
Naya segera berlenggang ke kamar mandi, setelah melayangkan tampolan keras pada bibir pria yang menurutnya begitu mesum itu. Bagaimana mungkin Key begitu berani menyentuh dirinya?
"Dasar playboy sinting!" gerutu Naya mengumpat meluapkan kekesalannya.
"Kemarin marah-marah, eh sekarang malah mesum. Jelema gelo (orang gila)!" lanjutnya.
Gadis itu mencuci muka, hingga bayangan saat ia memeluk Key yang ia sangka sebuah mimpi bersama sang ayah, membuat wajahnya kian memanas. "Aishh, kenapa bisa atuh aku menganggap dia Ayah?" tanyanya bermonolog sendiri.
"Ya Alloh gusti, hampura, maafin Nay atuh nya. Nay teh teu sadar sare jeung meluk si A Key nu sanes mahram (Nay gak sadar tidur dan meluk A Key yang bukan mahram)," sesalnya menangkup kedua telapak tangan meminta pengampunan dari sang Maha Pencipta. Mana pula, ia kesiangan tidak dapat melaksankan dua rakaat kewajibannya, ditambah ia merasa berdosa memeluk Key dengan posisi begitu intim dalam status yang bukan halal.
"Kalo gini terus mah atuh, bisa bahaya. Aku teh harus ingat buat kunci pintu kalo malam. Jika tidak, kadal mesum itu bisa seenaknya keluar masuk kamar aku," tekadnya yakin.
Naya pun kembali pada aktifitasnya menggososk gigi, namun tiba-tiba bayangan Key meremas dua buah dadanya dari belakang terlintas begitu saja. "Haisshh, dadaku udah gak suci lagi," rengeknya memeluk kedua dadanya.
"Jangan-jangan bukan cuma dada lagi?" tebak Naya syok sendiri. "Ihhh nu gelo! Kudu di Ruqiyah jelema teh (Harus di Ruqiyah dia)."
Gerutuan dan segala umpatan dilayangkan gadis cantik itu di dalam kamar mandi. Sementara Key mematung menatap tak percaya pada gadis yang menghilang dibalik pintu kamar mandi tersebut.
"Astaga, dia berani nampol gue?" tanyanya bermonolog sendiri. Tentu baru kali ini ia mendapat perlakuan seperti itu dari seorang gadis. Adapun ia yang memutuskan, tidak pernah sekalipun mendapat tamparan atau umpatan dari mantan kekasihnya itu. Lha ini?
"Awas aja gue kasih pelajaran!" geramnya.
Ditengah gerutuannya, tiba-tiba suara sang mama melengking terdengar menembus pintu kamar gadis itu. Tidak ingin kena hukum, ia pun segera meninggalakn kamar tersebut, hingga melupakan celana jeansnya yang masih tertanggal di lantai.
Baru saja pria itu hendak memegang handle pintu kamarnya, suara sang mama menghentikan pergerakannya.
"Kamu dari mana?" tanya Sena heran, melihat Key yang hanya mengenakan boxer dan kaos seperti keluar kamar.
Key memejamkan mata seraya memutar otak untuk mencari alasan yang pas. Ia pun berbalik menampilkan senyuman termanisnya. "Aku ... Dari dapur. Emm maksudnya, mau ke dapur tapi balik lagi. Soalnya lupa pake celana," jelas Key.
"Ck! Kamu tuh jangan kebiasaan pake gituan dirumah. Disini ada dua perawan, kalo mereka lihat gundukanmu itu gimana?" peringat sang mama menggelengkan kepala.
Sontak Key menunduk melihat hal yang dimaksud sang mama. Hingga ia teringat saat Naya melempar selimut ke bagian tubuh itu. Seketika ia pun terkekeh mengingat kejadian tersebut. Ternyata si jack yang turn on, mampu menarik perhatian gadis itu.
Tak!
Sena menjentikan jari jempol dan tengahnya untuk menyadarkan Key yang tiba-tiba saja aneh. "Kamu kenapa sih, aneh banget deh?" tanyanya heran. "Awas ya, jangan macam-macam. Kalo nggak mama sunat lagi tuh si jack!" peringatnya.
"Ck! Apaan sih, Ma?" kesal Key sedikit meringis mendengar ancaman sang mama.
__ADS_1
"Udah buruan kamu mandi! Hari ini kita ke pergi ke rumah Oma Siska," titah Sena.
"Ngapain?" tanya Key malas.
"Mama juga belum tau, katanya ada hal penting yang mau diobrolin," balas Sena.
Key menghembuskan napas pelan, padahal ia ingin sekali melanjutkan tidurnya. Namun, sepertinya itu hal yang sangat mendesak, ia pun mengiyakan dan berlalu untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Sena hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan putranya itu. Ingin ia menasehati Key, pasal hal kemarin, namun sepertinya itu bukan waktu yang tepat. Ia akan mencoba bicara setelah urusan mereka selesai dirumah oma Siska.
**
"Bu, aku berangkat dulu, ya!" pamit Naya pada kedua orang yang tengah sarapan dimeja makan.
"Gak sarapan dulu?" tanya Sena.
"Nggak apa-apa, Bu. Sekalian aku sarapan bareng teman-teman aja di Kafe," balas Naya.
Gadis itu menyalimi takzim tangan Sena dan Abi bergantian. Ada rasa haru, saat mereka baru merasakan hal itu kembali. Memasuki masa remaja, Key tidak pernah melakukan hal tersebut lagi. Jangankan untuk menyalimi, tegur sapa pun masih enggan dilakukan Key terhadap sang papa sampai sekarang.
"Tuh anak mau kemana?" tanya Key heran, saat dirinya baru saja menuruni anak tangga.
"Lu mau kemana?" tanya Key mencekal pergealngan tangan Naya.
"Ya, ampun! Kamu mah ngagetin aja," kesal Naya mengurungkan niatnya mengenakan helm.
"Gue tanya, lu mau kemana?" tanya Key tegas.
"Kita ada tugas bareng," balas Daniel, pria yang menjemput Naya.
"Diem! Gue gak nanya sama lu," sela Key dengan nada yang sama dan wajah tak bersahabat.
"Gue tanya sekali lagi, lu mau kemana?" tanya Key pada Naya.
"Ya ampun, itu yang Daniel bilang udah jelas atuh. Kita ada tugas bareng. Lagian aku teh udah izin sama Bu Sena," jelas Naya.
"Lu lupa? Gue juga punya tanggung jawab buat jagain lu. Jadi, lu gak bisa sembarangan pergi," ucap Key menekankan.
Naya menghembuskan napas kasar. Sudah lah ia masih kesal dengan kejadian pagi tadi, ditambah lagi pria itu benar-benar bersikap seenaknya. "Iya, iya atuh. Aku pamit pergi dulu sama Daniel, buat tugas kelompok!" pamit Naya dengan wajah menekuk.
__ADS_1
"Nggak! Gue gak izinin," tolak Key.
Sontak Naya mendongak menatap pria yang lebih jangkung darinya itu. "Kenapa atuh?" tanyanya.
"Lu gak boleh pergi, selain sama gue!" tegas Key sekenanya.
Naya membolakan mata, peraturan macam apa itu? Pikirnya. "Kenapa harus sama kamu atuh? Emang kita satu jurusan?" tanyanya tak habis pikir.
Daniel yang mendengar adu mulut sepasang manusia itu, dapat menyimpulkan. Jika, keduanya benar-benar memiliki hubungan spesial. Tentu Daniel tau, jika Naya bukanlah sepupu dari pria playboy tersebut. Gadis itu menceritakan sedikit permasalahan dirinya.
"Ada apa ini?" Pertanyaan Sena berhasil mengalihkan atensi mereka.
"Ini yang mau ngedate sama cowok, alasan doang mau bikin tugas," balas Key dengan nada sindirian, setelah melepaskan tangan sang gadis.
Naya menganga mendengar pernyataan Key. Ingin sekali ia menyumpal mulut pria itu. Mama Sena hanya menggelengkan kepala. "Udah gak usah peduliin bocah tengil ini. Sekarang kamu cepetan berangkat! Kasihan teman-temanmu pasti menunggu," titahnya pada Naya.
"Iya, Bu! Assalamualaikum," balas Naya segera menaiki motor. Ia bahkan tidak memedulikan pria yang nampak kesal itu.
"Lho, kok Mama biarin dia?" tanya Key pada sang Mama. "Eh turun gak lu?" ancamnya pada Naya yang tak dihiraukan gadis itu.
"Atau nggak-"
Aww! Aww!!!
Key meringis memegang telinganya yang terkena jeweran maut dari sang Mama. Naya berbalik menjulurkan lidah, hingga motor pun melesat meninggalakn posisi.
'Ah, sialan tuh anak!' umpat Key dalam hati.
"Aww, aww, sakit Ma!" ringisnya, namun tidak dihiraukan sang mama.
"Kamu tuh ya! Masuk!"
"Ta-tapi, Ma. Itu si Nay- Aww, aww,"
Sena menyeret putranya itu untuk masuk rumah. Tidak peduli akan teriakan-teriakan dari pria muda itu. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Key, yang begitu menyusahkan sang gadis.
'Lu lihat aja! Gue gak akan biarin lu seneng-seneng sama si cupu itu ... Arrrgghh!'
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1