sesal Naya mencoba menjelaskan.


"Tapi, setidaknya lu ngomong sama gue. Gue 'kan bisa anterin lu pulang. Lu bener-bener ya, bikin orang khawatir tau gak?" omelnya lagi yang tidak berkesudahan.


"Iya atuh A, iya maaf! Punten pisan aku teh salah," sesal Naya lagi. Dapat dibayangkan olehnya bagaimana resah dan khawatirnya orang-orang disana.


Padahal kenyataannya hanya Key sendiri yang ketar ketir tak karuan. Setelah Naya memberi kabar pada Sena, bahwa dirinya sudah sampai mereka sudah bisa bernapas lega. Sementara Key masih tak diam, sudah seperti ayam bertelor menunggu kabar dari Naya. Alhasil terpaksa dia sendiri yang menghubungi sang gadis terlebih dahulu.


"A!" panggil Naya, yang tak mendengar suara apapun dari sebrang telepon. "A Key, marah ya? Maafin Nay, atuh nya," sesalnya dengan suara lirih.


"Janji deh, nanti kalo ada apa-apa A Key yang aku kasih tau lebih dulu. Jangan marah lagi, ya!" bujuk Naya.


Terdengar helaan napas panjang dari Key. "Iya, gue maafin. Awas lu ya, kalo bohong!"


Begitupun Key, disebrang telepon. Mendengar gadis itu membujuk dengan suara sedikit manja membuat ia begitu senang. Mendengar dirinya akan menjadi orang pertama yang mendapat kabar dari gadis itu membuatnya merasa di prioritaskan. Hingga senyum tak lepas dari bibir sexy Key.


"Terus sekarang gimana keadaan Ibu lu?" tanya Key, yang tentu mengkhawatirkan wanita yang sudah ia klaim sebagai calon mertuanya itu.


"Alhmdulillah, Ibu udah sadar tak lama setelah aku datang. Sekarang beliau udah tidur lagi," balas Naya.


"Gak ada hal serius 'kan?" tanya Key memastikan.


"Kata bu Bidan nggak, Ibu hanya kelelahan aja dan butuh banyak istirahat," jelas Naya dan diangguki Key. Pria itu lupa, jika mereka dalam mode panggilan telepon.


"Ya udah kalo gitu, lu juga istirahat. Besok gue nyusul sama Mama buat jenguk Ibu lu!" titah Key.

__ADS_1


"Eh, gak usah atuh A. Gak apa-apa, besok juga Ibu bisa pulang. Lagian 'kan kalian akan liburan. Sok aja atuh liburan dulu! Aku akan tinggal dulu disini menemani Ibu, untuk beberapa hari kedepan," tolak Naya menjelaskan.


"Tapi-"


"Pokoknya kalian jangan khawatir. Ibu gak apa-apa, kok. Cuma sedikit butuh di manja. Ya atuh, kamu tau sendiri kalo ibu cuma punya aku aja," jelas Naya menyelak ucapan Key.


Terdengar helaan napas panjang lagi dari pria itu. "Iya deh. Tapi, awas lu udah janji! Kalo ada apapun, orang yang pertama lu hubungi siapa?"


"A Key," tegas Naya menjawab.


"Hem, good girl!" puji Key tersenyum. "Oke, sekarang lu juga istirahat!" titahnya.


"Hem, kamu juga," balas Naya menganggukan kepala.


"Selamat malam," ucap Key terdengar lembut.


"Malam juga," balas Naya malu-malu.


Lama keduabya terdiam tanpa memutuskan panggilan. Naya yang tidak berani memutuskan terlebih dahulu, hanya bisa pasrah menunggu pria itu memutuskannya. Sementara Key sendiri, tidak ingin memutuskan panggilan dan masih ingin mendengar suara sang gadis.


Tidak terdengar suara dari sebrang, membuat Naya kebingungan. Mungkinkah Key tertidur dan lupa mematikan panggilan?


"Hallo, A?" sapanya pelan. "Apa kamu tidur?" tanyanya masih dengan suara yang sama. Namun, masih juga tidak ada jawaban apapun dari sebrang telepon.


"Kayaknya dia teh beneran tidur," gumamnya yang masih terdengar jelas oleh Key. Pria itu tersenyum mendengar suara Naya yang lembut.


"Maafin atuh nya, aku tutup duluan teleponnya. Bye-bye, selamat tidur!" pamit Naya dengan suara kian berbisik.


Segera Naya menutup panggilan tersebut. Ia tersenyum senang, mengetahui Key yang begitu perhatian padanya. Hingga tanpa sadar ia memeluk ponselnya sendiri dengan girang. Begitupun Key, ia mendaratkan tubuhnya diatas kasur dengan posisi telentang. Senyum pun tak luntur dari bibirnya.


Ia menggulir ponselnya itu melihat kiriman foto yang sempat ia pinta dari Ara. Beberapa foto dirinya bersama Naya saat pagi tadi. Senyum semakin lebar terpancar dari pria tampan itu, melihat gadis yang terlihat cantik di layar tersebut.

__ADS_1


"Lihat foto kayak gini, kok berasa bikin prewed, ya!"


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2