
**
"Pelan-pelan , Bu!" Naya membantu sang ibu berbaring di kamarnya.
Siang ini, Santi sudah diizinkan pulang oleh Bidan yang mengurusnya di puskesmas terdekat, di bantu Meli tetangga yang begitu baik pada keluarganya. Gadis yang lebih muda dari Naya itu sudah tidak sungkan pada Santi, bahkan sudah menganggap Ibunya sendiri. Apalagi gadis itu seorang anak yatim yang hanya tinggal bersama neneknya saja.
"Makasih ya, Mel! Aku gak tau kalo gak ada kamu, gimana sama Ibu," ucapnya tulus.
"Isshh apaan atuh, Teh. Udah jangan dipikirkan atuh! Kalian 'kan udah seperti keluarga Mel sendiri," balas gadis yang masih duduk dibangku SMP itu.
Naya tersenyum menanggapi. Gadis itu pun berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Santi meraih tangan Naya, hingga gadis itu menoleh kearah sang ibu.
"Iya, Bu. Kenapa? Ibu mau minum?" tanya Naya.
Santi tersenyum menggelengkan kepala. "Nggak, Ibu teh gak pengen apa-apa," balasnya. Naya tersenyum dan menggenggam tangan Ibunya itu dan mengelus-elusnya.
"Kamu gak mau cepet kembali? Bukannya harus masuk kuliah?" tanya Santi.
"Belum, Bu. Aku cuti tiga hari. Dan mungkin mau tambah lagi," balas Naya.
"Lho, kenapa atuh?" tanya Santi heran.
"Aku 'kan mau jagain dulu Ibu disini," balas Naya enteng. Tentu hal itu membuat sang Ibu tak terima.
Wanita itu melepaskan tangan yang digenggam Naya, hingga terlepas. Sontak hal itu membuat Naya mendongak menatap khawatir pada sang ibu. "Kenapa, Bu?" tanyanya.
"Harusnya teh Ibu yang tanya. Kenapa atuh kamu harus bolos cuma gara-gara, Ibu?" tanya Santi membalikan pertanyaan.
"Nggak gitu, Bu," Naya mencoba menjelaskan seraya kembali meraih tangan sang ibu, namun tidak disambut wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Bu ... Aku pengen nemenin Ibu untuk beberapa hari ke depan. Biar libur, aku masih bisa mengikuti kelas online. Ibu ngerti 'kan maksudku?" jelas Naya pelan.
Santi pun hanya mampu menghembuskan napas panjang. Ia memang tidak tau mengenai hal tersebut. Ia yang hanya lulusan SMA, tidak mengerti dunia perkuliahan tentu merasa cemas. Ia takut hal itu akan mempengaruhi pelajaran putrinya itu.
"Udah, sekarang Ibu teh istirahat aja! Aku mau mandi dulu, hem?" titah Naya dan diangguki wanita paruh baya tersebut.
Naya berlenggang keluar kamar, setelah memastikan sang ibu nyaman berbaring dan memejamkan mata. Gegas gadis itu membersihkan diri untuk menyegarkan tubuh yang sedari malam lengket dengan keringat.
Tak membutuhkan waktu lama, ia sudah rapi dengan pakaian rumahan yang biasa ia kenakan dulu. Belum selesai ia mengeringkan rambut, suara ketukan pintu mengalihkan atensinya.
"Siapa?" gumam Naya.
Tidak ingin menerka-nerka, segera ia berlalu menuju pintu luar untuk melihat siapa tamu yang datang. Bukan salam atau permisi, sang tamu justru menyapa dengan godaan.
"Hai, Neng geulis!" sapa seorang pria dengan senyum yang menurut Naya menjengkelkan.
"Ada apa, A?" tanya Naya malas. Sejujurnya, ia tidak senang menyambut pria itu bertamu.
"Jangan kurang ajar ya, A!" peringat Naya kesal.
Pria itu tersenyum manis dan nyelonong begitu saja tanpa dipersilahkan. Lalu, mendudukkan diri diatas sofa di ruangan sempit itu. Naya hanya mampu menghembuskan napas berat. Jika ia sama tidak memiliki sopan santun, ingin rasanya ia menendang pria itu keluar rumahnya.
"Sebenarnya, apa tujuan A Juned kesini teh? Bukannya urusan hutang Bapak udah selesai?" tanya Naya mencoba sebaik mungkin menanggapi anak si juragan tanah terkaya di Desa itu.
Samsudin, Ayah dari Juned memanglah seorang juragan tanah sekaligus lintah darat yang senang sekali memeras rakyat miskin di Desa tersebut. Juned pria berusia tiga puluh tahun, begitu senang menagih pada setiap warga yang meminjam dengan cukup kasar. Namun, tidak pada keluarga Naya. Ia yang sudah menaruh hati pada gadis cantik itu, selalu memberi keringanan. Bahkan, menawari kesepakatan untuk melunasi hutang dengan Naya menjadi istrinya. Tentu saja hal itu ditolak Santi, yang tau watak dan tabiat pria tersebut.
Hutang keluarga Naya bermula saat Gunawan, ayah Naya jatuh sakit. Adik dan Kakaknya, bukan membantu justru dengan tega ingin menguasai peternakan. Santi yang tidak berdaya, membiarkan kedua saudara suaminya itu mengambil beberapa peternakan dan hanya menyisakan satu kandang untuknya. Meski begitu, Santi tidak menyerah dan terus berusaha mengembangkan kandang tersebut. Namun, karena penghasilan yang semakin berkurang dan pengobatan suami yang semakin mahal, Santi pun terpaksa meminjam pada Samsudin.
Hingga saat Gunawan meninggal, hutang tersebut masih tersisa dan terus berbunga. Santi tidak putus asa, ia yang masih berkomunikasi dengan Sena. Bahkan, meminjam modal pada wanita itu untuk mengembangkan kembali peternakannya, hingga peternakan kembali berkembang dan menjadi beberapa kandang. Dari hasil itu, ia mampu melunasi hutang pada Samsudin. Dan sekarang, ada apa lagi? Pikir Naya.
__ADS_1
"Neng geulis duduk dulu atuh! Atau ambilin Aa minum, haus ini!" celetuk Juned tanpa dosa.
Naya menghembuskan napas panjang. Dari pada banyak basa basi membuatkan minuman, lebih baik ia duduk dan menghadapi pria tidak tau malu itu.
"Emm, gimana keadaan Ibu teh sekarang? Baik-baik aja 'kan?" tanya Juned masih berbasa basi.
Naya yang sudah jengah, tidak bisa lagi mengendalikan tatakramanya. "Sebaiknya, jika gak ada yang penting. A Juned keluar aja, ibu juga lagi istirahat!" usirnya halus.
Juned tertawa, entah apa yang ditertawakan pria itu. Hingga pria itu menegakkan diri dan mulai serius. "Kayaknya, Neng teh belum tau ya, permasalahan Ibu?" tanyanya.
Naya menautkan alisnya tidak mengerti. "Masalah? Masalah apa?" tanyanya.
Juned menggelarkan kertas yang sedari tadi ia gulung-gulung dari genggaman tangannya ke atas meja di hadapan Naya. Gadis itu mencoba melihat kertas apa yang ditunjukkan pria itu.
"Ini teh surat perjanjian antara Aa dan Ibu," jelas Juned. Naya membaca isi surat yang bertanda tangan pria itu dan sang Ibu disana.
"Apa ini?" tanya Naya syok meraih kertas tersebut, dan kembali membacanya berulang kali.
"Sesuai kesepakatan. Kalo hari ini Ibu teh gak bisa bayar. Maka, si Neng resmi jadi calon istri Aa," lanjut Juned.
Sontak Naya membelakak kaget dengan mulut yang terbuka lebar. Bagaimana mungkin ada perjanjian seperti itu? Dan lagi, hal apa yang membuat sang ibu memiliki urusan dengan pria itu.
"Resmi? Resmi naon na (apanya)? Siapa juga yang mau nikah sama A Juned?" kesal Naya.
"Naon alasanna, Nay kudu nikah sama A Juned? Terus ieu teh perjanjian naon? Hutang naon? (apa alasannya, Nay harus nikah sam A Juned? Terus ini perjanjian apa? Hutang apa?)" tanya Naya memberondong.
"Neng teh beneran gak tau? Ya udah atuh, Aa bakal jelasin. Jadi, Ibu teh-"
"Nay!!!"
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*