Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Menyambut calon mantu


__ADS_3

Kantong kresek yang ditenteng Santi pun robek. Karena terlalu banyak belanjaan yang dibeli wanita itu, membuat kantong berwarna hitam tersebut tak mampu menampung isinya. Hingga beberapa bahan berhamburan ke atas lantai.


"YaAlloh, kalah soweh atuh (Malah robek), maruragan pan (berjatuhan 'kan)?" gerutu Santi, meraih barang-barangnya yang terjatuh.


Sementara sejoli yang terkejut akan pekikan Santi, segera mendekat untuk membantu sang ibu yang kerepotan di ambang pintu.


'Untung gak ketahuan!' batin keduanya serempak, mengusap dada, sebelum menghampiri wanita itu.


"Sini, Bu. Biar aku bantu!" tawar Key.


"Eh gak usah atuh kasep, biar Ibu aja!" tolak Santi halus.


"Gak apa-apa, Bu!" Key memaksa untuk meraih sayuran yang berhamburan di lantai.


"Lagian sih Ibu, udah tau belanjaanya teh banyak bukannya pakai dua kantong," protes Naya, ikut memungut belanjaan tersebut.


"Kata si eceu nya, ini teh kantongnya kuat. Ya udah atuh Ibu mah nurut aja, gak tau bakal kayak gini," balas Santi.


Semua belanjaanya sudah terpungut, gegas ketiganya membawa semua itu menuju dapur.


"Lain kali mah, mening bawa kantong aja dari rumah! Untung gak ngawut (berhamburan) di jalan," Naya masih mengomel saat mereka sampai di dapur.


"Iya, atuh iya. Ibu 'kan lupa saking semangatnya mau belanja buat calon mantu," kekeh Santi dan hanya di balas senyum oleh Key. Naya hanya berdecak menanggapi.


Sementara Key membersihkan diri di kamar mandi. Naya dan Ibu memasak makan pagi sedikit siang itu untuk mereka.


"Oh iya, Neng. Kamu teh udah lama pacaran sama Nak Key?" bisik Santi penasaran. Sebab, dari semalam ia belum tau jelas hubungan Naya dan Key sebelumnya.


"Nggak, Bu. Nay sama A Key teh gak pacaran," balas Naya santai.


"Hah?" sontak Santi terkejut. "Kok, bisa ngelamar?" tanyanya heran.


"Ya, Nay juga gak tau atuh," balas Naya sekenanya.


"Terus gimana ceritanya atuh? Itu Nak Key, sampai berkorban mati-matian buat kamu? Eh, ternyata bukan pacar," heran Ibu.


Naya tersenyum mendengar celotehan sang ibu. "Cinta mah gak butuh pacaran atuh, Bu. Dibuktiin aja lamaran, 'kan bagus?" kekehnya yang mendapat tampolan gemas dari sang ibu.


Santi ikut terkekeh. "Bener juga nya. Biar gitu, kamu teh harus inget. Kalian teh belum benar-benar halal. Jadi jangan macam-macam!" nasehatnya dan diiyakan Naya dengan wajah memanas.

__ADS_1


Tentu ia teringat kembali kejadian beberapa menit yang lalu, sesaat sebelum sang ibu pulang. Bayangkan saja, jika sang ibu tidak datang dan membuyarkan konsentrasi mereka, entah apa yang akan terjadi pada keduanya. Untung saja, Tuhan masih menjaga dan memperingati mereka untuk terhindar dari perbuatan zina.


Seketika, Naya pun terus beristigfhar dalam hati. Bersyukur, ternyata Tuhan terlalu sayang padanya, hingga tidak membiarkan ia berbuat demikian.


Beberapa menit kemudian, masakan pun siap di sajikan. Ketiga orang itu, sudah berada di ruang makan. Berbagai hidangan sudah tersaji di atas meja untuk menyambut calon menantu di rumah itu. Santi sengaja memasak beberapa menu untuk makan pagi kali ini.


"Ya ampun, banyak banget makanananya," Mata Key berbinar menatap makanan yang nampak menggugah selera itu.


"Sengaja atuh, buat orang spesial kayak Nak Key ini. Makanannya juga kudu spesial," kekeh Santi.


"Wah makasih, Bu!" ucap Key senang.


"Iya, ayo! Makan yang banyak," ajak Santi.


Naya tidak menimpali intekasi keduanya. Ia sibuk menata nasi beserta lauknya ke atas piring, untuk calon suamimya itu. "Nih!" ucapnya, menyerahkan piring tersebut ke hadapan Key.


Pria itu tersenyum hangat menyambut piring tersebut. "Makasih, Ha-" Key menggantungkan ucapannya, saat sadar ada sang ibu yang memperhatikan interkasi mereka.


Naya tersenyum, tentu ia tau maksud dari ucapan Key. Pria itu memutar otak untuk mencari kata yang tepat untuk melanjutkan kalimatnya. "... Rusnya, kamu gak usah repot-repot. Aku 'kan bisa ambil sendiri," ucap Key tersenyum kaku.


Naya terkekeh mendengar lanjutan kalimat Key. "Gak apa-apa atuh, hayuk makan!" ajak Naya.


Berulang kali Naya memperingati sang ibu untuk berhenti, namun tidak dihiraukan sang ibu. Key tertawa mendengar cerita tentang kekasihnya. Sedangkan, Naya sudah cemberut merasa kesal sekaligus malu. Hingga tiba-tiba, suara salam dari luar mengalihkan atensi mereka.


"Kalian lanjutin aja makannya. Ibu kedepan dulu, ya!" Santi berpamitan untuk melihat siapa yang bertamu.


Naya masih cemberut karena aibnya benar-benar di beberkan sang ibu pada kekasihnya itu. Key yang mengerti, justru semakin gencar menggodanya.


"Kenapa harus malu buat pakai kacamata?" ledek Key.


"Ishh apaan sih?" kesal Naya, sungguh ia begitu malu. Semalunya orang malu pokonya.


"Pentes ya, sekarang gede. Ternyata dari baligh udah gede duluan dari yang lain," lanjut Key meledek lagi.


"Ihhh apaan sih, udah ah!" rengek Naya kesal melayangkan pukulan pada bahu Key.


Pria itu tertawa menanggapi, mencoba menangkis pukulan sang gadis. Hingga ia dapat mencekal kedua pergelangan tangannya. Naya masih cemberut kesal dan tak ingin menatap pria di sampingnya itu.


"Jangan cemberut terus dong!" bujuk Key, namun tidak di tanggapi Naya. "Gak apa-apa gede juga, aku suka kok! Meluber ditangan," lanjutnya begitu sarkas.

__ADS_1


"Key!" kesal Naya berteriak. Namun, justru ditanggapi tawa pria itu.


Naya menarik tangannya, lalu mengumpatinya kesal. "Dasar kadal mesum!"


**


Sementara di depan, sang ibu mengerenyit heran kala seorang gadis yang ia kenal tiba-tiba saja bertamu.


"Ela, ada apa?" tanya Santi.


"Ibu!" Gadis itu menyalimi tangan sang ibu terlebih dahulu. "Maaf atuh Ibu, mengganggu. Ela datang kesini cuma mau kasih tau, kalo Bapak teh gak bisa kerja," ungkapnya.


"Lho, kenapa atuh?" tanya Santi heran.


"Semalam Bapak teh ketabrak mobil. Kakinya terkilir. Jadi wae atuh, Bapak teh gak bisa kerja," jelas Ela.


"Inalillahi, apa lukanya parah?" tanya Santi khawatir.


"Nggak kok, Bu. Cuma ka kilir aja."


"Terus siapa atuh penabraknya? Apa dia teh tanggung jawab?" tanya Santi lagi.


"Iya, Bu. Dia cuma kasih uang. Dan sampai sekarang teh, belum jengukin Bapak. Tapi, mobilnya masih terparkir didekat rumah Bu Lilis," jelasnya.


"Hah~ syukurlah kalo gak parah ya! Gak apa-apa atuh jangan kerja dulu, nanti Ibu cari gantinya buat sementara," ucap Santi dan diiyakan gadis itu.


"Key!" Terdengar pekikan Naya yang menggelegar beserta suara tawa dari seorang pria, ditengah pembicaraan mereka.


"Apa Naya teh pulang?" tanya Ela.


"Iya, dia lagi makan sama calon suaminya," balas Santi. "Yuk atuh, kamu juga ikutan makan, biar sekalian!" ajaknya.


"Wah, Naya teh bawa orang kota atuh nya?" tanya Ela dan diiyakan Santi. Sekali lagi, wanita itu mengajak sang gadis untuk makan bersama. Namun, Ela menolaknya.


"Kalo gitu teh, Ela permisi dulu atuh, Bu! Mau cari penabrak Bapak dulu. Setidaknya dia 'kan kudu jengukin Bapak. Kalo perlu gantiin Bapak kerja!" pamit Ela.


"Ya udah nanti kalo ketemu, bawa dia sama Ibu. Nanti Ibu akan suruh dia gantiin Bapak kamu!"


\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2