Jerat Cinta Sang Playboy

Jerat Cinta Sang Playboy
Posesif


__ADS_3

Krikk ... Krikk ...


Keadaan mendadakan sunyi. Sena terdiam dengan raut wajah tak percaya. Sementara sejoli yang tengah duduk dikursi bar tersebut menatap aneh pada wanita yang tiba-tiba berteriak itu.


"Ada apa, Ma? Kenapa teriak-teiak, sih? Malu sama tetangga," peringat Key kesal. Hingga ia tak sengaja menekan tangan Naya sedikit keras.


"A,a,aa! Udah, udah sakit. Kamu mah ih gak bisa pelan," ringis Naya mengomel, seraya mengeplak tangan pria itu.


"Ya ampun, lu nya aja yang manja. Lagi diobatin juga," sungut Key semakin kesal. "Udah diem, sini!" Key kembali meraih tangan kanan Naya untuk kembali mengolesi salep yang juga belum merata, karena begitu banyaknya drama.


Sementara si penonton hanya melongo melihat adegan itu. Tentu ia salah menduga dan sudah berpikiran negatif akan suara sejoli yang meresahkan gendang telinganya. Hingga di detik berikutnya, ia tersadar saat mendengar kembali suara rintihan Naya.


"Ya ampun Nay, kamu kenapa?" Segera wanita cantik itu menghampiri keduanya. "Kenapa bisa kayak gini?" tanyanya meringis, melihat kemerahan dikulit tangan Naya yang hampir putih tertutupi salep.


"Ini semua gara-gara benda itu!" tunjuk Key pada dispenser, menyelak Naya yang hendak menjawab. "Pokoknya aku gak mau tau, besok Mama harus beli yang baru. Beli yang lebih canggih. Kalo perlu harus yang bisa keluar air sendiri tanpa susah neken-neken tombol. Terus, jangan yang ngebahayain orang kayak gitu. Meresahakn!" gerutu Key kesal.


"Hah?! I-iya, iya ntar Mama beli lagi yang baru" balas Sena sedikit melongo.


"Terus lu, jangan pernah gunain benda kaya gitu lagi, bahaya! Kalo mau air anget minta sama si Bibi atau Ningsih atau siapapun. Pokoknya gue gak mau lu sampai ambil sendiri dan ngebahayain diri lu, ngerti!" peringat Key pada Naya.


Gadis itu hanya mengangguk dengan wajah melongo, persis keadaan Sena yang berwajah sama. Key berlalu membereskan alat P3K dan membawanya kembali ke tempat semula. Kedua wanita berbeda generasi itu hanya mengikuti gerak gerik Key dengan segudang keheranan.


"Sekarang buruan istirahat! Besok kita harus siap-siap pergi," titah Key.


"Tapi, kopinya?" tanya Naya bingung.


"Udah jangan mikirin lagi kopi! Mulai sekarang gue gak akan lagi ngopi jam segini. Udah ayo tidur!" ajaknya berlalu terelebih dahulu. Meninggalkan berbagai pertanyaan di kepala dua wanita itu.


"Nay!" panggil Key, saat gadis itu tak juga mengikutinya.


"Ah, iya!" balas Naya tersadar. "Aku permisi istirahat dulu ya, Bu. Selamat malam," pamitnya pada Sena dan hanya diangguki oleh wanita yang masih terlihat kebingungan itu.

__ADS_1


Sena tidak mengerti dan kebingungan dengan sikap aneh yang baru ditunjukkan Key. Seperti seorang suami yang begitu posesif terhadap istrinya.


"Suami?" syok Sena saat sadar sesuatu. "Jangan-jangan!" wanita itu menganga setelah dapat menyimpulkan sikap putranya tersebut.


Naya mengikuti langkah Key dengan hati bertanya-tanya. Bagaimana sikap Key yang tiba-tiba menjadi aneh? Bolehkah ia senang dapat perhatian berlebih dari pria itu? Atau ia harus waspada, mengingat siapa sebenarnya sosok Key?


Dugh!


"Aww!!" Naya mengusap jidatnya yang terbentur sesuatu, yang tak lain adalah dada Key.


"Kayaknya kecerobohan udah mendarah daging ya, di diri lu. Lu gak bisa konsen apa?" omel Key lagi, yang seperti siap nyerocos lagi.


Tidak ingin pria itu terus mencaramahi dirinya, Naya pun segera menyelaknya. "Iya, maaf iya, hapunten atuh. Aku akan istirahat sekarang, selamat malam!" pamit Naya segera berlalu hendak memasuki kamarnya.


"Nay," cegat Key mencekal pergelangan tangan gadis itu, hingga ia berhenti dan kembali menoleh.


"Hem?"


"Ck! Apa sih? Nggak atuh, kamu teh gak salah. Itu 'kan kecelakaan," sela Naya tersenyum. Ia baru mengerti, ternyata Key merasa bersalah atas kejadian barusan. Padahal, itu hanya sebuah kecelakaan yang tidak di sengaja.


Key ikut tersenyum tipis. Lalu, mengangkat tangan menepuk pucuk rambut gadis itu. "Lu tenang aja, untuk ke depannya. Gue gak akan pernah biarin lu terluka!" ungkap Key serius.


Blush!


Semburat merah dikedua pipi Naya muncul begitu saja. Bolehkan ia tersipu dengan perlakuan Key? Menyadari hal itu segera ia berdehem dan ngibrit ke dalam kamarnya setelah kembali berpamitan.


Sementara Key tersenyum seraya mencium aroma rambut sang gadis yang tertinggal ditangannya. "Gue akan bawa ini sampai mimpi," ucapnya. Kemudian ikut berlalu ke kamarnya.


Naya menutup pintu dan menyandarkan diri pada benda tersebut. Memegang dada yang berdegup kencang. Ia tersenyum dan beralih menangkup wajahnya sendiri yang terasa terbakar.


"Ya ampun, aku teh kenapa atuh?" tanyanya bermonolog sendiri.

__ADS_1


Perlakuan Key yang menepuk lembut rambut serta ucapannya membuat gadis itu meleleh. Ayolah, Naya hanya gadis biasa. Mendapat perlakuan manis seperti itu, tentu membuat gadis mana pun terpesona, temasuk dirinya.


"Ahh, A Key!" Naya menutup wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangan. Kakinya bergerak seperti cacing kepanasan.


Ia berjalan dengan perasaan senang. Lalu, membantingkan tubuh ke atas tempat tidur dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya. Ia mengangkat tangan ke atas, melihat punggung tangan yang penuh dengan salep yang diolesi Key tadi.


"Apa ini memang perasaanku saja? Atau kamu juga merasakannya?"


**


Pagi pun tiba. Kini seluruh penghuni rumah sudah siap memasuki satu mobil, dimana Key lah yang bertugas menjadi supirnya. Sementara pasangan orang tua itu duduk di jok belakang dan Naya yang duduk di samping kemudi.


"Oh iya, Nay. Kamu gak lupa 'kan bawa kebaya yang tante siapin?" tanya Sena.


"Nggak kok, Bu. Tenang aja," balas Naya. Meski Sena terus meminta Naya memanggilnya tante, namun gadis itu tetap saja menyematkan nama Ibu. Tetapi hal itu tidaklah dipermasalahkan wanita yang selalu tampil modis itu.


"Kebaya couplean?" tanya Key.


"Iya. Mama kemarin beli dua pasang. Buat kalian sepasang," balas Sena enteng.


Key tidak menjawab ataupun protes. Pria itu menarik satu sudut bibirnya saat sang mama begitu perhatian. Namun, hal itu membuat Sena bingung. "Kamu gak protes?" tanyanya menautkan alis.


Biasanya Key akan protes jika disuruh mengenakan pakaian senada dengannya. Namun, kali ini tidak, tentu itu menjadi pertanyaan untuk ibu yang semakin berumur semakin cantik itu.


"Nggak! Lagian 'kan gak jadi obat nyamuk," balas Key sekenanya dan hanya dibalas cebikan bibir ibunya itu.


Sementara Naya tersenyum melihat interaksi ibu dan anak tersebut. Hatinya berbunga saat sadar ia akan mengenakan pakaian berpasangan dengan Key, bahkan pria itu tidak protes sama sekali. Itu menandakan jika Key tidak keberatan dirinya menjadi pasangannya di acara pernikahan tersebut.


Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai dibendara. Naya tak mengira jika mereka akan berangkat menggunakan pesawat. Bahkan, ini akan menjadi pengalaman pertamanya menaiki sebuah pesawat. Namun, hal yang lebih mengejutkan membuat gadis itu begitu syok. Saat mengetahui mereka bukan menaiki pesawat umum, melainkan jet pribadi.


'Woww amazing! Apa aku teh hidup ditengah-tengah keluarga kerajaan?'

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


__ADS_2